Safa adalah gadis cantik nan penurut yang tampaknya selalu dimusuhi takdir. Sejak kecil, ia tak pernah mencecap manisnya kasih sayang keluarga, bahkan dari ibunya sendiri. Kesalahan di masa lalu yang bukan kehendaknya membuat Safa dilabeli sebagai "anak pembawa sial" dan dibenci seumur hidup. Puncaknya, ia dipaksa menikah dengan seorang kakek demi menyelamatkan bisnis keluarga yang nyaris bangkrut.
Namun, kenyataan tak seburuk dugaannya. Sang kakek ternyata hanya perantara, ia mencarikan istri untuk cucu laki-lakinya yang bertemperamen kaku, cuek, dan dingin. Di rumah barunya, Safa yang terbiasa disisihkan justru mulai merasakan hangatnya kasih sayang dari keluarga sang suami yang memperlakukannya dengan sangat baik. Sayangnya, benteng es di hati suaminya sendiri tetap tak tergoyahkan.
Mampukah Safa memenangkan hati pria yang menikahinya hanya karena amanah sang kakek? Ataukah pernikahan "titipan" ini akan hancur dan berakhir dengan perceraian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uswatun Kh@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Malam Yang Menegangkan
Tak! Tak! Tak!
Detik jam menggema memecah kesunyian. Kilatan cahaya layar televisi memantul ke arah Safa dan Arlan yang masih diam mematung.
Detakan jantung Arlan yang menggebu bisa Safa rasakan saat tangan lembutnya menyentuh dadanya.
Safa sepenuhnya jatuh dalam pelukan Arlan. Di atas sofa panjang, jarak itu seakan hilang.
Perlahan Arlan mengangkat kepalanya. Naik semakin naik hingga jarak mereka hanya setipis helai kain.
Mata itu, hidung dan garis wajah yang tegas mampu memukau Safa. Entah mengapa Safa mulai memejamkan matanya.
Arlan tersenyum tipis, ia mendekat lalu mengecup lembut kening sang istri. "Kamu sangat harum, Safa. Tapi aku bisa kehabisan napas kalau kamu tetap di atasku."
Seketika Safa membuka mata saat Arlan kembali menyandarkan kepalanya sambil tersenyum.
"Ma ... af," ucap Safa sambil buru bangkit. Wajahnya kini benar-benar merah karena tersipu dengan perlakuan Arlan.
Ia celingukan sebelum berlari ke arah kamar. Pintu segera di tutup rapat. Di balik pintu Safa berdiri sambil memegangi dada yang seakan hampir copot.
"Apa tadi? Mas Arlan menciumku," ucapnya lirih.
"Aaaaa .... aku malu." Safa menangkup kedua pipinya lalu berlari ke arah ranjang.
Karena rasa yang aneh dan baru ia rasa Safa dibuat kebingungan. Ia merebahkan tubuhnya dan membayangkan apa yang baru saja terjadi.
"Tunggu, apa tadi aku memejamkan mata? Hah, apa yang aku pikirkan?"
Karena frustasi dan malu Safa mulai berguling-guling di atas kasur. Ia memikirkan tentang Arlan. Bagaimana jika Arlan berfikir ia berharap untuk di cium.
"Memalukan!" pekiknya di bawah bantal, berusaha meredam suaranya.
Sementara itu Arlan masih terduduk di ruang TV. Ia tampak tenang seolah tak terjadi apa pun.
Tatapannya lekat ke arah kamar Safa. Ia berdiri dengan gemetar, namun saat akan berjalan ia merasa kakinya lemas hingga membuatnya hampir limbung dan segera ia bertumpu di atas meja.
"Kenapa tiba-tiba kakiku lemas," gumamnya.
Tak ingin sampai Safa melihat itu, ia buru-buru pergi menuju kamarnya dengan tertatih.
Kini mereka tak serumah dengan sang kakek, jadi Arlan memutuskan untuk tidur di kamar terpisah. Bukan karena ia tak ingin sekamar dengan Safa. Hanya saja ia tak ingin memaksa Safa agar mau seranjang dengannya. Itu juga termasuk pertahanannya agar tak melewati batas.
Malam semakin larut, Safa pun sudah terlelap begitu pun Arlan. Rumah sebelumnya terasa dingin kini perlahan menghangat. Tanpa disadari hubungan keduanya memiliki kemajuan.
Saat tengah terbuai mimpi, tiba-tiba Arlan tersentak saat mendengar suara dari arah dapur. Takut terjadi sesuatu yang tak di inginkan ia segera melompat berlari menuju sumber suara.
Lampu dapur padam. Ruang tengah dan ruang utama juga. Arlan mengedarkan pandangan, saat melihat ke arah kamar Safa ia melihat siluet orang yang bergerak dengan cepat.
"Aaaakkkhhh! Mas!" teriakan Safa menggema di seluruh ruangan.
Arlan secepat kilat berlari menuju kamarnya. Entah apa yang ditabraknya ia tak perduli yang penting keselamatan sang istri.
Brak!
