NovelToon NovelToon
Terjerat Hati Adik Ipar

Terjerat Hati Adik Ipar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Senjani jingga

Thanaya Radiva dikira menikah adalah akhir dari kesepiannya. Arkan lelaki yang selalu setia mendengarkan keluh kesahnya setiap malam, selalu membuatnya bahagia.

Tapi setelah menikah, malam pertamanya jadi malam terakhir Arkan menyentuhnya. Akhir dari sikap hangatnya, semuanya telah berubah.

Sampai Naya tau, Mertuanya yang ternyata bermuka dua dan kehadiran Bara, adik Arkan, jadi bumerang dalam rumah tangganya. Bara lelaki dingin berhati hangat, siswa populer di sekolahnya dulu, menyimpan sejuta rahasia yang Naya ingin bongkar. Semakin Naya tahu, semakin ia terjebak dalam hati Bara.

Akankah Naya terus terjerat dalam cinta yang salah dengan adik iparnya? Atau ia akan mengakhiri jeratan itu demi suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 04•Adik Ipar

Naya masih duduk di aspal. Napasnya belum stabil. Lututnya perih.

“Bara…?” suaranya nyaris berbisik.

Pria di depannya terdiam sejenak. Wajahnya tegang, matanya menyapu Naya dari atas ke bawah. Jelas ada keterkejutan di sana. Ada khawatir.

Tapi sedetik kemudian, ekspresinya berubah. Datar. Dingin.

“Nggak apa-apa?” tanyanya, seolah baru pertama kali melihat Naya.

Naya mengernyit. “Kita… kenal kan?”

Bara tidak menjawab. Ia langsung berjongkok, memeriksa lutut Naya. Ada lecet tipis, darahnya merembes kena aspal.

“Tunggu di sini,” perintahnya singkat.

Ia masuk ke mobil, memundurkannya ke bahu jalan, lalu mematikan mesin. Tanpa banyak bicara, ia membuka pintu penumpang depan.

“Masuk.”

“Eh, nggak usah, aku bisa sendiri—”

“Masuk,” potong Bara lagi. Nadanya tegas, tapi bukan membentak.

Naya ragu. Tapi taksi yang ia pesan sudah pergi. Dan kakinya masih gemetar. Akhirnya ia menurut, masuk ke mobil hitam itu.

Di dalam, aroma mobil Bara bersih. tidak ada wangi parfum aneh. Hanya bau kulit jok baru.

Bara menyalakan mesin, tapi tidak langsung jalan. Ia melirik Naya sekilas. “Mau kemana?”

Nada suaranya datar. Kayak supir taksi yang bertanya kepada penumpang.

Naya terdiam setengah detik. “Ke… ke kantor. Di Jalan Sudirman.”

Bara hanya mengangguk. tidak ada komentar. Mobil langsung melaju.

Di tengah jalan, Bara tiba-tiba menepi ke apotek. Ia turun, masuk, dan beberapa menit kemudian kembali membawa kantong plastik kecil.

Tanpa aba-aba, ia berjongkok di samping pintu mobil. Membuka kotak P3K. Mengeluarkan kapas, antiseptik, dan plester.

“Angkat kaki ,” katanya sambil menunjuk lutut Naya yang luka.

Naya kaget. “Eh, aku bisa sendiri...”

Bara mendongak, menatapnya tajam. “Kalau bisa sendiri, nggak akan duduk di aspal barusan.”

Nada itu dingin. Tapi tangannya hati-hati saat membersihkan luka Naya. Gerakannya cepat, terlatih. Tidak sakit.

Naya diam. Canggung. Pria ini menyelamatkan dia, menolong dia, tapi sikapnya seperti ngobrol dengan orang asing di jalan. Padahal sudah jelas mereka saling kenal, atau dia memang pura-pura tidak mengenal Naya.

“Terima kasih,” ucap Naya pelan setelah plester terpasang.

