Dua puluh tahun lalu sebuah praktek satanisme gagal. Ijah diringkus lalu dibakar hidup-hidup oleh masa sebab dianggap petaka.
Lima orang dipanggil kembali oleh satu sosok yang datang di dalam cermin. Mereka diberitahu untuk menuju ke salah satu tempat yang sempat mereka tinggali dahulu.
Tempat itu sudah lama ditutup. Huruf arab ditempelkan dibanyak pohon hutan sebelum menuju bangunan itu.
Huruf arab itu konon katanya adalah sebuah ayat sebagai penghalang apa yang ada dibangunan itu supaya tidak keluar dari dalam sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 003 : Anak Tuli yang Mendengar Jeritan Orang Mati
Abraham Ezra dan pasangannya tidak karuniai seorang anak. Dalam kehidupan mereka yang bergelimpangan harta.
Pengusaha kaya raya itu pada akhirnya menemukan buah hati darah orang lain. Beberapa tahun yang lalui. Haikal adalah satu-satunya anak di panti asuhan yang sudah mencuri hati mereka.
Sekarang bayi mungil yang dahulu mereka bawa sudah besar. Hanya saja, Haikal tak sempurna. Saat ini, terlihat Haikal sedang bermain-main di dekat tangga yang menuju langsung ke atas loteng rumahnya.
Haikal tidak bersekolah. Sebab dia adalah anak berkebutuhan khusus. Dia tuli sejak lahir. Namun dia masih menjalankan pendidikannya di rumah. Semacam Home schooling.
Ini masih siang dan jam di dinding menunjukkan pukul dua siang. Gerah rasanya dia berlama-lama di sana sambil memandangi laptopnya.
Dia sedang tidak mengerjakan tugas. Namun dia sedang mencari tahu. Mengeksplorasi perihal tempat yang selalu muncul di dalam mimpinya.
Haikal menggigit bibir bawahnya. Dari balik kaca matanya dia mulai membaca sebuah artikel. Sebuah artikel sampah yang tidak sengaja dia temukan berkat ketekunannya.
Di sana tertulis ada sebuah bangunan di tengah hutan. Pada tiap pohon hutan sebelum sampai ke bangunan itu tertera huruf arab Pegon.
Cukup aneh rasanya. Hingga membuat Haikal menaikkan alisnya. Haikal kembali menyimak dengan seksama artikel itu, membacanya.
Drttttttttt
Brshhhhhh
Haikal menyipitkan kedua matanya. Ketika tiba-tiba layar laptopnya memburam. Haikal tersentak kaget melihat itu.
"Kenapa ini?" ujar Haikal bertanya-tanya perihal apa yang terjadi.
Haikal menepuk-nepuk pelan laptopnya. Berharap sesuatu yang salah di dalam laptopnya bisa segera pulih. Dan dia bisa kembali fokus. Haikal melakukannya beberapa kali.
Namun nihil rasanya. Semakin ditepuk laptop itu, maka buramnya semakin hilang tergantikan oleh gelapnya layar.
"Ini laptop baru tidak mungkin rusak!" ujar Haikal sambil masih memandangi layar laptopnya.
Ketika dia semakin dalam memandangi layar kosong itu. Sebuah pantulan di sana membuatnya diam.
"Huh!" pekik Haikal, sorot matanya tak lepas dari layar laptopnya saat ini. Bagaimana tidak?
Ada seseorang yang duduk di tangga yang letaknya tepat di sampingnya. Jantung Haikal berdegup kencang ketika melihat sosok itu.
Dia adalah sosok yang sama yang selalu datang dalam pantulan cermin. Haikal semakin dalam memandangi sosok itu di sana.
"Siapa kamu?" tanya Haikal padanya.
Meskipun dia kini juga merasa ketakutan. Tetapi rasa ingin tahunya jauh lebih besar dibandingkan rasa takutnya.
Sosok wanita berambut sebahu itu tidak menjawab. Dia hanya berdiri. Wanita itu berbalik membelakangi Haikal.
"Apa yang kamu mau dariku?" tanya Haikal pada sosok itu.
Namun tetap saja. Setan berpakaian lusuh dengan rantai di kakinya itu diam. Justru sosok ini malah menuju ke atap.
Haikal memandangi sosok itu hingga hilang dari pandangannya. Merasa penasaran. Haikal pun bangkit dari duduknya. Dia menutup laptopnya meletakkannya sejenak di lantai.
Haikal berbalik menghadap ke arah tangga loteng. Loteng di atas sana selalu gelap. Hanya ada satu penerangan dan itu selalu dimatikan tiap pagi dan malam.
Teror demi teror sejak dahulu semakin parah saja sejak dia bertambah usia. Itu membuat Haikal cukup muak. Dia pun memantapkan hatinya untuk ikut naik ke atas sana melihat apa yang ingin sosok itu tunjukkan padanya?
"Kamu memang tidak bisa mendengar suara dunia, Haikal!" ujar dua sosok tinggi yang berdiri sejajar.
Haikal yang baru saja naik terkejut bukan main melihat kehadiran dua sosok itu. Wujudnya manusia, berdiri di antara kegelapan. Di belakang mereka terlihat sebuah cermin yang cukup besar.
Kedua sosok itu, laki-laki dan perempuan. Satunya berkebaya seperti orang Jawa. Dan yang lelaki dia memakai pakaian bak seorang Jawara.
"Siapa kalian?" tanya Haikal pada mereka.
"Kamu bisa mendengar suara kami!" ucap sesosok wanita yang masih berdiri menatapnya.
