Raditya Baskara tahu cara mengelola bisnis mode bernilai miliaran, tapi dia sama sekali tidak tahu cara bersikap "normal". Dia adalah tipe bos yang bisa mendadak mengadakan lomba balap kursi roda di koridor kantor saat jam kerja hampir di mulai. Satu-satunya rem darurat dalam hidup Radit adalah Kirana, sekretarisnya yang super kaku dan selalu memandangnya dengan tatapan menghakimi.
Namun, sebuah kesalahpahaman di hadapan media membuat mereka terjebak dalam rumor asmara. Demi reputasi saham perusahaan, mereka terpaksa mempertahankan sandiwara tersebut di luar jam kantor. Masalahnya, bagaimana cara menjalani hubungan pura-pura jika sang CEO selalu bertingkah ajaib, sementara sang sekretaris menanggapi gombalan romantis dengan analisis SWOT? Ini adalah kisah tentang lembur paling melelahkan, sekaligus paling membahagiakan dalam hidup Kirana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara_R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
"Baik. Kalian menang. Aku akan menandatangani surat kuasa pengalihan hak suara proxy voting untuk RUPSLB hari Senin nanti atas namamu, Radit".
"Sekretaris Kirana sudah menyiapkan dokumen digitalnya. Silakan tanda tangan di sini" Kirana menyodorkan tabletnya dengan senyuman profesional yang sangat formal, seolah baru saja menyelesaikan transaksi rutin biasa.
Setelah proses tanda tangan digital selesai, Radit dan Kirana bangkit berdiri untuk meninggalkan area klub golf. Sebelum melangkah pergi, Radit berbalik sejenak, menatap Wira Atmajaya yang masih tampak syok di kursinya.
"Satu hal lagi, Wira," ucap Radit dengan nada bariton yang tajam dan berbahaya. "Jangan pernah menyebut nama Kirana Larasati dengan nada seperti itu lagi di hadapanku. Dia bukan lagi wanita yang bisa kamu remehkan seperti sepuluh tahun lalu. Dia adalah masa depanku, dan siapa pun yang mencoba mengusik masa lalunya, artinya dia sedang menandatangani surat kebangkrutannya sendiri".
Wira Atmajaya hanya bisa terdiam membeku, menatap punggung kedua orang itu yang berjalan menjauh dengan langkah yang begitu sinkron dan penuh kemenangan.
Di mobil dalam perjalanan kembali ke Jakarta, atmosfer di antara Radit dan Kirana terasa begitu lega. Dengan 18% suara dari Arwana Fund, total suara yang mereka miliki kini mencapai lima puluh satu persen mayoritas mutlak yang sah secara hukum untuk membatalkan mosi apa pun di RUPSLB nanti.
Radit mengemudikan mobilnya dengan satu tangan, sementara tangan kirinya kembali terulur, mencari jemari Kirana dan menggenggamnya erat di atas konsol tengah.
"Kamu tadi luar biasa, Kirana," ujar Radit tulus, matanya sesekali melirik wanita di sampingnya. "Cara kamu membongkar data Arwana Fund benar-benar membuat Wira tidak berkutik".
Kirana tersenyum, menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi, membiarkan kehangatan tangan Radit meresap ke dalam hatinya.
"Saya hanya melakukan tugas saya sebagai tunangan... yang sesungguhnya, Radit".
Radit terkekeh mendengar pengakuan itu, lalu meremas jemari Kirana dengan penuh kasih. Hari Senin besok mungkin akan menjadi hari pertempuran formal di ruang RUPSLB, namun malam ini, mereka tahu bahwa mereka telah memenangkan perang yang sesungguhnya.
___
Hari Senin pagi tiba dengan atmosfer yang sewarna baja. Gedung pencakar langit Baskara Group di kawasan Segitiga Emas Jakarta seolah diselimuti oleh aura kompetisi yang pekat. Sejak pukul delapan pagi, lobi utama lantai eksekutif sudah dipenuhi oleh para jurnalis media bisnis, fotografer, serta puluhan pria dan wanita berstelan jas gelap yang melangkah terburu-buru menuju Aula RUPSLB di lantai tiga puluh.
