NovelToon NovelToon
Dewa Pedang Malas

Dewa Pedang Malas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hadiah Tak Terduga, Papan Pengumuman Absurd, dan Kunci Menuju Masa Lalu

​Dunia luar mungkin dipenuhi oleh kompetisi berdarah yang melelahkan, tetapi di depan Paviliun No. 01 Sayap Barat, sebuah kedamaian absolut yang baru telah tercipta. Hal itu terjadi berkat sebuah papan kayu bekas berukuran dua jengkal yang kini tergantung rapi di gerbang Hutan Bambu Ungu.

​Di atas papan tersebut, tertulis goresan kuas yang rapi dan anggun hasil karya tangan Xiao Mei:

​" MENERIMA SEGALA JENIS KLAIM KEMENANGAN GRATIS DEMI KETENANGAN TIDUR SIANG."

​Reaksi para murid Akademi Kekaisaran saat pertama kali melihat papan tersebut sangat beragam. Pada awalnya, mereka mengira itu adalah bentuk penghinaan atau sarkasme tingkat tinggi dari Ji Huang. Namun, setelah tiga hari berlalu dan beberapa murid mencoba berteriak menantangnya di gerbang hanya untuk dibalas oleh suara Xiao Mei yang mengantarkan selembar kertas bertuliskan 'Selamat, Anda Menang Telak' tanpa Ji Huang perlu keluar dari selimut, atmosfer di sekitar paviliun berubah secara drastis.

​Dalam psikologi kultivator yang angkuh, kemenangan yang diberikan secara cuma-cuma tanpa adanya pertumpahan darah atau keringat terasa seperti sebuah penghinaan terselubung. Menantang Ji Huang kini dianggap sebagai tindakan paling tidak keren dan sia-sia di seluruh Sayap Barat. Akibat efek psikologis terbalik ini, jalur setapak Hutan Bambu Ungu mendadak menjadi wilayah paling sepi dan steril dari gangguan. Strategi kemalasan Ji Huang sekali lagi menang mutlak tanpa perlu mengeluarkan satu persen pun energi Qi tubuhnya.

​Sore hari tiba dengan embusan angin pegunungan yang sejuk. Ji Huang sedang menikmati posisi miring yang sempurna di atas kursi rotannya ketika aroma wewangian obat yang sangat lembut menembus indra penciumannya.

​Sret.

​Pintu gerbang bambu digeser perlahan. Mu Ning’er melangkah masuk dengan langkah yang jauh lebih lambat dan ragu-ragu dibandingkan biasanya. Wajah cantiknya masih menyisakan sedikit semburat merah jika teringat kesalahpahaman raksasa dengan Zhou Yan kemarin lusa, membuat reputasinya kini terkunci dalam status "memiliki urusan pribadi" dengan sang murid paling malas.

​"Ji Huang," panggil Ning’er dengan nada suara yang sengaja diperhalus, berusaha menyembunyikan rasa gengsinya.

​Ji Huang perlahan menurunkan selimut bebeknya sebatas hidung, menatap sang Instruktur Muda dengan pandangan lempeng. "Instruktur Mu, jika kamu datang untuk mendiskusikan reposisi meridian atau membawakan gulungan kertas tebal lagi, aku sarankan kamu meletakkannya di bawah kaki kursi ini saja. Kursi ini agak goyang sejak satu jam lalu."

​"Aku tidak membawa buku pelajaran hari ini!" Ning’er mendengus pelan, lalu meletakkan sebuah kotak kayu cendana kecil dan sebotol guci porselen hijau di atas meja batu. "Ini... anggap saja sebagai kompensasi atas keributan yang dipicu oleh kata-kataku kemarin. Dan juga... sebagai uang tutup mulut agar kamu tidak membahas insiden malam itu atau kata-kata kemarin di depan murid lain."

​Ji Huang melirik barang-barang tersebut dengan malas. Namun, begitu mencium aroma yang menguar dari kotak cendana, sepasang mata sayunya sedikit berbinar.

​"Dupa Penenang Jiwa sembilan warna?" gumam Ji Huang, langsung mengenali komoditas langka tersebut. "Dan Minyak Gosok Spiritual Es dari puncak kutub utara? Pilihan hadiah yang sangat fungsional, Nona. Benda ini bisa meningkatkan kualitas tidur dalamku hingga dua kali lipat dalam kondisi cuaca panas."

