NovelToon NovelToon
PELET LAKNAT

PELET LAKNAT

Status: tamat
Genre:Horor / Misteri / Kutukan / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: HERMAWAN 505

kisah pemuda yang terobsesi cinta
memutuskan untuk mengambil jalan lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fajar baru setelah badai (TAMAT)

## Bab 26: Fajar Baru Setelah Badai (Tamat)

Setelah beberapa saat berjalan kaki menembus jalan setapak hutan, dengan Paman Mira yang berjalan mengangkang kaku menahan malu, mereka bertiga akhirnya sampai di pinggir jalan tempat sepeda motor terparkir. Begitu melihat motor bebek itu, Agus dan Ahmad langsung berebut posisi karena tak mau berdekatan dengan Paman Mira yang celananya basah dan berbau pesing.

"Yah, Abang! Biar saya saja yang bawa motor, Abang pasti capek habis berkelahi sama dukun tadi," protes Agus panik sambil mencoba membujuk Ahmad.

Ahmad hanya tersenyum tipis, seakan sudah tahu akal bulus Agus. "Sudah, biar Abang saja. Kan dari awal kita ke sini juga Abang yang bawa," sahut Ahmad tenang dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya.

Paman Mira yang melihat kelakuan mereka hanya bisa mendengkus kesal sambil melipat tangan di dada. "Heh! Malah rebutan! Buruan, saya sudah mau mati kedinginan ini!" ketusnya dengan wajah cemberut.

Akhirnya Agus mengalah. Dengan wajah dongkol, ia terpaksa naik dan duduk di posisi tengah, sementara Paman Mira pasrah mengambil posisi paling belakang.

Begitu motor melaju membelah jalanan pinggiran hutan yang sepi, angin subuh yang menusuk tulang langsung menghantam mereka. Karena celananya yang basah kuyup akibat ngompol, tubuh Paman Mira gemetaran hebat. Tanpa babibu, ia langsung memajukan badan, menempelkan dada dan melingkarkan lengannya erat-erat ke pinggang Agus demi mencari kehangatan.

Otomatis, tubuh Agus terdorong ke depan, membuat dadanya ikutan menempel pasrah ke punggung Ahmad.

"Aduh, Paman! Istigfar, Paman! Saya masih normal, masih suka cewek, ngapain Paman meluk-meluk? Saya sesak napas ini kejepit!" protes Agus setengah berteriak menembus deru mesin motor.

"Berisik kamu, Gus! Dingin banget ini, celana Om berasa ditempelin es batu! Kamu enak di tengah hangat, lah Om di belakang kena angin malam langsung!" balas Paman Mira dengan gigi yang gemetaran.

Ahmad yang sedang fokus menyetir hanya bisa menggelengkan kepala merasakan guncangan dari kedua orang di belakangnya. "Sudah, jangan banyak bergerak. Motornya oleng, bisa bahaya di jalan," tegur Ahmad tegas, meski sudut bibirnya tersenyum geli.

Rasa trauma Agus habis ditampaki genderuwo tadi langsung menguap, digantikan jiwa jahilnya. "Dengerin tuh kata Abang Ahmad, Paman. Lagian, makanya kalau lihat hantu itu baca doa, bukan malah lepas jangkar di celana. Untung jok motornya panjang, kalau tidak, merembes itu peninggalan sejarah Paman ke celana saya!"

Plak!

Paman Mira langsung menjitak kepala Agus dari belakang. "Kurang ajar kamu! Gini-gini Om lebih tua dari kamu, ya! Lagian kamu sok-sokan berani, akhirnya pingsan juga kan!" sahut Paman Mira tak mau kalah, meskipun akhirnya ia kembali merapatkan badan karena memang tidak kuat menahan dinginnya angin subuh.

Di atas motor yang melaju itu, ketiganya membelah fajar dengan sisa-sisa komedi setelah malam yang mencekam.

Akhirnya mereka pun sampai di kediaman Mira. Di halaman rumah, banyak santri yang baru selesai menunaikan ibadah shalat di masjid seberang. Hal itu membuat Paman Mira malu setengah mati, mukanya merah padam bagai kepiting rebus yang baru matang.

Ahmad langsung mematikan mesin motor. Dengan langkah tegap, ia turun lalu beranjak masuk ke dalam rumah untuk menemui Sang Kiai.

Beda halnya dengan Paman Mira yang malah bersembunyi di balik tubuh Agus, berjalan membuntuti sampai tubuh Agus terdorong-dorong ke depan.

"Paman, jangan dorong-dorong dong! Malah ngumpet di tubuh saya!" bisik Agus setengah dongkol sambil menahan tawa.

Para santri yang melihat kelakuan aneh mereka menjadi semakin penasaran. Dan pada akhirnya, bau pesing yang menyengat menyeruak tertiup angin subuh, membuat para santri langsung saling berbisik satu sama lain sambil menahan senyum geli.

"Assalamualaikum," seru Ahmad begitu melangkah melewati ambang pintu.

"Waalaikumussalam," jawab serempak semua orang yang berada di ruang tengah.

