NovelToon NovelToon
Suamiku,Suami Sahabatku

Suamiku,Suami Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nirna Juanda

Kanaya dan Amira dua sahabat yang tak terpisahkan sejak kecil.
Tak ada rahasia di antara mereka… hingga cinta datang dengan cara yang salah.
Kanaya dipaksa menikah dengan pria pilihan keluarga, Fatan Adrian Mahendra—pernikahan tanpa cinta yang terasa seperti hukuman.
Sementara Amira hidup dalam kebahagiaan, menikahi pria yang ia cintai sepenuh hati—Adrian.
Namun takdir menyimpan rahasia yang kejam.
Pria yang mereka cintai…
adalah orang yang sama.
Satu pria. Dua nama. Dua pernikahan.
Dan satu pengkhianatan yang menghancurkan segalanya.
Saat kebenaran terungkap,
siapa yang akan bertahan?
Dan siapa yang harus merelakan… cinta yang sejak awal tak pernah utuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Batas Yang Perlahan Retak

Pagi itu udara terasa lebih dingin dari biasanya.

Kanaya melangkah keluar dari rumah dengan pakaian kerja yang rapi dan wajah tenang seperti biasa. Namun siapa pun yang mengenalnya dengan baik pasti tahu wanita itu sedang memikirkan sesuatu.

Dan penyebabnya berdiri tepat di samping mobil.

Fatan.

Pria itu mengenakan seragam sopir berwarna hitam, berdiri tegak sambil sedikit menundukkan kepala ketika melihat Kanaya mendekat.

“Selamat pagi, Bu,” ucapnya sopan.

Kanaya hanya mengangguk kecil.

“Pagi.”

Tidak ada percakapan lain.

Fatan membuka pintu mobil untuknya, lalu kembali ke kursi pengemudi setelah memastikan Kanaya sudah masuk dengan nyaman.

Mobil mulai melaju meninggalkan halaman rumah.

Hening.

Seperti hari-hari sebelumnya.

Kanaya menatap layar tabletnya, mencoba fokus membaca laporan pekerjaan. Namun entah kenapa, pikirannya justru terusik oleh sosok di depan sana.

Fatan tidak pernah banyak bicara.

Tidak mencoba mendekat.

Tidak mengungkit masa lalu.

Dan justru itu yang membuat semuanya terasa aneh.

Karena pria itu benar-benar berubah.

Mobil berhenti di lampu merah.

Kanaya tanpa sadar melirik ke arah spion depan.

Fatan terlihat fokus menyetir. Wajahnya tampak sedikit pucat pagi itu.

Kanaya mengernyit kecil.

“Kamu sakit?” tanyanya tiba-tiba.

Fatan sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu.

Namun ia segera menggeleng.

“Tidak, Bu.”

“Kamu terlihat pucat.”

“Mungkin hanya kurang istirahat,” jawabnya tenang.

Kanaya kembali diam.

Biasanya Fatan yang dulu akan mengeluh atau mencari perhatian. Tapi sekarang… pria itu justru menyembunyikan keadaannya.

Kanaya mengalihkan pandangan lagi.

“Bukan urusanku,” batinnya.

Namun entah kenapa, pikirannya tidak benar-benar tenang setelah itu.

Hari itu jadwal Kanaya cukup padat.

Meeting satu demi satu membuatnya bahkan tidak sempat benar-benar duduk santai. Ketika jam makan siang tiba, sekretarisnya masuk membawa beberapa berkas tambahan.

“Bu Kanaya, dokumen kerja sama ini harus diperiksa hari ini juga.”

Kanaya mengusap pelipisnya pelan.

“Taruh saja di meja.”

“Baik, Bu.”

Sekretaris itu keluar lagi.

Kanaya menghela napas panjang.

Ia melirik jam.

Sudah lewat pukul dua siang.

Dan ia belum makan apa pun.

Namun seperti biasa, ia memilih mengabaikannya dan kembali fokus bekerja.

Sampai suara ketukan terdengar di pintu.

“Masuk.”

Pintu terbuka perlahan.

Kanaya mengangkat wajah dan sedikit terkejut melihat siapa yang datang.

Fatan.

Pria itu berdiri di depan pintu dengan kantong makanan di tangannya.

