Lin Ye terbatuk memuntahkan darah hitam dan terbangun di tanah pemakaman Sekte Pedang Surgawi.
Dantiannya telah hancur lebur, menjadikannya tumpukan sampah yang selalu dihina oleh para kultivator lain.
Angin malam yang dingin berhembus membawa aroma dupa busuk dan aura kematian yang sangat pekat di sekitarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Dari dalam bayangan tubuh Lin Ye yang menempel di dahan pohon, energi kematian yang sangat pekat meledak keluar tanpa menghasilkan suara sedikit pun.
Dalam hitungan detik, kabut hitam yang sangat tebal dan pekat mulai merembes keluar dari dalam tanah berbatu di seluruh penjuru hutan bambu.
Kabut hitam itu bukan sekadar kabut biasa, melainkan manifestasi dari energi Yin murni yang memiliki kemampuan untuk menelan cahaya matahari dan memblokir seluruh indera spiritual.
Siang hari yang tadinya cerah seketika berubah menjadi gelap gulita di dalam hutan bambu tersebut, seolah-olah malam hari telah jatuh secara tiba-tiba tanpa peringatan.
Chu Yan yang sedang berdiri dengan angkuh langsung membelalakkan matanya saat pandangannya tertutup sepenuhnya oleh kegelapan mutlak yang sedingin es.
Ia mencoba menyebarkan kesadaran spiritualnya untuk mendeteksi keadaan sekeliling, namun kesadarannya seolah menabrak dinding baja yang sangat tebal dan terpantul kembali.
"A-apa yang terjadi?! Kabut iblis macam apa ini?! Aku tidak bisa melihat atau merasakan apa pun!" teriak Chu Yan dengan nada yang mulai disusupi oleh kepanikan.
Tetua Liu yang berdiri di dekatnya sudah lebih dulu jatuh berlutut karena tekanan energi kematian di dalam kabut itu langsung membuat darahnya membeku.
Di arah yang lain, sepuluh anggota Pasukan Eksekutor yang telah berpencar kini terjebak sendirian di tengah kegelapan tanpa bisa saling berkomunikasi.
Mereka memegang erat pedang darah mereka sambil mengayunkannya secara membabi buta ke arah kabut tebal, namun hanya membelah udara kosong.
Lin Ye berdiri perlahan dari dahan pohon bambu, membiarkan tubuhnya turun melayang ke bawah layaknya sehelai bulu burung gagak yang mematikan.
Ia memilih target pertamanya, seorang eksekutor bertubuh jangkung yang berada paling jauh dari posisi Chu Yan.
Eksekutor jangkung itu sedang berjalan mundur dengan punggung menempel pada sebatang pohon bambu, napasnya tersengal-sengal menahan hawa dingin yang luar biasa.
"Sialan! Formasi Pencari Darah sama sekali tidak berguna di dalam kabut terkutuk ini!" umpat eksekutor jangkung itu sambil menggertakkan giginya.
Ia mengangkat sebuah suar sinyal berwarna merah dari dalam cincin penyimpanannya, berniat menembakkannya ke langit untuk meminta bantuan dari rekan-rekannya.
Namun, sebelum jari-jarinya sempat menarik pelatuk suar tersebut, sebuah tangan sedingin balok es telah mencengkeram pergelangan tangannya dari balik kabut hitam.
Eksekutor jangkung itu membelalakkan matanya dengan ngeri dan segera menoleh ke samping, hanya untuk berhadapan langsung dengan sepasang mata hitam yang tidak memiliki emosi.
Wajah pucat Lin Ye muncul dari balik kabut bagaikan hantu penasaran, jarak mereka hanya terpaut beberapa inci saja.
"Mencariku?" bisik Lin Ye dengan suara serak yang membuat jantung eksekutor itu hampir berhenti berdetak.
Belum sempat eksekutor itu membuka mulutnya untuk berteriak atau mengayunkan pedangnya, Lin Ye sudah menggerakkan tangan kirinya dengan kecepatan yang tak terlihat.