Bagi publik, rapat umum luar biasa ini adalah penentu masa depan salah satu konglomerat terbesar di Indonesia. Apakah Raditya Baskara akan tetap bertengger di puncaknya, ataukah sisa-sisa faksi lama akan berhasil menggulingkannya menggunakan dalih pelanggaran kode etik?
Di dalam ruang kerja CEO, Kirana sedang berdiri di depan tubuh tegap Radit. Jemarinya yang ramping bergerak dengan cekatan dan terlatih, merapikan letak dasi sutra berwarna biru dongker yang dikenakan pria itu. Ini adalah rutinitas yang telah mereka lakukan selama lima tahun, namun pagi ini, detak jantung yang mengiringi gerakan itu terasa jauh berbeda.
"Semua dokumen hukum, surat kuasa pengalihan hak suara *proxy voting* dari Arwana Fund, dan berkas audit forensik aliran dana Pak Baskoro sudah dipindahkan ke dalam sistem utama aula," Kirana melaporkan dengan nada suara yang tenang, matanya menatap simpul dasi yang baru saja dia rapikan sebelum beralih menatap manik mata Radit. "Kita memegang lima puluh satu persen suara mutlak di atas kertas. Tapi ingat, Radit, di dalam ruang rapat nanti, faksi lawan pasti akan mencoba menyerang psikologismu terlebih dahulu sebelum pemungutan suara dimulai".
Radit menurunkan pandangannya, menatap wajah Kirana yang kini terlihat begitu anggun namun tajam di balik lensa kacamatanya. Pria itu mengulurkan tangan, menggenggam pergelangan tangan Kirana yang masih menempel di dadanya, lalu mengecup telapak tangan wanita itu dengan lembut.
"Biarkan mereka menyerang, Kirana," ujar Radit, suaranya terdengar seperti bariton yang bergaung rendah penuh rasa percaya diri. "Mereka mengira ruangan di bawah adalah ruang pengadilan untukku. Mereka tidak tahu bahwa aku dan kamu sudah mengubah tempat itu menjadi altar eksekusi untuk karier mereka sendiri".
Kirana tersenyum tipis, sebuah binar keyakinan terpancar dari matanya. Dia menarik tangannya perlahan, lalu mengambil map kulit hitam yang berisi draf final presentasi mereka.
"Waktu kita lima menit lagi, Pak CEO. Mari kita selesaikan ini".
___
Pintu jati besar Aula RUPSLB terbuka lebar. Begitu Radit melangkah masuk dengan Kirana yang berjalan setengah langkah di belakangnya, seluruh pasang mata di dalam ruangan luas itu seketika tertuju pada mereka.
Di barisan depan, duduk jajaran Dewan Komisaris yang tersisa. Di sudut kiri, tampak sekelompok pria paruh baya dengan raut wajah tegang namun beralis tajam, mereka adalah faksi sekutu Pak Baskoro yang dipimpin oleh Hasan Mulia, seorang komisaris senior yang terkenal vokal dan licik.
Radit berjalan menuju kursi utama di meja direksi dengan langkah tegap, memancarkan aura dominasi yang mutlak. Sementara itu, Kirana mengambil tempat di meja sekretariat di sisi panggung, siap mengendalikan layar proyektor raksasa di belakang meja direksi.
"Selamat pagi, para pemegang saham dan anggota dewan yang terhormat," Hasan Mulia membuka suara bahkan sebelum Radit sempat duduk dengan sempurna. Pria tua itu berdiri, merapikan jasnya dengan gestur yang sengaja dibuat dramatis. "Mari kita tidak membuang waktu dengan formalitas yang tidak perlu. Agenda RUPSLB hari ini diajukan karena adanya mosi tidak percaya terhadap Saudara Raditya Baskara terkait tata kelola perusahaan yang buruk (bad corporate governance)".
Hasan memutar tubuhnya, menunjuk ke arah layar proyektor dengan pulpen emasnya.
"Saudara Raditya telah terbukti menggunakan draf kontrak hubungan palsu, merekayasa sebuah pertunangan dengan sekretaris pribadinya sendiri murni untuk memanipulasi opini publik dan menstabilkan harga saham secara artifisial selama krisis internal beberapa minggu lalu. Ini adalah pembodohan publik dan pelanggaran berat terhadap kode etik integritas Baskara Group!" seru Hasan dengan nada menggelegar, memancing gumaman setuju dari beberapa pemegang saham minoritas di barisan belakang.
