Di bawah langit Jakarta yang lembap dan aroma melati yang pekat, Nikolai Brine tidak pernah menyangka akan menemukan kelemahannya. Sang predator berdarah Dubai-Rusia ini datang ke Indonesia untuk menghancurkan musuh, namun ia justru terpaku pada Clara Marine.
Pertemuan tak terduga itu memicu obsesi liar yang membawa Clara dari hangatnya tanah tropis menuju dinginnya benteng baja di Moskow. Nikolai tidak hanya menculik seorang wanita; ia menculik takdirnya sendiri. Di antara dinding es Rusia, sang mafia yang kejam harus belajar bahwa satu-satunya cara memiliki Clara adalah dengan bertekuk lutut pada kelembutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jarak yang menyiksa
Perjalanan kembali dari Jakarta ke Moskow seharusnya menjadi awal dari ketenangan yang sempurna. Namun, dunia hitam tidak pernah benar-benar membiarkan penguasanya beristirahat. Sebuah krisis mendadak pecah di pelabuhan Dubai—jalur nadi utama bisnis Nikolai yang sempat dibekukan, kini terancam disita oleh otoritas internasional akibat sisa-sisa manipulasi Silas Marine di masa lalu.
Nikolai harus pergi. Secara pribadi.
Ini adalah pertama kalinya sejak mereka mengucapkan sumpah di kapel tua itu, Nikolai Brine harus berada di zona waktu yang berbeda dengan istrinya. Dan bagi seorang pria dengan tingkat obsesi seperti Nikolai, perpisahan ini terasa lebih menyakitkan daripada luka peluru mana pun.
Barikade Tak Terlihat
Tiga hari sebelum keberangkatannya, atmosfer di dalam mansion berubah menjadi sangat tegang. Nikolai tidak lagi hanya sekadar posesif; ia menjadi paranoid. Ia menambah jumlah pengawal di ring satu menjadi dua kali lipat dan mengganti seluruh kode akses keamanan rumah.
"Hanya tiga hari, Nikolai. Kau bertingkah seolah-olah kau akan pergi ke medan perang selama sepuluh tahun," ucap Clara saat melihat Nikolai sedang memberikan instruksi terakhir yang sangat detail kepada Sebastian Reef di ruang tengah.
Nikolai berpaling, matanya yang biru tajam tampak gelap karena gelisah. Ia mendekati Clara, menangkup wajahnya dengan kedua tangan yang sedikit gemetar. "Tiga hari adalah waktu yang cukup bagi musuh-musuhku untuk merayap keluar dari lubang mereka, Clara. Tiga hari tanpa melihatmu bernapas di sampingku adalah siksaan."
Nikolai mencium dahi istrinya dengan penekanan yang lama. "Aku sudah menempatkan tim penembak jitu di perbukitan belakang. Jangan keluar ke taman setelah matahari terbenam. Jangan bicara dengan pelayan baru kecuali ada Sebastian. Dan yang paling penting... jangan pernah mematikan ponselmu."
Perpisahan yang Berat
Saat jet pribadi Nikolai menunggu di landasan pacu pribadi, momen perpisahan itu menjadi pemandangan yang mengharukan sekaligus mengerikan bagi para anak buahnya. Nikolai memeluk Clara di depan pintu pesawat, tidak memedulikan pilot yang sudah memberi kode untuk segera lepas landas.
Ia membenamkan wajahnya di rambut Clara, menghirup aroma istrinya seolah ingin menyimpannya di dalam paru-parunya sebagai cadangan oksigen selama di Dubai.
"Lepaskan, Nikolai. Kau akan terlambat," bisik Clara lembut, mencoba memberikan senyum penenang.
"Aku membencinya," gumam Nikolai parau. "Aku membenci setiap kilometer yang akan memisahkan kita. Jika terjadi sesuatu, tekan tombol darurat di jam tanganmu. Aku akan menerbangkan pesawat ini kembali ke sini meski harus melanggar hukum udara internasional."
Nikolai mencium bibir Clara dengan rasa lapar dan kepemilikan yang mendalam, seolah ingin meninggalkan jejak yang tak bisa dihapus oleh siapa pun. Saat ia akhirnya melangkah masuk ke pesawat, ia terus menatap Clara dari jendela kecil sampai sosok istrinya menghilang ditelan kabut pagi Moskow.
Sunyi yang Menghantui
Di Dubai, Nikolai bergerak seperti badai yang tak sabar. Ia menyelesaikan pertemuan-pertemuan bisnis yang seharusnya memakan waktu berjam-jam hanya dalam hitungan menit. Ia tidak peduli pada diplomasi; ia hanya ingin segalanya selesai agar ia bisa pulang.
Setiap satu jam sekali, ponsel Clara akan bergetar.
"Sedang apa kau?"
"Siapa yang ada di ruangan bersamamu?"
"Aku merindukanmu hingga rasanya ingin membakar kota ini."
Nikolai bahkan meminta Sebastian untuk mengaktifkan kamera pengawas di ruang makan agar ia bisa melihat Clara makan malam melalui tabletnya di Dubai. Obsesinya tidak mengenal batas geografis. Bagi Nikolai, Clara adalah gravitasi; tanpanya, ia merasa melayang tanpa arah di ruang hampa.
Sementara itu, di Moskow, Clara mulai merasakan betapa besar arti kehadiran Nikolai. Meski terkadang perlindungan pria itu terasa mencekik, namun kesunyian di mansion besar itu membuatnya menyadari satu hal: ia juga telah menjadi tergantung pada kehangatan dan rasa aman yang hanya bisa diberikan oleh suaminya yang terobsesi itu.
Namun, di tengah ketidakhadiran Nikolai, sebuah surat misterius tiba di meja rias Clara. Sebuah surat dengan segel lilin merah yang tidak dikenal oleh sistem keamanan Sebastian.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...