NovelToon NovelToon
Tirai Hitam Para Pewaris

Tirai Hitam Para Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi
Popularitas:526
Nilai: 5
Nama Author: Pineapple banana

Sejak kecil, Kiara hidup sebagai anak yang dibenci dan disiksa oleh keluarga yang membesarkannya. Ia tak pernah tahu bahwa semua penderitaan itu berawal dari sebuah pembunuhan yang terjadi dua puluh lima tahun lalu.

Demi merebut harta dan kekuasaan, pamannya membunuh ayah kandung Kiara, mengurung ibu kandungnya selama puluhan tahun, lalu membesarkannya dengan identitas palsu.

Saat kebenaran mulai terungkap, Kiara harus merebut kembali haknya dan membalas semua dosa yang telah merenggut keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Bu Risma masih menyimpan rasa kesal kepada Kiara akibat olahan udang yang dimasak gadis itu, hingga membuatnya harus meminum obat alergi. Sebagai hukuman, Bu Risma memukul Kiara menggunakan sebatang rotan hingga kulit gadis itu terluka dan berdarah-darah. Kiara sudah berteriak memohon ampun dan meminta agar pukulan dihentikan karena tubuhnya sudah tak sanggup menahan rasa sakit, namun Bu Risma sama sekali tak menggubrisnya.

Baru ketika Bu Amira datang dengan napas tersengal-sengal dan segera memeluk cucunya erat-erat, pukulan itu terhenti.

“Hentikan, Risma! Kau bisa membuatnya mati!” pekik Bu Amira kepada menantunya.

“Jangan ikut campur urusanku, Bu! Sebaiknya Ibu pergi saja sebelum aku turut memukul Ibu juga!” teriak Bu Risma dengan nada tinggi.

“Baik! Pukul saja aku, Risma! Aku tak apa-apa, asalkan kau berhenti menyakiti dia! Dia sudah cukup menderita, namun kau malah menambah penderitaannya dengan pukulan-pukulanmu itu. Tidakkah hatimu terketuk melihat keadaan Kiara? Selama ini ia selalu mengalah, menuruti semua perkataanmu, mematuhi larangan untuk tidak pulang larut malam maupun bekerja di perusahaan orang lain. Namun kalian tetap saja menyiksa dan memperlakukannya dengan kejam!” teriak Bu Amira di sela isak tangis yang menyayat hati, sambil menggenggam tangan cucu kesayangannya itu.

Di sudut ruangan, Mbak Asih turut menangis karena tak tega melihat penderitaan Kiara. Namun ia tak mampu berbuat apa-apa, sebab ia hanyalah seorang pembantu di rumah keluarga Anton.

Risma terdiam membeku mendengar ucapan ibu mertuanya, namun amarah di hatinya belum juga reda. Ia tetap ingin melampiaskan kekesalannya itu kepada Kiara.

“Cukup diam kau, nenek tua! Untuk apa kau membela anak pungut itu? Kalau bukan karena suamiku yang membawanya masuk dan memeliharanya, aku tak sudi merawatnya! Sebenarnya lebih baik ia mati bersama kedua orang…”

Ucapan Risma terhenti mendadak oleh suara teriakan keras yang sangat dikenalnya. Ia segera menunduk dan mengutuki kebodohannya sendiri karena hampir saja membongkar rahasia besar itu.

“Risma! Apa-apaan kau ini, hah?! Ikut aku ke kamar sekarang juga!” bentak Anton dengan suara penuh penekanan.

Risma menunduk dalam, lalu melempar rotan di tangannya—yang tanpa sengaja mengenai dahi Bu Amira—sebelum berjalan mengikuti Anton menuju kamar pribadi mereka.

Setelah keduanya pergi meninggalkan Kiara dan Bu Amira, Kiara menoleh ke arah neneknya dan melihat luka lecet di dahi wanita tua itu.

“Nenek tidak apa-apa?” tanya Kiara di sela rasa sakit yang mendera tubuhnya.

“Seharusnya Nenek yang menanyakan itu padamu, Nak. Ayo, kita obati lukamu,” ucap Bu Amira lembut. Ia lalu menuntun Kiara berjalan menuju kamarnya.

“Shhh… sakit, Nek,” rintih Kiara pelan.

