NovelToon NovelToon
Korban Dua Cinta

Korban Dua Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Teen / Cintapertama
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Alya yang baru tamat SMA harus menerima takdir perjodohan kakak kandungnya yang mengakibatkan Alya harus mengubur mimpi dan menerima perlakuan kasar dari Suaminya sendiri yang merupakan Pacar kakak kandungnya.
Namun takdir membawa Alya bertemu dengan Trainer Aerobik yang memiliki kepedulian melebihi kakak kandungnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sangkar Emas

Hari itu, langit tampak begitu biru. Biru yang menusuk mata, biru yang terlalu ceria untuk sebuah hari yang seharusnya menjadi duka.

Alya berdiri di depan cermin rias setinggi badannya, menatap perempuan asing di hadapannya. Gaun pengantin berwarna putih gading dengan payet-payet halus yang menyebar dari dada hingga ke ujung rok panjang membuatnya terlihat seperti putri dalam dongeng.

Rambutnya yang biasa dikepang dua kini tersanggul rapi dengan mahkota kecil dari bunga melati asli. Riasan wajah tipis membuat fitur wajahnya yang polos menjadi lebih dewasa, lebih... sempurna.

Namun matanya kosong.

"Aduh, cantik sekali, Mbak Alya! Senyum dong, nanti fotonya bagus," celetuk Marni, perias wajah yang direkrut Gita khusus dari salon terkenal di kota.

Alya tidak menjawab. Ia hanya menatap pantulannya dengan perasaan yang tidak bisa ia deskripsikan. Ada sesuatu yang mati di dalam dirinya pagi itu. Sesuatu yang dulu bersemangat, bercahaya, dan penuh mimpi. Kini yang tersisa hanya hampa.

Pintu kamar terbuka. Gita masuk dengan gaun pengantin berwarna dusty pink sebagai pendamping. Wajahnya berseri-seri, seolah hari ini adalah hari paling membahagiakan dalam hidup keluarganya. Ia berjalan mendekati Alya dari belakang, meletakkan kedua tangannya di pundak adiknya, dan tersenyum ke cermin.

"Cantik," ucap Gita dengan nada bangga. "Kakak sayang banget sama kamu, Alya."

Alya tidak bergerak. Suaranya keluar lirih, datar, tanpa emosi. "Aku tidak mau, Kak."

Gita tersenyum tetap merekah. "Udah, jangan ngomong gitu. Hari ini hari bahagia."

"Kamu dengar kata-kataku, Kak?" Alya menoleh, menatap kakaknya lewat pantulan cermin. "Aku bilang aku tidak mau."

Senyum Gita sedikit memudar, namun ia segera memulihkannya. Ia membalikkan tubuh Alya sehingga mereka berhadapan langsung. Tangannya menggenggam erat kedua tangan adiknya yang dingin dan sedikit gemetar.

"Dengar, Alya" suara Gita pelan, seperti membujuk anak kecil. "Kakak tahu ini berat buat kamu. Tapi percaya sama Kakak, ini yang terbaik. Reza itu pria baik, kaya, mapan. Kamu nggak akan susah hidup sama dia. Nggak perlu pusing mikirin biaya kuliah, nggak perlu capek-capek kerja. Kamu tinggal duduk manis di rumah, pakai baju bagus, hidup kayak putri."

"Aku tidak mau jadi putri, Kak. Aku mau kuliah. Aku punya mimpi."

Gita menghela napas, terlihat sedikit kesal tapi masih berusaha tersenyum. "Kuliah? Buat apa? Ijazah kamu nanti cuma jadi hiasan dinding. Mending nikah sama orang kaya. Hidup kamu akan jauh lebih enak."

Alya menatap kakaknya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Kak Gita sendiri kan kuliah. Kakak kerja, sukses. Kenapa aku tidak boleh?"

Gita terdiam sesaat. Ada kilatan tidak nyaman di matanya, tapi cepat-cepat ia tutupi. "Kakak dulu terpaksa. Orangtua nggak punya uang, jadi Kakak harus kerja keras. Tapi kamu beda. Kamu punya kesempatan buat hidup enak tanpa susah-susah. Manfaatkan, Alya."

