NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Hati

Reinkarnasi Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:972
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Setelah bertahun-tahun menanti buah hati, badai besar menghancurkan rumah tangga Lani.
Ia diceraikan oleh suaminya, Alex, yang berselingkuh dengan sahabat karib Lani sendiri.
Di tengah usaha menyembuhkan luka hati dan bangkit dari keterpurukan, takdir mempertemukan Lani dengan Afrain—pria berjiwa bebas yang merupakan mantan suami dari kakak Alex.
Sama-sama membawa trauma masa lalu, pertemuan tak sengaja itu perlahan berubah menjadi ikatan emosional yang dalam.
Afrain menjadi tempat bersandar yang memahami kepedihan Lani, dan benih-benih cinta pun mulai tumbuh di antara mereka. Namun, hubungan baru ini berada di lingkaran keluarga yang rumit dan penuh kecanggungan.
Di hadapan restu yang dipertanyakan dan bayang-bayang masa lalu yang saling berkaitan, akankah Lani berhasil melepaskan diri dari jerat trauma dan menemukan kebahagiaan sejatinya bersama Afrain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Setelah memastikan Lani duduk dengan nyaman di kursi penumpang, Afrain segera melajukan mobilnya meninggalkan area restoran. Namun, baru beberapa kilometer membelah jalanan, raut wajah Lani mendadak berubah pucat.

Ia membekap mulutnya sendiri dengan tangan yang bergetar.

"Mas... Mas, stop. Tolong hentikan mobilnya, Mas," lirih Lani dengan nada panik.

Mendengar suara parau Lani, Afrain dengan sigap menepikan mobilnya di bahu jalan yang agak sepi.

Belum sempat mobil berhenti sempurna, Lani membuka pintu dengan tergesa-gesa.

Ia turun dari mobil, berlari ke tepi pembatas jalan, dan langsung memuntahkan seluruh isi perutnya.

Rasa mual yang teramat sangat menyiksa dadanya, efek dari syok berat dan tangis yang ia tahan sejak di kamar mandi tadi.

Afrain segera menyusul turun. Dengan raut wajah yang dipenuhi rasa cemas, ia memijat tengkuk Lani dengan lembut untuk membantu meredakan rasa mual wanita itu.

"Mas, tolong ambilkan minyak kayu putih di dalam tasku," ucap Lani dengan suara yang terputus-putus, napasnya tersengal-sengal.

"Iya, Lan. Sebentar," jawab Afrain cekatan.

Ia kembali ke mobil, membuka tas Lani, dan dengan cepat mengambil sebotol kecil minyak kayu putih yang diminta.

Afrain mengambil dan memberikannya kepada Lani, lalu membantu mengoleskan sedikit di bagian leher dan dada Lani agar terasa lebih hangat.

Setelah dirasa agak mendingan dan rasa mualnya mereda, Afrain membimbing Lani untuk kembali ke dalam mobil.

Lani bersandar lesu pada kursi mobil. Air matanya kembali menetes, bukan karena marah, melainkan karena rasa bersalah yang teramat besar kepada pria di sampingnya.

"Maaf, Mas. Seharusnya aku tidak mengacaukan semuanya. Hari pertama kerja, kontrak penting baru saja ditandatangani, tapi aku malah merepotkan Mas seperti ini," bisik Lani, menyembunyikan wajahnya di kedua telapak tangannya.

Afrain menghela napas pendek. Ia memutar tubuhnya menghadap Lani, menatap wanita itu dengan tatapan mata yang begitu dalam dan penuh perhatian.

"Lan, dengarkan aku. Kamu sama sekali tidak mengacaukan apa pun," potong Afrain dengan suara baritonnya yang tegas namun meneduhkan.

"Sekarang katakan jujur padaku, ada apa tadi di kamar mandi? Apa Alex melakukan hal yang tidak senonoh kepadamu?"

Lani perlahan menurunkan tangannya, lalu menggelengkan kepalanya perlahan.

"Tidak, Mas. Dia tidak menyentuhku," jawab Lani lirih. Ia menjeda kalimatnya sejenak, mencoba mengumpulkan kekuatan untuk mengucapkan kalimat yang menyakitkan itu.

"Dia, menuduhku berselingkuh dengan kamu. Dia mengatakan kalau kita merencanakan semuanya dari awal untuk menjatuhkan dia."

