Aku pikir bekerja keras demi keluarga adalah bentuk cinta terbesar yang bisa kuberikan.
Setiap hari aku berangkat sebelum matahari terbit dan pulang saat langit telah gelap. Semua kulakukan agar suamiku hidup nyaman dan masa depan keluarga kami terjamin. Aku menahan lelah, mengubur keinginan pribadi, bahkan mengorbankan waktu bersama orang yang paling kucintai.
Namun, pengorbananku ternyata tidak dihargai.
Di saat aku sibuk bekerja dan berjuang untuk kami, suamiku justru sibuk memberikan perhatian, waktu, dan cintanya kepada wanita lain. Pengkhianatan itu menghancurkan kepercayaan yang telah kubangun selama bertahun-tahun.
Yang lebih menyakitkan, wanita itu bukanlah orang asing.
Saat rahasia demi rahasia mulai terungkap, aku dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan pernikahan yang telah retak atau meninggalkan pria yang pernah menjadi seluruh duniaku.
Mampukah cinta bertahan setelah dikhianati? Atau ada luka yang memang tidak ditakdirkan untuk sembuh?
"Aku Sibuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28 suram
Pagi itu suasana rumah Vania terasa begitu tenang. Cahaya matahari masuk melalui jendela ruang tamu, tetapi kehangatan itu sama sekali tidak mampu mengusir kesuraman di wajah Nadia. Sejak pertemuannya dengan Adrian beberapa hari lalu, pikirannya kembali dipenuhi berbagai ucapan yang terus berputar di kepalanya. Permintaan agar menggugurkan kandungannya, tuduhan yang pernah diterimanya, hingga kenyataan bahwa pria yang dulu begitu mendambakan seorang anak kini justru ingin menghapus keberadaan anak itu, semuanya menjadi luka yang terus menghantuinya.
Nadia duduk termenung di teras rumah sambil memeluk kedua lututnya. Tatapannya kosong mengarah ke halaman depan, sementara tangannya tanpa sadar mengusap perutnya dengan lembut. Ia berulang kali meyakinkan dirinya bahwa keputusan untuk segera kembali ke Surabaya adalah pilihan terbaik. Semakin lama berada di kota ini, semakin sering masa lalunya datang menghampiri.
Tak lama kemudian terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.
Revano turun sambil membawa dua kantong besar di kedua tangannya.
Begitu melihat Nadia yang sedang melamun, senyum hangat langsung menghiasi wajahnya.
"Pagi."
sapanya ringan.
Nadia yang tersadar dari lamunannya segera berdiri.
"Vano... kamu ngapain ke sini?"
Revano mengangkat kantong belanja yang dibawanya.
"Mengantar titipan."
jawabnya sambil terkekeh.
"Buah-buahan, susu, dan beberapa makanan yang kata Vania akhir-akhir ini sering kamu cari."
Nadia menggeleng kecil sambil tersenyum tipis.
"Kamu tidak perlu repot seperti ini."
"Bukan repot."
balas Revano santai.
"Aku hanya ingin memastikan ibu dan calon bayinya makan yang sehat."
Ucapan sederhana itu membuat hati Nadia terasa sedikit hangat.
Sudah lama tidak ada seseorang yang memperhatikannya dengan cara sesederhana itu tanpa mengharapkan balasan.
Saat memasuki ruang tamu, Revano memperhatikan wajah Nadia yang masih terlihat murung.
Meski wanita itu berusaha tersenyum, matanya tidak bisa menyembunyikan kelelahan yang sedang dirasakan.
Pria itu terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berkata,
"Ayo ikut aku."
Nadia mengernyit.
"Ke mana?"
Revano tersenyum penuh misteri.
"Kamu akan tahu nanti."
Sekitar empat puluh menit kemudian mobil mereka berhenti di sebuah danau yang dikelilingi pepohonan rindang. Angin pagi bertiup pelan membawa udara yang sejuk, sementara permukaan air terlihat tenang memantulkan langit yang cerah.