Hati Bu Amira terasa perih mendengar rintihan cucunya itu. Ia hanya mengangguk pelan, lalu meminta tolong kepada Mbak Asih untuk mengambil kotak P3K sebelum melanjutkan langkah.

Sesampainya di kamar, Bu Amira menuntun Kiara untuk duduk di atas tempat tidur sambil menunggu Mbak Asih datang membawa perlengkapan obat.

“Nek… kenapa Mama bilang Kiara adalah anak pungut? Dan kenapa Mama seolah ingin Kiara mati bersama kedua orang…? Maksudnya kedua orang itu siapa sebenarnya, Nek?” tanya Kiara dengan wajah penuh kebingungan.

Meskipun Bu Amira sudah mengerti arah pembicaraan menantunya itu, ia memilih untuk tetap bungkam. Belum saatnya bagi Kiara untuk mengetahui kebenaran tentang siapa kedua orang tuanya yang sesungguhnya.

“Jangan dipikirkan dulu, Nak. Istirahatlah sebentar, nanti setelah lukamu selesai diobati,” jawab Bu Amira singkat. Kiara pun hanya bisa mengangguk pasrah.

Tak lama kemudian, Mbak Asih tiba membawa kotak P3K. Ia menyerahkan kotak itu lalu membukanya. Bu Amira pun mulai mengobati luka-luka memar dan lecet yang terdapat di tangan, punggung, kaki, bahkan bagian dada Kiara. Setelah selesai, Kiara berbaring untuk beristirahat, sedangkan Bu Amira dan Mbak Asih memilih keluar kamar agar Kiara bisa tidur dengan tenang tanpa gangguan.

“Mbak Asih…” panggil Bu Amira pelan.

“Ya, Nyonya?”

“Apapun yang terjadi nanti, jangan biarkan Kiara sendirian di dapur. Dan ingat, teruslah merekam setiap perbuatan kejam yang dilakukan Risma. Paham?”

“Baik, Nyonya. Saya mengerti.”

“Kita harus tetap berpura-pura seolah tak mengetahui apa-apa sampai saatnya tiba, ada seseorang yang akan menolong Kiara dan membongkar seluruh kebusukan Risma maupun Anton.”

“Sebenarnya saya sudah tak sabar lagi, Bu Amira. Hati saya terasa sangat perih melihat perlakuan mereka yang begitu kejam terhadap Kiara,” ucap Mbak Asih.

“Bersabarlah sedikit lagi, Mbak Asih. Hanya butuh sedikit kesabaran lagi,” hibur Bu Amira. Keduanya pun berjalan meninggalkan depan kamar Kiara.

.

.

.

Sementara itu, di lantai atas tepatnya di ruang pribadi Anton, pria itu berdiri membelakangi Risma. Ia merasa sangat kesal dan marah karena ketakutan seluruh rahasia mereka akan terbongkar akibat ucapan Risma yang hampir saja terlepas.

“Sudah berkali-kali aku ingatkan agar kau berhati-hati dan jangan sampai keceplosan berbicara!” ucap Anton dengan nada dingin dan tajam.

“Ma… maafkan aku, Mas. Tadi emosiku tersulut begitu saja, sehingga aku hampir saja kebablasan berbicara,” jawab Risma dengan wajah penuh ketakutan.

“Ingatlah, Risma! Segala kekayaan dan kemewahan yang kita nikmati saat ini adalah hasil dari perampasan paksa, bahkan harus menghilangkan nyawa Kak Yuda. Jangan sampai ucapan cerobohmu itu justru menjadi bumerang yang menghancurkan kita sendiri!” tegas Anton penuh penekanan.

“Baik, Mas. Sekali lagi aku memohon maaf,” ucap Risma lirih.

Anton tak menjawab lagi. Ia hanya duduk dan kembali menyesap minuman anggurnya dengan raut wajah yang masih menyimpan amarah.

Tanpa sepengetahuan keduanya, di balik pintu ruangan itu ada seseorang yang telah mendengar seluruh pengakuan mereka. Tangan orang itu mengepal erat menahan amarah yang memuncak mendengar kenyataan pahit tersebut.

Bersambung

1
Noviyanti
satu bunga untuk kiara
Noviyanti
semangat Thor, salam kenal
Abyyasdemons: oke KK , salam kenal kembali 😍💪👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!