NovelToon NovelToon
Suami Ku Selalu Dihina Karena Dia Autisme

Suami Ku Selalu Dihina Karena Dia Autisme

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: NisfiDA

Demi menghindari aib, Naresta dan Elvan memilih meninggalkan keluarga mereka dan memulai hidup baru di sebuah desa. Dengan kerja keras, mereka berhasil membangun sebuah toko yang berkembang pesat dan menjadi sumber penghidupan mereka.

Namun, kesuksesan itu tak membuat mereka diterima. Elvan yang merupakan penyandang autisme terus menjadi sasaran hinaan dan cemoohan warga. Meski begitu, Naresta tetap setia berada di sisinya, membuktikan bahwa cinta sejati tidak pernah memandang kekurangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hal Terbiasa

"Mbak Naresta, seperti biasa ya. Gula sepuluh kilo, tepung terigu sepuluh kilo, terus agar-agar cokelatnya dua pak."

"Sebentar ya, Bu RT," jawab Naresta dengan senyum lembut.

Setelah mencatat pesanan, Naresta menoleh ke arah salah satu karyawannya.

"Mbak Aya, tolong ambilkan gula sepuluh kilo sama tepung terigu sepuluh kilo, ya."

"Iya, Bu," jawab Aya sambil segera menuju rak penyimpanan.

Sementara itu, Naresta sendiri berjalan ke rak yang berisi agar-agar. Ia mengambil dua pak agar-agar cokelat, lalu meletakkannya di atas meja kasir sambil menunggu Aya membawa pesanan lainnya.

"Mau buat acara lagi ya, Bu RT?" tanya Naresta sambil tersenyum.

"Iya, Mbak. Seperti biasa kalau hari Jumat."

Naresta mengangguk pelan.

"Semoga acaranya lancar ya, Bu."

"Aamiin."

Tiba-tiba, seorang wanita masuk ke dalam toko dengan tergesa-gesa.

"Naresta, aku mau ngutang lagi, dong."

Naresta menoleh dan tersenyum tipis.

"Eh, Mbak Dewi. Yang kemarin saja belum dibayar, masa mau ngutang lagi?"

"Ah, itu nanti saja, Naresta. Sekalian aku bayar pas sudah gajian."

Naresta menggeleng pelan.

"Nggak bisa, Mbak. Gimana saya mutar modalnya kalau Mbak ngutang lagi? Lebih baik yang kemarin dibayar dulu, baru ambil lagi."

Mbak Dewi tampak mengembuskan napas kesal.

Belum sempat ia menjawab, Elvan datang menghampiri Naresta.

"S-sayang..."

"Iya, Mas. Ada apa?" tanya Naresta lembut.

"U-udah... selesai?"

Naresta tersenyum memahami maksud suaminya.

"Kenapa? Mas sudah lapar, ya?"

Elvan menganggukkan kepalanya pelan.

"Sebentar lagi ya. Habis ini kita makan siang."

"I-iya."

Elvan pun kembali berdiri di samping meja kasir sambil menunggu istrinya selesai melayani pelanggan.

"Naresta, jadi gimana? Aku boleh ngutang, kan?" desak Mbak Dewi.

Naresta menggeleng pelan.

"Maaf ya, Mbak. Yang kemarin dibayar dulu, baru ambil hutang lagi."

Wajah Mbak Dewi langsung berubah masam.

"Pantas saja kamu dikasih suami cacat. Ternyata orangnya perhitungan begini. Kan nanti juga aku bayar!"

Ucapan itu membuat beberapa pelanggan yang sedang berbelanja langsung menoleh.

Salah seorang di antaranya, Bu RT, mengernyitkan dahi.

"Mbak Dewi, yang dikatakan Naresta itu benar. Kalau masih punya hutang, ya diselesaikan dulu. Baru ambil lagi."

Bu RT menatap Mbak Dewi dengan tegas.

"Dan satu lagi, jangan menghina orang seperti itu. Mas Elvan tidak pernah mengganggu siapa pun. Jadi, tolong jaga ucapan Mbak."

"Kenapa malah Bu RT yang membela? Kan memang kenyataannya begitu. Orang yang terlalu perhitungan pasti ada saja balasannya," ucap Mbak Dewi sambil melipat kedua tangannya di dada.

Belum sempat Bu RT menjawab, Naresta lebih dulu membuka suara. Wajahnya tetap tenang, tanpa sedikit pun menunjukkan emosi.

"Mbak, bukannya saya perhitungan. Tapi total utang Mbak sekarang sudah satu juta lima ratus ribu. Bagaimana saya bisa memberikan utang lagi kalau yang sebelumnya saja belum dibayar?"

Mendengar nominal itu, beberapa pelanggan langsung saling berpandangan.

"Astaghfirullah..." gumam Bu RT pelan.

Ia kemudian menatap Mbak Dewi.

"Mbak Dewi, orang buka toko itu untuk cari nafkah, bukan untuk bagi-bagi barang gratis. Kalau utangnya terus bertambah tanpa dibayar, bagaimana Naresta bisa memutar modalnya lagi?"

