Alesha rela mengorbankan impian dan kebahagiannya demi rumah tangga yang ia perjuangkan sepenuh hati dan menerima hinaan dan cacian oleh keluarga suaminya.
Namun semua pengorbanannya berakhir sia-sia ketika ia mengetahui suaminya berselingkuh dan mengaku belum menikah.
Memilih pergi adalah langkah paling menyakitkan yang pernah ia ambil. Tetapi tanpa disadari, keputusan itu justru membawanya pada kehidupan baru yang lebih baik.
Alesha mulai bangkit. Ia ingin membuktikan bahwa keputusannya meninggalkan masa lalu adalah pilihan yang tepat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kapan kamu hamil?
"Ini makanan dari siapa, Alesha?"
Helena menatap meja makan yang kini dipenuhi berbagai macam hidangan.
"Temanku, Bu, yang bawa," jawab Alesha pelan sambil merapikan sisa makanan dari Luna yang masih cukup banyak.
Helena menyipitkan mata, menatap makanan itu dengan curiga.
"Teman kamu? Siapa yang tiba-tiba baik sekali sampai bawain makanan sebanyak ini?"
"Luna, Bu."
"Oh."
Helena kemudian duduk di meja makan, hanya melirik sekilas makanan itu sebelum mulai makan seperti biasa.
Tak lama kemudian, Renata keluar dari kamarnya. Ia mengenakan pakaian ketat dengan riasan wajah yang cukup tebal, seolah bersiap untuk pergi.
"Mau ke mana kamu?" tanya Helena.
"Nongkrong, Bu," jawab Renata santai lalu ikut duduk di meja makan.
Alesha menatap adik iparnya sekilas. Entah kenapa, perasaannya jadi tidak tenang. Ia takut dugaan buruknya menjadi kenyataan.
Alesha pun ikut duduk di meja makan. Kali ini Helena membiarkannya, mungkin karena mengira makanan itu memang berasal dari teman Alesha. Sementara itu, Aldo juga belum pulang dari kerja.
Saat mereka sedang menikmati makan malam, terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Alesha, bukakan pintunya," perintah Helena.
"Iya, Bu," Alesha segera bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu.
Begitu pintu dibuka, ia langsung mengenali sosok di hadapannya.
"Tante Selena," ucap Alesha menyapa dengan sopan.
"Hmm," balas Selena singkat, lalu langsung masuk begitu saja tanpa banyak basa-basi.
Alesha hanya bisa menghela napas pelan melihat sikapnya.
"Tante Selena," sapa Renata.
"Hai, ponakanku," ucap Selena dengan senyum lebar sambil memeluk Renata. Ekspresinya langsung berubah hangat, sangat berbeda dibanding saat menyapa Alesha.
Helena tersenyum melihat kedatangan kakaknya.
"Tumben datang malam begini, Mbak?" tanyanya.
"Aku hanya ingin mampir," jawab Selena lalu ikut duduk di meja makan.
Mereka mulai mengobrol di meja makan, sambil sesekali tertawa.
Selena tertawa kecil saat Renata menceritakan sesuatu, sementara Helena ikut menimpali dengan antusias.
Alesha hanya diam di dekat meja.
Hampir tak ada yang mengajaknya bicara.
Seolah keberadaannya tidak terlihat sama sekali.
Alesha perlahan kembali ke dapur, merapikan beberapa piring yang sudah kosong.
Dari ruang makan terdengar suara tawa mereka.
"Mbak, aku punya tas baru, lho," ucap Helena sambil menunjuk tasnya yang terletak tak jauh darinya.
Selena langsung menoleh ke arah tas itu, matanya tampak berbinar.
"Wah, itu tas kamu, Hel?"
"Iya, Mbak. Renata yang belikan aku," jawab Helena dengan nada bangga.
"Cantik banget, Hel," puji Selena, lalu ia menoleh ke arah ponakannya. "Nata, tante juga mau dong tas seperti ibumu."
"Nanti aku juga belikan untuk tante," jawab Renata santai.
Mata Selena langsung berbinar lebih terang.
"Kamu serius, Nata?"
Renata mengangguk ringan.
"Iya, dong. Aku serius," jawabnya lalu berdiri dari duduknya. "Aku keluar dulu ya, Bu, Tante."
"Kamu mau ke mana, Nata?" tanya Selena.
"Biasa, Mbak. Anak muda, nongkrong," jawab Helena.
Renata melangkah menuju pintu dengan tenang tanpa menunggu pertanyaan lain.
"Jangan pulang terlalu malam," ucap Helena singkat.
"Iya, Bu," jawab Renata tanpa menoleh.
Pintu tertutup.
Setelah Renata pergi, hanya Helena dan Selena yang masih mengobrol santai.
Selena bersandar santai di kursinya.
"Ngomong-ngomong, Aldo mana? Kok belum pulang juga?"
"Kerja. Seperti biasa."
Selena mengangguk pelan.
"Alesha," panggil Helena dengan suara sedikit tinggi.
Alesha yang masih di dapur segera keluar.
"Iya, Bu?"
"Bersihkan piring kotor ini," perintah Helena.
Alesha mengangguk lalu mulai mengumpulkan piring-piring kotor bekas makan malam.
Selena menatapnya sekilas dengan tatapan sinis.
"Buatkan saya teh hangat," ucapnya santai.
"Iya, Tante," jawab Alesha pelan, lalu kembali ke dapur sambil membawa piring-piring itu.
Helena dan Selena kemudian pindah ke ruang tamu.
Tak lama kemudian, Alesha kembali membawa secangkir teh hangat dan meletakkan di atas meja.
Selena menatap Alesha beberapa saat.
Matanya lalu tertuju pada perut Alesha.
Lalu ia tersenyum tipis.
"Alesha..."
"Iya, Tante?"
"Kapan kamu hamil?"
ayoookkkk semangat
semangat
💪💪💪💪💪
😤😤😤😤😤😤😤😤😤kuweseeellleee rekkk...
yg Suai siapa tapi yg dituntut nafkahi siapa. kan gendeng yaaa.. ga DA kewajibannya mantu atau istri menafkahi keluarga nya apa lagi menafkahi kluarga suami.😄😄😄
ibu ini lupa minum obat inii pastii makanya rada kumat 🤭
mending sekalian beneran kerja jadi babu luar negri makan gratis tinggal gratis digaji besar. sama aja kan kayak kau tinggal dirumah kluarga suami mu, macam babu. bedanya babu luar negri digaji🤣🤣🤣🤣
lahhh ini sudah lah dihina dijelekkan dibabuin ga dihargai, dinafkahi ala kadarnya saja. boro boro mau beli berlian segunung🤣🤣🤣🤣
lanjut lahhhhhh
Thor kira kira kalau buat cerita, LG anteng2 baca sudah dibuat darah tinggi thorrrrrrr teganya dikau pada daku. 🤣🤣🤣🤣
coba Thor masukin aku kedalam novel mau aku geprek itu mertua dan ipar laknatnyaaa... sudah ga dinafkahi kok masih mau aja punya suami modelan gitu....
astaghfirullah
astaghfirullah
astaghfirullah
sabarrrr sabarrr... orang sabar rejekinya lebaaarrrrrrrrrrrr😁