Nadia memandang sekeliling dengan bingung.
"Memancing?"
tanyanya tidak percaya saat melihat beberapa alat pancing di bagasi mobil.
Revano mengangguk sambil tertawa kecil.
"Katanya kalau banyak pikiran jangan terus dipeluk."
"Sesekali dibuang ke air."
Nadia tidak bisa menahan tawanya.
"Itu teori dari mana?"
"Teori buatanku."
jawab Revano dengan bangga.
Tanpa terasa suasana hati Nadia mulai mencair.
Revano dengan sabar mengajarinya memasang umpan, melempar kail, hingga menunggu ikan menyambar. Berkali-kali Nadia melakukan kesalahan, membuat tali pancingnya kusut, bahkan hampir tercebur karena terlalu bersemangat menarik kail.
Setiap kali itu terjadi, Revano hanya tertawa tanpa sedikit pun mengejeknya.
Beberapa saat kemudian, kail Nadia benar-benar bergerak.
"Ada... ada...!"
teriaknya panik.
"Aku harus bagaimana?"
Revano segera berdiri di belakangnya.
"Pelan-pelan."
ucapnya sambil membimbing tangan Nadia memutar gulungan pancing.
"Jangan buru-buru."
Tak lama kemudian seekor ikan berhasil terangkat dari permukaan air.
Mata Nadia langsung berbinar.
"Aku berhasil!"
serunya sambil tertawa lepas.
Revano memandang wajah Nadia yang dipenuhi senyum itu tanpa berkedip.
Sudah lama ia tidak melihat wanita tersebut tertawa setulus itu.
Tawa yang bukan dibuat-buat untuk menutupi luka.
Melainkan tawa yang benar-benar lahir dari kebahagiaan sederhana.
Menjelang siang mereka duduk di tepi danau sambil menikmati bekal yang dibawa Revano.
Suasana begitu damai.
Hanya suara angin, air, dan sesekali tawa kecil Nadia yang terdengar.
Setelah cukup lama terdiam, Nadia memandang permukaan danau yang tenang.
"Aku akan berangkat ke Surabaya secepatnya."
ucapnya pelan.
"Aku rasa... semakin cepat aku pergi dari kota ini, semakin cepat juga aku bisa benar-benar memulai hidup baru."
Senyum Revano perlahan memudar, tetapi ia tidak menunjukkan kekecewaan.
Ia sudah mengetahui bahwa hari itu pasti akan datang.
"Kalau itu memang yang membuatmu lebih tenang."
ucapnya lembut.
"Pergilah."
Nadia menoleh kepadanya.
"Terima kasih."
bisiknya.
"Karena sudah membuatku tersenyum lagi."
Revano hanya tersenyum kecil.
Baginya, melihat Nadia bisa tertawa kembali sudah lebih dari cukup.
Meski ia tahu, dalam hitungan hari wanita yang mulai memenuhi hatinya itu akan kembali ke Surabaya, meninggalkan kota ini bersama harapan baru dan kehidupan yang perlahan mulai ia bangun kembali.
Siang mulai berganti sore. Di sebuah gazebo sederhana di tepi danau, aroma ikan bakar memenuhi udara. Revano dengan sabar membolak-balik ikan hasil tangkapan mereka di atas bara api, sementara Nadia membantu menyiapkan sambal dan nasi hangat. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, wajah Nadia tidak lagi dipenuhi kesedihan. Sesekali ia tertawa saat Revano mengeluh karena salah satu ikan yang dibakarnya hampir gosong.
"Lihat, gara-gara kamu terus mengajakku ngobrol."
protes Revano sambil terkekeh.
Nadia ikut tertawa pelan.
"Salah sendiri mengaku jago bakar ikan."
"Padahal hampir hangus."
Revano mengangkat kedua tangannya seolah menyerah.
"Baiklah, Bu Pengacara selalu benar."
