Ada pertemuan yang terjadi karena kebetulan.
Ada pula pertemuan yang telah direncanakan jauh sebelum kedua insan itu saling mengenal.
Aluna tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan berubah sejak malam ketika ia bertemu seorang pria asing bernama Niel.
Di balik sosok pria yang tampak tenang itu, tersimpan rahasia yang mampu mengubah hidup banyak orang.
Namun, Niel bukan satu-satunya yang menyimpan masa lalu.
Ketika satu demi satu kebenaran terungkap, keduanya menyadari bahwa mereka bukan sekadar dipertemukan oleh takdir.
Mereka adalah bagian dari Permainan Takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nourayl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebetulan yang Terlalu Sering
Pagi itu, Niel menutup novel bersampul biru yang dipinjamkan Aluna tepat ketika matahari mulai menyinari jendela ruang kerjanya.
Ia melirik jam di dinding.
Baru pukul delapan pagi.
Semalam, tanpa disadari, ia menghabiskan waktu hingga larut hanya untuk menyelesaikan novel tersebut.
Tok.
Tok.
"Tuan."
Darren masuk membawa beberapa berkas.
"Selamat pagi."
"Pagi."
Darren menghentikan langkahnya ketika melihat novel di atas meja kerja.
"Tuan... jangan bilang buku itu sudah selesai dibaca?"
Niel mengangguk singkat.
"Sudah."
Darren sampai terdiam.
"Itu... hampir empat ratus halaman."
"Ada masalah?"
"Tidak."
Darren tersenyum tipis.
"Hanya saja, biasanya Tuan bahkan tidak pernah menyentuh novel."
Niel menatap sampul buku itu sejenak.
"Katanya setelah selesai membaca, kami akan berdiskusi."
Darren langsung memahami.
Bukan karena novelnya menarik.
Tetapi karena seseorang sedang menunggu pendapatnya.
Menjelang sore, seperti hari-hari sebelumnya, mobil Niel kembali berhenti di depan toko buku.
Namun kali ini, Aluna tidak berada di balik meja kasir.
Siska yang melihat kedatangan Niel langsung menyambutnya.
"Selamat sore."
"Sore."
"Niel, ya?"
"Iya."
"Mau ketemu Aluna?"
Niel mengangguk pelan.
"Dia lagi keluar sebentar."
"Ke mana?"
"Toko alat tulis di seberang. Katanya stok pena habis."
Niel menoleh ke arah luar.
Melalui kaca toko, ia melihat Aluna sedang berdiri di depan rak alat tulis sambil memilih beberapa pulpen.
Tanpa berpikir panjang, Niel melangkah keluar.
"Yang tintanya cepat habis lagi..."
gumam Aluna sambil membandingkan dua merek pulpen.
"Kalau yang ini terlalu mahal."
Ia kembali meletakkan pulpen itu.
"Yang ini saja, deh."
Saat hendak mengambil satu kotak dari rak paling atas, ujung jarinya tidak sampai.
"Aduh..."
Tiba-tiba, sebuah tangan muncul dari sampingnya dan dengan mudah mengambil kotak tersebut.
"Yang ini?"
Aluna menoleh.
"Niel?"
Pria itu menyerahkan kotak pulpen sambil tersenyum tipis.
"Kebetulan lewat."
Aluna langsung tertawa.
"Kamu sadar nggak?"
"Apa?"
"Belakangan ini kebetulanmu banyak sekali."
Niel ikut tersenyum.
"Mungkin."
"Atau jangan-jangan..."
Aluna menyipitkan mata.
"...kamu sengaja?"
Niel tidak langsung menjawab.
Sebaliknya, ia justru balik bertanya.
"Kalau memang sengaja?"
Aluna terdiam.
Niel kembali melanjutkan kalimatnya.
"Apakah itu mengganggumu?"
Aluna menggeleng pelan.
"Enggak."
"Lalu?"
"...Aku cuma merasa lucu."
Jawaban itu membuat Niel mengembuskan napas lega yang nyaris tak terlihat.
Setelah membayar alat tulis, keduanya berjalan berdampingan kembali menuju toko buku.
Angin sore bertiup pelan.
Sesekali dedaunan kering berjatuhan di sepanjang trotoar.
"Kamu sudah baca novelnya?"
tanya Aluna.
"Sudah."
Aluna langsung berhenti melangkah.
"Secepat itu?"
"Aku selesai semalam."
"Wah..."
Aluna tampak benar-benar terkejut.
"Terus?"
Niel menoleh kepadanya.
"Sedih."
"Hah?"
"Akhirnya."
Aluna tertawa kecil.
"Berarti kamu benar-benar membacanya."
"Iya."
"Bagian favoritmu?"
Niel berpikir sejenak.
"Ketika tokoh utamanya berkata..."
"Rumah bukan tempat kita pulang, tetapi seseorang yang membuat kita ingin pulang."
Langkah Aluna perlahan terhenti.
Kalimat itu...
Adalah kalimat favoritnya.
Ia menatap Niel beberapa saat.
"Itu juga bagian yang paling aku suka."
Senyum tipis menghiasi wajah Niel.
"Berarti pendapat kita sama."
Entah kenapa...
Mendengar hal sederhana seperti itu membuat keduanya sama-sama merasa bahagia.
Sesampainya di toko, Siska langsung menghampiri.
"Nah, akhirnya balik juga."
Aluna menyerahkan kantong berisi alat tulis.
"Ini semua yang diminta."
"Terima kasih."
Siska kemudian melirik Niel sambil tersenyum usil.
"Pas banget ya."