Tangan kiri Lin Ye yang telah diselimuti oleh kabut energi Yin yang mematikan menembus dada eksekutor itu seperti pisau panas yang memotong mentega.
Tangan itu langsung mencengkeram jantung eksekutor jangkung tersebut yang berdetak dengan sangat kencang karena ketakutan.
"Teknik iblis... ugh..." eksekutor itu memuntahkan darah hitam dari mulutnya, matanya mulai kehilangan fokus kehidupan.
Lin Ye tidak langsung menghancurkan jantung itu, melainkan mengaktifkan pusaran hisapan dari telapak tangannya untuk menyedot jiwa eksekutor tersebut secara hidup-hidup.
Jeritan tertahan terdengar dari tenggorokan eksekutor jangkung itu saat jiwanya yang berada di puncak tahap kedelapan ditarik paksa dari dalam raganya.
Energi kultivasi yang sangat besar dan murni mengalir deras masuk ke dalam meridian Lin Ye, membuat danau spiritualnya bergemuruh hebat kegirangan.
Hanya dalam tiga tarikan napas, tubuh eksekutor jangkung itu mengering menjadi mumi dan hancur menjadi debu abu-abu saat Lin Ye menarik tangannya kembali.
Layar sistem kembali berkedip, memberikan notifikasi bahwa energi kultivasi Lin Ye telah melesat menuju pertengahan tahap keenam Alam Pengumpulan Qi.
Lin Ye menepuk kedua tangannya dengan santai, matanya menyapu sisa kabut gelap untuk mencari mangsa berikutnya.
"Satu eksekutor elit telah tumbang, sembilan lagi menunggu untuk dipanen," gumam Lin Ye dengan senyuman yang menyayat hati.
Ia kembali menggunakan Langkah Hantu Bayangan, meleburkan fisiknya ke dalam kabut hitam dan melesat ke arah target kedua.
Di tempat lain di dalam kabut yang sama, seorang eksekutor bertubuh gempal sedang mengayunkan pedangnya dengan panik ke segala arah.
Ia mendengar suara langkah kaki yang sangat samar berputar mengelilinginya, membuat mental pembunuhnya yang selama ini terlatih runtuh seketika.
"Tunjukkan dirimu, keparat! Jangan bermain petak umpet dengan Pasukan Eksekutor!" teriaknya dengan suara yang pecah.
Tiba-tiba, suara tawa rendah bergema dari arah belakang punggungnya.
Eksekutor gempal itu segera memutar tubuhnya dan menebas pedangnya dengan kekuatan penuh yang membelah udara.
Namun yang ia tebas hanyalah ilusi bayangan dari Jenderal Wu An yang sengaja dimunculkan oleh Lin Ye sebagai pengalih perhatian.
Saat eksekutor itu menyadari tebasannya meleset, sosok fisik Lin Ye telah muncul tepat di atas kepalanya dengan posisi menukik ke bawah.
Kaki kanan Lin Ye yang dilapisi oleh energi kematian menendang ubun-ubun eksekutor gempal itu dengan kekuatan setara dengan batu karang raksasa.
Suara retakan tengkorak yang sangat keras menggema pelan di dalam kabut saat tubuh eksekutor itu langsung ambruk ke tanah dengan leher yang patah.
Sekali lagi, sebelum nyawa eksekutor itu benar-benar melayang, Lin Ye menempelkan telapak tangannya dan menyedot jiwa elit tersebut ke dalam tubuhnya.
Pembantaian dalam diam itu terus berlanjut tanpa henti selama setengah jam berikutnya di dalam kegelapan Domain Kabut Penelan Jiwa.
Satu per satu, anggota Pasukan Eksekutor Pedang Darah yang sangat ditakuti oleh seluruh pelataran luar dibunuh tanpa ampun seperti memotong rumput liar.