Radit tidak memotong ucapan Hasan. Dia justru bersandar dengan santai di kursi kulitnya, mengetuk-ngetukan jemarinya di atas meja dengan ritme yang konstan, memperlakukan khotbah kemarahan Hasan seperti hiburan pagi yang remeh.
Setelah Hasan menyelesaikan kalimatnya dengan napas yang memburu, Radit baru menegakkan tubuhnya. Dia melirik sekilas ke arah Kirana, memberikan sebuah kode kecil dengan anggukan kepalanya.
"Sekretaris Kirana," perintah Radit formal. "Silakan tampilkan lampiran pertama untuk menjawab kekhawatiran Bapak Hasan Mulia mengenai... apa tadi? Integritas?"
Kirana menyentuh layar perangkat kendalinya. Layar proyektor raksasa di belakang Radit seketika memuat data yang membuat separuh ruangan terengah kaget. Itu bukan data pertunangan, melainkan diagram forensik digital mengenai aliran dana dari rekening pribadi Hasan Mulia dan tiga komisaris di sampingnya menuju perusahaan cangkang milik Pak Baskoro di luar negeri.
"A-apa ini?! Ini tidak ada hubungannya dengan agenda rapat!" Hasan berteriak panik, wajah tuanya mendadak memucat seketika.
"Ini memiliki hubungan yang sangat erat, Pak Hasan," sela Kirana, suaranya yang jernih menggema melalui pengeras suara ruangan, memotong kepanikan Hasan dengan presisi yang kejam. "Mosi tidak percaya yang Anda ajukan pagi ini diklaim demi menegakkan kode etik perusahaan. Namun, berdasarkan audit forensik yang disetujui oleh Ibu Sofia Baskara sebagai pemegang saham pendiri, mosi ini sebenarnya dirancang untuk menghentikan penyelidikan internal terkait aliran dana sebesar tiga puluh miliar rupiah yang Anda terima sebagai komisi atas penjualan aset tanah Baskara Group secara ilegal di koridor timur".
Ruangan langsung riuh rendah oleh suara bisik-bisik yang panik dari para investor.
Radit berdiri dari kursinya, menumpu kedua tangannya di atas meja rapat, menatap Hasan Mulia dengan pandangan mata yang begitu tajam hingga membuat pria tua itu refleks melangkah mundur satu langkah.
"Mengenai hubungan pribadiku dengan Kirana Larasati," Radit membuka suara, suaranya berat dan menekan setiap jengkal ruang aula. "Kontrak awal yang Anda sebutkan sebagai manipulasi adalah bagian dari strategi mitigasi krisis untuk memancing keluar para pengkhianat di dalam perusahaan ini, termasuk Anda dan Pak Baskoro. Dan hari ini, di depan seluruh pemegang saham mayoritas, saya nyatakan bahwa hubungan kami bukanlah lagi sebuah kepura-puraan bisnis. Dia adalah tunangan sah saya, dan posisinya sebagai Sekretaris Utama dilindungi penuh oleh hak prerogatif CEO".
Radit melirik ke arah pintu masuk aula yang tiba-tiba terbuka. Perwakilan hukum dari Arwana Fund masuk membawa dokumen fisik yang telah ditandatangani oleh Wira Atmajaya hari Sabtu lalu.
"Arwana Fund yang memegang delapan belas persen saham, bersama dengan tiga puluh tiga persen saham dari keluarga inti Baskara, dengan ini menyatakan menolak mentah-mentah mosi evaluasi jabatan CEO" tegas perwakilan hukum tersebut, menyerahkan berkas suara mutlak ke meja pimpinan sidang.
Dengan total lima puluh satu persen suara yang terkunci, pemungutan suara bahkan tidak perlu dilanjutkan ke tahap penghitungan rumit. Faksi Pak Baskoro yang tersisa telah lumpuh total, hancur berantakan di atas altar yang mereka siapkan sendiri untuk Radit.
"Sidang RUPSLB hari ini ditutup. Dan untuk Anda, Pak Hasan," Radit membetulkan letak kancing jasnya dengan gerakan yang amat tenang. "Petugas dari divisi kepatuhan internal dan kepolisian siber sudah menunggu Anda di luar pintu untuk pemeriksaan lebih lanjut".