"Iya, Bu RT benar," sahut pelanggan lain. "Kalau semua pelanggan seperti Mbak, lama-lama tokonya bisa tutup."

Mbak Dewi langsung terdiam. Wajahnya memerah karena mulai menjadi pusat perhatian para pelanggan yang ada di dalam toko.

"Naresta, kamu malah mengumbarnya. Kamu sengaja bikin aku malu, ya?" hardik Mbak Dewi dengan wajah memerah.

Naresta menggeleng pelan.

"Bukan maksud saya membuat Mbak malu. Tapi tolong sadar juga, Mbak. Saya sudah beberapa kali memberi kelonggaran. Kalau utangnya terus bertambah, saya juga kesulitan memutar modal toko."

Mbak Dewi terdiam. Ia ingin membalas, tetapi ucapan Naresta memang tidak salah.

Tak lama kemudian, Aya datang sambil membawa dua karung gula dan dua karung tepung terigu sesuai pesanan.

"Bu, ini gula sepuluh kilo sama tepung terigunya sepuluh kilo," ucap Aya.

"Iya, Mbak Aya. Terima kasih," balas Naresta sambil

tersenyum.

Aya mengangguk, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. Sementara Naresta mulai menghitung seluruh pesanan Bu RT sebelum memasukkannya ke dalam nota pembayaran.

"Mbak Naresta, saya telur sepuluh butir sama mi instan lima bungkus, ya," ucap seorang pelanggan yang baru masuk ke dalam toko.

"Iya, Bu. Sebentar ya," jawab Naresta ramah.

Naresta kemudian menoleh ke arah Elvan.

"Mas, tolong ambilkan pesanan Ibu ini dulu, ya. Biar kita cepat selesainya."

"I-iya," jawab Elvan pelan sambil mengangguk.

Ia segera berjalan menuju rak mi instan, lalu mengambil lima bungkus sesuai pesanan. Setelah itu, ia menuju tempat penyimpanan telur dan dengan hati-hati memasukkan sepuluh butir telur ke dalam wadah agar tidak pecah.

Sementara Elvan menyiapkan pesanan pelanggan lain, Naresta kembali menghitung seluruh belanjaan Bu RT.

"Jadi berapa total semuanya?" tanya Bu RT.

Naresta menghitung sekali lagi untuk memastikan tidak ada yang terlewat.

"Total semuanya tiga ratus delapan puluh lima ribu rupiah, Bu."

"Baik, ini uangnya."

Naresta menerima uang tersebut, lalu menghitungnya sebelum menyerahkan kembaliannya.

"Ini kembaliannya, Bu. Terima kasih sudah belanja."

"Iya, sama-sama, Mbak. Semoga tokonya makin ramai."

"Aamiin. Terima kasih, Bu," jawab Naresta dengan senyum hangat.

Setelah Bu RT pergi, pandangan Naresta beralih kepada Dewi yang masih berdiri di depan meja kasir.

"Lunasi dulu ya, Mbak. Baru nanti saya kasih utang lagi," ucap Naresta dengan tenang.

Dewi mendecak kesal.

"Cih! Dasar pelit. Pantas saja suaminya cacat."

Setelah mengucapkan kata-kata itu, Dewi langsung pergi begitu saja.

Naresta hanya menggelengkan kepalanya pelan.

"Mbak Dewi benar-benar jahat deh mulutnya. Dia yang punya utang, kok malah marah-marah sama orang yang diutangi," gerutu Aya yang ikut mendengarnya.

"Udah, biarin aja, Mbak," jawab Naresta sambil tersenyum.

"Mbak Naresta juga, kenapa dulu mau ngutangin orang seperti itu?"

"Iya, kalau saya jadi Mbak Naresta, dari awal juga nggak bakal mau."

Naresta hanya tersenyum. Ia sudah terbiasa menghadapi sikap Dewi yang seperti itu.

Tak lama kemudian, Elvan datang menghampiri sambil membawa pesanan pelanggan.

"S-sayang... i-ini mi... s-sama telurnya," ucapnya pelan.

Naresta menerima barang itu sambil tersenyum hangat.

"Terima kasih ya, Mas."

"I-iya."

Naresta kemudian menoleh kepada pelanggan yang sedang menunggu.

"Jadi berapa totalnya, Mbak?" tanya pelanggan itu.

Sebelum Naresta sempat menjawab, Elvan menatap pelanggan tersebut sambil berusaha membantu.

"I-ibu... p-pesan apa?"

Pelanggan lain itu tersenyum ramah kepada Elvan.

"Itu, Mas Elvan. Saya mau rokok dua bungkus sama kopi hitam satu renteng buat suami saya."

Elvan mengangguk pelan.

"I-iya..." ucapnya, lalu berbalik menuju rak rokok dan kopi untuk mengambil pesanan pelanggan tersebut.

1
Andi Sary Nova
maaf ini masih berlanjut Khan jgn hiatus yaaa ade author tetap semangat😍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!