Dunia Zei tadinya hanya sebatas sawah berlumpur dan beratnya cangkul di pundak. Sampai akhirnya, Turnamen Musim Semi mengubah segalanya. Di atas arena, Zei melihat Qian Yue’er dari Sekte Cendrawasih bertarung. Gerakannya bukan sekadar bela diri, melainkan tarian maut yang terlampau indah untuk disaksikan oleh mata seorang petani miskin.
Sejak detik itu, Zei menolak takdir lahirnya. Ia tak butuh pedang pusaka; dengan Qi elemen tanah yang brutal dan alat tani yang ia tempa menjadi senjata, Zei menantang dunia persilatan. Ia nekat merangkak naik dari turnamen ke turnamen, menghancurkan cemoohan kaum bangsawan yang menganggapnya tak lebih dari sampah yang bermimpi menyentuh bintang.
Di saat para pendekar lain bertarung demi kekuasaan dan keabadian, alasan Zei mengayunkan senjatanya sangat sederhana dan naif: ia hanya ingin membuktikan diri pantas berdiri di panggung yang sama, dan melihat sang bulan menari di hadapannya sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Uap dingin membubung tinggi dari permukaan arena, menyelimuti dua figur yang masih berdiri tegak di tengah kehancuran stadion.
Puluhan ribu penonton terpaku, mata mereka melongo menatap ujung jubah sutra putih murni Qian Yue’er yang kini tampak robek dan sedikit kusut akibat cengkeraman tangan Zei sebelumnya. Sebuah pemandangan yang mustahil, seolah-olah seseorang baru saja berhasil menggores permukaan langit yang suci.
Zei menarik napasnya dengan berat, setiap embusan udaranya berubah menjadi kabut putih. Sekujur tubuhnya terasa kaku; sisa Qi elemen es milik Yue’er telah menyusup ke dalam meridiannya, perlahan membekukan aliran darahnya dari dalam.
Di seberangnya, Qian Yue’er pun tidak lagi tampak sekaku patung giok. Napas sang Dewi sedikit memburu, dan dadanya naik-turun secara teratur—sebuah tanda konkret bahwa energinya terkuras habis untuk pertama kali dalam sejarah turnamen ini.
"Kau melampaui ekspektasiku, Petani," ucap Qian Yue’er, matanya menatap tajam ke arah lengan Zei yang gemetar. "Tapi tubuhmu sudah mencapai batasnya."
Zei tersenhum tipis di balik wajahnya yang pucat. Ia tahu Yue’er benar. Jika pertarungan ini berlanjut dengan saling menguras stamina, ia akan membeku menjadi es sebelum fajar berakhir.
Hanya ada satu cara. Ia harus mempertaruhkan seluruh sisa kultivasi, sisa napas, dan sisa tekadnya pada satu serangan terakhir.
Zei menarik kaki kanannya ke belakang, menancapkannya begitu dalam hingga lantai kuarsa di bawahnya bergetar hebat. Ia menarik seluruh Qi tanah yang tersisa di dalam dantiannya, memompanya secara ekstrem.
Kulit di lengannya mulai memancarkan pendaran emas yang pekat, memadukan teknik Sisik Naga, Bumi Bergeser, dan daya ledak Erupsi Bumi menjadi satu kesatuan murni.
JURUS PAMUNGKAS: TINJU PEMBONGKAR BUMI!
Melihat keseriusan dan gelombang energi raksasa yang dihimpun Zei, Qian Yue’er tidak lagi menggunakan gerakan menghindar yang anggun.
Sebagai bentuk penghormatan tertinggi kepada lawan yang telah memaksanya bertarung habis-habisan, ia mengangkat pedang esnya tinggi-tinggi. Seluruh Qi angin dan esnya memadat di bilah pedang, memancarkan cahaya biru-putih yang menyilaukan mata.
"Sinar Musim Dingin Abadi!" suara Yue’er menggema, jernih namun mematikan.
Keduanya melesat maju secara bersamaan. Gerakan mereka begitu cepat hingga memicu distorsi udara di tengah arena.
BLARRRRRRR!
Benturan antara tinju bumi sekeras baja milik Zei dan tebasan pedang es legendaris milik Qian Yue’er memicu ledakan energi yang luar biasa masif.
Gelombang kejutnya begitu dahsyat hingga lapisan pertama formasi pelindung sihir emas di sekeliling stadion seketika retak dan hancur berkeping-keping menjadi serpihan cahaya. Seluruh stadion tertutup oleh badai debu kuarsa dan uap es yang tebal, menghalangi pandangan semua orang.
Ketika badai energi itu perlahan mereda dan kabut es mulai menipis, keheningan yang mencekam kembali menyelimuti arena.
Qian Yue’er masih berdiri tegak di posisinya. Namun, pedang es di tangan kanannya kini telah retak seribu dan perlahan hancur menjadi serpihan debu salju. Lengannya gemetar hebat, dan setitik darah segar tampak merembes di sudut bibirnya yang indah.
Di seberangnya, Zei berdiri dengan satu lutut yang bertumpu pada lantai kuarsa yang hancur. Sekujur tubuhnya telah diselimuti oleh lapisan es tipis, dan pakaian rami cokelatnya compang-camping.
Ia menatap ke arah Yue’er dengan tatapan mata yang sayu, namun tetap memancarkan kepuasan yang mendalam. Zei telah mengerahkan segalanya, tanpa penyesalan.
Seringai tipis terukir di wajah pucat Zei sebelum akhirnya pandangannya menggelap sepenuhnya. Tubuhnya ambruk, jatuh pingsan di atas lantai arena karena kelelahan ekstrem dan pembekuan meridian.
Wasit turnamen melangkah maju dengan tangan gemetar, memeriksa kondisi Zei sebelum akhirnya mengangkat tangan ke arah langit. "Pemenang... Qian Yue’er dari Sekte Cendrawasih! Melaju ke babak Final!"
Namun, tidak ada sorak-sorai ejekan untuk Zei yang kalah. Seluruh penonton dari kasta sekte atas maupun bawah berdiri dalam keheningan yang penuh rasa hormat.
Seorang anak desa tanpa latar belakang, hanya berbekal jubah rami dan tekad sekeras batu, baru saja memaksa jenius—