NovelToon NovelToon
Jejak Darah Yang Menghilang

Jejak Darah Yang Menghilang

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Fantasi / Anime
Popularitas:127
Nilai: 5
Nama Author: Caesarius A Enda

Selama 10 tahun, Inspektur REYHAN tidak pernah bisa melupakan kasus pembunuhan berantai yang membuat rekannya mati mengenaskan. Ciri khas pembunuhnya: selalu meninggalkan genangan darah segar, tapi TIDAK ADA JENAZAH, TIDAK ADA JEJAK, DAN TIDAK ADA MAYAT — seolah darah itu mengalir dan lenyap begitu saja ke dalam udara. Kasus itu ditutup sebagai misteri tak terpecahkan, sampai Reyhan menemukan petunjuk yang mengarah ke desa terpencil bernama DESA KELAM — tempat di mana rahasia paling mengerikan disembunyikan selama ratusan tahun. Di sana ia sadar: ini bukan sekadar pembunuhan biasa, tapi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar dan mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Caesarius A Enda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JEJAK YANG TIDAK BOLEH ADA

Kisah: Jejak Darah yang Menghilang

Setelah kedamaian terjalin dan semua sisi diri diterima, Raka, Lira, serta sosok yang dulu disebut Penghapus Agung — yang sekarang memilih nama SANG PEMBEDA — berpikir bahwa semua bahaya sudah berakhir. Mereka percaya bahwa dengan menyatukan segala sesuatu, tidak akan ada lagi yang dibuang, dihapus, atau dikucilkan. Dunia dan seluruh alam semesta terasa utuh, seimbang, dan aman.

Tapi… mereka salah besar. Bahaya yang sebenarnya baru saja mulai bangkit.

Semuanya bermula dari hal yang paling aneh dan mengerikan: HAL-HAL YANG MULAI HILANG TANPA ALASAN, TANPA JEJAK SAMA SEKALI — BAHKAN TANPA PERNAH DIINGAT SEBELUMNYA.

Awalnya hanya benda-benda kecil: batu, tanaman, bintang-bintang kecil di langit. Tidak ada yang menyadarinya, karena tidak ada yang pernah memperhatikan atau mengingat keberadaan mereka. Lama-kelamaan, hal yang lebih besar mulai hilang: pulau yang tidak banyak orang kunjungi, sungai yang tidak tercatat di peta, bahkan binatang yang jarang dilihat manusia. Dan yang paling mengerikan — ORANG-ORANG YANG KEHIDUPANNYA DIANGGAP TIDAK PENTING, YANG TIDAK PUNYA TEMAN, TIDAK PUNYA KELUARGA, TIDAK PUNYA ORANG YANG MENGINGAT MEREKA — MEREKA MULAI LENYAP SATU PER SATU.

Bedanya dengan kasus dulu: dulu orang hilang tapi masih ada jejak, masih ada ingatan, masih ada bagian yang tersisa. SEKARANG, MEREKA LENYAP SEOLAH TIDAK PERNAH ADA SEJAK AWAL. Tidak ada catatan, tidak ada foto, tidak ada ingatan siapa pun tentang mereka. Seolah sejarah, waktu, dan alam semesta sendiri menghapus keberadaan mereka sampai ke akar-akarnya — lebih sempurna, lebih mutlak daripada apa yang pernah dilakukan oleh Dara atau Penghapus Agung dulu.

Raka merasa darahnya membeku setiap kali menemukan kejadian seperti ini. Ia yang bisa melihat dan merasakan setiap jejak yang pernah ada, sekarang merasa ada KEKOSONGAN YANG SEMAKIN MEMBESAR di mana-mana — lubang-lubang besar di dalam kain waktu dan ruang, tempat di mana sesuatu seharusnya ada tapi sekarang kosong, sunyi, dan tidak ada apa pun yang bisa menjelaskan apa yang pernah ada di sana.

“Ini bukan pekerjaan makhluk hidup mana pun,” kata Sang Pembeda dengan suara gemetar, sesuatu yang belum pernah terjadi padanya sebelumnya. “Ini bukan kekuatan dari terang atau gelap, bukan dari ada atau tidak ada. Ini adalah kekuatan yang BERADA DI LUAR SEGALA PERATURAN, DI LUAR SEGALA PENGERTIAN. Kekuatan yang bahkan tidak bisa disebut makhluk, karena ia tidak punya bentuk, tidak punya pikiran, tidak punya keinginan — ia hanya BERJALAN SESUAI ATURANNYA SENDIRI YANG TIDAK BISA DILAWAN.”