Ahmad langsung menghampiri Sang Kiai yang sedang duduk, lalu mencium punggung tangan beliau dengan penuh takzim. Tanpa membuang waktu, Ahmad merogoh saku jaket dan mengeluarkan bungkusan kain putih tersebut. Dengan kedua tangan, ia menyerahkan foto serta barang pribadi milik Mira kepada Sang Kiai.

Melihat benda itu, Ayah Mira yang duduk di sebelah Sang Kiai langsung tersentak. Wajahnya seketika menegang, campur aduk antara rasa geram dan sedih melihat barang pribadi putrinya disalahgunakan sebagai media sihir hitam.

Sang Kiai menerima bungkusan itu dengan tenang, lalu berdiri mengajak Ahmad dan Ayah Mira untuk memusnahkan barang kutukan itu di halaman rumah sebelum fajar menyengat. Di atas tanah, bungkusan kain itu disulut api sambil diiringi lantunan ayat suci yang khusyuk. Begitu api melahap habis semuanya, sekelebat asap hitam pekat menguar ke udara lalu sirna bersamaan dengan terbitnya fajar yang tenang.

Setelah memastikan semuanya aman, Sang Kiai, Ahmad, beserta rombongan santri pamit untuk pulang ke pesantren. Namun, langkah kaki Agus tiba-tiba terhenti saat notifikasi dari ponsel di saku celananya berbunyi berkali-kali.

Betapa terkejutnya ia saat menatap layar ponsel. Pesan singkat itu mengabarkan bahwa teman sejatinya, Indra, telah berpulang ke Rahmatullah. Seketika tubuh Agus terasa lemas tak bertulang. Untungnya, Paman Mira dengan sigap menopang tubuh Agus yang hendak roboh ke tanah.

"Gus, kamu kenapa?" tanya Paman Mira dengan raut wajah yang berubah cemas. Namun Agus hanya bisa diam seribu bahasa, menatap nanar layar ponselnya dengan air mata yang mulai mengenang. Sahabat yang menjadi kunci masa lalunya kini telah pergi untuk selamanya.

Keesokan harinya, suasana duka masih menyelimuti. Agus, Paman Mira, dan juga Mira, yang bersikeras memaksa ikut pergi berziarah ke makam Indra. Meskipun di dalam benak Paman Mira sebenarnya masih menyimpan dongkol mendalam terhadap segala kesalahan Indra di masa lalu, demi mendampingi Mira dan menjaga perasaan Agus yang sedang hancur, ia terpaksa menahan ego.

Di depan gundukan tanah yang masih basah itu, lantunan doa dibacakan dengan khusyuk. Agus menatap nisan sahabatnya dengan senyum getir, mengikhlaskan segala cerita yang kini telah menjadi sejarah.

Sesudah berziarah, mereka bertiga pun berbalik untuk pulang. Namun, baru beberapa langkah meninggalkan area pemakaman yang sepi, langkah kaki mereka terhenti. Mira tiba-tiba membalikkan badan, menatap lurus ke arah mata Agus dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Gu-Gus... maukah kamu jadi suami saya?" ujar Mira dengan nada suara yang sangat gugup. Jemarinya saling bertautan menahan debar jantung yang bergemuruh hebat.

Mendengar ucapan spontan itu di tempat pemakaman, Paman Mira langsung melotot kaget sampai hampir tersedak ludahnya sendiri. Sementara Agus seketika mematung di tempat, menatap wajah Mira yang merona di bawah sinar matahari pagi. Rasa duka di hatinya mendadak berbenturan dengan debar aneh yang tak terduga.

TAMAT

(Pasti kalian juga tahu apa jawaban Agus... Silakan tentukan sendiri bagaimana akhir dari kisah hati mereka.)

1
HERMAWAN 505
jadi kebahagian indra itu di singkat, jatuhnya indra bahagia cuma 3 bulan bersama Mira, kalau sakitnya karena ilmu pelet yang di pakai, kini berbalik menggerogoti tubuhnya sendiri. begitu kaka.👍
makasih atas koreksinya, ini sangat membantu buat kedepannya.🙏
Mega Arum
semoga karya kedepanya lbh bagus lg y Thor...
HERMAWAN 505: gimana pendapatmu tentang novel pertama saya? dan bagai mana perasaan kamu saat membaca novel pelet laknat ini?
total 2 replies
Mega Arum
msh tanda.tanya kak...knp.Indra bs tau2 sakit, blm juga ada bahagianya dg Mira.. ceritanya monoton tntg pertempuran dg dukun
Mega Arum
dr awal krg jelas..dr mana Indra tau keberadaan paranormal di tengah hutan itu, dan skt hati berlebihan sprti apa sbrnya Indra
HERMAWAN 505: makasih Mega Arum sudah mengikuti alur cerita saya sampai sejauh ini.
total 1 replies
Mega Arum
kasihaan Aguuus 😀
ÑIÇÃ
di tunggu lanjutannya💪
Wulandari Ayuningtyas
halo kak
mampir y ke novelku 😁
HERMAWAN 505: makasih sudah berkunjung ke novelku
total 1 replies
Aswad Us
kerennn👍
Raihan
di tunggu lajutan nya bang
HERMAWAN 505: makasih atas kunjungannya.
total 1 replies
Raihan
kak mampir juga la di novel ku 😄
Aswad Us
👍👍
Aswad Us
di tunggu bab berikutnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!