Ucapan itu membuat Nadia tertawa lebih lepas. Suara tawanya menyatu dengan semilir angin dan riak air danau. Makan siang sederhana itu terasa jauh lebih hangat daripada makan malam mewah yang pernah ia jalani selama bertahun-tahun. Tidak ada kepura-puraan, tidak ada tekanan, hanya dua orang yang menikmati ketenangan dalam percakapan ringan.
Revano memandang Nadia yang mulai lahap menyantap makanannya. Melihat wanita itu akhirnya bisa tersenyum kembali membuat hatinya ikut tenang. Ia berharap momen seperti ini bisa bertahan lebih lama.
Namun harapan itu hanya berlangsung beberapa menit.
Ponsel Nadia yang tergeletak di atas meja tiba-tiba berdering nyaring.
Nama Anna muncul di layar.
Entah mengapa, dada Nadia mendadak terasa tidak enak.
Ia segera mengangkat telepon itu.
"Halo, Anna..."
Belum sempat Nadia menyelesaikan kalimatnya, suara tangisan di seberang telepon langsung terdengar.
"Kak Nadia... Ayah..."
Suara Anna terputus-putus karena isak tangis.
Nadia spontan berdiri.
"Ayah kenapa?"
"Tadi... Ayah jatuh dari tangga..."
Tangis Anna semakin keras.
"Dokter sudah berusaha... tapi... Ayah sudah tidak tertolong..."
Kalimat terakhir itu membuat tubuh Nadia membeku.
Ponsel di tangannya hampir terlepas.
Matanya membelalak, sementara wajahnya perlahan kehilangan warna.
"Ayah... meninggal..."
gumamnya lirih.
Revano yang melihat perubahan wajah Nadia langsung berdiri.
"Nadia, ada apa?"
Nadia tidak segera menjawab.
Air matanya perlahan mengalir.
Meski statusnya kini bukan lagi menantu keluarga Mahendra, pria yang baru saja meninggal itu pernah menganggapnya seperti anak sendiri. Di saat semua orang meragukannya, hanya mantan ayah mertuanya yang selalu berdiri di sisinya, membelanya ketika disalahkan, dan memperlakukannya dengan penuh kasih sayang.
"Ayah... meninggal..."
ulang Nadia dengan suara bergetar.
Revano terdiam beberapa detik sebelum segera mengambil kunci mobil.
"Ayo."
ucapnya tegas.
"Aku antar kamu."
Nadia mengangguk pelan. Dengan tangan yang masih gemetar, ia mengambil tasnya. Seluruh kebahagiaan yang baru saja ia rasakan seolah lenyap dalam sekejap, digantikan oleh duka yang begitu dalam.
Di sepanjang perjalanan menuju rumah keluarga Mahendra, Nadia hanya memandang ke luar jendela dengan mata yang basah. Kenangan tentang sosok ayah mertuanya terus berputar di benaknya. Ia bahkan belum sempat berpamitan sebelum memutuskan kembali ke Surabaya.
Kini, kesempatan itu telah hilang untuk selamanya.
Mobil Revano berhenti perlahan di depan rumah keluarga Mahendra yang telah dipenuhi kendaraan para pelayat. Suasana duka begitu terasa. Tenda-tenda putih berdiri di halaman, karangan bunga berjejer di sepanjang pagar, sementara lantunan doa terdengar lirih dari dalam rumah. Nadia terdiam beberapa saat sebelum membuka pintu mobil. Dadanya terasa sesak, seolah masih sulit menerima bahwa pria yang selama ini selalu membelanya telah benar-benar pergi.
Revano memandang Nadia dengan penuh kekhawatiran.
"Aku akan menunggumu di sini."
ucapnya lembut.
"Kalau kamu butuh apa pun, telepon aku."
Nadia mengangguk pelan. "Terima kasih, Vano."