Suatu malam, saat mereka berkumpul di Perpustakaan Kehidupan, seluruh ruangan tiba-tiba menjadi gelap total — lebih gelap dari malam, lebih gelap dari kegelapan di luar waktu. Cahaya apa pun tidak bisa menyala, suara apa pun tidak bisa terdengar, dan semua orang di sana merasa bahwa DIRI MEREKA SENDIRI MULAI MENIPIS, MULAI HILANG, MULAI TIDAK ADA LAGI.

Dari kegelapan yang mutlak itu, muncul sesuatu — bukan sosok, bukan suara, melainkan RASA YANG LANGSUNG MASUK KE DALAM SETIAP BAGIAN DARI KEBERADAAN MEREKA. Rasa itu dingin, kosong, dan mutlak, membawa pesan yang tidak perlu diucapkan karena semua orang langsung memahaminya:

“AKU ADALAH ATURAN UTAMA. Aku adalah alasan kenapa ada yang boleh ada dan ada yang harus tidak ada. Kalian berpikir kalian bisa mengubah segalanya dengan menerima dan menyatukan? Kalian salah. Aku tidak peduli apa yang kalian inginkan, apa yang kalian percayai, apa yang kalian buat. HANYA HAL YANG PUNYA ALASAN UNTUK ADA YANG BOLEH TETAP ADA. Segala sesuatu yang tidak punya alasan, tidak punya tujuan, tidak punya tempat — AKU AKAN MENGHAPUSNYA SAMPAI TIDAK ADA SAMA SEKALI.”

Lira berusaha sekuat tenaga untuk berbicara, untuk melawan rasa kosong yang mulai menarik ingatannya keluar: “Tapi… tapi setiap hal punya alasan untuk ada! Setiap kehidupan berharga, setiap jejak penting!”

“BAGIKU, TIDAK,” jawab rasa itu lagi, semakin kuat dan semakin dekat, sampai rasanya seluruh tubuh mereka mau lenyap seketika. “Alasan untuk ada bukan karena kalian menginginkannya, bukan karena kalian menyimpannya. Alasan untuk ada adalah karena IA DIPERLUKAN OLEH SELURUH SISTEM. Selama ini kalian menyimpan segala hal — baik yang berguna maupun yang tidak berguna, baik yang punya tempat maupun yang tidak punya. Kalian membuat tumpukan sampah dari segala sesuatu yang tidak punya tujuan. Sekarang aku datang untuk MEMBERSIHKANNYA. Dan aku tidak akan berhenti sampai hanya hal yang benar-benar diperlukan yang tersisa.”

Seketika itu juga, mereka melihat pemandangan yang mengerikan di luar sana. Bintang-bintang yang tidak punya fungsi, galaksi yang tidak berpengaruh, dunia-dunia yang tidak menghasilkan apa-apa — semuanya lenyap satu per satu, tidak ada ledakan, tidak ada sisa, hanya kekosongan yang semakin besar menggantikan tempat mereka. Di bumi, semua hal yang dianggap “tidak penting” mulai hilang: seni yang tidak dimengerti, cerita yang tidak dipahami, perasaan yang tidak bisa dijelaskan, mimpi yang tidak terwujud — semuanya lenyap, dan orang-orang mulai menjadi makhluk yang hanya melakukan apa yang diperlukan, hanya berpikir apa yang berguna, tidak punya rasa, tidak punya keinginan, tidak punya apa pun yang membuat mereka menjadi manusia.

“Ini lebih buruk dari apa pun yang pernah kita hadapi,” bisik Raka dengan suara yang hampir tidak terdengar, karena bahkan suaranya sendiri mulai menipis. “Dulu kita melawan orang yang ingin menguasai, makhluk yang ingin makan, kekuatan yang ingin menghapus. Sekarang kita melawan ATURAN ITU SENDIRI. Melawan alasan kenapa sesuatu bisa ada atau tidak ada. Bagaimana kita bisa melawan sesuatu yang lebih tua dari waktu, lebih besar dari alam semesta?”