Kanaya langsung mengernyit.

“Ada apa?”

Fatan melangkah masuk dengan hati-hati.

“Maaf mengganggu,” katanya sopan. “Saya hanya ingin mengantarkan ini.”

Ia meletakkan kantong makanan itu di meja.

Kanaya menatapnya bingung.

“Apa ini?”

“Makanan.”

“Aku tahu itu makanan,” balas Kanaya datar. “Maksudku, untuk apa?”

Fatan terdiam sesaat sebelum menjawab,

“ibu, belum makan sejak pagi.”

Kanaya langsung menatapnya.

Ada jeda beberapa detik.

“Itu bukan urusanmu,” ucap Kanaya dingin.

Fatan menunduk sedikit.

“Saya tahu.”

“Lalu kenapa melakukan ini?”

Fatan terdiam lagi.

“Karena… tubuh tetap butuh makan,” jawabnya pelan.

Kanaya menghela napas kasar.

“Kamu terlalu ikut campur.”

“Saya minta maaf.”

Jawaban itu cepat. Tidak membantah. Tidak defensif.

Dan lagi-lagi itu membuat Kanaya kehilangan arah untuk marah.

Kanaya menatap makanan itu lama.

“Aku tidak memintanya.”

“Saya tahu,” jawab Fatan lagi.

“Lalu?”

Fatan mengangkat wajahnya perlahan.

“Dulu saya terlalu sering mengabaikan hal-hal kecil,” katanya tenang. “Sekarang… saya hanya tidak ingin mengulanginya lagi.”

Kalimat itu membuat ruangan mendadak terasa sunyi.

Kanaya menatapnya tanpa berkedip.

Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

Ia tahu kalimat itu bukan sekadar tentang makanan.

Fatan sedang berbicara tentang masa lalu mereka.

Tentang semua hal yang dulu tidak pernah ia pedulikan.

Kanaya memalingkan wajah cepat.

“Kamu boleh keluar,” katanya pelan.

Fatan mengangguk.

“Baik, Bu.”

Ia berbalik dan berjalan keluar tanpa berkata apa-apa lagi.

Pintu tertutup.

Kanaya tetap diam di tempatnya.

Tatapannya perlahan kembali pada kantong makanan di meja.

Masih hangat.

Dan entah kenapa…

dadanya terasa sesak

"apa apa ini"desisnya

Sore harinya hujan turun cukup deras.

Kanaya keluar dari gedung kantor sambil memeluk beberapa dokumen penting di dadanya.

Ia sedikit terkejut ketika melihat Fatan sudah berdiri di dekat mobil sambil memegang payung.

Pria itu langsung berjalan mendekat.

“Hati-hati, Bu,” katanya pelan sambil membuka payung untuk melindungi Kanaya dari hujan.

Kanaya terdiam sesaat.

“Sejak kapan kamu menunggu?”

“Tidak lama.”

Padahal jas di bahu Fatan sudah sedikit basah.

Jelas pria itu sudah berdiri cukup lama di luar.

Namun seperti biasa… ia tidak banyak bicara.

Kanaya masuk ke dalam mobil tanpa komentar.

Perjalanan pulang kembali dipenuhi keheningan.

Namun kali ini berbeda.

Karena untuk pertama kalinya sejak bertemu kembali

Kanaya mulai benar-benar memperhatikan Fatan.

Tangannya tampak sedikit kasar sekarang.

Kulitnya lebih gelap.

Wajahnya lebih lelah.

Tidak ada lagi kesan pria arogan yang dulu ia kenal.

Yang tersisa hanya seseorang yang… sedang belajar menjadi lebih baik.

Mobil akhirnya memasuki halaman rumah.

Fatan turun lebih dulu dan membuka pintu mobil.

“Sudah sampai, Bu.”

Kanaya keluar perlahan.

Namun langkahnya terhenti ketika melihat Fatan sedikit menahan batuk.

Kanaya mengernyit.

“Kamu benar tidak papa?”

Fatan tampak terkejut karena Kanaya kembali menanyakan itu.

Ia tersenyum tipis.

“Hanya masuk angin biasa.”

“Apa ,Kamu demam?”

“Sedikit.”

