NovelToon NovelToon
The Architecture Of Us

The Architecture Of Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Skyline Scribe

Sael, seorang pengacara muda yang ambisius, akhirnya kembali ke tanah kelahirannya setelah tujuh tahun di luar negeri.
Ia dipertemukan kembali dengan Aeros—pria yang dulu ia kenal sebagai teman masa kecil, namun diam-diam menyimpan perasaan terhadap Sael.
Mereka mulai menyadari bahwa hubungan ini tidak lagi bisa disandarkan pada kata "kakak-adik".
Bagaimana mereka menghadapi cinta yang tumbuh di tengah ambisi dan debar yang tak lagi bisa disembunyikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 : Rendang Yang Kehilangan Rasa

"Aduh, Sael, makanya jangan melamun terus. Sudah besar juga," sahut Mama Sael sambil mengusap kepala belakang bungsunya itu dengan gemas, lalu beralih menatap Aeros. "Aeros, ayo langsung duduk. Anggap rumah sendiri ya. Orang tuamu masih di Singapura, kan?"

"Iya, Tante. Mungkin baru pulang akhir minggu ini," jawab Aeros sesopan mungkin.

​Saat Sael mengangkat tangannya untuk membenarkan posisi tas kerjanya yang merosot, sebuah botol kaca kecil mencuat dari tasnya yang terbuka setengah.

Botol itu bergeser, lalu menggelinding jatuh ke atas karpet tepat di dekat ujung sepatu Aeros.

​Aeros berlutut dengan satu kaki, memungut botol tersebut. Matanya menatap tajam tulisan pada label botol kapsul itu. Di bagian sudut bawahnya, ada coretan spidol kecil bertuliskan sebuah nama: ARKA.

​Rahang Aeros mengeras seketika. Mengingat kembali laki-laki yang tadi sore duduk di hadapan Sael dengan senyum merekah, dada Aeros kembali terasa panas terbakar.

​"Punya kamu?" suara Aeros terdengar lebih dingin saat ia menyodorkan botol itu ke hadapan Sael.

​Sael menoleh, sedikit terkejut melihat botol vitamin dari Arka berada di tangan Aeros. "Ah, iya, Kak. Itu punyaku... maksudnya pemberian dari teman kantor." Sael buru-buru mengambilnya kembali dan memasukkannya ke dalam tas dengan gugup.

​Aeros tidak merespons. Ia kembali menegakkan tubuh, menyembunyikan tangannya yang mengepal erat ke dalam saku celana.

Aeros melangkah menuju meja makan kayu jati yang panjang. Di sana, Papa Sael sudah duduk rapi sambil membaca tabletnya, sementara di kursi seberang, Kael yang wajahnya bak pinang dibelah dua dengan Sael langsung menegakkan tubuh dengan heboh begitu melihat mereka.

Meskipun wajah mereka identik, Aeros tidak pernah sedetik pun salah mengenali mereka. Kael adalah tipe orang yang emosinya langsung terbaca di wajah, ekspresif, banyak bicara, dan tidak bisa diam. Sangat kontras dengan Sael yang cenderung tenang, dan sedikit cuek dengan sekelilingnya—aura tenangnya itulah yang membuat Aeros jatuh hati.

"Malam, Om," sapa Aeros memberi hormat pada Papa Sael.

Papa Sael mendongak, lalu tersenyum lebar. "Eh, Aeros. Sini duduk, Ros. Bagaimana kerjaan di kafe? Lancar?"

"Lancar, Om," jawab Aeros singkat, mengambil posisi duduk tepat di sebelah Kael, berada tepat di hadapan Sael.

Kael langsung menyenggol lengan Aeros dengan heboh. "Kak Aeros! Gila, kamu telat banget! Biasanya kalau Mama masak rendang, kamu udah 𝘴𝘵𝘢𝘯𝘥𝘣𝘺 dari jam lima sore buat nyolong potongan pertama. Ke mana aja, sih?"

Aeros hanya menanggapi dengan dehaman samar.

Sael kemudian duduk di kursinya, tepat di depan Aeros. Berbeda dengan Kael yang masih mengoceh, Sael hanya diam kebingungan, sebenarnya ia sudah kenyang tapi ekspresi Mamanya membuat ia mau nggak mau harus ikut makan.

"Nah, ini rendang khusus buat Aeros, dan ini capcay kesukaan Sael," ujar Mama Sael riang, lalu ikut duduk di samping suaminya. "Ayo, dipimpin doanya, Papa."

Setelah doa selesai, suasana meja makan langsung didominasi oleh suara Kael.

"Eh, Sael! Tadi kenapa kamu pulang telat? Jangan bilang kamu lembur lagi ya!" cerocos Kael sambil menunjuk Sael pakai sendok.

Sael mengunyah makanannya perlahan. "Enggak. Tadi makan bareng Arka."

Mendengar nama itu disebut secara langsung dari mulut Sael, Aeros terdiam menghentikan gerakan sendoknya sebelum melanjutkan makannya dengan perlahan.

𝘈𝘳𝘬𝘢, 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘯𝘢𝘮𝘢 𝘭𝘢𝘬𝘪-𝘭𝘢𝘬𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘥𝘪, 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘫𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘬𝘪-𝘭𝘢𝘬𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘷𝘪𝘵𝘢𝘮𝘪𝘯 𝘬𝘦 𝘚𝘢𝘦𝘭, batin Aeros kesal.

"Hah?! Arka?!" Kael mendadak heboh sendiri, matanya membelalak kaget. "Arka yang kamu ceritain waktu itu. Pengacara yang beberapa hari yang lalu sering ngajak ribut itu? Ya Tuhan, Sael, dia benar-benar jatuh ke pesonamu kalau sampai berinisiatif ngajak makan."

"Apaan sih, dia cuman pengen traktir aku makan aja karena kemarin kita menang sidang," jawab Sael melotot ke arah Kael.

Aeros mengunyah daging rendangnya dengan perlahan, namun rasanya mendadak hambar. Meskipun respons Sael terlihat agak cuek dan biasa saja pada Arka, kenyataan bahwa Sael menerima perhatian kecil dari laki-laki itu, tetap membuat dada Aeros bergemuruh panas.

𝘜𝘩𝘶𝘬

Tiba-tiba Sael tersedak ringan. Ia terburu-buru saat menelan makanannya.

"Eh, Sael, minum-minum!" Mama Sael panik.

Kael baru saja mau mengambil teko, tapi tangan Aeros bergerak lebih cepat. Ia menyodorkan gelas air putih miliknya yang belum ia sentuh ke hadapan Sael.

"Minumlah," ucap Aeros.

"Makasih, Kak Aeros," ucap Sael pelan, lalu meminum habis air itu.

Aeros hanya mengangguk.

"Makanya, Sael, kalau makan itu pelan-pelan," ledek Kael yang langsung dihadiahi tatapan tajam dari Sael.

Papa Sael menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah kembar siam itu.

"Kael kalau lagi makan ya fokus makan, jangan ngajak ngobrol adikmu terus, kalau kamu yang tersedak baru tahu rasa" ujar Mamanya. Belaan Mamanya membuat Sael menjulurkan lidahnya mengejek Kael.

"Makasih Mama," ujar Sael, memeluk mamanya.

"Aku ke atas dulu ya, udah kenyang." Setelah melihat anggukan Papanya Sael bergegas ke kamarnya diiringi dengan tatapan Kael yang kesal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!