"Haikal... Mimpi yang kamu lihat sebaiknya segera kamu datangi! Atau petaka akan datang pada kalian berlima seperti wanita itu!" ujar sosok wanita di antara kegelapan itu.
Haikal geram dengan segala teka-teki yang berdatangan selama ini. Dia yang murka kemudian memilih maju untuk menentang kedua sosok itu.
Ketika Haikal hendak maju mendekat. Maka terdengar satu suara teriakan seakan itu berasal dari arah cermin.
"Aaaaaaaaaaa!!!" suara dari dalam cermin berteriak lantang. Suaranya bukan sekedar suara teriakan. Namun di dalamnya tersirat begitu banyak rasa sakit.
Ketika Haikal menoleh fokus ke arah cermin itu dengan spontan. Maka sebuah tangan hitam bercakar mendorongnya. Itu mengakibatkan Haikal jatuh ke lantai bawah.
Brukkkk
"Awhh..." lirih Haikal kesakitan.
Di ujung tangga di atas sana. Nampak kedua sosok itu tersenyum menatapnya. Wajah mereka hitam hangus. Kedua mata mereka seperti mata ular.
Perlahan kedua sosok itu memudar. Ketika kedua sosok itu menghilang. Dari arah tangga d lantai bawah terdengar suara langkah kaki yang berbondong-bondong naik.
Itu adalah suara langkah kaki Ayah dan Ibunya Haikal. Mereka terkejut melihat Haikal yang terjatuh kesakitan.
"Nak, kamu kenapa?" tanya Ayahnya pada Haikal.
Sang Ayah membantu Haikal untuk duduk. Haikal memejamkan matanya sejenak mencoba meredam nyeri di tangannya. Yakin, beberapa jam lagi tangannya yang sakit itu akan membiru.
"Aku tidak apa Ayah! Mungkin aku lelah, itulah yang membuatku terjatuh!" ujar Haikal mencoba menyangkal.
Sang Ayah memperhatikan telinga anaknya. Alat bantu dengar itu masih ada di sana.
"Ya sudah, kamu ke kamar aja istirahat!" ucap Sang Ibu yang juga ikut khawatir.
Maklum, mereka berdua adalah pasangan yang sulit mendapatkan anak. Datangnya Haikal dalam kehidupan mereka membuat mereka begitu overprotektif kepadanya.
Haikal mengangguk mendengar itu. Dia tidak menolak ketika kedua orang tuanya membantunya berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Saat itu ketika dia berada di kamar. Kembali dia berpikir perihal apa yang baru saja terjadi. Saat itu sepi.
Hanya suara jarum jam yang bergerak yang menemaninya saat ini. Beberapa menit lalu orang tuanya baru saja pergi setelah memastikan dirinya aman.
Tidak, Haikal tidak bisa diam lagi. Teror ini sudah cukup keterlaluan rasanya. Haikal menggerakkan tubuhnya kembali dari atas ranjang ke arah lemari pakaiannya.
"Ini sudah sangat mengganggu! Dibiarkan seperti ini tiap tahun makin menjadi!" gerutu Haikal sembari kedua tangannya mencari keberadaan ponselnya.
Dia memang sering menyimpan ponselnya di dalam lemari. Tepat di antara tumpukkan pakaiannya.
Cara simpan yang cukup unik rasanya untuk seorang milineal sepertinya. Saat itu, ketika jari jemarinya berhasil menemukan ponsel miliknya. Dia segera mengambilnya.
Syuthhhh
"Hah!" pekik Haikal ketika berbalik.
Betapa terkejutnya Haikal ketika melihat dua wajah gosong yang menyambut pandangannya saat berbalik.
Kali ini jarak mereka tidak jauh hanya berjarak beberapa centimeter dari hadapan mukanya. Haikal melotot. Sementara kedua wajah menyeramkan itu justru berseringai padanya.
"Cah.. Cah Bagus!"
"Kamu harus datang ke sana!"
Ucap kedua sosok itu saling bersahut-sahutan. Gila, ini gila! Haikal bahkan tidak bisa berpaling saat ini.
Matanya seakan dikunci didoktrin untuk tetap menatap kedua sosok itu. Sementara tubuhnya, seakan diikat sekencang-kencangnya hingga tak mampu berkutik juga.
"Siapa kalian ini?" Haikal sudah cukup murka dan muak rasanya. Pertanyaan itu dia ucapkan di sela ketidakberdayaannya.
"Hihihi..."
"Hihihi...."
"Jawaban tentang kami adalah tugas untukmu. Cah Bagus!"
Kata-kata dari kedua sosok yang saling bersahutan saat itu. Mengiringi hilangnya mereka. Bagaikan abu yang baru saja disapu oleh sepoi angin.
"Betul-betul mengerikan!" umpat Haikal, kali ini dirinya berhasil menggerakkan tubuhnya. Walaupun keringat dingin sejak tadi sudah berjatuh membanjiri keningnya.
Kembali dengan tekadnya. Hari ini, Haikal harus mencari tahu segalanya. Segala hal yang berhubungan dengan belantara, arah Pegon, serta bangunan yang ada di balik belantara itu dan apa yang terjadi sebenarnya?
"Aku harus menemukannya!" tekad Haikal, dia kembali ke ranjang. Menggunakan seluruh kemampuannya tentang internet untuk mengorek informasi.
Haikal tahu, malam nanti mereka semua pasti akan dikumpulkan kembali untuk datang di belantara itu.
_____
ternyata dia lebih tua dari aku🤣