Tiba-tiba, dari dalam kekosongan itu muncul bayangan kecil — sesuatu yang tidak seharusnya ada, sesuatu yang seharusnya sudah dihapus sejak awal. Itu adalah sosok DARA — tapi bukan Dara yang jahat atau Dara yang baik, melainkan DARA YANG TIDAK PERNAH TERJADI. Versi dari dirinya yang gagal sejak awal, yang tidak pernah punya kekuatan, tidak pernah membuat rencana, tidak pernah melakukan apa pun — sosok yang seharusnya lenyap karena tidak punya alasan untuk ada.

“Kalian bingung ya?” kata sosok Dara itu dengan suara yang tipis seperti benang halus, tapi terdengar jelas di tengah keheningan mutlak. “Kalian berpikir bahwa keberadaan tergantung pada alasan atau tujuan? Kalian salah. KEBERADAAN ITU HANYA KARENA KEMAUAN. Bukan karena diperlukan, bukan karena berguna — tapi hanya karena IA INGIN ADA. Aku tidak punya alasan untuk ada, aku tidak punya tujuan, aku tidak berguna bagi siapa pun atau apa pun. Tapi aku tetap ada. Karena aku MEMILIH UNTUK TETAP ADA. Dan itulah satu-satunya hal yang bisa melawan Aturan Utama ini.”

Raka, Lira, dan Sang Pembeda terkejut luar biasa. Selama ini mereka berpikir bahwa mereka ada karena alasan tertentu, karena tugas tertentu, karena peran tertentu. Ternyata itu semua bohong. Hal yang paling dasar dan paling kuat adalah KEINGINAN SENDIRI.

“Lihat aku,” kata sosok Dara itu lagi, tubuhnya yang semula hampir lenyap sekarang mulai menjadi semakin jelas dan kuat. “Aku adalah kesalahan, aku adalah sampah, aku adalah hal yang tidak diperlukan menurut aturan mana pun. Tapi karena aku INGIN ADA, AKU TETAP ADA. Dan semakin kuat keinginanku, semakin sulit aku dihapus. Aturan Utama ini hanya bisa menghapus hal yang TIDAK PEDULI apakah mereka ada atau tidak. Ia tidak bisa menyentuh hal yang INGIN ADA DENGAN SELURUH JIWA RAGANYA.”

Seketika itu juga, Raka mengerti segalanya. Selama ini mereka menyimpan jejak, menyimpan ingatan, menyimpan segala sesuatu — tapi mereka menyimpannya karena mereka PIKIR itu penting, karena mereka PIKIR itu berharga. Mereka tidak pernah bertanya pada hal-hal itu sendiri: APAKAH KALIAN INGIN TETAP ADA?

Aturan Utama ini tidak jahat, ia juga tidak baik. Ia hanya bekerja sesuai dengan jawaban dari pertanyaan itu. Hal yang tidak peduli, yang tidak punya keinginan sendiri, yang hanya ada karena diletakkan di sana — ia akan menghapusnya. Hal yang punya keinginan sendiri, yang ingin ada dengan seluruh kekuatannya — ia tidak bisa menyentuhnya, tidak peduli seberapa kecil, seberapa tidak berguna, atau seberapa aneh hal itu.

“KITA SALAH CARA!” teriak Raka lantang, suaranya sekarang kuat dan jelas, menembus kegelapan mutlak itu. “Selama ini kita menyimpan segalanya SEBAGAI BENDA, SEBAGAI CATATAN, SEBAGAI KOLEKSI. Kita tidak pernah membiarkan mereka MEMILIH SENDIRI APA YANG MEREKA INGINKAN! Kita memberi mereka alasan untuk ada MENURUT KITA, bukan MENURUT DIRI MEREKA SENDIRI!”

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Raka melepaskan semua kekuatan penyimpanan yang ia miliki. Ia tidak lagi menyimpan ingatan orang, tidak lagi menjaga jejak mereka, tidak lagi membuat catatan tentang mereka. Sebaliknya, ia MEMBEBASKAN SEMUA JEJAK, SEMUA INGATAN, SEMUA KEHIDUPAN — MEMBIARKAN MEREKA MEMILIH SENDIRI APA YANG MEREKA INGIN LAKUKAN.

Lira juga segera mengerti. Ia menghancurkan semua rak, semua buku, semua catatan di Perpustakaan Kehidupan. “Jangan aku yang simpan ceritamu! KAMU SENDIRILAH YANG HARUS MEMEGANG CERITAMU! JIKA KAMU INGIN ADA, PEGANG ERAT-ERAT CERITAMU ITU DENGAN SELURUH KEKUATANMU!”

