NovelToon NovelToon
Hantu Magang

Hantu Magang

Status: tamat
Genre:Hantu / Misteri / Horor / Tamat
Popularitas:842
Nilai: 5
Nama Author: Denny Priyanto

Bara, hantu pemula dengan nilai pas-pasan, mendapat tugas akhir: meneror penghuni apartemen dalam 30 hari atau turun derajat jadi hantu kelas teri. Masalahnya, korbannya adalah Dinda, content creator horor yang skeptis dan malah mengkritik teknik menakut-nakuti Bara karena "kurang estetik".

Di tengah tekanan KPI dari supervisor hantu yang toksik dan tuntutan algoritma media sosial, Bara justru terjebak menjadi asisten pribadi Dinda. Akankah Bara berhasil menyelesaikan magangnya, atau malah gagal total karena terlalu asyik berdebat soal lighting dan angle kamera?

Sebuah komedi horor segar tentang hantu yang takut PHK dan manusia yang takut unfollow.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masa Depan yang Bersamaan

Beberapa minggu setelah pertempuran yang mengguncang desa dan menggoyangkan keseimbangan kekuatan di seluruh wilayah Jawa Tengah, suasana di desa yang dulunya sunyi dan tersembunyi kini benar-benar berubah. Jalan-jalan tanah yang tadinya hanya dikenal oleh penduduk lokal telah diperbaiki dengan bahan alamiah yang kuat dan tahan lama, dibuat oleh tangan-tangan masyarakat desa dengan bantuan teknologi sederhana yang dikembangkan oleh Bara. Setiap pagi, kabut tipis yang menyelimuti lereng Gunung Lawu akan perlahan menghilang, mengungkapkan pemandangan desa yang kini ramai dengan aktivitas – mulai dari kunjungan delegasi dari berbagai penjuru dunia hingga anak-anak desa yang bermain riang di halaman luas depan rumah Ki Ageng.

Namun, meskipun kedatangan tamu dari luar semakin banyak, Ki Ageng telah menetapkan aturan ketat yang tidak bisa dilanggar oleh siapapun. Setiap delegasi yang ingin memasuki desa harus melalui proses persiapan khusus selama tiga hari di perbatasan desa, di mana mereka akan diajarkan cara menghormati alam sekitar dan belajar menyanyikan lagu-lagu rakyat yang menjadi jembatan komunikasi dengan kekuatan alamiah.

“Pak Ki, mengapa kita harus melakukan proses yang begitu panjang untuk setiap tamu yang datang?” tanya Jono, salah satu pemuda desa yang baru saja ditunjuk sebagai pengawal perbatasan. “Bukankah lebih baik kita langsung menunjukkan kekuatan kita agar mereka tidak berani menyakiti desa?”

Ki Ageng menjawab sambil meremas bahu Jono dengan lembut, matanya melihat ke arah Gunung Lawu. “Kita tidak menunjukkan kekuatan untuk membuat orang takut, cucu. Kita mengajarkan mereka untuk menghormati karena hanya dengan rasa hormat yang tulus, hubungan kita dengan dunia luar bisa bertahan lama. Bayangkan jika seseorang datang ke rumahmu dengan membawa senjata dan ingin mengambil apa yang kamu miliki – apa kamu akan menerima mereka dengan senang hati?”

“Tidak, Pak Ki. Saya akan merasa terancam,” jawab Jono dengan sopan.

“Begitulah,” sambung Ki Ageng. “Oleh karena itu, kita berikan mereka waktu untuk memahami siapa kita dan apa yang kita yakini. Mereka datang bukan sebagai pengambil, melainkan sebagai pelajar yang siap belajar bagaimana hidup berdampingan dengan alam semesta.”

Dinda dan Bara telah mengambil peran sebagai duta desa, membantu menjembatani komunikasi antara masyarakat lokal dengan tamu dari luar. Di pagi hari, ketika sinar matahari baru mulai menyinari puncak pepohonan jati yang rindang, Dinda seringkali menghabiskan waktu di dekat sumber air suci yang terletak di lereng selatan Gunung Lawu – tempat yang dipercaya sebagai salah satu pintu masuk kekuatan primordial yang mengalir di dalam dirinya. Bersama dengan beberapa anak-anak desa yang menunjukkan bakat khusus dalam merasakan energi alam, ia duduk berkeliling di tepi sumber air yang jernih dan tenang.

“Hiduplah seperti sungai yang mengalir melalui lembah ini,” ujar Dinda kepada anak-anak yang dengan seksama mengamati gerakan tangannya yang lembut di atas permukaan air. “Sungai memberi kehidupan kepada semua yang ada di sepanjang jalannya – dari rumput yang tumbuh di tepian hingga ikan yang berenang di dalamnya.”