Dengan langkah yang terasa berat, Nadia memasuki halaman rumah. Baru beberapa langkah berjalan, pandangannya langsung tertuju pada ruang duka. Di sana terlihat ibu Adrian yang menangis tanpa henti di samping peti jenazah, Adrian berdiri dengan wajah pucat dan mata sembap, sementara Bianca yang sedang hamil tampak berusaha menenangkan ibu mertuanya meski dirinya sendiri terlihat sangat terpukul.
Kedatangan Nadia membuat beberapa pelayat spontan menoleh. Suasana mendadak hening selama beberapa detik. Tidak sedikit yang mengetahui kisah perceraian Nadia dengan Adrian, sehingga kehadiran mantan menantu keluarga Mahendra itu menjadi perhatian.
Belum sempat Nadia melangkah lebih jauh, Anna yang sejak tadi duduk di dekat peti langsung berdiri. Begitu melihat wajah Nadia, gadis itu berlari tanpa memedulikan tatapan orang-orang di sekitarnya.
"Kak Nadia..."
Tangis Anna pecah.
Ia langsung memeluk Nadia erat-erat.
Nadia membalas pelukan itu dengan tangan yang gemetar. Air mata yang sejak di perjalanan ia tahan akhirnya mengalir deras. Mereka menangis bersama, seolah seluruh kesedihan yang selama ini dipendam tumpah dalam pelukan tersebut.
"Aku belum sempat berpamitan sama Ayah..."
bisik Nadia dengan suara yang nyaris hilang.
Anna hanya menggeleng sambil terus menangis.
"Kak... Ayah terus menyebut nama Kakak beberapa hari terakhir..."
ucapnya terbata-bata.
"Beliau bilang... beliau ingin melihat Kakak dan calon cucunya sekali lagi..."
Kalimat itu membuat Nadia semakin terisak. Lututnya hampir kehilangan tenaga. Penyesalan memenuhi dadanya karena tidak sempat memenuhi keinginan terakhir pria yang sudah dianggapnya sebagai ayah sendiri.
Setelah tangis mereka sedikit mereda, Nadia menggenggam kedua tangan Anna.
"Bagaimana kejadiannya?"
tanyanya pelan dengan mata yang masih basah.
Anna menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri.
"Pagi tadi Ayah memaksa turun sendiri dari lantai atas."
ucapnya lirih.
"Ibu sudah melarang karena kondisi Ayah masih lemah setelah beberapa hari terakhir sering pusing."
"Tapi Ayah bilang ada dokumen yang ingin beliau ambil di ruang kerja."
Suara Anna kembali bergetar.
"Waktu turun tangga... Ayah kehilangan keseimbangan."
"Beliau jatuh dari anak tangga paling atas."
Nadia menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Air matanya kembali jatuh.
"Adrian langsung membawa Ayah ke rumah sakit."
lanjut Anna.
"Dokter sempat melakukan segala cara..."
"Tapi cedera di kepala Ayah terlalu parah."
Anna menundukkan kepalanya.
"Sebelum tidak sadarkan diri... Ayah hanya sempat berpesan..."
Tangisnya pecah lagi.
"'Jaga Nadia... dan jangan biarkan cucuku kehilangan keluarga.'"
Mendengar pesan terakhir itu, Nadia tak lagi mampu menahan tangis. Ia memandang peti jenazah dengan mata yang dipenuhi rasa kehilangan. Di sudut ruangan, Adrian yang sejak tadi memperhatikan mereka hanya mampu berdiri terpaku. Untuk pertama kalinya sejak perceraian itu terjadi, ia melihat dengan jelas bahwa ayahnya telah membawa penyesalan hingga akhir hayatnya, sementara dirinya kini hanya bisa menatap dua wanita yang pernah menjadi bagian penting dalam hidup keluarganya dari kejauhan, tanpa tahu bagaimana memperbaiki semua yang telah hancur.
coba ada yg kasih klarifikasi tentang gosip di kantornya Nadia, paling ngga namanya bersih sebelum dia pindah