Itu bohong. Alya tahu itu bohong. Tapi ia tidak punya kekuatan untuk membantah. Ia hanya bisa menunduk, menatap ujung sepatu putihnya yang berkilau di bawah lampu.

"Aku takut, Kak," bisiknya akhirnya. Suaranya pecah, nyaris tak terdengar.

Gita memeluknya. Pelukan yang hangat, tapi bagi Alya terasa seperti belenggu. "Nggak usah takut. Kakak selalu di sini. Kalau ada apa-apa, kamu telepon Kakak. Oke?"

Alya tidak menjawab. Ia hanya membiarkan dirinya dipeluk, dibujuk, dimanipulasi oleh satu-satunya orang yang seharusnya melindunginya.

---

Prosesi akad nikah berlangsung di aula hotel berbintang empat. Gita tidak mau setengah-setengah. Semua harus sempurna, semua harus mewah. Ia ingin semua orang tahu bahwa adiknya menikah dengan pria kaya raya. Tersebar berita bahwa ini adalah pernikahan impian. Bahwa Alya adalah gadis beruntung.

Alya duduk di pelaminan dengan tubuh yang terasa bukan miliknya. Ia mendengar penghulu membacakan akad, mendengar Reza mengucapkan ijab kabul dengan suara yang dalam dan mantap, mendengar tamu-tamu bertepuk tangan dan bersorak.

"Sah," kata penghulu.

Dan di detik itu, Alya merasa ada sesuatu yang lepas dari dirinya. Mimpinya. Harapannya. Dirinya yang dulu.

Ia menoleh ke arah tempat duduk keluarga. Ibunya, Salma, duduk di kursi roda yang disediakan panitia, menangis tersedu-sedu.

Bukan tangis bahagia. Tangis seorang ibu yang tahu anaknya sedang dikorbankan namun tidak punya daya untuk menolak.

Alya ingin berlari. Ia ingin turun dari pelaminan, melepas gaun ini, dan lari sejauh-jauhnya. Tapi kakinya terasa tertanam di lantai. Keberanian itu—yang selama ini ia pikir ada di dalam dirinya—ternyata tidak pernah ada. Ia hanya gadis polos yang terbiasa menurut. Terbiasa mendengar kata "iya" pada kakaknya. Terbiasa menjadi boneka yang patuh.

Dan boneka tidak bisa lari.

---

Malam itu, Alya tiba di rumah barunya.

Rumah itu besar. Dua lantai dengan halaman luas yang dipenuhi tanaman hias mahal. Pintu utama dari kayu jati dengan ukiran yang rumit. Lampu-lampu taman menyala hangat menyambut kedatangannya. Sebuah mobil mewah terparkir di garasi—mobil yang katanya akan menjadi miliknya untuk digunakan kapan saja.

Alya berdiri di ambang pintu, masih dengan gaun pengantin yang mulai terasa berat. Sepatu hak tinggi yang dipakainya sejak pagi kini membuat kakinya terasa seperti ditusuk ribuan jarum.

Namun ia tidak bergerak. Ia hanya berdiri, menatap ruang tamu yang begitu luas, begitu mewah, begitu... asing.

Seluruh ruangan terisi perabotan mahal. Sofa kulit hitam mengilap, karpet bulu putih tebal, meja marmer dengan vas bunga segar di atasnya, dan lampu kristal besar yang menggantung di langit-langit.

Ada lukisan abstrak di dinding, ada rak buku yang diisi koleksi buku berjilid rapi. Semua sempurna. Semua indah.

Tapi tidak ada yang terasa seperti rumah.

"Selamat datang di rumah baru, Mbak Alya."

Suara itu membuat Alya tersentak. Seorang wanita paruh baya dengan seragam putih dan kerudung coklat muda berdiri di dekat tangga, tersenyum ramah. Di belakangnya, ada dua wanita lain dengan pakaian serupa.

"Ini saya Aminah, Mbak. Saya asisten rumah tangga di sini. Ini Ningsih dan Wati," wanita itu memperkenalkan dua rekannya yang membungkuk hormat.

"Kami yang akan mengurus keperluan Mbak sehari-hari. Ada yang Mbak butuhkan, tinggal bilang."

Alya hanya bisa mengangguk kaku. Di rumah lamanya, ia terbiasa mencuci piring sendiri, menyapu lantai sendiri, memasak nasi sendiri.

