NovelToon NovelToon
Warisan Kulivator Abadi

Warisan Kulivator Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Anak Genius / Fantasi
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nur Hali

Di dunia tempat kekuatan kultivasi menjadi ukuran harga diri dan masa depan, Riu Han lahir sebagai anak dari Klan Riu yang terhormat—namun membawa takdir yang dianggap sia-sia. Sejak usia empat tahun, ia dinyatakan memiliki saluran energi yang tersumbat, membuatnya sama sekali tidak mampu menyerap dan menyalurkan energi alam. Di tengah pandangan mencemooh dan belas kasihan, ia terus berusaha meski tahu jalannya seolah sudah tertutup rapat.

Hingga suatu hari, di balik pohon Kayu Keabadian yang berusia ribuan tahun, ia menemukan sebuah ruangan rahasia yang tersembunyi selama berabad-abad. Di sana, udara terasa lebih kental dan damai, serta menyimpan jejak kekuatan kuno yang tak terduga. Apa yang awalnya hanya menjadi tempat pelarian, perlahan mengungkapkan sebuah warisan agung yang telah lama ditunggu—satu-satunya harapan yang bisa membalikkan takdirnya, membuka jalan menuju puncak kekuatan, dan mengungkap rahasia yang tersembunyi di balik dunia kultivasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Kekaguman Jing Hu

Jarak antara Kota Jiang dan Kota Batu Raja biasanya dapat ditempuh dalam waktu tiga hari jika menggunakan kuda yang tangkas dan melaju sepanjang siang hari tanpa banyak berhenti. Namun, Jing Hu sengaja memilih untuk menempuh perjalanan ini dengan berjalan kaki. Ia tidak terburu-buru, dan memiliki alasan tersendiri di balik keputusannya itu. Baginya, perjalanan ini bukan sekadar urusan berpindah tempat, melainkan kesempatan emas untuk menguji kemampuan, ketahanan fisik, serta mental Riu Han secara langsung.

Sepanjang perjalanan yang melintasi hutan belantara, bukit-bukit rendah, dan lembah yang sunyi, setiap kali mereka bertemu dengan kawanan binatang buas atau bahkan binatang roh yang berkeliaran di jalur itu, Jing Hu tidak turun tangan sedikit pun. Ia hanya berdiri diam di kejauhan, bersandar pada sebatang pohon atau duduk di atas batu besar sambil mengamati dengan tatapan tajam namun tenang, membiarkan Riu Han menghadapi setiap tantangan itu sendirian.

Sejak awal keberangkatan, rasa kagum telah tumbuh di hati Jing Hu. Sebagai seorang Tetua yang telah melihat banyak bakat muda selama puluhan tahun, ia tahu betul perbedaan antara sekadar berbakat dan memiliki fondasi yang benar-benar kokoh. Namun, kekagumannya itu meningkat berkali-kali lipat ketika ia menyaksikan langsung bagaimana Riu Han bertarung melawan seekor binatang roh tingkat empat yang setara dengan kekuatan seorang kultivator Jenderal.

Melihat seorang anak berusia tujuh tahun yang baru saja mencapai tingkat dua Prajurit mampu mengimbangi, bahkan akhirnya mengalahkan makhluk yang kekuatannya dua tingkat lebih tinggi darinya, membuat hati Jing Hu berdebar kencang karena takjub. Bukan hanya soal kecepatan atau tenaga semata, tetapi cara Riu Han mengatur napas, membaca gerakan lawan, mencari titik lemah, dan menggunakan teknik bertarung dengan sangat teratur dan efisien—semua itu terlihat seperti hasil latihan puluhan tahun, bukan dari seorang anak yang baru memulai perjalanannya.

“Anak ini sungguh luar biasa,” gumam Jing Hu dalam hati sambil tersenyum bangga. “Bukan hanya bakatnya yang melampaui batas biasa, melainkan insting bertarung dan ketenangannya di tengah bahaya juga sangat mengesankan. Sudah ribuan tahun berlalu sejak terakhir kali ada seorang kultivator muda yang mampu bertarung dan menang melawan lawan yang memiliki kekuatan dua tingkat lebih tinggi darinya pada usia semuda ini. Suatu hari nanti, namanya pasti akan menggemparkan seluruh dunia kultivasi.”

Karena sering berhenti untuk beristirahat, mengamati alam, serta memberikan kesempatan bagi Riu Han untuk mengasah kemampuannya melawan makhluk hutan, perjalanan yang seharusnya hanya memakan waktu tiga hari akhirnya berlangsung selama sepuluh hari penuh. Namun, bagi Jing Hu, waktu yang terpakai itu terasa sangat berharga. Ia dapat melihat dengan jelas bagaimana setiap hari yang berlalu membawa perubahan nyata pada diri Riu Han—gerakannya semakin halus, pengendalian energinya semakin baik, dan keyakinannya semakin kokoh.