​Mu Ning’er menghela napas lega melihat Ji Huang menerima suapannya tanpa banyak bertanya. Dia mengambil tempat duduk di kursi batu seberang, mencoba mengembalikan wibawa instruktur mudanya. "Aku memberikan itu karena tahu kamu sangat menghargai kasurmu. Tapi, Ji Huang, meskipun kamu bisa menghindari tantangan harian dengan papan kayu konyol di depan gerbang itu, ada satu acara wajib akademi yang tidak bisa kamu hindari dengan berpura-pura menjadi pengecut."

​Ji Huang yang sudah mulai menyalakan dupa penenang jiwa menggunakan sisa kehangatan cangkir tehnya, menyahut malas, "Acara apa yang berani memaksa seorang pemalas untuk menggerakkan kakinya?"

​"Turnamen Berburu Hutan Kuno," jawab Ning’er serius. "Itu adalah ujian wajib kuartal pertama bagi seluruh murid baru, termasuk pemilik jalur VIP seperti dirimu. Siapa pun yang tidak mengumpulkan minimal sepuluh inti binatang spiritual dalam waktu tiga hari akan langsung dikeluarkan dari akademi dan lencana VIP mereka akan dicabut secara permanen. Aku tahu kamu tidak peduli dengan reputasi, tapi jika kamu dikeluarkan, kamu akan kehilangan hak sewa Paviliun No. 01 dan ranjang Giok Es-mu ini akan disita kembali oleh pihak Aula Dalam."

​Mendengar ancaman kehilangan kasur premiumnya, Ji Huang hanya menguap. "Dikeluarkan dari sini berarti aku bisa pulang ke Kota Amerta dan tidur di kamar lamaku yang tenang. Itu bukan ancaman yang menakutkan, Instruktur."

​Mu Ning’er tampaknya sudah memprediksi jawaban tersebut. Dia tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang jarang diperlihatkannya. "Aku tahu kamu berpikir begitu. Tapi, apakah kamu tahu apa hadiah utama yang disiapkan oleh Dekan Agung untuk murid baru terbaik dalam turnamen kali ini?"

​Ji Huang tidak menjawab, kembali memejamkan matanya, menikmati kepulan asap dupa sembilan warna yang mulai menenangkan saraf-saraf fanya.

​"Hadiah utamanya adalah sebuah peninggalan kuno yang ditemukan di situs reruntuhan perbatasan barat dua belas tahun lalu," lanjut Ning’er, matanya menatap tajam ke arah ekspresi Ji Huang. "Sebuah Cincin Giok berbentuk Bulan Sabit. Benda itu disita oleh pihak tetua kekaisaran dari seorang wanita buronan misterius yang melarikan diri ke klan cabang Huang sebelum dia menghilang tanpa jejak. Karena formasi segel pada cincin itu terlalu rumit dan tidak bisa dibuka oleh siapa pun di Ibu Kota, mereka memutuskan untuk menjadikannya sebagai trofi penghargaan di turnamen kali ini."

​Deg.

​Detik itu juga, kepulan asap dupa sembilan warna di sekitar kursi rotan mendadak membeku di udara.

​Di dalam lubuk jiwa wadah daging Ji Huang, sisa-sisa memori emosional dan residu garis darah dari tubuh fana yang asli mendadak bergejolak hebat, melepaskan gelombang rasa rindu, kepedihan, dan keterikatan karma yang teramat pekat. Cincin Giok Bulan Sabit. Itu adalah satu-satunya benda kenangan yang selalu digambarkan oleh Ji Tian di dalam benak Ji Huang asli sebagai milik dari ibu kandungnya yang hilang. Benda yang menjadi alasan mengapa ibunya dikejar oleh otoritas raksasa dari Ibu Kota Kekaisaran.

​Ji Huang, yang sejak awal kedatangannya di akademi selalu memasang wajah lempeng tanpa minat, perlahan membuka sepasang matanya.

