NovelToon NovelToon
Kinasih: Pengantin Keranda

Kinasih: Pengantin Keranda

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Misteri
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Di Desa Karang Jati, menikah bukan soal cinta, tapi soal siapa yang terpilih untuk "menjaga" desa. Tahun ini, Kinasih—gadis panti asuhan yang tak punya siapa-siapa—mendapat kehormatan yang paling ditakuti: menjadi Pengantin Keranda.
Kinasih pikir ia akan dipasangkan dengan pemuda desa, namun impian itu hancur saat ia dipaksa bersanding dengan sebuah keranda kayu jati yang konon berisi jasad "Sang Penjaga" yang tak boleh disebut namanya. Dengan balutan kebaya merah darah yang mulai pudar, Kinasih harus menjalani ritual malam satu suro; terkunci di dalam kamar pengantin yang hanya berisi dirinya dan keranda tua yang sesekali mengeluarkan suara ketukan dari dalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Yang Melihat Akan Dibuka

Pukul 08.01.

Dunia masih berjalan.

Motor lewat.

Orang lewat.

Suara kehidupan tetap ada.

Namun—

sesuatu sudah berubah.

Dan perubahan itu…

tidak terlihat.

Kecuali—

oleh yang tahu cara melihat.

Kinasih duduk di lantai.

Tidak bergerak.

Matanya terbuka.

Namun—

tidak berkedip.

Bukan karena takut.

Bukan karena terkejut.

Namun—

karena ia tidak berani.

Karena setiap kali ia berkedip—

sesuatu berubah.

Sedikit.

Namun—

cukup.

Ia menatap lantai.

Lubang-lubang itu masih ada.

Lebih banyak sekarang.

Lebih jelas.

Namun—

anehnya—

kalau dilihat sekilas—

tidak ada apa-apa.

Seperti—

mata manusia biasa…

tidak bisa menangkapnya.

“Kamu mulai paham…”

bisik suara itu.

Kinasih tidak menjawab.

Ia hanya melihat.

Karena—

itu satu-satunya yang bisa ia lakukan sekarang.

Melihat.

Dan itu—

yang membuat semuanya semakin parah.

“Kami hanya muncul…”

lanjut suara itu.

“…untuk yang sadar.”

Kinasih menelan ludah.

“Jadi yang lain… aman?”

Sunyi.

Sejenak.

Lalu—

suara itu tertawa kecil.

“Tidak…”

“…mereka cuma belum tahu.”

Kinasih membeku.

Karena—

ia mengerti.

Yang tidak melihat—

bukan berarti selamat.

Mereka hanya…

belum sadar.

Dan saat mereka sadar—

sudah terlambat.

Di luar—

seorang wanita berjalan sambil melihat ponselnya.

Langkahnya cepat.

Ia tidak memperhatikan jalan.

Tidak memperhatikan sekitarnya.

Dan itu—

yang membuatnya aman.

Untuk sementara.

Ia berhenti di depan rumah Kinasih.

Mengetik.

Tidak melihat.

Tidak sadar.

Dan—

melewati lubang kecil di trotoar.

Tanpa menyentuh.

Tanpa melihat.

Tanpa membuka.

Namun—

saat ia mengangkat kepala—

sekejap saja—

ia melihat.

Pantulan dirinya di kaca jendela.

Dan—

di belakang pantulan itu—

ada sesuatu.

Tipis.

Hampir tidak terlihat.

Namun—

cukup.

Ia mengerutkan kening.

“Hmm?”

Ia mendekat.

Sedikit.

Menyipitkan mata.

Dan—

itu cukup.

Karena—

ia melihat lebih jelas.

Lubang kecil.

Di dalam pantulan.

Bukan di dunia nyata.

Namun—

di dalam refleksi.

Ia mencondongkan wajahnya.

Lebih dekat.

Dan—

di saat itu—

sesuatu bergerak.

Cepat.

Masuk.

Melalui matanya.

Wanita itu terdiam.

Beberapa detik.

Lalu—

ia tersenyum.

Tipis.

Dan berjalan lagi.

Seperti tidak terjadi apa-apa.

Namun—

sesuatu sudah ikut.

Kinasih berdiri.

Pelan.

Tubuhnya terasa ringan.

Terlalu ringan.

Seperti—

tidak sepenuhnya ada.

Ia berjalan ke jendela.

Menatap luar.

Dan—

ia melihatnya.

Lebih jelas sekarang.

Lebih banyak.

Di jalan.

Di dinding.

Di udara.

Titik-titik kecil.

Lubang-lubang kecil.

Seperti jamur.

Seperti luka.

Namun—

hidup.

“Semakin luas…”

bisik suara itu.

“…karena kamu tidak berhenti melihat.”

Kinasih mengangguk pelan.

Bukan setuju.

Namun—

mengerti.

Setiap kali ia sadar—

setiap kali ia memperhatikan—

ia membuka lebih banyak.

Tanpa sengaja.

Tanpa pilihan.

“Kalau aku tutup mata…”

bisiknya.

“Sudah coba…”

jawab suara itu.

“…tidak ada bedanya.”

Kinasih menghela napas.

Karena—

itu benar.

Ia tidak bisa berhenti melihat.

Karena—

bahkan tanpa mata—

ia masih sadar.

Masih merasakan.

Masih tahu.

