Gadis piatu yang menanggung semua hutang ayahnya yang penjudi harus berjuang sendiri di ibukota. Rela hidup miskin di perantauan agar semua hutangnya segera lunas, hingga ia bertemu dengan pria yang menawarkan hidup berkecukupan.
Apakah Hana akan menerimanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria Latin
Tanpa sadar kakinya melangkah memasuki area hotel. Ia menghampiri seorang satpam yang sedang berjaga.
"Pak, permisi. Di sini ada lowongan pekerjaan?"
Satpam itu menelisik penampilan Hana yang lusuh.
Raut wajahnya sedikit memperlihatkan rasa prihatin.
Hana merasa malu dengan penampilannya.
"Ada mbak, Cleaning Staff." Mata Hana berbinar mendengar ada lowongan kerja.
"Saya bisa melamar di sini, Pak?"
"Bisa. Mbak bawa surat lamarannya? Biar saya serahkan ke pihak manajemen."
"Ada, Pak." Hana segera mengambil surat lamaran di dalam tasnya dan menyerahkannya kepada satpam.
"Baik, nanti dihubungi untuk interview ya, mbak." Ucap satpam usai memeriksa berkas-berkas lamaran milik Hana.
"Iya, Pak. Kalau begitu, saya permisi. Terima kasih banyak, Pak."
"Ya, sama-sama, Mbak."
Hana mengayunkan langkahnya yang terasa ringan.
Dirinya sangat berharap untuk lolos saat interview nanti. Ia bersenandung kecil kembali ke kostnya yang lumayan jauh.
Di tengah perjalanan, kakinya terasa lemas, perutnya semakin perih. Hana memutuskan untuk membeli roti seharga 3ribu rupiah setelah memikirkan berulang kali untuk mengeluarkan uang.
Saat ia duduk untuk memakan rotinya, matanya menangkap ujung sepatu yang ia kenakan sudah koyak dimakan usia.
Ia menghembuskan napas berat, matanya memanas. Hatinya terasa pedih melihat hidupnya yang seperti ini.
Dulu, ketika ibunya masih hidup, perempuan itu selalu memberikan kehidupan yang layak untuknya.
Beberapa orang yang melewatinya menatap iba, ada pula yang menatapnya jijik.
Memang penampilan Hana seperti gelandangan, rambutnya yang panjang ia ikat sudah terlihat seperti gimbal.
Entah kapan terakhir kali ia keramas menggunakan shampoo dan menyisir rambutnya.
Ia hanya mampu membeli sabun mandi saja.
Hana menerima panggilan telepon dari pihak hotel yang ia datangi beberapa hari lalu. Ia diminta untuk melakukan interview besok pagi, Hana sangat bahagia lalu ia bersemangat menyiapkan pakaian untuk besok.
Dengan usahanya mencari uang koin yang terselip di antara barang-barangnya, Hana membeli sampo sachet untuk besok pagi agar penampilannya rapi dan wangi.
Ia pun tidur dengan raut wajah bahagia.
Hana terbangun pukul 4 pagi, ia tak bisa tidur kembali usai buang air kecil. Ia pun mandi keramas dengan sampo yang ia beli kemarin sore.
Cukup memakan waktu yang lama untuk mengurus rambutnya yang hampir gimbal. Ia sedikit puas ketika selesai menyisir rapi rambutnya.
Jam 7 pagi, Hana keluar dari kos dengan penampilan rapi, berbekal air minum. Dan hari ini ia izin tak bekerja.
Jarak kost menuju hotel memakan waktu kurang lebih satu jam setengah dengan berjalan kaki. Waktu interview adalah jam 10 pagi.
Hana tersenyum bersemangat menjalani hari ini, dirinya berharap interviewnya kali ini berhasil.
Tak terasa, Hana sudah keluar dari ruangan interview dengan pelamar kurang lebih 20 orang dengan berbagai posisi yang mereka tuju.
Mereka akan dihubungi dalam waktu 3hari untuk pemberitahuan hasil interview hari ini.