“Lalu kenapa tetap bekerja?”

Fatan terdiam beberapa detik sebelum menjawab,

“Karena saya membutuhkan pekerjaan ini.”

Jawaban itu sederhana.

Tapi cukup membuat hati Kanaya terasa berat.

Ia menatap pria itu lama.

Dan untuk pertama kalinya…

ia melihat bukan mantan suaminya.

Melainkan seseorang yang sedang berjuang bertahan hidup.

Kanaya menarik napas pelan.

“Kamu sudah makan obat?”

Belum sempat Fatan menjawab, dirinya sendiri tampak sedikit terkejut dengan pertanyaan itu.

Fatan bahkan membeku beberapa detik.

“…Belum,” jawabnya pelan.

Kanaya memalingkan wajah cepat.

“Nanti minta bibi mengambilkan obat.”

“Baik, Bu.”

Sunyi lagi.

Namun kali ini…

keheningan itu tidak lagi terasa sepenuhnya dingin.

Dan tanpa disadari keduanya

batas yang selama ini mereka bangun…

perlahan mulai retak.

Kanaya ingin mengatakan sesuatu lagi, namun urung.

Ia turun dari mobil perlahan.

Fatan menutup pintu mobil seperti biasa.

Namun baru dua langkah berjalan

tubuh pria itu mendadak limbung.

Kanaya membelalak.

“Fatan!”

Bruk.

Tubuh Fatan ambruk begitu saja ke lantai halaman rumah.

Kanaya langsung panik.

“Fatan!”

Ia berjongkok cepat di dekat tubuh pria itu.

“Fatan, dengar aku!”

Tidak ada jawaban.

Wajah Fatan terlihat pucat pasi, napasnya berat, dan tubuhnya terasa panas bahkan hanya dari sentuhan tangan Kanaya.

Kanaya mulai benar-benar panik.

“Satpam!” teriaknya keras.

Dua satpam segera berlari mendekat.

“Ada apa, Bu?”

“Cepat bantu saya bawa dia masuk!” ujar Kanaya tegas meski suaranya terdengar gemetar. “Dan segera hubungi dokter!”

“Baik, Bu!”

Mereka segera membantu mengangkat tubuh Fatan yang sudah tidak sadarkan diri.

Kanaya berjalan cepat di samping mereka, wajahnya penuh kecemasan.

“Pelan-pelan,” ucapnya. “Bawa ke kamar tamu bawah.”

Tubuh Fatan dibaringkan di atas tempat tidur dengan hati-hati.

Kanaya berdiri di samping ranjang, napasnya belum sepenuhnya teratur.

Ia menatap wajah pria itu.

Pucat.

Sangat pucat.

“Kamu ini sebenarnya memaksakan diri sampai sejauh apa…” bisiknya pelan.

Seorang pelayan datang membawa handuk kecil.

“Bu…”

“Tempelkan di dahinya,” kata Kanaya cepat.

Pelayan itu menurut.

Kanaya berjalan mondar-mandir kecil di dalam kamar, jelas gelisah.

Beberapa menit kemudian, dokter keluarga datang dengan tas medis di tangannya.

“Ada apa?” tanyanya begitu masuk.

Kanaya langsung mendekat.

“Tolong periksa dia, Dok.”

Dokter mengangguk dan segera memeriksa keadaan Fatan.

Ruangan menjadi sunyi.

Kanaya berdiri tidak jauh dari ranjang, memperhatikan dengan tegang.

Dokter memeriksa suhu tubuh, tekanan darah, lalu mendengarkan napas Fatan beberapa saat.

Wajah dokter terlihat serius.

“Bagaimana, Dok?” tanya Kanaya cepat.

Dokter melepaskan stetoskopnya perlahan.

“Dia kelelahan,” jawab dokter. “Kondisi tubuhnya drop cukup parah.”

Kanaya menegang.

“Kelelahan?”

Dokter mengangguk.

“Tubuhnya terlalu dipaksa bekerja dalam kondisi tidak fit,” jelasnya. “Ditambah kurang istirahat dan kemungkinan pola makan yang tidak teratur.”

Kanaya langsung terdiam.

Pola makan tidak teratur.

Entah kenapa kalimat itu terasa mengganggu.