“Bu Dinda, apakah sungai itu juga bisa marah?” tanya Siti, seorang anak perempuan berusia sembilan tahun yang selalu penuh dengan pertanyaan.

Dinda tersenyum dan mengangguk. “Tentu saja, sayang. Sungai bisa marah ketika orang-orang menyalahgunakannya – membuang sampah atau mencoba membendungnya dengan cara yang tidak benar. Tapi bahkan ketika ia marah, sungai tidak pernah menghancurkan semuanya. Ia hanya mencari jalan baru untuk mengalir.”

“Kalau begitu, kita harus menjaga sungai ya, Bu Dinda?” tambah Rama, anak laki-laki yang duduk di sebelah Siti.

“Betul sekali, Rama,” jawab Dinda. “Itulah esensi dari kekuatan kita – bukan untuk menghancurkan apa yang menghalangi, melainkan untuk menemukan cara untuk bekerja sama dan terus bergerak maju.”

Saat Dinda mengajarkan anak-anak cara merasakan getaran energi alam, Bara bekerja tanpa lelah di sebuah bangunan baru yang menggabungkan arsitektur tradisional Jawa dengan fasilitas teknologi modern yang ramah lingkungan.

“Pak Bara, sistem yang kita kembangkan ini benar-benar bisa bekerja tanpa menggunakan listrik dari PLN?” tanya Dr. Tanaka, ahli teknologi dari Jepang yang telah bekerja bersama Bara selama dua minggu.

“Ya, Pak Tanaka,” jawab Bara sambil menunjukkan ke arah panel surya yang terpasang di atap dengan sudut khusus. “Kita menggunakan energi dari matahari, angin, dan getaran alam untuk menjalankan semua sistem di sini. Bahkan ketika cuaca buruk, kita memiliki penampungan energi yang diisi dari getaran tanah dan aliran sungai.”

“Luar biasa! Di Jepang kita juga sedang mengembangkan teknologi ramah lingkungan, tapi belum pernah saya lihat yang bisa menggabungkan dengan elemen tradisional seperti ini,” ujar Dr. Tanaka dengan kagum.

“Teknologi tidak harus menjadi musuh alam – seperti yang dulu kita kira ketika menghadapi armada Kepala Operasi Z,” jelas Bara. “Kita hanya perlu belajar bagaimana menggunakannya dengan bijak, sebagai alat untuk melindungi dan bukan untuk menguasai.”

“Saya punya pertanyaan, Pak Bara,” ujar Sarah Wilson, ahli keamanan dari Amerika Serikat.

“Bagaimana kita bisa memastikan bahwa teknologi seperti ini tidak akan disalahgunakan oleh orang-orang yang memiliki niat jahat?”

“Itulah alasan utama mengapa kita tidak hanya mengembangkan teknologi, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai yang harus menyertai penggunaannya. Setiap orang yang belajar menggunakan sistem ini harus memahami bahwa kekuatan apa pun harus digunakan untuk kebaikan bersama.”

Seorang wanita misterius datang dengan membawa sebuah kotak kayu tua yang diukir dengan motif naga dan burung garuda. Ia mengenakan seragam berwarna biru tua dengan lambang yang belum pernah dilihat oleh penduduk desa – sebuah lingkaran dengan gambar matahari, bulan, dan bintang yang saling bersilangan.

“Permisi, Pak Ki Ageng."

“Saya adalah Kapten Sari dari Divisi Perlindungan Energi Primordial – sebuah unit khusus yang baru saja didirikan oleh Lembaga Keamanan Internasional setelah menyaksikan hasil pertempuran di desa ini.”

“Selamat datang di desa kami, Kapten Sari. Sudahkah Anda melalui proses persiapan di perbatasan desa?”

“Ya, Pak Ki,” jawab Kapten Sari dengan senyum. “Saya telah menghabiskan tiga hari di sana, belajar menyanyikan lagu-lagu rakyat Anda dan memahami cara hidup Anda yang berdampingan dengan alam. Ini adalah pengalaman yang sangat berharga.”

“Ceritakan kepada kami mengapa Anda datang,” ajak Ki Ageng sambil mengundangnya ke dalam rumah.

“Kita telah menyaksikan bagaimana kekuatan alamiah di desa ini – dan khususnya di dalam diri Dinda – mampu menghadapi ancaman dari teknologi yang disalahgunakan,” ujar Kapten Sari setelah mereka semua duduk dan disajikan teh hangat. “Kami memutuskan bahwa kekuatan alamiah adalah milik seluruh dunia, dan tanggung jawab untuk melindunginya juga menjadi tanggung jawab bersama.”