Tepat 3hari, Hana menunggu kabar dari pihak hotel. Sore itu ia masih bekerja di perusahaan B.
"Hana, dipanggil Pak Budi."
"Baik, saya segera ke sana." Hana segera membereskan pekerjaannya lalu menuju ruangan Pak Budi yang menjabat sebagai manager yang berada di lantai dua.
Ia masuk ke dalam lift yang di dalamnya ada dua orang pria mengenakan setelan jas rapi, seperti para petinggi.
Hana mengangguk sopan sebelum masuk, kedua pria tersebut membalas dengan anggukan.
Hana memencet tombol lantai yang dituju, ia memilih berdiri di belakang kedua pria tersebut.
Pintu lift terbuka, Hana segera keluar dari lift dan menuju ruangan Pak Budi.
"Hana, benar?"
"Iya, Saya Pak."
"Ambil ini, dan antarkan ke ruangan Tuan Luca." Pak Budi meletakkan sebuah kotak besar ke atas meja.
Hana mengangguk mantap.
"Baik, Pak." Hana segera membawa kotak tersebut ke luar ruangan dan menuju lift.
Namun, langkahnya terhenti lalu kembali ke ruangan Pak Budi.
"Maaf, Pak. Ruangan Tuan Luca di mana?"
"Oh, Maaf saya lupa. Ada di lantai 20."
"Baik, terima kasih."
Hana bergegas menuju lantai 20. Kotak tersebut sedikit berat membuat Hana harus menaruh terlebih dahulu ketika di dalam lift.
Denting lift berbunyi, pintu terbuka. Hana segera keluar membawa kotak tersebut menuju ruangan Tuan Luca.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!" Suara dingin dan tegas membuat Hana ciut. Ia menarik napas dan menghembuskannya perlahan.
Hana masuk ke ruangan yang sangat dingin.
Di balik meja kerja yang terdapat kaca akrilik bertuliskan CEO dan sebuah nama 'Luca Romano' beserta deretan gelar pendidikannya, di sana seorang pria duduk, salah satu pria yang tadi ia lihat di dalam lift menuju ruangan Pak Budi.
"Permisi, Tuan. Saya diminta membawa barang ini oleh Pak Budi."
"Letakkan di sana." Pria itu menunjuk meja yang dikelilingi sofa besar berwarna hitam.
Hana meletakkan kotak tersebut di atas meja. Ia pamit undur diri. Namun suara tegas menghentikan langkahnya.
"Kau, buatkan kopi hitam. Jangan terlalu manis." Hana tertegun.
"Sekretaris saya sedang keluar." Seolah mengerti dengan diamnya Hana.
Gadis itu pun segera mengangguk dan keluar.
Tak berapa lama, ia kembali membawa kopi yang diminta.
Hana perlahan meletakkan di atas meja kerja Tuan Luca.
Wangi maskulin menyebar ketika ia berada di sisi pria tersebut.
Wajah khas pria latin yang ditunjang dengan rahang tegas.
Kulitnya yang eksotis dan bahu lebar serta lengan berotot yang tercetak jelas di balik kemeja saat melipat tangan membuatnya terlihat sexy. Jantung Hana terasa berdebar karena grogi.
"Saya permisi, Tuan."
"Tunggu." Hana menghentikan langkahnya, ia berbalik dan menundukkan kepalanya.
"Ya, Tuan?"
"Aku ingin mencicipi dulu kopinya."
Pria itu menyesap kopi dan menelannya sedikit. Sudut bibirnya sedikit terangkat, kemudian ia meletakkan kembali cangkir kopi ke atas meja.
Pria itu melipat kedua tangannya dan bersandar di sandaran kursi, kedua manik hitamnya menatap Hana dengan tajam.
"Pergi." Hana mengangguk sopan lalu bergegas keluar dari ruangan CEO. Ia menutup pintu dengan pelan.
"Haaahhh... Aku bisa mati jantungan kalau lama-lama di dalam." Hana memegang dadanya ketika berada di depan ruangan CEO.
