NovelToon NovelToon
Delusional Revenge

Delusional Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Misteri
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: ashbabyblue

Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.

Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.

Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara.

Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.

Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Murid Baru

Dua Minggu Setelah Karyawisata

Kehidupan perlahan mulai kembali seperti biasa—atau setidaknya, menjadi versi normal yang baru. Rio dan Vania resmi dikeluarkan dari sekolah dan saat ini ditahan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak sambil menunggu jadwal sidang.

Andre menjadi saksi kunci dalam kasus ini. Ia mendapatkan keringanan hukuman karena bersedia bekerja sama, namun ia tetap harus menjalani masa percobaan selama enam bulan di sebuah panti sosial.

“Selamat tinggal, Andre,” ucapku saat ia akan dijemput petugas.

Ia tersenyum pahit. “Selamat tinggal, Nayla. Aku minta maaf atas semua kesalahan yang telah aku perbuat.”

“Maaf sudah diterima. Tapi jangan berharap kita bisa menjadi teman seperti dulu.”

“Aku tidak berharap begitu. Cukup kalau kamu tidak membenciku sepenuhnya.”

Aku hanya mengangguk singkat.

Andre menatap Rasya yang berdiri di sampingku. “Tolong jaga dia baik-baik.”

“Sudah pasti akan aku lakukan.”

“Benarkah?”

“Sejak di kehidupan sebelumnya.”

Andre tertawa kecil yang terdengar getir. “Selamat tinggal, Rasya.”

Rasya tidak menjawab, hanya mengangguk pelan.

Mobil yang akan membawa Andre melaju meninggalkan halaman sekolah. Aku menghela napas panjang.

“Satu musuh sudah pergi,” ucap Rasya.

“Tapi masih ada satu lagi yang belum ketahuan.”

“Iya. Bosnya.”

---

Hari Selasa, Pukul 07.00

Belum genap dua minggu sejak Rio dan Vania dikeluarkan, sudah ada siswa pindahan baru yang masuk ke kelas kami.

“Perkenalkan, namaku Kayla Maharani,” ucap gadis itu di depan kelas. Rambutnya lurus sebahu, wajahnya tampak manis dengan lesung pipit di pipi kirinya. Ia tersenyum—senyum yang terasa sangat akrab. Terlalu akrab.

“Aku pindahan dari Surabaya. Tolong bimbing aku ya, teman-teman.”

Aku menatapnya lekat-lekat. Ia juga menatapku balik. Dan di matanya, aku melihat sesuatu yang membuat bulu kudukku meremang. Pengakuan. Ia tahu siapa aku sebenarnya.

“Bu Guru, aku mau duduk di sebelah Nayla saja,” kata Kayla dengan nada manis. “Nama kita kan mirip, Kayla dan Nayla. Rasanya kita pasti akan cocok.”

Bu Dewi mengangguk. “Baiklah, silakan.”

Kayla berjalan mendekat. Setiap langkahnya terasa penuh perhitungan dan sengaja. Ia duduk di bangku yang sebelumnya ditempati Vania—bangku yang kosong selama dua minggu terakhir.

“Halo, Nayla,” bisiknya sangat pelan, hanya bisa didengar olehku. “Senang akhirnya bisa bertemu lagi… di kehidupan ini.”

Aku menggenggam pulpen di tanganku hingga jari-jariku memutih.

“Kamu sebenarnya siapa?”

Ia tersenyum licik. “Kamu tidak ingat aku? Tapi aku sangat ingat kamu. Kamu… gadis kesayangan semua orang di kehidupan sebelumnya. Yang kaya, populer, dan selalu menjadi pusat perhatian.”

“Kamu iri padaku?”

“Bukan iri semata.” Kayla membuka buku catatannya yang berwarna ungu berkilau. “Aku hanya… merasa kesal. Karena kamu mendapatkan semua hal yang selama ini aku inginkan. Termasuk Rasya.”

Darahku terasa berhenti mengalir sesaat.

“Kamu tahu soal Rasya?”

Kayla menoleh menatapku. Wajah yang tadinya tampak manis berubah drastis—matanya terlihat dingin dan tajam seperti ular yang siap menyergap mangsanya.

“Aku tahu semuanya, Nayla. Karena di kehidupan sebelumnya… aku adalah adik kandung Rio.”

---

Jam Istirahat

Aku tidak bisa diam. Pikiran tentang Kayla—tentang ucapan terakhirnya—berputar terus di kepalaku seperti rekaman yang rusak.

“Aku adalah adik Rio.”

Rio punya adik? Di kehidupan sebelumnya, aku tidak pernah tahu hal itu. Rio selalu terlihat sendirian. Tidak ada keluarga yang datang saat ia ditangkap dulu. Tidak ada saudara yang membelanya.

Tapi sekarang, di kehidupan ini, ia ternyata punya adik. Dan adik itu ada tepat di hadapanku.

“Nay, wajahmu pucat sekali,” Sasha menyentuh keningku. “Demam ya?”

“Aku tidak demam.”

“Tapi mukamu terlihat seperti baru melihat hantu.”

Aku menatap Kayla yang sedang asyik mengobrol dengan teman-teman barunya di seberang kantin. Ia tertawa, bercerita, dan bergaul dengan sangat luwes—seolah-olah ia tidak punya niat jahat sama sekali.

Penampilan memang bisa menipu.

“Aku harus menceritakan ini pada Rasya,” kataku.

“Aku ikut?”