Tidak ada pertarungan epik, tidak ada pertukaran jurus yang seimbang, yang ada hanyalah pembantaian sepihak dari seorang kaisar bayangan yang sangat efisien.
Jeritan putus asa yang tertahan, suara tulang yang patah, dan bau darah segar terus menerus mengganggu pikiran Chu Yan yang masih berdiri di tempat asalnya.
Setiap kali ia mendengar suara samar jatuhnya tubuh manusia ke tanah, kesombongannya semakin terkikis dan digantikan oleh kengerian yang mencekik lehernya.
"S-siapa di sana?! Keluarlah, aku tahu kau membunuh anak buahku! Hadapi aku jika kau memang memiliki keberanian, dasar iblis!" teriak Chu Yan dengan suara yang kini benar-benar bergetar karena panik.
Tetua Liu yang masih berlutut di tanah di samping Chu Yan tiba-tiba berhenti bernapas dan matanya melotot lebar karena ketakutan yang absolut.
Dari arah depan mereka, kabut hitam pekat perlahan terbelah dan menyibak ke sisi kiri dan kanan seolah membuka jalan bagi seorang penguasa sejati.
Suara langkah kaki yang sangat pelan dan ritmis terdengar semakin jelas mendekati mereka berdua, diiringi oleh seretan sesuatu yang berat di atas tanah berbatu.
Chu Yan menghunuskan pedang panjang berkualitas tinggi miliknya, ujung pedangnya bergetar saat ia menodongkannya ke arah celah kabut yang terbuka.
Sesosok pemuda berjubah abu-abu melangkah keluar dari dalam kegelapan, wajahnya yang pucat dan tampan memancarkan aura kematian yang mendominasi seluruh ruang dan waktu.
Di tangan kanannya, pemuda itu sedang menyeret sepuluh pedang merah darah yang telah patah, yang merupakan senjata kebanggaan milik Pasukan Eksekutor.
Di tangan kirinya, pemuda itu menggenggam sebuah kepala manusia yang masih meneteskan darah segar dari lehernya yang terputus.
Kepala itu adalah milik wakil kapten Pasukan Eksekutor, yang matanya masih terbuka lebar menampilkan ekspresi penderitaan yang tak terbayangkan.
Lin Ye melemparkan kepala berdarah itu tepat ke depan ujung sepatu Chu Yan yang kini wajahnya telah berubah sepucat mayat.
"Apakah kau yang mencariku, Chu Yan?" tanya Lin Ye dengan senyuman sinis yang sangat dingin.
Chu Yan memundurkan langkahnya hingga menabrak tubuh Tetua Liu, matanya tidak bisa berkedip saat mengenali wajah pemuda yang berdiri di hadapannya.
Itu benar-benar wajah Lin Ye, sampah tanpa dantian yang seharusnya sudah menjadi makanan burung gagak di dasar Jurang Kematian.
Namun aura yang dipancarkannya saat ini bukanlah aura seorang sampah, melainkan aura puncak tahap ketujuh Alam Pengumpulan Qi yang didapatkan setelah menyerap sepuluh jiwa eksekutor elit.
"K-kau... kau benar-benar Lin Ye? B-bagaimana kau bisa memiliki kekuatan mengerikan seperti ini..." gagap Chu Yan, seluruh kesombongannya telah hancur menjadi debu ditiup angin kematian.
Lin Ye menjatuhkan kesepuluh pedang patah itu ke tanah dengan suara dentingan logam yang menggema nyaring.
Ia mengangkat tangan kanannya perlahan dan mengarahkan jari telunjuknya tepat ke arah dahi Chu Yan yang sedang berkeringat dingin.
"Aku merangkak keluar dari neraka hanya untuk satu tujuan, Chu Yan," ucap Lin Ye dengan nada yang mematikan seluruh harapan.
"Untuk memastikan bahwa garis keturunan keluargamu berakhir malam ini, dimulai dari dirimu."