Varendra Malik Atmadja, seorang arsitek muda yang tampan, ramah, dan sangat telaten, baru saja pindah ke Blok C-17. Sebagai penganut paham "tetangga adalah saudara", Malik bertekad untuk menjalin hubungan baik dengan seluruh penghuni kompleks.
Namun, rencananya membentur tembok tinggi setinggi pagar Blok C-18.
Di sanalah tinggal Vanya Ayudia Paramitha, seorang Game Developer yang lebih suka berinteraksi dengan baris kode daripada manusia. Baginya, ketenangan adalah segalanya, dan tetangga baru yang terlalu ramah seperti Malik adalah gangguan sinyal bagi kedamaian hidupnya.
Awalnya, Malik hanya berniat memberikan camilan sebagai tanda perkenalan. Tapi, setiap sapaan Malik dibalas dengan debuman pintu, dan setiap perhatiannya dianggap sebagai gangguan oleh Ayu.
Lalu, bagaimana jika sebuah paket yang salah alamat dan aroma masakan dari dapur Malik perlahan mulai meruntuhkan pertahanan Ayu? Bisakah Malik merancang fondasi cinta di hati gadis yang bahkan enggan membuka pintu rumahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dalgichigo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PMS
Di balik dinding rumah C-18, Ayu sedang berjuang melawan rasa sakit yang luar biasa. "Tamu bulanan" kali ini datang dengan kram perut yang begitu menyiksa, membuat tubuhnya terasa lemas dan hanya bisa meringkuk di bawah selimut.
Dengan tangan bergetar karena menahan nyeri, Ayu meraih ponselnya. Nama pertama yang ia cari adalah Ara, satu-satunya orang yang ia rasa paling mengerti kondisinya tanpa perlu banyak penjelasan.
[Chat Pribadi: Ayu - Ara]
Ayu: " Ara... di rumah nggak? Boleh minta tolong banget? Perut Aku sakit luar biasa, nggak bisa bangun. Boleh titip obat pereda nyeri sama Kiranti ke sini?"
Ara: "Ya ampun, Ayu! Maaf banget, Gue lagi di luar komplek, ada urusan meeting mendadak di studio temen. Gue baru bisa balik dua jam lagi. Kuat nggak?"
Ayu: "Aku usahain tahan. It's okay kalau nggak bisa sekarang..."
Ara menatap layar ponselnya dengan cemas. Ia tahu Ayu adalah tipe orang yang tidak akan meminta bantuan jika tidak benar-benar darurat. Dua jam adalah waktu yang terlalu lama untuk membiarkan Ayu kesakitan sendirian. Otak taktis Ara langsung bekerja; ia butuh seseorang yang bisa diandalkan, cepat, dan punya akses dekat ke rumah Ayu.
Hanya satu nama yang muncul yaitu Malik.
Tanpa memberitahu Ayu karena ia tahu adiknya itu pasti akan menolak habis-habisan karena malu Ara langsung menghubungi tetangga sebelah Ayu tersebut.
[Chat Pribadi: Ara - Malik]
Ara: "Lik, lu lagi di rumah nggak? Ini darurat soal Ayu."
Malik: "Iya, Kak. Baru mau nyeduh kopi. Kenapa sama Ayu? Dia sakit?"
Ara: "Dia lagi kena tamu bulanan dan sakitnya parah banget sampe nggak bisa bangun. Gue lagi di luar. Bisa nggak lu tolong beliin obat pereda nyeri (yang warna biru itu) sama Kiranti di minimarket depan? Taruh aja di pager rumahnya atau ketok pintunya. Jangan bilang gue yang suruh ya, bilang aja lu nggak sengaja denger dia ngerintih atau gimana kek."
Malik: "Siap, Kak. 5 menit lagi saya meluncur ke depan. Kabari kalau ada hal lain.
Setelah Malik kembali dari minimarket, ia tidak hanya menggantungkan belanjaannya di pagar. Rasa khawatir yang besar membuatnya memberanikan diri mengetuk pintu rumah nomor C-18 itu berkali-kali.
Di dalam kamar, Ayu berusaha mengumpulkan sisa tenaganya. Ia mengira itu adalah Ara yang mungkin pulang lebih cepat. Dengan langkah tertatih dan tangan yang memegangi perut, Ayu menyeret kakinya menuju pintu depan.
Begitu pintu terbuka sedikit, Malik tertegun. Di depannya berdiri Ayu dengan wajah yang sangat pucat, bahkan bibirnya pun kehilangan warna. Keringat dingin tampak di pelipisnya.
"Mbak Ayu..." Malik bergumam dengan nada khawatir yang sangat dalam.