Lani menarik napas panjang, dadanya kembali terasa sesak. "Dan, da mengatakan hal itu lagi. Dia menghinaku kalau aku wanita mandul yang tidak berguna. Setelah itu, dia malah memintaku untuk rujuk dan berjanji akan memaafkan kelakuanku."

Mendengar penuturan Lani, atmosfer di dalam mobil seketika berubah menjadi sangat dingin.

Afrain yang mendengarnya langsung mencengkeram erat setir mobilnya hingga urat-urat di tangannya menyembul keluar.

Rahangnya mengeras, dan sorot matanya memancarkan kilat amarah yang begitu pekat.

Kehormatan Lani adalah hal yang paling ingin ia lindungi, dan mendengar mantan suami tidak tahu diri itu kembali menginjak-injak harga diri Lani membuat darahnya mendidih.

"Keterlaluan," desis Afrain tajam. Ia langsung memindahkan persneling mobilnya. "

Ayo kita kembali ke kantor Firman. Aku akan menghajarnya sekarang juga. Pria keparat itu harus diberi pelajaran!"

Melihat kemarahan Afrain yang meledak, Lani panik.

Ia langsung memegang lengan Afrain dengan erat, mencoba menahannya.

"Mas, jangan! Tolong jangan kembali ke sana. Aku tidak mau ada keributan lagi, Mas. Tolong, kita pulang saja," pinta Lani dengan mata berkaca-kaca, memohon agar masalah ini tidak semakin panjang.

Afrain menatap jemari Lani yang bergetar di lengannya.

Mendengar permohonan tulus dari wanita itu, Afrain berusaha keras meredam gejolak amarah di dadanya.

Ia menarik napas panjang beberapa kali, mencoba menguasai emosinya demi ketenangan Lani.

"Baiklah, kita tidak kembali ke sana," ucap Afrain akhirnya mengalah.

Ia segera melajukan mobilnya membelah jalanan kota. Namun, Afrain tidak melajukan mobilnya pulang ke rumah.

Ia tahu, jika langsung pulang, pikiran Lani akan terus tertuju pada perkataan kejam Alex.

Tanpa sepengetahuan Lani, Afrain memutar arah jalurnya, berniat mengajak wanita itu ke sebuah bendungan tenang di pinggiran kota untuk menenangkan pikiran dan menyembuhkan luka hatinya.

Lani yang memejamkan matanya karena kelelahan fisik dan batin akhirnya tertidur pulas di sepanjang perjalanan.

Ia sama sekali tidak tahu jika Afrain membawanya menjauh dari hiruk-pikuk kota, sampai satu jam kemudian mobil mewah itu berhenti sempurna dan Afrain membangunkannya dengan sentuhan lembut di bahunya.

"Lan, ayo turun," bisik Afrain pelan, tidak ingin mengejutkannya.

Lani membuka matanya perlahan. Rasa silau matahari sore menyapa pandangannya.

Ia mengernyitkan dahinya saat melihat hamparan air yang luas membentang di depan sana, dikelilingi oleh pepohonan hijau yang asri dan embusan angin yang sejuk.

"Lho, Mas. Kenapa, kita di bendungan?" tanya Lani heran, menoleh ke arah Afrain dengan sisa rasa kantuknya.

Afrain mengulas senyum tipis yang sangat meneduhkan, lalu menganggukkan kepalanya.

"Iya. Udara di sini segar, cocok untuk menjernihkan pikiran. Ayo kita turun dan kita duduk di sana," ajak Afrain sambil menunjuk sebuah bangku kayu panjang yang menghadap langsung ke arah riak air bendungan.

Lani membuka sabuk pengamannya dan turun

dari mobil.

Hembusan angin sore langsung menerpa wajahnya, perlahan mengikis rasa sesak yang sejak tadi menggelayuti dadanya.

Berjalan di samping Afrain, ia merasa tempat ini benar-benar bisa memberinya sedikit ruang untuk bernapas bebas.

Mereka berdua berjalan menuju bangku tersebut. Sebelum duduk, Afrain menghampiri salah satu warung kecil yang berjejer di sekitar area wisata bendungan.

Demi menghangatkan tubuh Lani yang sempat mual tadi, Afrain memesan teh hangat, jagung rebus yang masih ngepul, dan tak lupa secangkir kopi hitam dengan gula dua sendok untuk dirinya sendiri.

Afrain duduk di samping Lani, merapatkan posisinya untuk menghalau angin sore yang berembus makin kencang.