“Apakah berbahaya?” tanyanya lagi.

“Untuk sementara tidak,” jawab dokter tenang. “Tapi kalau terus dipaksakan bisa jauh lebih buruk.”

Dokter kembali menulis resep.

“Saya akan beri obat penurun panas dan vitamin. Yang paling penting sekarang dia harus istirahat total.”

Kanaya mengangguk pelan.

“Baik, Dok.”

Dokter menatap Kanaya sekilas lalu tersenyum kecil.

“Anda terlihat sangat khawatir.”

Kanaya sedikit tersentak.

Namun ia segera mengalihkan pandangan.

“Saya hanya tidak ingin ada orang sakit di rumah saya.”

Jawaban itu terdengar cepat.

Terlalu cepat.

Dokter hanya tersenyum tipis seolah memahami sesuatu, namun tidak membahasnya lagi.

“Kalau begitu saya pamit.”

“Terima kasih, Dok.”

Setelah dokter pergi, kamar kembali sunyi.

Pelayan dan satpam juga keluar meninggalkan mereka berdua.

Kini hanya ada Kanaya dan Fatan.

Kanaya berdiri diam beberapa saat sebelum akhirnya berjalan mendekati ranjang.

Tatapannya jatuh pada wajah Fatan yang tertidur lemah.

Berbeda sekali dengan pria yang dulu ia kenal.

Tidak ada lagi kesan kuat dan penuh kendali.

Yang ada sekarang hanyalah seseorang yang terlihat… lelah.

Sangat lelah.

Kanaya menghela napas pelan.

“Kenapa kamu memaksakan diri seperti ini…” bisiknya.

Tidak ada jawaban.

Tentu saja.

Fatan masih tidak sadarkan diri.

Kanaya duduk perlahan di kursi dekat ranjang.

Matanya tanpa sadar memperhatikan tangan pria itu.

Kasar.

Ada beberapa luka kecil di jemarinya.

Kanaya menunduk pelan.

Dulu tangan itu tidak pernah menyentuh pekerjaan berat.

Fatan bahkan tumbuh dengan segala kemewahan.

Namun sekarang…

hidup benar-benar mengubahnya.

Kanaya menelan ludah.

Dadanya terasa sesak lagi.

Ia membenci perasaan itu.

Perasaan iba.

Perasaan khawatir.

Karena semua itu membuat benteng yang sudah susah payah ia bangun… perlahan melemah.

Fatan bergerak kecil.

Keningnya berkerut pelan sebelum matanya terbuka perlahan.

Pandangan pria itu tampak samar beberapa detik sebelum akhirnya fokus.

Dan hal pertama yang ia lihat

Kanaya.

Fatan tampak sedikit terkejut.

“…Bu?” suaranya serak.

Kanaya langsung berdiri.

“Kamu sadar?”

Fatan mencoba bangun namun langsung meringis lemah.

“Jangan bergerak dulu,” ujar Kanaya cepat.

Fatan terdiam beberapa saat, seolah mencoba mengingat apa yang terjadi.

“…Saya pingsan?” tanyanya pelan.

Kanaya menyilangkan tangan di depan dada, mencoba kembali bersikap tenang.

“Kamu ambruk tepat di depan rumah.”

Wajah Fatan langsung berubah tidak enak.

“Maaf…”

Kanaya mengernyit.

“Kamu selalu meminta maaf sekarang?”

Fatan menunduk sedikit.

“Saya merepotkan.”

Kanaya terdiam sesaat.

Entah kenapa jawaban itu membuat hatinya terasa aneh.

Dulu…

Fatan bukan tipe orang yang mengakui kelemahan.

Namun sekarang pria itu bahkan meminta maaf karena jatuh sakit.

“Kamu tidak makan teratur?” tanya Kanaya pelan.

Fatan tidak langsung menjawab.

“Itu bukan hal penting,” katanya akhirnya.

Kanaya langsung menatapnya tajam.

“Itu penting.”

Fatan tampak sedikit terdiam.

Lalu tersenyum tipis.

“Sekarang saya sudah terbiasa.”

Kalimat itu membuat dada Kanaya terasa berat lagi.

Terbiasa?

Terbiasa hidup sulit?