Kini ada tiga orang yang siap melayaninya. Seharusnya ia merasa senang. Tapi yang ia rasakan hanya canggung yang luar biasa.

"Kamar Mbak di lantai atas, Mbak. Kami sudah siapkan semuanya," Aminah menunjuk ke arah tangga. "Bapak masih ada urusan di luar, katanya akan pulang agak malam."

Reza tidak ada. Pria yang sejak tadi menjadi suaminya itu langsung pergi setelah resepsi selesai. Ia hanya berkata "aku ada urusan" lalu meninggalkan Alya sendiri di rumah baru yang asing ini.

Alya mengangguk lagi. "Terima kasih, Bu Aminah."

Ia berjalan menuju tangga, menggenggam ujung gaunnya yang panjang agar tidak terinjak. Setiap anak tangga terasa seperti menuju ke sesuatu yang tidak ia kenal. Sesuatu yang tidak ia pilih.

Pintu kamar utama terbuka, dan Alya tertegun.

Kamarnya lebih besar dari seluruh rumah lamanya. Tempat tidur ukiran dengan kelambu putih transparan berada tepat di tengah.

Lemari pakaian berukuran raksasa menempel di dinding sebelah kiri, sementara di kanan ada meja rias dengan cermin besar yang dikelilingi lampu bohlam kecil.

Lantai marmer mengilap, tirai jendela dari kain beludru biru tua, dan di sudut ruangan ada bunga segar dalam vas kristal.

Alya berjalan pelan, jari-jarinya menyentuh permukaan tempat tidur yang terasa begitu lembut. Ia duduk di tepinya, lalu menunduk.

Dan di sanalah, di kamar mewah yang terlalu besar untuk satu orang, di rumah yang bukan miliknya, dengan gaun pengantin yang masih melekat di tubuhnya, Alya menangis.

Bukan tangis isak tangis seperti malam-malam sebelumnya. Kali ini tangisnya pecah. Ia menangis tersedu-sedu, bahunya bergetar hebat, tangis yang keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam. Tangis untuk mimpinya yang terkubur. Tangis untuk hidupnya yang dirampas. Tangis untuk dirinya yang hilang.

Ia ingin pulang. Ia ingin kembali ke kamar kecilnya di rumah lama, dengan dinding yang mulai mengelupas dan jendela yang tidak bisa ditutup rapat. Ia ingin mendengar suara ibunya yang lemah memanggil namanya. Ia ingin membuka brosur-brosur universitas dan bermimpi tentang masa depan.

Tapi ia tidak bisa. Ia sudah menjadi istri orang. Ia sudah menjadi milik pria yang bahkan tidak ia kenal. Ia sudah terperangkap dalam sangkar emas yang megah ini.

Dan yang paling menyakitkan: kakaknya sendiri yang menguncinya di sini.

---

Tiga minggu berlalu. Alya mulai terbiasa dengan rutinitas barunya, meski hatinya tidak pernah benar-benar menerima.

Ia bangun pagi, ditemani Aminah yang menyiapkan sarapan. Makan sendirian di meja makan besar yang cukup untuk delapan orang. Kemudian ia berkeliling rumah, menyusuri setiap ruangan yang masih terasa asing.

Kadang ia membaca buku dari rak di ruang tamu. Kadang ia duduk di taman belakang, memandang ikan koi yang berenang di kolam. Kadang ia hanya berbaring di kamar, menatap langit-langit, dan bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan teman-temannya sekarang. Apakah mereka sedang asyik di perkuliahan? Apakah mereka sedang tertawa bersama di kantin kampus?

Sementara ia di sini. Terjebak dalam kemewahan yang tidak pernah ia minta.

Reza jarang ada. Ia pulang larut malam, kadang bahkan tidak pulang sama sekali. Ketika ada, ia hanya menyapa singkat, "Kamu makan sudah?" atau "Aku ada kerjaan, jangan tunggu." Lalu ia masuk ke ruang kerjanya dan tidak muncul sampai pagi.

Alya tidak pernah masuk ke ruang kerja itu. Pintunya selalu terkunci.

Suatu sore, Alya sedang duduk di ruang tamu sambil memegang ponselnya. Ia membuka media sosial, melihat unggahan teman-temannya yang sedang memakai almamater kampus impian mereka.

