Pada ulang tahun pernikahannya yang pertama, Hazel Frost menemukan suaminya, Mason Roux mencium wanita lain dengan kedua matanya. Dan yang lebih menghancurkan lagi, bahwa wanita itu adalah adik tiri suaminya, Jennifer.
Pernikahan yang seharusnya menjadi kebahagiaan pun perlahan berubah menjadi rahasia yang menyakitkan. Meski tahu hatinya tidak pernah benar-benar dimiliki, Hazel tetap bertahan. Ia mencoba membuat Mason melihatnya sebagai seorang istri, bukan sekadar wanita yang terpaksa harus dinikahi.
Namun semakin lama, Hazel mulai menyadari satu hal, bahwa tidak semua cinta bisa diperjuangkan sendirian. Lalu ketika ia akhirnya memilih berhenti dan pergi, Mason justru mulai menyadari perasaannya yang sebenarnya.
Tapi apakah semuanya sudah terlambat? Apakah Hazel masih bersedia kembali pada pria yang pernah menghancurkan hatinya? Atau justru Mason Roux yang akan menyesal seumur hidup karena kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34
Suara denting sendok dan garpu terdengar pelan di meja makan pagi itu. Cahaya matahari masuk melalui jendela besar di samping ruangan, memantulkan warna hangat di atas meja marmer putih yang dipenuhi sarapan. Aroma kopi hitam milik Mason bercampur dengan aroma roti panggang yang baru keluar dari oven. Semuanya terlihat tenang, terlalu tenang.
Aku berjalan mendekat sambil merapikan cardigan tipis yang kukenakan. Rambutku masih sedikit berantakan karena aku bangun lebih siang dari biasanya. Begitu melihat Mason sudah duduk di sana dengan pakaian kerjanya yang rapi dan wajah yang tampak jauh lebih segar dibanding semalam, aku langsung menghela napas lega tanpa sadar.
“Maaf… aku bangun kesiangan,” kataku pelan sambil menarik kursi di depannya.
Mason hanya mengangkat pandangan sekilas sebelum kembali memotong makanannya. Tidak ada ekspresi khusus di wajahnya. Tetap tenang dan tetap datar seperti biasa. Namun entah kenapa, pagi ini aku tidak terlalu mempermasalahkannya. Fakta bahwa ia sudah terlihat sehat saja sudah cukup membuatku lega setelah semalaman melihatnya demam tinggi.
Aku menuangkan teh hangat ke cangkirku sendiri sebelum kembali menatapnya diam-diam. Warna pucat di wajahnya memang sudah menghilang. Bahkan sorot matanya terlihat jauh lebih fokus dibanding tadi malam saat tubuhnya nyaris ambruk di dapur.
“Demammu sudah turun?” tanyaku hati-hati.
“Sudah.” Jawabannya singkat.
Aku mengangguk kecil. “Syukurlah.”
Setelah itu suasana kembali hening. Hanya ada suara kecil alat makan yang sesekali bersentuhan dengan piring. Aku sebenarnya ingin bertanya lebih banyak. Tentang kepalanya yang sakit semalam. Tentang pekerjaannya yang terlalu berat. Tentang kenapa ia memaksakan diri sampai sakit seperti itu. Namun aku tahu batasanku. Mason bukan tipe pria yang suka ditanya terlalu banyak hal.
Aku menunduk menatap tehnya beberapa saat, hingga tiba-tiba suara Mason terdengar lagi di tengah keheningan.
“Terima kasih.”
Aku langsung mengangkat kepala.
Mason masih menatap piringnya ketika melanjutkan kalimatnya dengan nada yang tetap datar. “Karena sudah merawatku semalam.”
Dadaku langsung menghangat begitu saja. Sederhana sekali. Bahkan mungkin bagi orang lain itu hanyalah ucapan biasa. Namun untukku, ucapan itu terasa jauh lebih besar daripada yang terlihat. Karena ini pertama kalinya Mason benar-benar mengucapkan terima kasih padaku dengan tulus.
Aku bahkan sampai kehilangan respons selama beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum kecil. “Aku hanya melakukan hal yang memang seharusnya kulakukan.”
Mason tidak menjawab lagi setelah itu. Namun anehnya, aku tidak merasa kecewa. Aku justru terus mengingat kalimat tadi di kepalaku.
'Terima kasih.'
Satu kalimat sederhana yang terasa begitu sulit kudapatkan darinya selama ini. Namun kebahagiaan kecil itu tidak bertahan lama. Karena tanpa sadar, pikiranku kembali terlempar pada kejadian semalam. Pada suara lirih Mason saat tertidur. Pada nama yang keluar dari bibirnya dengan samar. Jennifer.
Jari-jariku langsung mengepal kecil di bawah meja. Aku buru-buru menyesap teh hangatku agar Mason tidak menyadari perubahan ekspresiku. Namun semakin aku mencoba melupakannya, semakin jelas suara itu terngiang di kepalaku.
Jennifer. Kenapa harus nama itu?