Ia segera turun ke lantai bawah untuk menyelesaikan pekerjaannya yang lain.
"Cari tahu karyawan yang baru saja keluar dari ruanganku." Luca meletakkan kembali gagang telepon.
Satu jam kemudian, seorang pria lebih muda masuk membawa sebuah map di tangannya.
"Ini informasi yang anda minta, Tuan." Ruby meletakkan map tersebut di atas meja. Luca segera membuka map tersebut dan membaca semua isi berkas.
"Berikan dia hadiah kecil." Ruby bingung terhadap sikap tuannya kali ini. Mengapa tertarik dengan perempuan lusuh dan dekil seperti Hana?
"Baik, Tuan." Ruby undur diri keluar ruangan. Ia mencari keberadaan Hana yang bekerja sebagai cleaning service selama kurang lebih 2,5 tahun di perusahaan ini.
"Menyedihkan sekali hidupmu, gadis kecil." Bibir sexy itu menyeringai kecil ketika selesai membaca semua informasi tentang Hana. Baik pekerjaan, tempat tinggal, hubungan keluarga, masa kecil, dll.
Hana melangkahkan kakinya dengan lesu, hingga ia pulang bekerja pun tak ada panggilan dari pihak hotel. Ia bingung ke mana lagi mencari uang tambahan untuk melunasi hutang ayahnya.
Suara perut keroncongan membuatnya tertegun, ia bahkan belum makan seharian ini.
Hana memegang perut dengan menatap sekelilingnya yang banyak menjual berbagai macam makanan. Ia menelan ludah dengan berat.
Tangannya segera membuka dompet yang berisi uang 30ribu rupiah. Ia mendesah pelan dan menutup kembali dompetnya.
Masih satu minggu lagi ia harus berhemat, ia meneruskan langkahnya menuju kos. Biarlah dirinya kembali puasa malam ini.
"Kak, bisa bantu aku?"
Anak laki-laki berusia sekitar 7tahunan menghampirinya, pakaian bocah tersebut lusuh seperti dirinya.
"Ya, apa yang bisa Kakak bantu, dik?" Hana berjongkok menjajarkan dirinya dengan bocah itu.
"Tolong beli tas ini, Kak. Aku butuh uang untuk beli obat Ibuku." Bocah tersebut menyerahkan tas perempuan yang bentuk dan warnanya sudah tak layak pakai. Hana diam mengamati barang tersebut.
"Berapa?"
"50ribu, Kak." Hana tertegun, barang rusak tersebut mahal untuk dirinya.
"Maaf, dik. Kakak tidak punya uang 50ribu."
"Tolong, Kak. Aku sudah menawarkan kepada orang lain, mereka tidak ada yang mau membelinya. Ibuku perlu obat malam ini."
Hana terenyuh mendengar seorang ibu yang perlu obat. Ia berpikir sejenak dengan uang 30ribu yang tersisa untuk dirinya bertahan satu minggu lagi.
"Dik, Kakak hanya punya 30ribu, kalau mau ambillah. Tak perlu menjual tas itu."
Bocah itu mendadak senang mendengarnya.
"Benar, Kak? 30ribu juga cukup untuk membeli obat Ibuku walaupun hanya separuhnya." Hana segera mengambil semua uangnya dari dompet dan menyerahkannya kepada bocah tersebut.
"Terima kasih, Kak. Semoga kebaikan Kakak dibalas oleh Tuhan." Bocah tersebut berlalu dengan riang meninggalkan Hana yang terdiam.
Dirinya menghela napas berat. Benarkah keputusannya ini?
Ia sudah tak peduli jika besok akan kelaparan, mati pun ia siap daripada terus merasakan lelah akibat bertahan hidup.
Saat hendak melangkah, kakinya tak sengaja menendang tas yang dibawa oleh bocah tadi.
Hana mencari keberadaan bocah tersebut namun sudah tak terlihat.
Ia pun membawa tas tersebut bersamanya, mau diapakan biar ia pikirkan nanti saja. Hana ingin cepat sampai ke kos dan beristirahat.