Bara hanya mengangguk. Ia kembali ke kursi pengemudi.

Sepanjang jalan ke Sudirman, tidak ada obrolan. Hanya suara mesin dan klakson. Naya beberapa kali melirik Bara. Wajahnya datar. Fokus ke jalan. Dingin.

Sampai di depan gedung kantor, Bara memberhentikan mobil. “Sudah.”

Naya membuka pintu. “Makasih banyak. Maaf udah ngerepotin.”

Bara tidak menjawab. Ia hanya melirik sekilas, lalu mobilnya melaju pergi.

Naya berdiri di trotoar, memegangi tasnya. Bingung.

Kenapa sebenarnya pria itu? bersikap seolah mereka tidak saling menganal?

......................

Malam harinya, tubuh lelah Naya berjalan lesu menuju kontrakan. Sepatu Arkan sudah terjejer rapi di depan pintu. Naya menarik napas, berusaha memasang wajah baik-baik saja.

Begitu pintu dibuka, Arkan langsung menyambut. Ia memeluk Naya erat, menggandeng tangannya masuk, lalu menutup pintu kembali.

“Aku punya kejutan,” ujar Arkan, matanya berbinar. “Tutup matamu.”

Naya menurut. Ia memejamkan mata, jantungnya berdegup pelan.

“Hitung sampai tiga,” kata Arkan. “Satu… dua… tiga. Buka.”

Naya membuka mata.

Sebuah kotak beludru merah ada di tangan Arkan. Ia membukanya perlahan.

Cincin berlian berkilau di dalamnya. Cincin yang sama persis dengan yang pernah Naya lihat setahun lalu saat mereka iseng lewat toko perhiasan. Naya bahkan sempat bilang, “Kalau ada yang ngasih aku cincin kayak gini, pasti aku langsung mau.”

Senyum Naya mengembang tanpa bisa ditahan.

Arkan mengambil cincin itu, lalu menyelipkannya ke jari manis Naya. “Aku bakal kenalin kamu sama Mama dan adikku, secepatnya, Nay,” bisiknya.

Naya mengangguk. Dadanya hangat. Ia mendekat, mengecup pipi Arkan lembut. “Terima kasih.”

Malam itu, setelah Arkan pulang, Naya masih menatap cincin di jarinya lama sekali. Hubungan mereka terasa lebih erat. Lebih nyata. Ada janji yang baru saja diikat.

......................

Mentari terbit lebih cepat dari yang Naya harapkan. Ia kesiangan untuk pertama kalinya. Semalam ia tidur terlalu nyenyak, ditemani bayangan senyum Arkan dan berat cincin di jari manisnya.

Telepon berdering. Nama “Mas Arkan” muncul di layar.

“Nay, siap-siap ya. Aku jemput kamu sekarang,” suara Arkan terdengar cerah di ujung telepon.

“Iya, aku siap-siap sekarang, Mas,” balas Naya cepat. Ia langsung mematikan telepon dan tersenyum tanpa henti.

Hari ini ia rela cuti kerja. Demi bertemu keluarga Arkan.

Lemari bajunya ia bongkar habis. Satu per satu gaun ia coba, lalu lepas lagi.

“Gak cocok,” gumamnya, melepaskan gaun cokelat yang baru ia kenakan.

Di atas kasur sudah jadi gunungan pakaian. Tapi belum ada yang terasa pas.

Sampai terdengar suara pintu kontrakan dibuka.

“Nay, masih lama?” Suara Arkan dari luar kamar.

Naya panik. Ia buru-buru meraih kembali gaun cokelat tadi, menarik resletingnya cepat-cepat. Pantulan di kaca menunjukkan lekuk tubuhnya yang pas dibalut gaun itu. Riasan tipis, liptint di bibir, cukup.

Ia tersenyum pada pantulannya sendiri, meletakkan kaca kembali ke meja, lalu membuka pintu kamar.