Dan itu—

cukup.

Di dalam rumah—

sesuatu mulai berubah lagi.

Namun—

tidak seperti sebelumnya.

Tidak ada dinding yang berdenyut.

Tidak ada suara keras.

Tidak ada makhluk besar.

Hanya—

pergeseran kecil.

Kursi sedikit bergeser.

Tanpa suara.

Bayangan sedikit berubah arah.

Tanpa sebab.

Dan—

jam di dinding—

berhenti.

Pukul 08.01.

Detiknya tidak bergerak.

Kinasih menoleh.

Menatap jam itu.

Dan—

ia merasakan sesuatu.

Bukan takut.

Bukan panik.

Namun—

pengenalan.

“Waktu…”

bisiknya.

Suara itu langsung menjawab.

“Kami tidak butuh itu.”

Sekejap—

ia melihat.

Bukan dengan mata.

Namun—

dengan sesuatu yang lain.

Aliran.

Pergerakan.

Semua lubang itu—

tidak diam.

Mereka terhubung.

Seperti jaringan.

Seperti sistem.

Yang tidak peduli waktu.

Tidak peduli urutan.

Tidak peduli sebab-akibat.

Mereka hanya…

ada.

Dan terus berkembang.

“Kamu juga…”

bisik suara itu.

“…sudah keluar dari waktu.”

Kinasih menyentuh dadanya.

Denyutnya…

tidak teratur.

Kadang cepat.

Kadang lambat.

Kadang—

tidak ada.

Lalu kembali lagi.

Seperti—

tidak lagi mengikuti aturan.

“Aku masih hidup…”

bisiknya.

Sunyi.

Lalu—

jawaban itu datang.

“…itu tergantung definisi.”

Kinasih tersenyum kecil.

Pahit.

Karena—

ia tidak bisa membantah.

Pintu depan—

berbunyi.

KREK…

Pelan.

Terbuka.

Kinasih menoleh.

Tidak kaget.

Tidak panik.

Karena—

ia sudah tahu.

Seseorang masuk.

Langkah kaki terdengar.

Pelan.

Ragu.

“Kinasih?”

Suara itu—

manusia.

Nyata.

Hidup.

Seorang tetangga.

Ia masuk.

Melihat sekeliling.

“Pintu kamu kebuka…”

Kinasih tidak menjawab.

Ia hanya menatap.

Karena—

ia melihat sesuatu.

Di tubuh orang itu.

Titik kecil.

Di lehernya.

Lubang kecil.

Sangat kecil.

Namun—

bergerak.

“Jangan masuk…”

bisik Kinasih.

Namun—

terlambat.

Orang itu sudah melangkah lebih dalam.

Dan—

ia melihat.

Sekejap.

Lantai.

Lubang-lubang itu.

Dan itu—

cukup.

Ia berhenti.

Menatap.

Lebih lama.

Dan—

itu kesalahan.

Karena—

ia mulai sadar.

“Apa itu…”

Ia mendekat.

Berjongkok.

Menyentuh.

Dan—

dalam satu detik—

sesuatu terjadi.

Bukan terlihat.

Namun—

terasa.

Udara berubah.

Lebih padat.

Lebih dingin.

Orang itu membeku.

Tangannya berhenti.

Matanya terbuka.

Dan—

ia melihat lebih banyak.

Lebih jelas.

Lebih dalam.

“Ini… apa…”

Kinasih menutup mata.

Karena—

ia tahu.

Satu lagi.

Sudah ikut.

Orang itu berdiri.

Pelan.

Menatap Kinasih.

Namun—

matanya berbeda.

Lebih dalam.

Lebih kosong.

“Kamu juga lihat…”

bisiknya.

Kinasih tidak menjawab.

Karena—

tidak perlu.

Ia sudah tahu jawabannya.

Orang itu tersenyum.

Tipis.

Sama seperti yang lain.

Dan—

ia berbalik.

Keluar.

Tanpa berkata apa-apa lagi.

Pintu terbuka.

Lalu—

tertutup.

Dan—

sunyi kembali.

Namun—

tidak benar-benar sunyi.

Karena—

sekarang—

lebih banyak yang melihat.

Lebih banyak yang sadar.

Dan itu—

yang mereka butuhkan.

“Kita berkembang…”

bisik suara itu.

“…bukan dengan paksa.”

“…tapi dengan kesadaran.”

Kinasih membuka mata.

Pelan.

Menatap rumah itu.

Yang sekarang—

bukan hanya tempat.

Namun—

sumber.

Dan dirinya—

bukan lagi korban.

Namun—

pusat.

Dan dunia—

perlahan berubah.

Bukan karena serangan.

Bukan karena kekuatan.

Namun—

karena satu hal sederhana.

Melihat.

Dan siapa pun yang melihat—

akan dibuka.

Dan siapa pun yang dibuka—

tidak akan bisa menutup lagi.

Tok.

Satu ketukan.

Dari dalam dirinya.

Dan—

kali ini—

dibalas.

Dari luar.

Banyak.

Serentak.

Seperti jawaban.

Seperti panggilan.

Dan untuk pertama kalinya—

Kinasih tidak takut.

Karena—

ia sudah tahu.

Ini tidak akan berhenti.

Dan tidak ada yang bisa menghentikan.

Karena—

semuanya…

sudah mulai melihat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!