Pintu didobrak paksa. Nafasnya terengah, matanya membelalak saat melihat Safa meringkuk di bawa ranjang, sedang siluet seseorang itu langsung melompat ke arah jendela.
Prank!
Kaca pecah. Takut serpihan kaca mengenai sang istri Arlan mendekap tubuh Safa untuk memberi perlindungan.
🍃🍃🍃
Waktu menujukan pukul dua dini hari. Kemerlap lampu mobil polisi menghiasi halaman rumah mereka. Bahkan beberapa tetangga datang untuk melihat apa yang terjadi.
"Apa ada sesuatu yang hilang, Tuan Arlan?" tanya seorang petugas polisi.
Arlan yang masih mendekap sang istri segera menggeleng. "Tidak. Sepertinya dia belum sempat mengambil apapun, keburu ketahuan istri saya."
Beberapa polisi tengah memeriksa rumah Arlan. Mereka menyisir untuk mendapatkan bukti. Maling itu termasuk ahli karena bisa melewati pos penjagaan yang ada di kompleks itu.
Setelah memastikan CCTV dan beberapa bukti para petugas mulai berkumpul.
"Baiklah, Tuan Arlan. Karena kita masih perlu menyelidikinya lagi, kami akan permisi dulu. Nanti kalau ada perkembangan kami akan menghubungi Anda. Dan Anda tenang saja, mulai malam ini kami akan melakukan patroli berkala di sekitar perumahan ini," ungkap kepala Polisi memastikan semua agar lebih tenang.
Arlan mengangguk. "Tolong segera tangkap orang itu. Aku tidak ingin ada kejadian seperti ini lagi."
"Baik, Pak! Kalau begitu kami permisi." Para petugas polisi itu segera pergi hingga menyisakan beberapa tetangga saja.
Seorang wanita dengan pakaian bulu tebal mendekat. "Kok bisa sampai masuk rumah, ya? Padahal biasanya di arena ini sangat aman."
"Iya, kan kasihan, padahal pengantin baru tapi udah di timpa masalah seperti ini," sahut yang lain.
"Mbak gak papa, kan? Istrinya kelihatan ketakutan banget loh, Mas. Coba kasih minun air hangat biar bisa lebih tenang," tutur tetangga yang terlihat lebih tua.
Arlan menoleh ke arah Safa. Ia mengeratkan selimut dan mendekapnya semakin erat.
"Maaf ibu-ibu, kalau begitu saya masuk dulu. Istri saya masih terlalu syok," ungkapnya lalu masuk membawa Safa.
Arlan membimbing Safa untuk duduk di sofa ruang keluarga. Saat ia akan pergi mengambilkan air, Safa tak melepas genggamannya.
Wajah Safa tampak pucat. Ia teringat kejadian tadi, ia yang tengah tertidur tiba-tiba terkejut saat pintu kamar terbuka, padahal jelas-jelas ia menguncinya.
Matanya membelalak melihat seseorang dengan pakaian serba hitam serta penutup kepala masuk. Untunglah ia segera berteriak hingga orang itu tak sampai melukainya dan kabur.
Melihat keadaan Safa yang lemah. Ia kembali duduk, kedua tangan melingkar protektif. Mendekap Safa penuh kehangatan dan rasa aman.
"Tenanglah, Mas ada di sini. Mas gak akan ke mana-mana," lirih Arlan.
"Aku takut, Mas. Aku benar-benar takut."
Kedua tangan Safa melingkar erat di pinggang sang suami. Merasakan hangatnya dekapan yang membuatnya aman.
Air mata terus luruh membanjiri pipinya. Untuk sesaat ia membayangkan apa yang akan terjadi jika sang suami tak ada bersamanya.
Melihat Safa yang begitu lelah. Arlan segera membopong sang istri menuju kamarnya.
Dengan perlahan tubuh Safa diturunkan. "Tidurlah di sini. Mas akan temani kamu, jadi jangan takut."
Safa meremas erat ujung selimut yang menutupi tubuhnya. "Mas janji kan gak akan ninggalin aku? Mas jangan pergi."
Arlan mengangguk. Ia menarik selimut menyelimuti Safa dengan penuh perhatian.
Safa tak membiarkan tangan Arlan lepas darinya. Kejadian tadi mengingatkan teror sang ayah tiri yang masih terus menghantui. Namun, ia tak berani bercerita. Ia takut, takut jika Arlan tak akan percaya seperti sang mama.
Memikirkan semua itu membuatnya semakin lelah. Perlahan matanya tertutup.
Arlan menepuk-nepuk pelan punggung tangan gadis malang itu, hingga Safa benar-benar terlelap.
Melihat sang istri sudah tertidur pulas, Arlan bangkit. Ia memegang ponsel dengan wajah mengeras, giginya terkatup rapat penuh amarah.
Layar ponsel digulir. Saat menemukan kontak Egar ia segera menghubunginya.
"Halo, Egar. Aku punya tugas untukmu. Tangkap orang itu, jangan langsung laporkan ke polisi. Aku yang akan menanganinya sendiri."
Amarahnya sudah memuncak. Melihat Safa yang begitu rapuh Arlan tak berniat melepaskan pencuri itu begitu saja.