Arkan langsung menoleh.

Matanya berhenti di Naya beberapa detik.

“Cantik,” ucapnya pelan, sambil tersenyum.

Naya ikut tersenyum. Untuk pertama kalinya setelah berhari-hari, ia merasa… aman.

Mereka masuk ke dalam mobil Arkan. Sepanjang perjalanan, detak jantung Naya tak kunjung tenang. Rasanya seperti mau memberontak dari tempatnya. Bohong kalau ia tidak gugup. Tangannya berkeringat sejak tadi.

“Nay, tenang aja. Mama baik kok. Nggak usah tegang gitu, sayang,” ujar Arkan sambil mengelus pundaknya.

Sentuhan itu sedikit meredakan gugup Naya.

Setengah jam kemudian, mereka sampai. Rumah Arkan. Dua lantai, halamannya luas. Jauh lebih besar dari yang pernah Naya bayangkan.

Matanya tak bisa lepas dari bangunan itu. Sampai ia tak sadar Arkan sudah membukakan pintu mobilnya.

“Eh, iya. Makasih, Mas.”

Naya turun. Tapi langkahnya terhenti.

Pandangannya tertuju ke mobil disebelah. Mobil hitam di sana. Mobil yang sama. Mobil yang hampir menabraknya kemarin pagi.

“Bara…” bisiknya lirih.

Arkan berhenti melangkah. Ia menoleh ke belakang. Naya masih berdiri kaku di garasi.

“Nay, ayo cepat,” titahnya pelan.

Naya segera menyusul di belakang Arkan, memasuki rumah itu. Dua orang pelayan menunduk hormat saat mereka lewat.

Naya takjub. Ini pertama kalinya ia melihat langsung bagaimana hidup Arkan. Jauh lebih baik dari semua yang pernah ia tebak.

Seorang wanita paruh baya muncul dari ruang tengah. Wajahnya halus, tanpa kerutan. Dua gelang tebal melingkar di tangan kirinya. Tangan kanannya memegang kipas. Lipstik merahnya mencolok di mata Naya.

Wanita itu tersenyum saat melihat Naya.

“Ma, ini Naya. Yang Arkan ceritain ke Mama kemarin,” jelas Arkan.

Wanita itu menatap Naya dari atas sampai bawah. Ekspresinya datar, tapi senyumnya mengembang saat tatapan mereka bertemu.

“Selamat datang, Nak. Ayo masuk.”

Lalu ia mengangkat suara, memanggil ke arah tangga.

“Bara, Sayang. Turun, Nak. Sambut calon kakak iparmu…”

Suaranya nyaring. Mungkin sampai ke lantai atas.

Langkah Naya terhenti.

Darahnya seperti berhenti mengalir. Kakinya terasa berat, tak mampu bergerak.

Bara.

Mobil di garasi tidak salah. Suara itu tidak salah.

Bara… adalah adik kandung Arkan.

1
azzura faradiva
terlalu berbelit²,tinggal bilang aku ga jadi nikah aja kok susah....🙄
azzura faradiva
dasar si Arkan bunglon semoga saja pasangan gila itu mendapatkan karma,mereka tertawa bahagia diatas penderitaan dan luka hati si naya
azzura faradiva
seharusnya Naya menghilang dan pergi yg jauh,biar ga pernah bertemu lagi dgn kluarga gila itu lagi
azzura faradiva
pergi aja, ngapain juga masih bertahan di rumah syetan itu.udah di tindas harga diri di injak² masih aja mau di jadikan budak🙄
azzura faradiva
lagian jadi perempuan ga ada harga dirinya sama sekali,udah tau di budakin dan di khianati masih saja bertahan tinggal disitu
Raden Saleh
💪 semangat terus berupaya, karena cinta tak selalu mulus, dan perlu di perjuangkan. 👍
senjani jingga: benar sekali😁💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!