Nadia mati mengenaskan akibat dikhianati. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan memindahkan jiwanya ke tubuh Chelsea Latief, gadis kaya raya yang sedang koma.
Terbangun sebagai Chelsea, Nadia tidak hanya harus mencari cara untuk menghancurkan orang-orang yang telah membunuhnya di masa lalu, tetapi ia juga harus bertahan hidup di rumah mewah yang penuh dengan konspirasi racun, sekaligus menghadapi Reynald—tunangan arogan yang tiba-tiba berbalik mengejar cintanya.
"Aku bukan Chelsea yang bisa kamu injak-injak lagi, Tuan Reynald."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAIDA VALE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Pertemuan Dua Kehidupan
Pintu aula utama Hotel Grand Hyatt terbuka lebar, menumpahkan pendar cahaya keemasan dari lampu-lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit. Aroma parfum mahal, denting gelas sampanye, dan alunan musik klasik gesekan biola langsung menyambut kedatangan mereka. Ratusan pasang mata yang berasal dari kalangan elite, pengusaha, dan jurnalis seketika menoleh ke arah pintu masuk.
Reynald mengulurkan lengan kanannya yang kokoh. Nadia, dengan keanggunan seorang ratu, menyelipkan jemarinya di sela lengan pria itu. Mereka melangkah masuk bersama, memancarkan aura pasangan paling berkuasa malam itu. Bisik-bisik kekaguman sekaligus ketidakpercayaan mulai berdengung di antara para tamu.
"Bukankah itu Chelsea Latief? Kudengar dia mencoba bunuh diri beberapa hari lalu?"
"Lihat penampilannya... dia sama sekali tidak terlihat seperti gadis manja yang labil. Auranya sangat mengintimidasi."
Reynald tetap berjalan dengan pandangan lurus ke depan, namun ia berbisik rendah di dekat telinga Nadia. "Tetap di dekatku. Malam ini, semua orang akan mencoba mencari celah dari perubahanmu."
"Tenang saja, Tuan Reynald. Saya tahu cara bersikap di depan mangsa," jawab Nadia dengan nada suara yang terlampau tenang untuk gadis seusianya.
Saat mereka berjalan menyusuri aula untuk menyapa beberapa kolega bisnis penting, jantung Nadia mendadak berdegup dua kali lebih cepat. Bukan karena gugup berada di samping Reynald, melainkan karena sepasang mata jeli miliknya menangkap dua sosok yang sangat familier di ujung ruangan, dekat meja bar VIP.
Seorang pria dengan setelan jas abu-abu mahal, tertawa lebar sembari memegang gelas anggur. Di sampingnya, seorang wanita bergaun merah marun menggelayut manja di lengannya.
Baskoro dan Elena.
Mantan kekasih dan sahabat baiknya di kehidupan lalu. Orang-orang yang telah merekayasa kematiannya dan mendorongnya dari lantai lima belas. Melihat mereka berdua berdiri di sana, hidup dengan mewah menggunakan uang dan aset hasil jerih payah perusahaan peninggalan orang tua Nadia, membuat darah di dalam tubuh Nadia seketika mendidih. Cengkeramannya pada lengan Reynald tanpa sadar mengetat.
Reynald yang merasakan perubahan mendadak dari energi tubuh wanita di sampingnya langsung mengikuti arah pandang Chelsea. Matanya menyipit saat menyadari bahwa Chelsea sedang menatap lurus ke arah CEO baru Baskoro Corp.
"Mereka adalah Baskoro dan tunangannya, Elena," bisik Reynald, mengamati rahang Chelsea yang mengetat. "Kamu tampak seperti ingin menguliti mereka hidup-hidup, Chelsea."
Nadia dengan cepat menarik napas dalam-dalam, menekan badai emosi yang bergemuruh di dadanya, lalu menggantinya dengan senyuman paling menawan namun mematikan. "Saya hanya mengagumi betapa tebalnya kulit muka beberapa orang di dunia ini, Tuan Reynald. Mari kita sapa mereka."
Baskoro yang sedang asyik mengobrol mendadak menghentikan kalimatnya saat merasakan sebuah aura tekanan yang kuat mendekat. Begitu ia berbalik, matanya langsung berbinar melihat Reynald, namun pandangannya seketika terkunci pada wanita yang menggandeng lengan CEO muda tersebut.
"Tuan Reynald! Suatu kehormatan bisa bertemu dengan Anda di sini," ucap Baskoro sembari mengulurkan tangannya dengan senyum ramah yang tampak sangat palsu di mata Nadia.