Ayu yang melihat Malik berdiri di sana bukan Ara langsung membelalakkan mata karena terkejut. "M-mas Malik? Kok..."
Secara refleks, Ayu mencoba menutup pintu karena merasa penampilannya saat itu sedang sangat berantakan dan ia merasa malu. Namun, Malik dengan sigap menahan pintu tersebut dengan tangannya, bukan untuk memaksa masuk, tapi karena ia takut Ayu akan pingsan seketika jika pintu itu tertutup.
"Mbak, kondisi Mbak nggak baik. Ini obatnya. Tolong, jangan dipaksakan berdiri terus," ucap Malik tegas namun lembut.
Melihat ketulusan dan kekhawatiran yang nyata di mata Malik, pertahanan Ayu runtuh. Rasa sakit yang berdenyut di perutnya membuatnya tidak punya kekuatan lagi untuk berdebat. Ia akhirnya menyerah dan membiarkan Malik masuk setelah pria itu meminta izin dengan sopan.
Begitu melangkah masuk, Malik yang seorang arsitek merasa jantungnya sedikit mencelos. Sebagai orang yang biasa merancang ruang dengan pencahayaan alami yang optimal, ia merasa rumah Ayu sangat suram. Gorden-gorden tebal tertutup rapat, menghalangi cahaya matahari yang seharusnya masuk. Ruangan itu terasa pengap dan sedikit berantakan dengan tumpukan buku serta peralatan kerja yang tidak pada tempatnya mungkin karena pemiliknya terlalu lemas untuk membereskan.
"Mas... silakan duduk di sofa dulu," suara Ayu lirih, hampir seperti bisikan.
Ayu perlahan duduk di sofa kainnya yang empuk, berusaha mengatur napasnya. Malik tetap berdiri sejenak, mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang gelap itu sebelum akhirnya duduk dengan canggung, merasa hatinya sedikit nyeri melihat bagaimana tetangganya yang introvert ini hidup dalam "persembunyian" yang begitu sunyi.
Melihat Ayu yang terkulai lemas di sofa, Malik tidak membuang waktu. Ia segera membuka botol minuman herbal dan menyiapkan obat yang tadi dibelinya, lalu menyerahkannya kepada Ayu dengan hati-hati.
"Diminum dulu, Mbak. Biar nyerinya berkurang," ucap Malik pelan.
Setelah Ayu meminum obatnya, Malik bertanya dengan nada cemas, "Mbak sudah makan? Obat ini keras kalau perutnya kosong."
Ayu hanya menggeleng lemah. Jangankan untuk memasak, untuk berdiri tegak saja rasanya seperti sedang memikul beban berat. Ia terlalu lemas bahkan untuk sekadar memesan makanan lewat aplikasi.
Malik menghela napas, lalu bangkit berdiri. "Saya izin cek dapur ya, Mbak."
Sebagai pria berdarah Minang yang terbiasa mandiri, Malik segera melangkah ke arah dapur. Namun, begitu ia membuka kulkas Ayu, ia tertegun. Isinya hampir kosong, hanya ada beberapa botol minuman dingin dan sisa makanan instan yang sudah tidak segar. Tidak ada bahan makanan yang bisa diolah untuk orang sakit.
"Mbak tunggu sebentar, saya kembali lagi," pamit Malik singkat.
Tak sampai lima menit, Malik sudah kembali membawa kantong plastik berisi beras, telur, dan sedikit kaldu ayam dari rumahnya sendiri. Tanpa banyak bicara, ia menyingsingkan lengan kemejanya dan mulai berkutat di dapur suram milik Ayu.
Suara denting panci dan aroma gurih nasi yang dimasak perlahan mulai memenuhi ruangan. Malik dengan telaten mengaduk beras hingga teksturnya menjadi lembut menjadi bubur. Ia bahkan menyempatkan diri membuka sedikit celah gorden di area dapur agar ada sedikit udara segar yang masuk, meski ia tahu Ayu lebih suka kegelapan.
"Mbak Ayu, ini buburnya sudah jadi. Masih panas," ucap Malik sambil membawa semangkuk bubur hangat ke hadapan Ayu.
Ayu menatap mangkuk itu dengan perasaan campur aduk. Di rumah yang biasanya sunyi dan dingin ini, tiba-tiba ada aroma masakan hangat dan kehadiran seorang pria yang begitu sigap menjaganya.
"Makasih banyak, Mas Malik... maaf jadi merepotkan," bisik Ayu tulus.
Wajah Ayu masih terlihat kuyu, sorot matanya redup tertutup rasa sakit yang masih berdenyut di perutnya. Ia memegang sendok dengan tangan yang sedikit gemetar, hanya mengaduk-aduk bubur di dalam mangkuk tanpa niat untuk benar-benar menyuapnya ke mulut.