“Tidak usah. Kamu jaga meja saja.”

Sasha mengangguk. Aku berjalan meninggalkan kantin menuju perpustakaan—tempat Rasya biasanya menghabiskan waktu istirahat.

---

Rasya sedang membaca buku di pojokan kesukaannya. Begitu melihatku masuk, ia mengangkat kepala—dan langsung tahu ada sesuatu yang tidak beres.

“Ada apa?” tanyanya.

Aku duduk di hadapannya.

“Tentang Kayla.”

“Ada apa dengan dia?”

“Ia bilang dia adalah adik kandung Rio.”

Rasya meletakkan bukunya. Matanya menyipit tajam.

“Apa?”

“Aku tahu ini terdengar tidak masuk akal. Tapi dia sendiri yang mengatakannya. Saat pertama kali duduk di sampingku, ia berbisik, ‘Halo, Nayla. Senang bertemu denganmu lagi.’ Lalu ia mengaku sebagai adik Rio.”

Rasya terdiam sejenak.

“Di kehidupan sebelumnya, Rio tidak punya adik.”

“Aku juga tahu itu. Tapi mungkin, di kehidupan ini, takdir mengubah segalanya.”

“Atau mungkin…” Rasya menggigit bibirnya, “Rio tidak pernah sendirian sejak awal. Mungkin dia memang punya adik, tapi kita tidak pernah mengetahuinya.”

“Terus apa yang harus kita lakukan?”

“Kita awasi dia. Cari tahu kelemahannya. Dan tetap jaga jarak sejauh mungkin.”

“Ia duduk tepat di sampingku, Rasya. Di kelas. Setiap hari.”

Rasya menghela napas panjang. “Itu memang masalah.”

“Dan masalah yang cukup besar.”

---

Saat pelajaran dimulai kembali, Kayla duduk di sampingku dengan tenang. Ia menggambar bunga-bunga kecil dengan pena berwarna-warni di buku catatannya—sama sekali tidak terlihat mengancam. Namun mataku tidak bisa berhenti mengamati setiap gerak-geriknya.

“Nayla,” bisik Kayla tanpa menoleh.

“Apa?”

“Kamu tidak perlu tegang begitu. Aku tidak akan menggigitmu.”

“Aku tidak tegang.”

“Tapi tanganmu gemetar memegang pulpen.”

Aku menunduk. Benar juga. Pulpen di tanganku memang bergetar pelan.

“Aku tidak takut padamu,” kataku berusaha terdengar tegas.

“Seharusnya kamu takut.” Kayla berbalik menatap mataku dengan tatapan dingin. “Karena aku ada di sini bukan untuk berteman, Nayla. Aku ada di sini untuk menghancurkan hidupmu. Sedikit demi sedikit. Sama seperti kakakku dulu—tapi aku lebih sabar. Dan lebih pintar.”

Ia kembali menunduk melanjutkan gambarannya.

“Aku akan menikmati prosesnya,” bisiknya lagi.

---

Di perjalanan pulang sekolah, aku berkata pada Rasya, “Kita harus melaporkan ini ke polisi.”

“Melaporkan apa? Kayla belum melakukan apa-apa. Ia hanya mengancam secara lisan.”

“Tapi—”

“Kita tidak punya bukti, Nayla. Tanpa bukti, polisi tidak bisa bertindak.”

Aku menghela napas dengan perasaan frustasi. “Jadi kita hanya bisa diam saja?”

“Tidak.” Rasya menggenggam tanganku erat. “Kita bisa bersiap. Kita bisa mengawasinya. Dan kita bisa tetap waspada setiap saat.”

“Aku lelah, Rasya. Baru saja selesai menghadapi Rio, sekarang muncul Kayla. Kapan semua ini akan berakhir?”

Rasya tidak menjawab. Ia hanya menggenggam tanganku lebih erat lagi.

---

Pukul 20.15

Sasha: “Aku sudah mulai mencari informasi tentang Kayla.”

Nayla: “Dapat apa saja?”

Sasha: “Ia pindahan dari Surabaya, tapi sebelumnya tinggal di Bandung. Sekolahnya sering berpindah-pindah. Sepertinya keluarganya sering pindah rumah.”

Rasya: “Kenapa sering pindah?”

Sasha: “Belum tahu. Masih sedang diselidiki.”

Nayla: “Hati-hati ya, Sha. Jangan sampai dia sadar sedang diawasi.”

Sasha: “Tenang saja. Aku bertubuh kecil, jadi sulit diperhatikan.”

Rasya: “Besok kita cari tahu lebih dalam. Mungkin kita bisa lewat di depan rumahnya.”

Nayla: “Ke rumahnya? Kamu gila?”

Rasya: “Bukan untuk melakukan hal berbahaya. Hanya sekadar lewat dan melihat-lihat saja.”

Sasha: “Aku ikut!”

Nayla: “Sha, ini bisa berbahaya.”

Sasha: “Semua hal yang kalian lakukan belakangan ini juga berbahaya. Tapi kalian tetap melakukannya. Jadi kenapa aku tidak boleh ikut?”

Aku menghela napas panjang.

Nayla: “Baiklah. Tapi kamu harus menuruti perintahku. Kalau aku bilang lari, kamu harus segera lari. Janji?”

Sasha: “Janji!”

Rasya: “Besok sepulang sekolah. Kita bertemu di perempatan lampu merah.”

Nayla: “Baiklah.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!