Sang Pembeda yang dulu selalu memisahkan dan mengatur, sekarang melepaskan semua batasan yang pernah ia buat. “Jangan aku yang tentukan tempatmu! KAMU SENDIRILAH YANG HARUS MENENTUKAN TEMPATMU SENDIRI! JIKA KAMU INGIN ADA, CARILAH TEMPATMU ITU DAN TETAP DI SANA DENGAN KUAT!”

Perubahan dahsyat terjadi seketika.

Hal-hal yang tidak punya keinginan sendiri, yang hanya ada karena diletakkan di sana — mereka lenyap dengan tenang, tanpa rasa sakit, karena mereka sendiri sebenarnya tidak peduli apakah mereka ada atau tidak. Tapi hal-hal yang punya keinginan sendiri, yang ingin ada dengan seluruh jiwanya — mereka menjadi semakin kuat, semakin jelas, semakin nyata. Bahkan hal yang paling kecil, paling tidak berguna, paling aneh sekalipun — jika ia INGIN ADA, ia akan tetap ada, tidak bisa dihapus oleh aturan apa pun, tidak bisa diubah oleh kekuatan apa pun.

Kekosongan besar yang tadinya semakin membesar sekarang berhenti total. Rasa dingin dan mutlak dari Aturan Utama itu tidak lagi terasa mengancam, karena ia hanya melakukan tugasnya: menghapus apa yang tidak ingin ada, dan membiarkan apa yang ingin ada tetap ada.

“Kalian akhirnya mengerti,” kata rasa itu terakhir kali, sekarang tidak lagi menakutkan melainkan tenang dan adil. “Aku tidak pernah menjadi musuh kalian. Aku hanya menyaring apa yang BENAR-BENAR INGIN ADA dari apa yang hanya ADA KARENA TERDORONG. Sekarang kalian bebas. Sekarang setiap hal bertanggung jawab atas keberadaannya sendiri.”

Saat kegelapan itu mereda, dunia dan seluruh alam semesta terlihat berbeda — tidak lagi penuh dengan segala sesuatu yang menumpuk, tapi penuh dengan hal-hal yang BENAR-BENAR HIDUP. Setiap makhluk, setiap benda, setiap cerita, setiap jejak yang tersisa di sana adalah hal yang MEMILIH UNTUK ADA, yang memegang erat keberadaannya sendiri, yang tidak bergantung pada siapa pun atau apa pun untuk tetap ada.

Sosok Dara yang tidak pernah terjadi itu tersenyum dan perlahan menghilang — bukan karena dihapus, tapi karena ia sendiri MEMILIH untuk pergi, karena tugasnya sudah selesai.

“Aku sudah menunjukkan jalan yang benar,” bisiknya sebelum lenyap sepenuhnya. “Sekarang kalian tahu: JEJAK YANG TIDAK AKAN PERNAH HILANG ADALAH JEJAK YANG DIPEGANG ERAT OLEH PEMILIKNYA SENDIRI. Bukan yang disimpan orang lain, bukan yang dijaga aturan, tapi yang diinginkan dengan seluruh jiwa.”

Raka, Lira, dan Sang Pembeda berdiri di tengah dunia yang baru ini, merasa lebih hidup, lebih bebas, dan lebih kuat dari sebelumnya. Mereka tidak lagi menjadi penjaga jejak, tidak lagi menjadi pelindung ingatan — mereka hanya menjadi salah satu dari sekian banyak hal yang MEMILIH UNTUK ADA, sama seperti yang lain.

Tapi… di kejauhan, di tempat yang paling dalam dan paling tersembunyi di luar segala sesuatu, ada sesuatu yang mulai bergerak lagi. Sesuatu yang INGIN TIDAK ADA DENGAN SELURUH KEKUATANNYA. Sesuatu yang memegang erat ketidakadaannya sendiri, dan sekarang mulai bergerak keluar untuk menghapus segala sesuatu yang ada — bukan karena aturan, bukan karena tugas, tapi karena IA BENCI SEGALA SESUATU YANG ADA.

Dan kali ini, tidak ada aturan yang bisa menghentikannya. Karena sama seperti keinginan untuk ada adalah kekuatan yang mutlak, KEINGINAN UNTUK TIDAK ADA JUGA ADALAH KEKUATAN YANG MUTLAK.

1
Awan
mantap
Awan
wow
Awan
bagus nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!