Pada hari kesepuluh itu, saat matahari mulai meluncur turun ke arah barat, pemandangan di depan mata mereka berubah drastis. Dari kejauhan, terlihatlah dinding kota yang sangat tinggi dan menjulang lurus ke langit, memancarkan warna yang unik: hitam pekat bercampur kilauan keemasan yang lembut terkena sinar matahari sore.

“Ini dia, Kota Batu Raja,” ujar Jing Hu sambil menunjuk ke arah depan dengan nada bangga.

Riu Han tertegun dan matanya terbelalak lebar. Kota ini jauh lebih besar, lebih megah, dan lebih luas dibandingkan Kota Jiang tempat ia tinggal selama ini. Seluruh bagian luar kota dikelilingi oleh tembok raksasa yang dibangun dari batu berwarna hitam keemasan itu. Batu itu terlihat sangat padat, kokoh, dan memancarkan aura ketahanan yang luar biasa. Sekilas pandang saja, sudah terasa bahwa tembok itu tidak akan mudah ditembus oleh serangan apa pun.

Saat mereka berjalan mendekat, Jing Hu mulai menceritakan sejarah singkat kota itu untuk menambah wawasan Riu Han.

“Ratusan tahun yang lalu, wilayah ini dulunya hanyalah pemukiman kecil yang sering terancam bahaya. Pada suatu masa, terjadi peristiwa yang mengerikan: sekelompok besar binatang roh dari hutan pedalaman keluar secara serentak, menyerang dan menghancurkan segala sesuatu yang mereka temui. Penduduk yang tinggal di sini banyak yang menjadi korban, dan hampir seluruh pemukiman rata dengan tanah.”

Jing Hu berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih serius. “Kekacauan itu berlangsung berbulan-bulan hingga akhirnya Kerajaan Song mengirimkan seorang Jenderal besar yang telah mencapai tingkat kekuatan Panglima, dibantu oleh ratusan kultivator dari berbagai klan. Setelah pertarungan yang sangat sengit dan mengorbankan banyak nyawa, mereka akhirnya berhasil mengusir kawanan binatang roh itu kembali masuk ke dalam hutan dalam dan menutup jalur masuk mereka.”

“Setelah ancaman itu mereda, Jenderal yang memimpin pasukan itu melihat bahwa pemukiman ini sangat strategis namun juga sangat rentan. Ia kemudian mengusulkan untuk membangun tembok pelindung menggunakan batu khusus yang ditemukan di pegunungan dekat sini—batu yang kita lihat ini. Batu ini memiliki sifat sangat keras, tahan terhadap serangan fisik maupun serangan energi, dan tidak mudah hancur. Sejak tembok ini selesai dibangun, tidak ada lagi serangan besar yang berhasil menembusnya. Sejak saat itu pula, pemukiman ini berkembang pesat dan menjadi kota besar yang kita kenal sekarang dengan nama Kota Batu Raja.”

Riu Han mendengarkan dengan saksama, matanya tidak lepas memandang tembok raksasa itu. Ia baru menyadari bahwa di luar kedamaian yang ia rasakan selama ini, ada bahaya dan perjuangan yang tersembunyi demi menjaga keselamatan manusia.

Setelah melewati gerbang utama yang dijaga ketat oleh para prajurit yang mengenakan baju zirah lengkap dan membawa tombak panjang, suasana di dalam kota langsung menyambut mereka. Jalanannya lebih lebar, rumah-rumahnya lebih megah, dan keramaian penduduknya jauh lebih padat dibandingkan tempat asalnya. Suara pedagang, suara kereta kuda, dan percakapan orang-orang terdengar di mana-mana, menciptakan suasana yang hidup dan sibuk.

“Riu Han, kita sudah lelah berjalan seharian ini. Ayo kita cari tempat penginapan yang nyaman untuk beristirahat malam ini. Besok pagi kita akan menuju dermaga untuk menunggu kapal yang akan membawa kita melintasi sungai besar menuju Kota Su,” ajak Jing Hu sambil melangkah masuk ke dalam keramaian.

“Baik, Senior Jing,” jawab Riu Han dengan nada hormat, matanya terus berkeliling mengamati segala hal baru yang terlihat di sekelilingnya dengan rasa ingin tahu yang tak terpuaskan.

Mereka berjalan menyusuri jalan utama, melewati toko-toko yang menjual segala jenis barang, mulai dari bahan makanan, pakaian, hingga peralatan latihan dan ramuan obat. Di sana-sini terlihat juga para kultivator yang mengenakan pakaian khas masing-masing klan atau sekte, berjalan dengan tatapan yang waspada namun penuh percaya diri. Bagi Riu Han, ini adalah pengalaman pertama melihat begitu banyak orang yang memiliki kekuatan dan status yang berbeda-beda berkumpul di satu tempat.

Setelah berjalan beberapa saat, Jing Hu memilih sebuah penginapan yang terlihat cukup bersih, luas, dan memiliki reputasi baik di pusat kota. Ia mengangkat tangannya dan memberi isyarat kepada pelayan yang segera datang menyambut mereka.

“Selamat datang, Tuan-tuan! Apakah ingin menyewa kamar untuk bermalam?” sapa pelayan itu dengan ramah.

