Dave yakin guru tk para keponakannya adalah perempuan yang menjadikannya sebagai sasaran kekalahannya dalam permainan true or dare dua malam yang lalu.
Bisa bisanya perempuan yang suka clubbing jadi guru tk. Bagaimana nanti masa depan keponakan keponakannya?
Semoga suka♡♡♡
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Candu Dave
Dave menoleh sebentar ke arah Rhea yang lagi lagi diam saja saat dia mengantar gadis itu pulang.
"Gugup mau aku lamar besok, ya?" tanya Dave memancing.
Rhea menatap Dave yang sedang fokus ke depan. Dia menarik nafas berulang kali.
"Kamu yakin serius mau menikah denganku?"
"Yakinlah." Dave menjawab tegas tanpa melihat wajah Rhea lagi. Fokusnya masih di depan jalannnya.
"Karena foto?"
"Sebagian iya."
Rhea berdecak kesal karema perasaan kecewa tiba tiba merasuki hatinya.
"Bukannya belum ketahuan kamu pelakunya?" agak sinis Rhea berucap.
"Sebelum ketahuan aku akan mengaku."
"Lebih baik tidak usah mengaku," putus Rhea. Dia takut dengan kemarahan papanya.
"Mengapa? Aku ngga akn mungkin dihabisi, kan?"
Rhea menyorotkan tatapan kesalnya pada Dave.
"Mungkin saja."
Harusnya kamu pikirkan dulu waktu mau macam macam dengan anak gadis orang, umpatnya membatin.
Memang awalnya adalah salahnya. Tapi kalo Dave tdak kurang ajar, permintaannya ngga akan jadi semenakutkan ini. Mereka terlihat terlalu vuk-g@r di foto itu. Dia saja masih malu sampai sekarang ketika melihat dengan jelas apa yang sudah dia lakukan bersama Dave.
Talisha tega sekali menjepretnya dan menunjukkan foto foto itu pada papanya.
"Tenang saja, nyawaku ada sembilan."
Rhea mendengus kesal. Padahal dia ingin menyelamatkan ny@wa laki laki ini.
Dave melirik Rhea lagi sekilas
"Selain karena foto itu, aku mau menikah denganmu karena aku ketagihan nyi-um kamu," tawa Dave pelan.
Pipi Rhea merona.
"Masih ingat ci-um@n waktu pertama kali kita bertemu?" Mereka terperangkap macet hingga mobil yang dia kendarai kini tidak bisa bergerak
Dave menoleh lagi dan menatap mata Rhea lebih dalam.
Jantung Rhea seperti terlepas dan terlempar jauh.
"Aku kira kamu sudah biasa berciu-@n. Tapi ternyata kalo aku ngga salah, itu ci-um@n pertama kamu, kan?"
Rhea akui kalo kata kata Dave benar adanya. Tapi mendengarnya dia menjadi malu karena teringat lagi yang sudah terjadi.
"Tapi aku salut dengan kamu. Padahal kamu sudah emm .... begitulah, tapi kamu masih bisa menolak keinginanku untuk lanjut ke tempat tidur."
DEG
Rhea sulit menerima keterusterangan laki laki ini mengungkapkan fakta.
Mobil mereka masih belum bisa bergerak karena masih terjebak macet.
"Kamu beruntung karena aku ngga memaksa kamu. Kalo orang lain, aku yakin kamu pasti sudah berakhir di r@njangnya."
PLAK
Rhea menampar pipi laki.laki yang mulutnya ngga ada saringannya itu. Ngga keras, tapi telapak tangannya tetap terasa panas.
Dave tersenyum, kemudian meraih tangan itu. Sebelum Rhea menepisnya, Dave sudah menci-um telapaknya dengan lembut.
Rhea merasa tubuhnya bergetar seolah tersengat aliran listrik.
Dia apa apaan, sih.
TIN!
TIN!
TIN!
Rupanya kendaraan di depannya sudah jalan hingga mobil mereka mendapat klakson dari kendaraan yang di belakangnya.
Dave segera melepaskan genggamannya kemudian beralih pada stirnya. Senyum miringnya terukir.
Sementara Rhea yang masih terkejut mengalihkan tatapnya dari Dave dengan dada bergemuruh yang hampir meledak.
*
*
*
Dave mengantar Rhea hingga gadis itu masuk ke kamar apartemennya. Setelah percakapan tadi mereka kembali diliputi kesunyian. Dave juga tidak ingin mengganggu Rhea lagi.
Karena baginya Rhea adalah godaan yang membuatnya candu.
"Besok pagi aku jemput," ucap Dave ketika pintu apartemennya terbuka.
