NovelToon NovelToon
Hng Sih Kian Li

Hng Sih Kian Li

Status: tamat
Genre:Time Travel / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:62
Nilai: 5
Nama Author: The Bwee Lan

Dia pangeran yang selamat dari eksekusi bertemu arwah artis figuran yang mati di rel kereta. Wajah mereka sama. Arwahnya minta tolong pada Pangeran. Pangeran itu mau—karena dia ingin hidup abadi. Tapi kemudian dia bertemu gadis yang tak ingin hidup sama sekali. Namun Sang Takdir membiarkan Pangeran membentur fakta: gadis ini belahan jiwamu.

Hng Sih Kian Li — bertemu dirimu di masa yang jauh.


oleh The Bwee Lan (Anggrek cantik dari Marga The)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Bwee Lan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MALAM YANG TAK TERDUGA

Pagi itu, Eng Sok bangun lebih lambat dari biasanya.

Matahari baru muncul malu-malu. Ia duduk di kasur, mengucek mata, mencoba mengingat kemarin.

Ah Me di dapur — memasak bubur ayam. Wangi jahe dan bawang putih menyebar ke ruang tengah.

"Koh Sioh Bu, makan!"

Eng Sok beranjak. Ah Ti sudah duduk di meja — buku catatan terbuka, pensil di telinga. UTS hari ini, wajahnya tegang, tapi tidak takut.

"Ko, doain," kata Ah Ti.

Eng sok mengangguk. 

Mengajak Ah Ti dan Ah Me ke altar. Ia membakar 5 dupa. Ah Ti dan Ah Me 3. Begitu kalo ada even. Kepala keluarga 5 dupa, anggota 3 dupa. Hormat 3 kali ke altar leluhur.

---

Setelah sarapan, Ah Me menyodorkan teh hangat.

"Ko, kapan pindah?"

Eng Sok menghela napas. "Pelan-pelan. Tanganku masih..."

Ia mengangkat lengan kanan — perban baru, lebih tipis dari sebelumnya, jahitan sudah dicabut kemarin.

Ah Me mengangguk. "Boleh gak kalo mesin jahit dipindah dulu?"

Eng Sok mengangguk. "Boleh."

Ia mengambil HP — mau transfer uang ke Ah Me. Tapi Ah Me menolak.

"Ah Me simpan uang kebanyakan takut lupa." Ia tersenyum tipis. "Nanti kalo habis, Ah Me bilang."

Eng Sok tidak memaksa.

---

Ia mengantar Ah Ti ke sekolah.

Di jalan, Ah Ti diam. Tidak banyak bicara. Sesekali menggenggam tangan Eng Sok — lalu melepas.

"Grogi?" tanya Eng Sok.

"Enggak," jawab Ah Ti. Tapi jari-jarinya dingin.

---

Ah Me di rumah — membereskan mesin jahit.

Beberapa hari ini hujan. Sempat banjir masuk rumah. Air setinggi mata kaki. Eng Sok yang bangun tengah malam — mengevakuasi mesin jahit ke atas meja, menimba air dengan ember.

Ah Me tidak lupa. Matanya panas waktu itu. Tapi ia tidak bilang apa-apa.

Sekarang, rumah baru sudah siap.

Rumah di perumahan Seng Hong — dua lantai plus rooftop. Kata agen properti, rumah ini sudah 7 tahun. Renovasi kecil. Tapi tidak ada rembesan. Atap kuat. Rooftop — bekas taman kecil, tapi waterproofing bagus.

Ah Me berdiri di depan rumah baru. Memegang kunci.

Rumahku.

Ia masuk.

---

Ah Me memindahkan mesin jahit — satu per satu, diangkat oleh dua orang kenalannya. Mesin obras. Mesin bordir. Mesin jahit lawas. Mesin jahit baru.

Ditempatkan di lantai dua — ruangan yang cukup luas untuk jadi kamar jahit. Jendela besar, cahaya matahari masuk.

Ah Me berdiri di tengah ruangan. Matanya berkeliling.

Enak. Luas.

Diam-diam, ia memindahkan sedikit baju Eng Sok dan Ah Ti. Rak plastik — tidak berat. Digendong satu per satu ke kamar lantai dua.

Ia juga membeli kasur baru — hasil dari uang bordir. Tidak mewah, tapi enak. Empuk. Wangi.

Empat kamar. Ah Ti bisa punya kamar sendiri.