Tidak berselang lama, pesanan mereka datang. Kepulan asap dari teh hangat dan jagung rebus beraroma manis seketika menguar di antara mereka.

Lani meraih cangkir dan menyeruput teh hangat itu perlahan.

Rasa hangatnya menjalar ke kerongkongan, perlahan menenangkan perutnya yang sempat mual tadi.

"Lan," panggil Afrain lembut, memecah keheningan di antara deru angin bendungan.

Lani menoleh dengan cangkir yang masih melekat di tangannya.

"Ada apa, Mas?"

Afrain memandang wajah Lani dengan tatapan yang teramat dalam, sarat akan keseriusan yang belum pernah Lani lihat sebelumnya.

Ada binar ketulusan sekaligus kekhawatiran yang bercampur di sepasang mata pria itu.

"Ada sesuatu yang harus aku katakan, Lan. Aku tidak bisa memendamnya lagi," ucap Afrain, suaranya terdengar sedikit berat.

Jantung Lani mendadak berdegup lebih kencang. Ia meletakkan kembali cangkirnya ke atas meja kayu dengan tangan yang sedikit gemetar.

"Ada apa, Mas? Jangan menakutiku seperti itu."

Afrain meraih kedua telapak tangan Lani, menggenggamnya dengan erat seolah ingin menyalurkan seluruh kekuatan yang ia miliki.

Ia menarik napas dalam-dalam sebelum kalimat itu meluncur dari bibirnya.

"Lan, maukah kamu menikah denganku?"

Mata Lani seketika membelalak bulat. Tubuhnya membeku di atas bangku kayu itu.

"M-mas..."

Melihat keterkejutan di wajah Lani, Afrain cepat-cepat menyela dengan nada melembut.

"Jangan kamu jawab sekarang, Lan. Aku tidak akan memaksamu. Aku tahu ini terlalu tiba-tiba buat kamu."

Afrain menjeda kalimatnya, kilat amarah dan kepedihan membayang di wajahnya saat mengingat kejadian di restoran tadi.

"Aku tidak mau kamu rujuk dengan lelaki itu, Lan. Hatiku, rasanya sangat sakit saat lelaki itu dan keluarganya mengatakan kamu wanita mandul."

Suara Afrain mulai bergetar.

Perlahan, Afrain meneteskan air matanya. Pria berwibawa yang biasanya tampak begitu kokoh itu kini menangis di hadapan Lani, mengekspresikan luka yang selama ini ia pendam sendiri.

"Dulu, mendiang ibuku juga diperlakukan seperti kamu, Lan," cerita Afrain dengan suara serak, mengenang masa lalu keluarganya yang kelam.

"Beliau dihina, dicaci, dan dianggap tidak berguna sampai suami pertamanya tega menceraikan ibuku hanya karena masalah keturunan."

Afrain menyeka air matanya, lalu menatap Lani dengan keyakinan yang penuh.

"Tapi takdir berkata lain. Ibuku menikah lagi dengan ayahku, dan akhirnya lahirlah aku, Lan. Tuhan membuktikan bahwa ucapan orang-orang itu salah."

Ia mempererat genggaman tangannya pada jemari Lani yang mulai mendingin.

"Aku yakin kalau kamu tidak mandul, Lan. Kamu hanya belum bertemu dengan orang yang tepat yang dikirim Tuhan untuk melindungimu. Dan aku ingin menjadi orang itu."

Afrain perlahan melepaskan genggamannya, memberikan ruang bagi Lani yang masih tampak terenyak oleh untaian kalimat jujur yang baru saja didengarnya.

Ia mengulas senyum tulus, menghapus sisa air mata di sudut matanya sendiri.

"Kamu jawab saat kamu siap ya, Lan. Aku akan setia menunggu," ucap Afrain lembut, mencoba mencairkan suasana agar Lani tidak merasa terbebani.

Lani tidak mampu bersuara, tenggorokannya terasa tercekat oleh rasa haru yang membuncah.

Di tengah badai hinaan yang baru saja dilontarkan Alex, Afrain datang membawa pelukan hangat yang memulihkan harga dirinya.

Lani hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan lembut, menatap Afrain dengan binar mata penuh rasa terima kasih.

Setelah pembicaraan hati ke hati yang begitu menguras emosi, keheningan yang menenangkan kembali menyelimuti mereka.