Rhea yang sudah melangkah masuk hanya mengangguk. Dia kemudian langsung menutup pintu tanpa menatap Dave.
Dave tersenyum kemudian melangkah ke unit apartemen di depan kamar Rhea. Unit unit yang berada di lantai ini, semuanya adalah miliknya.
*
*
*
Edwin melihat seorang gadis yang sudah sangat mabuk, yang berbicara sendiri sambil menatap layar ponselnya. Kepalanya bahkan dibaringkan di atas meja bar.
Dia segera duduk di samping gadis itu. Seorang bartender yang dari tadi memberikannya gelas minuman beralkohol pada gadis itu tersenyum pada Edwin.
"Biasa, bos?" tanya bartender yang seorang laki laki muda.
"Ya." Edwin tertarik dengan layar ponsel yang menyala di samping gadis ini.
Langkah Edwin membeku begitu melihat foto yang ada di sana. Foto Rhea yang sedang berci-um@n sangat mesra dengan seorang laki laki yang tidak tersorot wajahnya.
Edwin meraih ponselnya dwngan hati hati ketika melihat mata gadis itu terpejam. Dengan jantung berdebar keras, dia menscroll foto foto yang lebih dari satu itu. Edwin tau tindakannya kurang sopan, tapi rasa penasarannya membuat dia terpaksa meanggar aturan tidak tertulus itu.
Walaupun wajah laki laki itu tidak terlihat begitu jelas, tapi dari rahang dan potongan rambut belakangnya, Edwin yakin kalo sosok itu Dave.
DEG DEG
Hubungan mereka sudah sedekat ini? Edwin membatin kaget.
Keduanya berci-uman dengan sangat panas. Tentu saja karena Dave sudah sangat berpengalaman.
Edwin teringat kerabat Dave yang melarang keras dirinya mendekati Rhea.
Mereka sudah tau? Tebaknya membatin.
Beberapa foto memang hanya menargetkan Rhea. Yang mengambil foto pasti memiliki kebencian pada Rhea, Edwin sangat yakin.
Edwin menatap perempuan muda yang tergeletak mabuk berat di atas meja bar. Tiba tiba sosok itu membuka matanya. Perlahan, tapi kemudian membelalak kaget ketika tau kalo ponselnya tidak ada di tangannya, tapi berada di tangan Edwin.
"KEMBALIKAN!" serunya marah sambil merampas kasar ponselnya tanpa Edwin sempat menjauhkannya.
Agak sempoyongan dia duduk setelah mendapatkan ponselnya kembali.
"Aku benci dengan dia," gumam Talisha-gadis mabuk itu.
"Kalian saling kenal?" tanya Edwin sambil menerima gelas dari bartender. Kemudian meneguknya hingga habis.
"Dia ani ani yang menyamar jadi perempuan berkelas."
Edwin terkejut mendengarnya.
"Dia sudah biasa berciu-m@n dengan laki laki yang tidak dikenal di club."
Talisha memijat keningnya agak kuat. Denyutan di kepalanya mulai mengganggu konsentrasinya
Edwin memberi kode pada bartender agar menambahkan lagi minumannya. Perkataan Talisha tidak ingin dia percaya.
Tapi orang m@bok biasanya berkata jujur, kan?
"Dia ngga akan hidup tenang." Talisha memaksakan dirinya untuk bangkit dari duduknya.
"Kamu mau kemana?" tanya Edwin menahan lengan Talisha
"Lepaskan." Talisha menghentakkan pegangan Edwin dengan keras hingga terlepas.
Edwin menyeringai.
"Siapa namanu?"
Talisha hanya mendengus, dengan langkah sempoyongan dia pergi meninggalkan Edwin.
Edwin meihat kepergian Talisha sambil meneguk minuman yang baru saja diberikan bartender. Otaknya masih memikirkan perkataan Talisha tentang Rhea.
Sementara Talisha, yang sudah berada di luar club, dihampiri dua orang laki laki berseragam yang merupakan pengawal papanya.
"Nona tidak apa apa?"
Talisha tidak menjawab. Kedua pengawal papanya mengikutinya dari belakang.
Di dalam mobil, Talisha masih menatap foto Rhea dengan benci. Karena denyutan di kepala serta ditambah rasa kantuk yang makin menghebat, Talisha tertidur di jok kursinya dengan tanpa sengaja, mengupload foto Rhea ke akun medsos miliknya.
salahkan papamu Rhe, coba ide konyol perjodohan itu ga ada pasti ga akan ada perpisahan yg tertunda begini, kesian ibu dan anak terpisah...