Terbiasa menahan sakit?

Kanaya memalingkan wajah cepat.

“Aku akan meminta bibi membuatkan makanan,” katanya singkat.

Fatan langsung menggeleng lemah.

“Tidak perlu…”

“Itu bukan permintaan.tetapi sebuah keharusan”

Fatan terdiam.

Kanaya menarik napas pelan sebelum kembali berkata,

“Malam ini kamu istirahat di sini.”

Fatan langsung mengangkat wajah.

“Tidak,saya harus pulang ,ibu saya menunggu dirumah"ucap Fatan

"bahkan kamu tidak kuat berdiri,berikan nomor ponsel ibu,biar aku yang berbicara bahwa kamu tidak sehat"ucapnya

"ibu sendiri dirumah saya cemas jika harus meninggalkannya"ucapnya yang membuat kanaya melirik Fatan

"ayahmu??"

"sudah meninggal satu tahun yang lalu"ucapnya yang membuat Kanaya terdiam, ternyata terlalu banyak hal pahit yang harus Fatan lalui,,

Tatapan mereka bertemu beberapa saat.

Dan untuk pertama kalinya sejak pertemuan kembali mereka

Fatan melihat sesuatu di mata Kanaya.

Bukan kebencian.

Bukan kemarahan.

Melainkan…

kekhawatiran.

sesaat tangisan Nayara membuyarkan keduanya

"permisi"ucap Kanaya dengan langkah cepat yang membuat Fatan menatap punggung wanita baik itu

1
Asih
akhirnya saya puas liat kesombongan srorang lelaki terpuruk
Nirna: Kadang kesombongan memang perlu dijatuhkan dulu supaya seseorang sadar 😊 Terima kasih kak sudah mengikuti ceritanya sampai ikut puas dengan alurnya 🤗❤️
total 1 replies
Asih
lanjutt
Nirna: Terima kasih banyak sudah membaca 😊 Lanjutannya segera aku update ya kak
total 1 replies
Kereng Pangi
bahasanya kbnyak retorika
Nirna: Terima kasih atas masukannya 🙏. Ke depannya akan saya perbaiki supaya bahasanya lebih nyaman dibaca.
total 1 replies
Asih
lanjut semakin seruuu
Nirna: Terima kasih banyak 🙏 Senang banget kakak menikmati ceritanya. Ditunggu terus ya kelanjutannya 😊
total 1 replies
Asih
padahal kalau mau bicara dari hati ke hati dn terus terang.sama kanaya
Nirna: Iya benar juga 😊 Terima kasih sudah ikut memberikan sudut pandang. Nanti akan ada perkembangan cerita yang lebih dalam lagi, ditunggu ya 🙏
total 1 replies
Asih
lanjut dong
Nirna: Siap 😊 Terima kasih sudah menunggu. , jangan bosan mengikuti ceritanya ya 🙏
total 1 replies
rina saragih
waw waw... fatan kapok kamuuu
Nirna: Hehe, iya nih kak 😄 Fatan lagi diuji banget kesabarannya. Kira-kira dia bakal kuat sampai kapan ya? Terima kasih sudah baca dan dukung ceritanya 💖
total 1 replies
rina saragih
kenapa susah sekali menicintai yg halal?
hati memang penuh misteri
Nirna: MasyaAllah, terima kasih sudah mampir dan berkomentar. Semoga ceritanya bisa menyentuh dan menemani 😊Terima kasih banyak sudah membaca dan berbagi pendapat 😊 Memang hati itu penuh misteri, semoga cerita ini bisa sedikit menggambarkan perasaan itu ya🙏
total 1 replies
rina saragih
fatan oh adrian
Nirna: Nah loh, mulai ketahuan ya benang merahnya 😄 Stay tune terus ya kakak🙏
total 1 replies
rina saragih
awal yang bagus
aku berharap akan seru seterusnya
Nirna: Terima kasih banyak 😊 Senang sekali kakak suka di awalnya, semoga bab selanjutnya bisa lebih seru lagi ya
total 1 replies
Angel 💖
karya yang bagus
. tapi kenapa sepi ya?
Nirna: terimakasih banyak kakak sudah berkomentar,iya nih masih sepi🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!