​Untuk pertama kalinya, Mu Ning’er melihat binar sayu di mata pemuda itu lenyap, digantikan oleh kilatan cahaya sedingin es kutub dan setajam mata pedang dewa yang mampu membelah cakrawala. Tekanan tak kasat mata yang teramat masif mendadak membuat seluruh Hutan Bambu Ungu berhenti berdesir, menciptakan keheningan yang mencekam selama beberapa detik sebelum akhirnya melandai kembali.

​"Cincin Giok Bulan Sabit..." Ji Huang mengulang nama benda itu dengan nada suara yang lambat, namun memiliki bobot yang terasa sangat berat di telinga Ning’er.

​Karma dari tubuh asli ini telah memanggilnya secara absolut. Ji Huang tahu, selama cincin tersebut masih berada di tangan pihak luar, belenggu sebab-akibat dari takdir masa lalu ibunya akan terus-menerus memicu badai konflik yang berpotensi membangunkan tidur siangnya di masa depan. Cara terbaik untuk mengamankan ketenangannya adalah dengan mengambil kembali apa yang menjadi hak milik ibunya secepat mungkin.

​"Ji Huang? Kamu... tidak apa-apa?" Mu Ning’er bertanya dengan nada sedikit cemas, merasa atmosfer di sekitar pemuda itu mendadak terasa asing dan teramat agung selama sepersekian detik barusan.

​Ji Huang kembali menarik selimut bebeknya, mengembalikan ekspresi wajah fanya menjadi lempeng dan mengantuk seperti semula. "Nona, kapan turnamen hutan kuno itu akan dimulai?"

​Mu Ning’er berkedip, terkejut dengan perubahan sikapnya yang mendadak. "Lima hari lagi dari sekarang. Jadi... kamu memutuskan untuk ikut bertarung?"

​"Aku tidak suka bertarung," jawab Ji Huang polos sembari membetulkan posisi tidurnya menjadi miring kembali. "Bertarung itu menguras energi. Aku hanya akan masuk ke dalam hutan itu, berjalan santai menuju tempat cincin itu berada, mengambilnya, lalu kembali ke kasur ini untuk melanjutkan tidur siangku yang tertunda. Prosesnya harus dibuat seefisien mungkin."

​Mu Ning’er berdiri dari kursinya, menyunggingkan senyum kemenangan, mengira bahwa umpan hadiah dari akademi akhirnya berhasil membuat murid paling malas ini "tobat" dan mulai menunjukkan jiwa kompetitifnya sebagai seorang pejuang. "Bagus! Kalau begitu persiapkan dirimu. Jangan memalukan faksi Sayap Barat!"

​Gadis gila kerja itu kemudian melangkah pergi meninggalkan paviliun dengan perasaan puas yang mendalam, tidak menyadari bahwa motivasi Ji Huang sama sekali bukan untuk membanggakan faksi atau mengejar prestasi akademi.

​Tepat setelah gerbang bambu tertutup, Xiao Mei berjalan mendekati kursi rotan dengan raut wajah yang ikut serius. Dia telah mendengar seluruh percakapan tentang cincin sang nyonya besar dari balik dinding dapur. "Tuan Muda... apakah kita perlu mempersiapkan perlengkapan khusus untuk perjalanan ke hutan kuno?"

​Ji Huang menghela napas panjang, mengusap rajutan bebek pada selimutnya dengan pandangan malas yang sarat akan kepasrahan pada takdir fana.

​"Xiao Mei... sepertinya aku terpaksa harus sedikit menggerakkan tulang faku di hutan itu nanti. Menghancurkan beberapa binatang spiritual dan merebut paksa cincin ibu dari tangan para jenius kota besar itu terdengar seperti pekerjaan yang sangat melelahkan dan membuang-buang kalori..."

​Ji Huang memejamkan matanya kembali, membiarkan aroma dupa penenang jiwa sembilan warna menyelimuti kesadarannya. "...tapi tidak apa-apa. Setidaknya, setelah cincin itu kembali ke tanganku, tidak akan ada lagi alasan bagi belenggu karma untuk membangunkan ritual tidur siangku di masa depan. Siapkan bekal camilan yang banyak untuk lima hari lagi, Xiao Mei. Perjalanan ini harus diselesaikan dalam waktu sesingkat mungkin."

1
Shen shandian luo
semua di labeli fana..tusuk gigi fana segala
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!