“Ya, berikan kami dua kamar yang bersih dan tenang, serta siapkan makanan yang cukup untuk kami nanti malam,” jawab Jing Hu sambil menyerahkan sejumlah koin perak.

“Baik, Tuan! Silakan ikut saya ke lantai atas,” jawab pelayan itu sambil membungkuk hormat, lalu memimpin mereka menuju kamar yang disiapkan.

Sesampainya di kamar masing-masing, Riu Han segera duduk bersila di tepi tempat tidur untuk menenangkan tubuhnya. Meskipun ia sudah terbiasa berlatih keras, berjalan kaki selama sepuluh hari berturut-turut dengan membawa beban tubuh sendiri dan terus mengerahkan energi untuk menghadapi tantangan di sepanjang jalan tetap membuat tenaganya terkuras cukup banyak. Namun, ia juga bisa merasakan perubahan yang positif—tubuhnya terasa lebih kuat, lebih lentur, dan saluran energinya terasa lebih lebar dan lancar dari sebelumnya.

Di dalam hatinya, ia juga merasakan perhatian yang tulus dari Jing Hu. Ia sadar bahwa perjalanan ini bukan sekadar jalan biasa, melainkan ujian yang dirancang khusus untuk membentuk dirinya. “Senior Jing benar-benar sangat baik. Ia tidak hanya ingin mengajarkanku teknik, tapi juga melatih ketahanan dan pikiranku agar tidak lemah saat menghadapi kesulitan,” pikirnya dalam hati.

Sementara itu, di kamar sebelah, Jing Hu berdiri di dekat jendela memandang ke arah keramaian kota di bawah. Wajahnya dipenuhi senyum puas. Ia telah melihat cukup banyak hal selama perjalanan ini untuk memastikan bahwa pilihannya tidak salah.

“Riu Han bukan hanya memiliki bakat yang luar biasa, tapi juga memiliki hati yang tenang dan semangat yang tak pernah padam. Ia tidak pernah mengeluh meskipun lelah, tidak pernah takut saat menghadapi lawan yang lebih kuat, dan selalu berusaha mencari cara untuk menang tanpa melukai secara berlebihan jika tidak perlu. Jika ia terus berkembang seperti ini, tidak menutup kemungkinan ia bisa melampaui pencapaian banyak tetua di sekte kita bahkan di usia yang masih sangat muda,” batinnya.

Malam itu, setelah makan malam bersama dan berbincang sebentar mengenai hal-hal dasar yang perlu diketahui tentang dunia luar, mereka berpisah untuk beristirahat. Riu Han memanfaatkan waktu itu untuk bermeditasi, menyerap energi yang tersisa dari inti roh yang ia simpan selama perjalanan untuk memulihkan kondisinya sepenuhnya. Ia tahu, perjalanan masih panjang dan tantangan yang menanti di depan akan jauh lebih berat daripada apa yang ia lalui sampai saat ini.

Keesokan paginya, saat matahari baru saja terbit menyinari atap-atap rumah, keduanya sudah siap melanjutkan perjalanan. Mereka berjalan menuju dermaga besar yang terletak di sisi barat kota. Di sana, pemandangannya terlihat sangat megah—sungai besar yang airnya mengalir deras membentang luas bagaikan lautan kecil, dengan puluhan kapal besar dan kecil yang berlabuh di tepiannya, siap mengangkut penumpang dan barang ke berbagai wilayah di kerajaan.

Riu Han berdiri di tepi sungai, merasakan angin segar yang berhembus membawa uap air, dan menatap ke arah hulu sungai yang menghilang di balik kabut pagi. Di sanalah arah tujuan mereka—menuju Kota Su, dan dari sana akhirnya sampai ke wilayah tempat Sekte Pedang berdiri megah di atas puncak gunung yang menjulang tinggi.

1
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Lanjut Up Thor 💪💪
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Mantap 👍
Lanjut Up Thor 💪💪
Deevy Tresiyana
kuatkan💪mu riu han...ceritanya luar biasa thor👍😄
Deevy Tresiyana
👍💪hebat hebat
Blue Manusia Biasa
awal yang bagus
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Meluncur 1 gift ☕ Lanjut Up Thor..
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Dukung Novel ini dengan cara: Like, Komen, Vote, Rate 5 ⭐, Ads dan gift. Semangat Thor 💪💪
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Mantap 👍
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Ceritanya menarik untuk dibaca 👍👍
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Dukung Novel ini dengan cara: Like, Komen, Vote, Rate 5 ⭐, Ads dan gift.
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Lanjut Up Thor..
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Tetap semangat Thor 💪💪
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Lanjutkan Thor 💪💪
sutrisno akbar
ayo lanjut thor l
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Tingkatan Pemula saja Tingkat 1-9, kok nggak Awal, Tengah dan Puncak 🤔
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Kisah menjadi Kultivator / Pendekar dimulai 👍
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Mantap 👍
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Semoga Novel ini sukses dan sampai Tamat.
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Alur ceritanya mulai menarik untuk dibaca 👍
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Awal cerita sudah bagus 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!