Setelah memberikan sapaan hormat tradisional, Kapten Sari membuka kotak kayu dan mengeluarkan sebuah surat tertutup yang diberi cap emas.

“Ini adalah undangan resmi bagi Dinda dan Bara untuk bergabung dengan kami sebagai konsultan utama. Mereka akan membantu melatih agen baru, mengembangkan strategi untuk menangani ancaman, serta bekerja sama dengan komunitas lain yang memiliki hubungan khusus dengan kekuatan alamiah.”

Dinda mengerutkan alis dan bertanya, “Apakah ini berarti kita harus meninggalkan desa secara permanen? Saya tidak bisa pergi meninggalkan keluarga dan teman-teman saya di sini.”

“Tidak sama sekali, Bu Dinda,” jawab Kapten Sari dengan ramah. “Kami tidak akan meminta kalian untuk meninggalkan desa. Sebaliknya, kami ingin kalian menjadi jembatan antara dunia tradisional dan dunia modern – membawa pengetahuan dari desa ke luar negeri dan juga membawa ilmu baru untuk dibagikan di sini.”

“Jadi kita bisa datang dan pergi sesuai kebutuhan? Dan desa akan tetap menjadi markas kita?”

“Betul sekali, Pak Bara,” jawab Kapten Sari. “Kami bahkan siap membantu membangun fasilitas komunikasi yang lebih baik agar kalian bisa tetap terhubung dengan pusat operasi kami di Jakarta tanpa merusak suasana alamiah desa.

“Pilihan ada di tangan kalian berdua. Desa ini akan selalu menjadi rumah kalian, tetapi dunia luar juga membutuhkan bantuan kalian.”

“Kita akan pergi,” ucapnya dengan tegas. “Tetapi kita akan selalu kembali secara teratur – tidak hanya untuk mengunjungi keluarga, tetapi juga untuk belajar lagi tentang akar-akar kita dan berbagi apa yang kita dapatkan.”

“Selain itu,” tambah Bara dengan semangat, “kita akan mengajak beberapa anak muda dari desa yang telah menunjukkan bakat untuk bergabung dengan kita. Seperti Jono, Siti, dan Rama – mereka adalah generasi penerus desa, dan mereka perlu melihat dunia luar agar pengetahuan leluhur tidak hanya tetap hidup, tetapi juga berkembang.”

Ki Ageng tersenyum dengan bangga. “Itulah kata-kata yang saya tunggu dengar. Kekuatan yang tidak berkembang akan mati, dan pengetahuan yang tidak dibagikan akan hilang.”

Beberapa minggu kemudian, seluruh masyarakat desa berkumpul di halaman depan rumah Ki Ageng untuk mengadakan upacara perpisahan. Wanita desa, yang telah menghabiskan malam penuh untuk menyusun kain batik dengan tangan, berkumpul di sekitar Dinda.

“Bu Dinda, ini untuk kamu,” ujar Ibu Sri, seorang penenun batik terbaik di desa, sambil memberikan sebuah kain panjang dengan motif Barong dan Rangda yang dihiasi dengan mutiara alam. “Setiap titik dan garis pada kain ini saya buat dengan doa dan harapan terbaik untuk kamu.”

“Terima kasih banyak, Ibu Sri,” ujar Dinda dengan suara yang sedikit bergetar. “Ini adalah hadiah yang paling berharga yang pernah saya terima.”

“Setiap motif di sini memiliki makna khusus,” lanjut Ibu Sri. “Barong melambangkan kekuatan dan kebaikan, Rangda melambangkan keberanian dan ketegasan. Garis-garis yang menghubungkannya melambangkan bahwa kamu selalu membawa desa di dalam hatimu.”

Sementara itu, para pria desa berkumpul di sekitar Bara dengan wajah yang penuh penghormatan.

“Pak Bara, ini untuk kamu,” ujar Pak Slamet, pemimpin kelompok pria desa, sambil memberikan sebuah keris dengan bilah baja alamiah dan gagang kayu pohon tua. “Keris ini telah diberikan doa oleh seluruh kaum pria desa untuk melindungi kamu di jalan.”

“Terima kasih, Pak Slamet,” jawab Bara dengan sopan. “Saya akan menjaganya dengan baik dan akan selalu ingat pesan-pesan yang telah kalian berikan.”

“Keris ini bukan hanya alat pertahanan,” tambah Pak Slamet. “Ia juga sebagai pengingat bahwa teknologi yang kamu kembangkan harus selalu berakar pada nilai-nilai kebaikan dan rasa tanggung jawab terhadap alam dan sesama manusia.”