Malik yang sejak tadi memperhatikan dari sisi sofa, paham bahwa Ayu benar-benar kehilangan tenaga bahkan untuk sekadar makan sendiri. Tanpa banyak bicara, Malik mengulurkan tangannya dan mengambil alih sendok dari tangan Ayu.
"Biar saya bantu ya, Mbak. Sedikit saja, yang penting perutnya terisi," ucap Malik lembut.
Ayu sempat tertegun sejenak, namun rasa lemas membuatnya tidak bisa menolak. Saat Malik menyodorkan suapan pertama ke depan bibirnya, Ayu perlahan menerimanya. Seketika, kedua mata Ayu sedikit berbinar. Rasa bubur buatan "Uda" Malik ini benar-benar pas di lidahnya gurih, hangat, dan sangat nyaman di perut.
"Enak?" tanya Malik singkat sambil kembali menyendok bubur.
Ayu hanya bisa mengangguk kecil, namun kali ini ia membuka mulutnya dengan lebih antusias untuk suapan kedua. Melihat respon itu, Malik tidak bisa menahan senyumnya. Ada rasa puas tersendiri di hatinya melihat tetangganya yang biasanya kaku ini mau menerima bantuannya secara langsung.
Suasana di ruang tamu yang suram itu mendadak terasa jauh lebih hangat. Malik dengan sabar menunggu Ayu mengunyah, sesekali membersihkan sedikit sisa bubur di sudut bibir Ayu dengan tisu. Ia memperhatikan wajah Ayu yang mulai kembali berwarna, merasa gemas sendiri melihat pipi Ayu yang bergerak-gerak saat makan sangat berbeda dari kesan dingin yang selama ini Ayu tunjukkan di balik pagar kayu mereka.
"Pelan-pelan saja, Mbak. Masih banyak kok di dapur," goda Malik pelan, membuat Ayu sedikit menunduk karena malu sekaligus merasa nyaman dengan perhatian yang tidak ia duga itu.
Setelah memastikan Ayu benar-benar terlelap karena pengaruh obat pereda nyeri, Malik tidak lantas pulang. Sebagai seorang arsitek yang memuja keteraturan dan kebersihan, jemarinya terasa gatal melihat sisa piring kotor dan tumpukan buku yang berserakan di sekitar meja kerja Ayu.
Dengan gerakan yang sangat pelan agar tidak menimbulkan suara, Malik mulai "beraksi". Ia mencuci panci bekas bubur tadi, menyusun kembali buku-buku referensi di rak sesuai ukurannya, dan membuang sampah kemasan makanan yang sudah menumpuk. Baginya, rumah adalah cerminan pikiran; jika rumahnya suram dan berantakan, bagaimana penghuninya bisa tenang?
Selesai merapikan dapur, Malik berjalan kembali ke ruang tamu. Langkahnya terhenti saat matanya tertuju pada sofa. Ayu tertidur dengan posisi meringkuk, napasnya kini teratur dan wajah pucatnya mulai digantikan dengan rona yang lebih sehat. Malik menarik selimut flanel yang tersampir di sandaran sofa, lalu menyelimuti tubuh kecil Ayu dengan sangat hati-hati. Sebuah senyuman tipis namun tulus terangkat di sudut bibirnya pemandangan ini jauh lebih indah daripada sketsa bangunan paling megah yang pernah ia rancang.
Sebelum keluar, Malik merogoh ponselnya dan mengirimkan laporan singkat kepada "dalang" di balik misi ini.
[Chat Pribadi: Malik - Ara]
Malik: "Misi sukses, Kak. Ayu sudah makan bubur, minum obat, dan sekarang sudah tidur nyenyak di sofa. Rumahnya juga sudah saya rapikan sedikit supaya udaranya lebih enak."
Ara: "HAH?! Lu seriusan nyuapin dia makan, Lik? Sampai ngerapihin rumah segala?!"
Malik: "Ya... kasihan kalau dibiarin lemas begitu. Tadi dia pucat banget, Kak."
Ara: "Gila, gue nggak percaya lu bisa se-telaten itu sama cewek. Gue kira lu cuma bisa ngurusin semen sama batu bata doang. Good job, Uda Malik! Nanti gue traktir kopi sebagai tanda terima kasih."
Malik hanya terkekeh membaca balasan Ara. Ia meletakkan segelas air putih dan sisa obat di atas meja dekat sofa, lalu melangkah keluar dan menutup pintu rumah C-18 dengan sangat rapat, memastikan privasi sang pemilik rumah tetap terjaga.