Ada yang memposting foto di perpustakaan, ada yang bercerita tentang dosen killer, ada yang mengeluh tentang tugas menumpuk.

Alya ingin seperti mereka. Ia ingin mengeluh tentang tugas. Ia ingin merasa lelah karena belajar, bukan karena kebosanan menghabiskan hari di rumah mewah yang sunyi.

Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Gita.

"Alya, apa kabar? Kamu sudah terima uang saku bulanan dari Reza? Jangan sungkan minta kalau perlu tambahan. Hidupmu sekarang enak, kan? Kakak kan sudah bilang."

Alya membaca pesan itu berulang kali. Uang saku bulanan dari Reza memang sudah masuk ke rekeningnya kemarin. Jumlahnya setara UMR—nominal yang bahkan mungkin baru bisa ia dapatkan jika bekerja sebagai fresh graduate nanti. Cukup besar untuk seorang gadis seusianya.

Tapi uang tidak bisa membeli mimpinya kembali.

Ia membalas pesan singkat.

"Iya, Kak. Sudah."

Hanya itu. Tidak lebih.

Gita membalas cepat.

"Bagus. Kamu harus bersyukur, Ly. Banyak orang mau hidup kayak kamu sekarang. Jangan lupa jadi istri yang baik ya. Reza itu suami yang sangat baik. Jangan bikin dia kecewa."

Alya mematikan layar ponselnya. Ia melempar ponsel itu ke samping bantal sofa, lalu menyandarkan kepalanya. Matanya menerawang ke langit-langit yang tinggi, ke lampu kristal yang berkilau, ke kemewahan yang membelenggunya.

"Bersyukur," gumamnya lirih, suaranya penuh kepahitan. "Kata kakak, aku harus bersyukur."

Ia tersenyum pahit. Senyum yang tidak pernah ia kenakan dulu, sebelum pernikahan ini. Senyum yang muncul setelah ia belajar bahwa hidup tidak selalu adil. Bahwa orang yang seharusnya melindungi justru bisa menjadi algojo. Bahwa mimpi bisa dirampas dengan dalih kebaikan.

Di luar, mentari mulai tenggelam. Sinar jingganya masuk melalui celah tirai, menciptakan bayangan panjang di lantai marmer.

Alya tetap di posisinya, tidak bergerak. Ia seperti patung di tengah ruangan megah yang sunyi.

Wayang yang sudah tidak punya kehendak. Dimainkan oleh dalang yang katanya keluarga.

Dan ia tidak tahu harus bagaimana lagi, selain pasrah.

---

Di sudut lain kota, di sebuah apartemen mewah, Gita berbaring di sofa sambil tersenyum puas membaca laporan dari sumbernya bahwa Alya terlihat "baik-baik saja". Ia mengambil ponselnya, membuka chat dengan Reza.

"Aku dengar Alya sudah settle di rumah barumu. Kamu harus lebih sering di rumah, biar dia nggak curiga. Jangan lupa, kita harus menjaga penampilan."

Reza membalas beberapa menit kemudian.

"Aku tahu."

Gita tersenyum. Rencananya berjalan sempurna. Adiknya sudah aman di sangkar emas, Reza masih setia padanya, dan ia tetap bebas tanpa ikatan pernikahan.

Ia tidak pernah membayangkan—atau mungkin ia tidak peduli—bahwa di balik kemewahan yang ia ciptakan untuk adiknya, ada seorang gadis yang hancur perlahan-lahan.

1
falea sezi
kpn cerai
falea sezi
cpet buat cerai thor najis amat ampe Gita berbagi batangan reza😒
falea sezi
alya goblok🤣mending cerai sekarang lah bloon amat lu di jadiin serep cerai pergi jauh bego
Nihayatuz Zain
🦾
La Rue
ehm mencari celah dari Reza malah ketemu Diana. Tapi ini asumsiku saja, semoga saja tidak seperti apa yang terganbar diotakku 🤔🤭
Halwah 4g
wahhhhh...🤣🤣🤣 kecolongan q
Bp. Juenk: selamat menikmati kk
total 1 replies
M. T🌻
keren banget thor.
jangan lupa mampir yaa🤭
Bp. Juenk: siap. terimakasih
total 1 replies
Key Kastara
😍🔥✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!