Aku menggigit bibir bawahku pelan. Berusaha menenangkan pikiranku sendiri. Jennifer adalah adik tirinya. Mereka memang dekat sejak kecil, sangat dekat bahkan. Jadi tentu saja wajar jika Mason memikirkannya saat sakit atau tidak sadar. Itu normal, dan mungkin sangat normal. Setidaknya itu yang terus kuucapkan pada diriku sendiri.
“Kau terlihat pucat.”
Suara Mason membuatku tersadar. Aku langsung mendongak cepat dan mendapati tatapannya tertuju padaku. Untuk pertama kalinya pagi ini, ia benar-benar memperhatikanku.
“Aku baik-baik saja,” jawabku cepat.
Mason menatapku beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk kecil. Setelah itu ia berdiri dari kursinya dan merapikan jasnya.
“Aku harus pergi.”
Aku ikut berdiri refleks. “Jangan terlalu memaksakan diri hari ini.”
“Mm.”
Itu saja jawabannya.
Namun sebelum benar-benar pergi, Mason sempat berhenti beberapa langkah dariku. “Istirahat juga kalau lelah.”
Kalimat itu terdengar begitu biasa, bahkan mungkin hanya formalitas. Namun tetap saja membuat jantungku berdetak sedikit lebih cepat.
Aku tersenyum kecil dan mengangguk. “Baik.”
Tak lama kemudian suara pintu utama terdengar tertutup, meninggalkan rumah besar itu kembali sunyi. Dan begitu kesunyian datang, pikiranku kembali dipenuhi hal yang sama. Jennifer.
Aku menghela napas panjang sambil menjatuhkan tubuh ke sofa ruang keluarga. Rasanya menyebalkan sekali bagaimana satu nama bisa terus mengganggu pikiranku seperti ini.
Padahal Linda pernah bilang aku harus berhenti terlalu fokus pada Jennifer. Aku harus lebih fokus mengenal Mason daripada sibuk mencurigai hubungan mereka. Tapi aku juga tidak bisa membohongi diriku sendiri. Ada sesuatu dalam kedekatan mereka yang selalu membuat dadaku terasa tidak nyaman.
Aku akhirnya meraih ponselku dan membuka kontak Linda. Untungnya ia langsung mengangkat panggilanku setelah beberapa dering.
“Hazel?” suaranya terdengar ceria dari seberang sana. “Ada apa?”
Aku langsung menjatuhkan tubuhku lebih dalam ke sofa. “Aku mengganggumu?”
“Tidak. Aku baru selesai meeting dengan supplier butik. Cerita saja.”
Aku terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berkata pelan, “Semalam Mason sakit.”
Nada suara Linda langsung berubah khawatir. “Sakit? Serius?”
Aku pun mulai menceritakan semuanya. Tentang bagaimana Mason hampir jatuh di dapur. Tentang bagaimana aku merawatnya semalaman. Hingga bagian yang paling mengganggu pikiranku sejak pagi tadi.
“Aku mendengar dia menyebut nama Jennifer waktu tidur,” ucapku pelan.
Hening beberapa detik terdengar dari seberang sana.
“Aku tahu ini terdengar aneh,” lanjutku cepat sebelum Linda salah paham. “Tapi entah kenapa aku terus memikirkannya.”
Linda tertawa kecil pelan. “Hazel… kau terlalu banyak berpikir.”
“Apa?”
“Coba pikir. Kalau kau sakit dan tidak sadar, siapa nama pertama yang mungkin keluar dari mulutmu?”
Aku terdiam. Lalu Linda melanjutkan dengan tenang, “Orangtuamu. Atau...Jake.”
Aku langsung mengerutkan kening kecil.
“Kau sangat dekat dengan kakakmu. Kau merasa aman dengannya. Jadi kalau tanpa sadar kau menyebut namanya, itu bukan berarti kau punya perasaan aneh pada Jake, kan?”
Aku langsung mendesah pelan sambil menutup wajah dengan tangan. “Tentu saja tidak.”
“Nah. Mungkin itu juga yang terjadi pada Mason.” Nada suara Linda terdengar lembut. “Jennifer sudah ada di hidupnya sejak lama. Mereka keluarga, dan sangat dekat. Jadi jangan langsung berpikir buruk.”
Aku terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk kecil meski Linda tidak bisa melihatnya.
“Kurasa… masuk akal.”
“Tentu saja masuk akal.” Linda tertawa kecil lagi. “Dan berhenti menyiksa dirimu sendiri dengan asumsi yang belum tentu benar.”
Aku akhirnya ikut tersenyum tipis. Benar juga. Mungkin aku memang terlalu sensitif akhir-akhir ini.
Setelah itu pembicaraan kami berubah lebih ringan. Linda mulai bercerita tentang kehidupannya di Dallas dan butik keluarga mereka yang semakin sibuk. Ia terdengar jauh lebih dewasa dibanding dulu.
“Kau sendiri bagaimana?” tanyanya kemudian.