Afrain dan Lani menatap senja yang perlahan mulai tenggelam di cakrawala bendungan.

Langit yang semula biru cerah berubah warna menjadi jingga keemasan, memantul indah di atas permukaan air yang tenang.

Mereka menikmati momen syahdu itu sambil menikmati jagung rebus yang manis dan hangat.

Hembusan angin sore yang perlahan berganti malam membantu menyapu sisa-sisa kesedihan yang sempat menggelayuti hati Lani.

Matahari akhirnya benar-benar bersembunyi di balik perbukitan, meninggalkan semburat kegelapan yang mulai turun. Afrain berdiri dari duduknya, lalu merapikan jasnya yang sedikit kusut.

"Sudah makin gelap dan udaranya mulai dingin. Ayo kita pulang," ajak Afrain.

Lani mengangguk setuju, bangkit dari bangku kayu itu dengan perasaan yang jauh lebih ringan dan damai daripada saat ia datang tadi.

Setelah Afrain menyelesaikan pembayaran di warung, ia menuntun Lani kembali ke mobil dan segera mengajaknya pulang, siap menghadapi hari esok dengan lembaran hidup yang baru.

Sesampainya di halaman rumah, Afrain mematikan mesin mobilnya.

Ia menoleh ke samping dan mendapati Lani sudah tertidur pulas dengan posisi menyandarkan kepalanya ke jendela.

Wajah wanita itu tampak begitu lelah, sisa-sisa kesedihan hari ini seolah masih membekas di raut wajahnya yang damai saat terlelap.

Afrain tersenyum tipis. Ia tidak tega dan tidak mau membangunkannya.

Dengan gerakan perlahan agar tidak mengejutkan Lani, Afrain keluar dari mobil, memutari kap depan, lalu membuka pintu penumpang.

Ia menyurukkan kedua tangannya di bawah tubuh Lani dan membopongnya dengan sangat hati-hati ke dalam pelukan.

Langkah kakinya yang tegap membawa Lani menuju pintu utama rumah.

Mendengar deru mobil, Mbok Mar, asisten rumah tangga di sana, dengan sigap membuka pintu dari dalam. Namun, baru saja Mbok Mar hendak menyapa, Afrain langsung menempelkan satu jari di depan bibirnya.

"Sshh...." ucap Afrain tanpa suara, memberi isyarat agar Mbok Mar tidak bersuara keras.

Mbok Mar seketika menutup mulutnya dan menganggukkan kepalanya paham, melihat Lani yang berada di dalam gendongan sang majikan.

"Tidak perlu menyiapkan makan malam, Mbok," ucap Afrain lirih, berbisik agar suaranya tidak mengusik tidur nyenyak Lani.

Mbok Mar kembali menganggukkan kepalanya dengan patuh.

Wanita paruh baya itu berjalan lebih dulu di depan Afrain, memimpin jalan menuju kamar tamu yang kini ditempati Lani.

Ia membantu Afrain membukakan pintu kamar Lani agar Afrain bisa masuk dengan mudah tanpa kesulitan.

Afrain melangkah masuk ke dalam kamar yang bernuansa hangat itu.

Dengan perlahan dan penuh kelembutan, ia menaruh tubuh Lani ke atas tempat tidur.

Setelah itu, ia menarik selimut tebal sampai sebatas dada Lani, memastikan wanita itu tidak kedinginan oleh embusan AC.

Afrain mematung sejenak di sisi tempat tidur, menatap lekat wajah Lani yang kini tampak begitu tenang.

Rasa ingin melindungi wanita ini kian membuncah di dalam dadanya.

Ia membungkukkan tubuhnya sedikit, mengikis jarak di antara mereka.

"Selamat istirahat, Lani," bisik Afrain sangat lirih,

hampir menyerupai embusan angin.

Cup...

Afrain mencium kening Lani dengan penuh rasa sayang dan hormat, sebuah kecupan hangat yang menyalurkan seluruh janji perlindungannya.

Setelah itu, ia berbalik dengan langkah mengendap-endap, mematikan lampu utama dan menyisakan lampu tidur yang temaram, lalu meninggalkan Lani sendirian di kamar untuk beristirahat dari hari yang teramat panjang.

1
Dew666
🪭🪭🪭🪭
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Dew666
💟💟💟
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Dew666
🌹🌹🌹
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Dew666
🌹🌹🌹🌹
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
Dew666
🔮🔮🔮🔮
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!