Reynald menyambut uluran tangan itu sekilas, hanya sebagai formalitas kesopanan bisnis. "Tuan Baskoro. Kudengar perusahaan Anda baru saja mengumumkan restrukturisasi besar-besaran."
"Ah, ya. Kematian mendadak mendiang mantan CEO kami, Nadia Kirana, memang membawa sedikit guncangan. Tapi syukurlah, semuanya kini sudah berada di bawah kendali saya," jawab Baskoro dengan nada sombong yang terselubung, seolah kematian Nadia adalah hal sepele.
Di sampingnya, Elena tersenyum manis, namun matanya yang penuh rasa iri terus menatap gaun hijau zamrud milik Chelsea. "Dan... siapakah wanita cantik di sebelah Anda ini, Tuan Reynald? Apakah ini Nona Chelsea Latief yang sering dibicarakan itu?"
Nadia melangkah maju satu tapak, membebaskan lengannya dari Reynald. Ia menatap Elena tepat di kedua matanya. Tatapan itu begitu tajam, begitu dingin, dan begitu penuh dengan pengetahuan masa lalu hingga membuat Elena tanpa sadar mundur setengah langkah karena merasa terintimidasi.
"Benar, saya Chelsea Latief," ucap Nadia, suaranya terdengar lembut namun memiliki penekanan yang bergaung. "Senang bertemu dengan Anda, Nona Elena. Dan Tuan Baskoro... saya turut berdukacita atas kematian mantan CEO Anda. Kasihan sekali dia, mati secara tragis karena... dikhianati oleh orang-orang terdekatnya, bukan?"
Mendengar kata 'dikhianati', senyum di wajah Baskoro dan Elena seketika membeku. Suasana di antara keempat orang itu mendadak berubah menjadi sangat tegang dan dingin.
"Apa... apa maksud Nona Chelsea? Polisi sudah menyatakan bahwa mendiang Nadia murni bunuh diri karena depresi," ucap Elena dengan suara yang sedikit bergetar, mencoba mempertahankan topeng ketenangannya.
Nadia terkekeh pelan, sebuah tawa yang terdengar sangat familier di telinga Baskoro hingga membuat pria itu merinding tanpa alasan yang jelas.
"Benarkah begitu? Ah, dunia ini penuh dengan ilusi," balas Nadia sembari memainkan ujung gelas sampanye yang diambilnya dari pelayan yang lewat. "Hanya saja, terkadang jiwa orang yang mati karena dizalimi tidak akan pernah tenang. Mereka bisa saja kembali... menggunakan tubuh orang lain untuk menuntut balas."
Nadia sengaja menjatuhkan bom psikologis itu. Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana jakun Baskoro naik-turun karena menelan ludah dengan susah payah, dan bagaimana wajah Elena perlahan mulai kehilangan rona alaminya.
Reynald yang berdiri di samping Nadia hanya diam, namun matanya yang secerdas elang merekam setiap interaksi tersebut. Ia menyadari ada sesuatu yang sangat tidak beres. Mengapa Chelsea Latief, seorang gadis kaya yang tidak pernah keluar dari lingkaran sosialnya, bisa memberikan tekanan psikologis seberat itu pada Baskoro dan Elena? Mengapa bicaranya seolah dia tahu rahasia terdalam dari kasus kematian Nadia Kirana?
Sebelum Baskoro sempat membalas kalimat Chelsea, Nadia sudah terlebih dahulu memotongnya dengan senyuman formal. "Kalian berdua tampak pucat. Mungkin AC di aula ini terlalu dingin untuk orang-orang yang memiliki... rahasia gelap. Kami permisi dulu."
Nadia kembali menggandeng lengan Reynald, lalu berjalan meninggalkan Baskoro dan Elena yang masih mematung di tempat dengan tubuh yang gemetar akibat syok psikologis yang baru saja mereka terima.
Setelah jarak mereka cukup jauh, Reynald menarik Nadia ke sudut koridor yang lebih sepi, jauh dari jangkauan para tamu. Ia melepaskan gandengan tangan Nadia, lalu mengurung tubuh wanita itu di antara dinding marmer dan tubuh tegapnya.
Reynald menunduk, menatap langsung ke dalam manik mata Chelsea dengan pandangan yang sangat tajam dan menuntut jawaban. "Sekarang, katakan padaku yang sebenarnya, Chelsea Latief. Siapa kamu sebenarnya? Dan apa hubunganmu yang sesungguhnya dengan kematian Nadia Kirana?"