Aku memandang keluar jendela beberapa saat sebelum menjawab pelan, “Aku mencoba menjalani semuanya.”
“Itu sudah bagus.”
Kami masih mengobrol cukup lama sebelum akhirnya panggilan berakhir. Dan untuk pertama kalinya sejak pagi tadi, pikiranku terasa sedikit lebih ringan. Mungkin aku memang harus berhenti terlalu fokus pada hal-hal yang belum tentu benar.
Aku memutuskan keluar rumah siang itu karena terlalu bosan berada di rumah yang sunyi. Sopir mengantarku ke sebuah kafe kecil di pusat kota Chicago yang cukup sering kukunjungi sejak dulu.
Udara musim gugur terasa dingin ketika aku masuk ke dalam kafe. Aroma kopi langsung menyambutku begitu pintu terbuka. Tempat itu tidak terlalu ramai, hanya dipenuhi beberapa orang yang sibuk dengan laptop atau buku mereka masing-masing.
Aku memilih duduk di dekat jendela sambil menikmati segelas latte hangat. Dan untuk beberapa saat, semuanya terasa damai. Sampai sebuah suara tiba-tiba memanggil namaku.
“Hazel?”
Aku menoleh refleks.
Seorang pria berdiri beberapa langkah dariku dengan ekspresi terkejut sekaligus senang. Rambut cokelatnya sedikit lebih pendek dibanding terakhir kali kulihat, namun senyumnya masih sama.
“Justin?”
Ia tertawa kecil lalu mendekat. “Astaga, sudah berapa lama kita tidak bertemu?”
Aku ikut tersenyum kecil. “Mungkin… tiga tahun?”
“Sepertinya lebih.” Justin menarik kursi di depanku setelah aku mempersilahkannya duduk. “Kau masih suka datang ke tempat ini rupanya.”
Aku mengangguk kecil. “Terkadang.”
Percakapan kami mengalir cukup mudah setelah itu. Justin memang selalu seperti itu sejak dulu. Mudah membuat suasana terasa nyaman. Ia bercerita tentang pekerjaannya sekarang di bidang arsitektur, proyek-proyek yang sedang ia tangani, juga kesibukannya yang membuatnya jarang muncul di lingkaran pertemanan lama kami.
“Aku sempat mencari kabarmu beberapa kali,” katanya sambil tersenyum kecil.
Aku sedikit terkejut. “Benarkah?”
“Mm.” Ia mengangguk santai. “Tapi kau seperti menghilang.”
Aku tertawa kecil pelan. “Kurasa aku memang terlalu sibuk akhir-akhir ini.”
Justin menatapku beberapa saat sebelum bertanya, “Jadi… sekarang kau tinggal di mana?”
Aku menyebutkan area tempat tinggalku tanpa terlalu detail. Dan dari ekspresinya, sepertinya ia cukup terkejut.
“Ah, jadi kau tinggal di kawasan elit itu sekarang rupanya,” gumamnya.
Aku hanya tersenyum tipis tanpa menjelaskan apa pun. Justin memang belum tahu tentang pernikahanku. Dan anehnya, aku tidak langsung tahu bagaimana harus mengatakannya.
Obrolan kami terus berlanjut cukup lama hingga akhirnya ia melirik jam tangannya dan menghela napas kecil.
“Aku harus kembali ke kantor.”
Ia merogoh saku jasnya lalu menyerahkan sebuah kartu nama padaku. “Kalau butuh apa pun… hubungi aku.”
Aku menerimanya perlahan. “Terima kasih.”
Justin berdiri sambil tersenyum hangat. Tatapannya sempat tertahan beberapa detik padaku sebelum akhirnya berkata pelan, “Senang bisa bertemu lagi denganmu, Hazel.”
Aku tersenyum kecil. “Aku juga.”
Setelah Justin pergi, aku kembali menatap cangkir kopiku yang tinggal setengah. Jemariku memainkan kartu nama di tanganku perlahan.
Entah kenapa, pertemuan itu membuatku sedikit nostalgia pada masa lalu. Pada masa ketika semuanya terasa jauh lebih sederhana dibanding sekarang. Namun bahkan di tengah suasana tenang kafe itu, pikiranku tetap kembali pada satu orang yang sama. Mason. Dan tanpa sadar, aku kembali bertanya dalam hati. Berapa lama lagi aku harus belajar memahami pria itu tanpa benar-benar tahu apakah ia akan pernah membuka hatinya untukku atau tidak?
lebih baik di cinta dari pada mencintai mencintai seorang diri tuh cape ya kalau kamu ikhlas di madu ya ga papa sih zel cinta level dewa
kalau bisa jangan kembali ke rumah itu biarkan mereka bahagia cinta level dewa kalau kembali cintamu level kacrut 🤭
betul" nih kamu zel muka tembok hati bebal orang ga cinta kamu paksa
gumussss aku
mungkin suatu saat nanti mason ada hati ke kamu untuk sekarang mundur lah ihhhj ga ada harga diri memaksa