Laras demi membahagiakan ibunya yang menginginkan cucu, rela menerima suami temannya yang dijadikan barang jaminan agar bisa mendapatkan uang yang banyak.
Seiring berjalannya Waktu, Laras benar-benar jatuh cinta pada suami jaminannya yang bernama Rayyan. Demikian pula Rayyan yang ternyata amnesia karena kecelakaan dan ditemukan oleh istri pertamanya( Naya) ia jatuh cinta pada Laras.
Mengetahui suaminya ternyata kaya raya, Naya ingin kembali pada suaminya dan melakukan berbagai usaha untuk memisahkan Rayyan dan Laras.
Akankah Laras bahagia dengan Rayyan? Siapakah yang akan dipilih Rayyan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aryani Ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab4. Harga diri Laki-Laki
Di mata Naya, Rayyan hanya suami yang tidak becus membahagiakan istrinya. Rayyan tidak bisa membelikan barang branded seperti yang Naya inginkan. Tidak bisa memberikan uang cukup untuk belanja skin care yang tiap hari Naya selalu merengek untuk dibelikan. Rayyan sadar sepenuhnya bahwa dirinya hanyalah lelaki hina yang tidak bisa membahagiakan istrinya.
"Bagaimana, Mas? Ini kesempatan terbaikmu untuk membalas budi kepadaku. Toh lelaki boleh punya istri lebih dari Satu. Dan itupun hanya satu tahun, Mas! Tidak lama, setelah itu mbak Laras akan menceraikan mas Rayyan. Atau mas Rayyan sendiri bisa menceraikan dia setelah kontrak pernikahan kalian selesai," ucap Naya terus membujuk Rayyan.
Rayyan menunduk merasa diri seperti barang yang bisa digadaikan. Jadi bahan jaminan untuk mendapatkan uang yang banyak.
"Baiklah, Naya. Mas akan lakukan apa yang kau mau, akan tetapi ada syarat yang harus kau penuhi. Apa kamu mau memenuhi syarat ku itu?" tanya Rayyan dengan tatapan kosong.
"Demi uang Dua ratus juta aku akan berusaha memenuhi syarat yang kau ajukan, Mas!" jawab Naya dengan mata berbinar. Sang suami mau memenuhi keinginannya walau harus pakai syarat.
"Baiklah kalau begitu. Mas hanya ingin ketika habis kontrak nanti mas lah yang memutuskan akan melanjutkan pernikahan kontrak ini atau tidak dan untuk pernikahan kita mas juga yang akan memutuskan. Kamu hanya bisa menerima hasil keputusan mas ini," ucap Rayyan berusaha memperjuangkan harga dirinya.
Naya terkekeh, tidak menyangka hanya itu saja syaratnya, dia kira Rayyan ingin sebuah mobil atau rumah. Tentu saja itu tidak bisa ia penuhi karena harga rumah tentunya mahal karena berada di pusat kota Jakarta.
"Hanya itu saja? Apa tidak ada yang lain?" tanya Naya remeh. Kalau hanya itu syaratnya maka dengan senang hati Naya akan mengabulkan keinginan Rayyan.
"Baiklah, Mas. Tentu saja Naya akan mengabulkannya. Apa perlu di tulis?" ucap Naya dengan nada mengejek, karena persyaratan Rayyan sangatlah mudah. Namun Naya tidak tahu jika itu akan menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.
Rayyan terdiam untuk sejenak, menit berikutnya dia mengangguk. Ia mengambil napas dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan.
"Boleh, kalau perlu kasih materai biar kelak tidak ada yang ingkar di antara kita," ucap Rayyan tidak mau terlalu bodoh nasibnya dipermainkan oleh Naya.
Naya acuh, yang penting di dalam pikirannya bagaimana dia bisa segera mencairkan cek yang saat ini bersembunyi aman di dompet kecilnya. Laras memberi waktu cek itu cair saat ijab kabul antara dirinya dan suami Naya terucap.
"Oke, aku akan tulis dan beri materai juga. Mas diam di situ dulu, Naya pergi beli materai," ucap Naya dengan suasana hati yang bahagia.
Sekembalinya Naya dia sudah membawa selembar kertas berisi ketikan syarat yang diajukan Rayyan dan sebuah materai. Rayyan pun membaca dan setelah itu baru tanda tangan.
"Baiklah, sudah selesai. Satu buat mas dan satu buat aku. Besok kita bisa datang ke rumah mbak Laras," ucap Naya dengan rasa percaya diri kalau Rayyan akan tetap menjadi miliknya.
"Naya, mas tanya sekali lagi, apa kamu yakin akan semua ini? Apa kamu siap menanggung semua konsekuensi ke depannya?" tanya Rayyan sekali lagi.
Naya menatap cuek pada Rayyan, hatinya telah tertutup oleh harta yang membutakan mata hatinya.