Di tengah kerumunan, Ki Ageng menghadapkan diri kepada Dinda dan Bara dengan pakaian adat yang paling indah. Ia mengangkat tangannya ke arah langit, kemudian menyentuhkan ujung jarinya ke dahi mereka berdua sebagai tanda berkah.

“Anda tidak lagi hanya pelindung desa kecil ini, tetapi pelindung seluruh dunia,” ujar Ki Ageng dengan suara yang kuat. “Ingatlah selalu – kekuatan sejati tidak datang dari seberapa besar kekuatan yang kalian miliki atau seberapa canggih teknologi yang kalian gunakan.”

“Kekuatan sejati datang dari mana, Pak Ki?” tanya salah satu anak-anak desa.

Ki Ageng menoleh dan tersenyum. “Kekuatan sejati datang dari kemampuan kita untuk saling membantu, untuk memahami bahwa kita semua adalah bagian dari satu kesatuan yang besar, dan untuk menjaga keseimbangan antara manusia dan alam, antara tradisi dan kemajuan.”

Perjalanan menuju Jakarta jauh berbeda dengan perjalanan pertama mereka ke desa. Kali ini, mereka pergi dengan tujuan yang jelas dan hati yang penuh harapan. Di dalam mobil yang menggunakan energi listrik dari sumber alamiah, Dinda melihat ke luar jendela, menyaksikan hamparan sawah yang hijau dan Gunung Lawu yang gagah di kejauhan.

“Perjalanan kita memang panjang, dan pasti akan ada banyak tantangan,” ujar Bara sambil melihat laporan terbaru dari pusat riset. “Tetapi sekarang kita memiliki banyak teman di sepanjang jalan.”

Dinda tersenyum kembali, merasakan liontin di lehernya memancarkan cahaya hangat. “Ya, dan kita akan terus berjalan dengan tegas hingga dunia benar-benar aman untuk semua makhluk hidup. Itulah janji kita.”

“Apakah kamu merasa siap menghadapi apa yang ada di depan kita, Dinda?” tanya Bara dengan tatapan penuh perhatian.

Dinda menoleh dan melihat mata Bara dengan keyakinan. “Saya tidak hanya siap, Bara. Saya merasa lebih siap dari sebelumnya. Karena sekarang saya tahu bahwa saya tidak sendirian – saya memiliki kamu, saya memiliki desa, dan saya memiliki tujuan yang jelas. Tidak ada yang bisa menghalangi kita ketika kita bekerja sama.”

Di kejauhan, Gunung Lawu berdiri seperti penjaga yang setia, seolah-olah sedang mengawasi dan memberkati perjalanan mereka. Sementara itu, di desa, anak-anak desa sedang berlatih dengan sungguh-sungguh untuk merasakan energi alam sekitarnya – generasi baru yang siap melanjutkan perjuangan untuk menjaga keseimbangan dunia.

“Kita akan kembali lagi ya, Pak Bara?” tanya Siti yang sedang berdiri bersama teman-temannya di tepi jalan.

“Tentu saja, Siti,” jawab Bara dengan senyum. “Kita akan kembali dan membawa banyak cerita untuk kalian semua. Dan nanti, ketika kalian sudah cukup besar, kalian bisa bergabung dengan kita untuk membantu melindungi dunia ini.”

Siti mengangguk dengan ceria sambil melambaikan tangan. “Saya akan belajar dengan giat, Pak Bara. Nanti saya akan menjadi seperti Bu Dinda dan kamu – pelindung dunia yang kuat dan baik hati!”

1
Ita Xiaomi
Selamat ya Bara lulus dgn Cum Laude
Ita Xiaomi
🤣🤣🤣
Ita Xiaomi
Mbak Yuli bakalan viral🤣
Ita Xiaomi
Benar-benar memanfaatkan 🤣🤣🤣
Ita Xiaomi
Berbenah demi ndak dengar Pak Broto ngereog🤣
Ita Xiaomi
Dunia gaib seheboh dunia nyata😁
Ita Xiaomi
Salut ama Bara👍👍👍
Ita Xiaomi
Bara, aku tinggal di Kalimantan loh😁
Ita Xiaomi
Sama-sama ngejar Deadline. Dinda yg lebih mendesak Deadlinenya😁
Ita Xiaomi
Ekspresi Dinda lebih menyeramkan🤣
Putri Ayu/PqxxyZ
mari mampir dicerita ku juga ya kak 😊..
Denns: terimakasih support nya Kaka ;)
Baik Kaka Cantik ssiap.
total 2 replies
Putri Ayu/PqxxyZ
wah keren nih ceritanya kak...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!