"Apa?"
"Perginya sendiri."
"Pulangnya berdua."
Aluna langsung memukul pelan lengan Siska.
"Ih!"
Sementara Niel hanya tersenyum kecil melihat tingkah keduanya.
Sore mulai berganti malam.
Toko kembali dipenuhi beberapa pelanggan.
Niel membantu seorang anak kecil mengambil buku dari rak yang tinggi.
"Terima kasih, Om."
"Sama-sama."
Anak kecil itu kemudian berlari menghampiri ibunya.
Aluna yang melihat kejadian itu tanpa sadar tersenyum.
"Kamu ternyata gampang akrab sama anak-anak."
Niel memandang anak kecil tadi yang sedang tertawa.
"Aku juga baru tahu."
"Tahu apa?"
"Kalau ternyata..."
Ia menoleh kepada Aluna.
"...berada di sini membuatku melihat sisi diriku yang belum pernah kukenal."
Sebelum Aluna sempat menjawab, ponsel Niel berdering.
Wajah Darren muncul di layar.
"Tuan."
Suara Darren terdengar sedikit lebih serius dari biasanya.
"Ada masalah."
Senyum di wajah Niel perlahan menghilang.
"Apa yang terjadi?"
"Seseorang mencoba membobol sistem keamanan perusahaan."
Tatapan Niel langsung berubah tajam.
"Siapa?"
"Kami belum tahu."
"Tapi..."
Darren berhenti sejenak.
"Orang itu meninggalkan satu pesan."
"Apa isinya?"
Darren menarik napas pelan.
"'Permainan baru telah dimulai.'"
Niel membeku.
Entah mengapa...
Kalimat itu terasa begitu familiar.
Seolah pernah ia dengar...
Dalam kehidupan yang sudah tidak lagi mampu ia ingat.
___________________________________________
Lanjutan
Suasana toko buku yang semula hangat seketika berubah sunyi di mata Niel.
Tatapannya masih terpaku pada layar ponsel.
"'Permainan baru telah dimulai.'"
Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.
Entah mengapa, dadanya terasa sesak, seolah ada sesuatu yang ingin diingat namun tertahan oleh kabut yang begitu tebal.
"Niel?"
Suara Aluna membuyarkan lamunannya.
Pria itu segera mematikan layar ponsel dan memasukkannya kembali ke saku jas.
"Maaf."
"Wajahmu tiba-tiba pucat."
Niel mencoba tersenyum agar Aluna tidak khawatir.
"Hanya urusan pekerjaan."
"Serius?"
"Iya."
Aluna memperhatikannya beberapa saat.
Meski baru mengenal Niel, ia bisa merasakan bahwa pria itu sedang menyembunyikan sesuatu.
Namun ia memilih tidak memaksa.
"Kalau begitu... jangan terlalu memaksakan diri."
Niel mengangguk pelan.
"Terima kasih."
Di luar toko, Darren sudah menunggu di samping mobil.
Begitu Niel keluar, ekspresi hangat yang tadi ditunjukkannya kepada Aluna perlahan menghilang, berganti tatapan dingin yang selama ini dikenal semua bawahannya.
"Lapor."
Darren menyerahkan sebuah tablet.
"Tim keamanan berhasil menahan serangan itu."
"Data penting?"
"Aman."
"Pelakunya?"
"Masih menggunakan identitas palsu."
Niel membaca laporan singkat itu dengan saksama.
Tidak ada uang yang dicuri.
Tidak ada sistem yang dirusak.
Seolah-olah...
Tujuan penyusup itu memang hanya ingin meninggalkan pesan.
"Terlalu rapi."
gumam Niel.
Darren mengangguk setuju.
"Sepertinya mereka sengaja ingin menarik perhatian Anda."
Niel menatap keluar jendela mobil.
Pikirannya justru kembali kepada Aluna.
Untuk pertama kalinya, ia merasa sedikit lega karena gadis itu tidak mengetahui apa pun tentang dunia yang selama ini ia hadapi.
"Perketat keamanan."
"Baik, Tuan."
"Dan..."
Niel berhenti sejenak.
"Jangan sampai urusan ini diketahui orang luar."
"Saya mengerti."
Sementara itu, Aluna membantu Siska menutup toko.
Siska melirik ke arah pintu yang baru saja ditinggalkan Niel.
"Dia kelihatan buru-buru."
Aluna mengangguk.
"Katanya ada pekerjaan."
Siska tersenyum kecil.
"Kasihan juga."
"Kenapa?"
"Kelihatannya dia orang yang memikul banyak tanggung jawab."
Aluna terdiam.
Ia teringat perubahan ekspresi Niel beberapa menit lalu.
Tatapan tenang itu mendadak berubah begitu dingin.
Seolah-olah...
Ada sisi lain dari diri Niel yang belum pernah ia lihat.
Malam semakin larut.
Di sebuah gedung kosong di pinggiran kota, seorang pria berdiri di depan jendela sambil memandangi gemerlap lampu kota.
Di tangannya terdapat sebuah foto.
Foto Niel dan Aluna yang sedang tertawa bersama di dalam toko buku.
Pria itu tersenyum tipis.
"Sudah waktunya."
Ia merobek foto itu tepat di bagian tengah, memisahkan wajah Niel dan Aluna menjadi dua bagian.
"Lihat saja..."
"Berapa lama kalian bisa tetap bersama."
Potongan-potongan foto itu jatuh ke lantai, menjadi pertanda bahwa ancaman yang selama ini hanya mengintai dari kejauhan perlahan mulai bergerak mendekati kehidupan mereka.
— Bersambung —