Sementara di kontrakan lama — hanya dua kamar. Sempit. Dapur menyatu dengan ruang keluarga. Tempat cuci di belakang — sempit, lembab, kadang ada kecoa. Lantai 2 cuma kamar dan jemuran.

Ah Me menghela napas.

Berbeda.

---

Setelah memindahkan barang-barang utama, Ah Me menjemput Ah Ti dari sekolah.

Mereka naik taksi online — menuju rumah baru.

Jaraknya sama dengan sekolah. Cuma beda arah. Tidak lebih jauh. Tidak lebih dekat.

Sampai di depan gerbang perumahan, Ah Ti melongo.

"Ini... rumah kita?"

"Iya."

Ah Ti tidak menjawab. Ia turun dari mobil. Berdiri di halaman depan. Memandang pohon plum di pojok.

"Ah Me, itu Koh Liam?" Ah Ti menunjuk.

Seorang pria muda dengan kacamata tebal — sedang membuka pagar rumah di seberang. Koh Liam. Guru les matematika Ah Ti.

Ia melihat Ah Ti. Lalu ke Ah Me. Lalu ke rumah baru.

"Wah, pindah?" tanyanya.

Ah Ti mengangguk sambil menunjukkan rumahnya,”Nanti jam 2 les di sini!”

Koh Liam tersenyum — lebar. "Cuan! Sekarang tinggal sebelahan. Gak perlu jauh-jauh."

Ah Me tersenyum tipis. Ah Ti juga.

---

Sementara Ah Ti dan Ah Me menikmati rumah baru, Eng Sok menjalani hari yang berbeda.

Pagi itu, ia ke Rumah Sakit.

Dokter Chiang — Ahli Orthopedi yang menangani tangannya — memeriksa lengan kanan. Jahitan dilepas. Eng Sok diminta mengepal, membuka telapak, memutar pergelangan.

"Rontgen ulang," kata dokter. "Sembuh, tapi... kok cepat sekali ya?"

Eng Sok mengangkat bahu. 

"Minum antibiotik rutin. Tambah obat 9 Naga.", batinnya.

Awalnya beli botol kecil — isi 5 butir, sehari 3 kali. Takut bereaksi sama antibiotik. Gak taunya sinergi. Apalagi begitu yang 5 habis, dikasih merk Sam Hok Liong. Kayak... lebih cepat aja sembuh.

Eng Sok gak berani bilang kalo dia minum jamu. Soalnya pasien sebelum dia dimaki-maki dokter karena ketahuan minum jamu.

Dokter Chiang mengangguk pelan dan puas. Dia mengira obatnya saja sudah bikin pasien dia beres.

"Nanti sore Rontgen keluar. Saya WA hasilnya. Minggu depan kontrol lagi."

Eng Sok mengangguk.

---

Dari RS, ia langsung ke lokasi syuting.

Adegan konspirasi — Eng Sok sebagai pangeran jahat, Ah Chio sebagai putri yang terjebak.

Ah Chio bolak-balik ngulang. Ekspresinya kurang jahat. Matanya kurang tajam. Suaranya kurang dingin.

Eng Sok? Cepet banget. Satu take, dua take — selesai. Toian Hok sampai berdecak kagum.

Jam makan siang, Ah Chio mendekat.

"Ko, tipsnya gimana?"

Eng Sok mengunyah nasi. Menelan. Menatap Ah Chio — tidak lama, tidak terlalu singkat.

"Pokoknya..." Ia tersenyum — sabar, sedikit nakal. "...anggep lu mau ngebales dendam sama orang yang nyakitin lu!"

Ah Chio mengerjap. Tidak bertanya lebih lanjut.

---

Setelah makan siang, Ah Chio melihat foto-foto keluarga di HP.

Matanya menyipit. Ia mendengus.

Tidak ada yang bertanya. Tidak ada yang menjelaskan.

Tapi ketika syuting dilanjutkan — aktingnya bagus. Malah sangat mengerikan. Apalagi saat tertawa jahat bareng Eng Sok setelah Sang Putri dan Pangeran bertopeng membalas dendamnya dengan mengakhiri hidup Kaisar dan naik tahta.

Toian Hok tidak percaya. "Chemistry nya gila."

Syuting Mikrodrama 30 episode — selesai hari itu.

Eng Sok cek HP. Postingan potongan adegan — 12 menit, 1200 likes.

Ia tidak membaca komentar.

---

Jam tiga sore, Eng Sok dan Ah Chio ke set lain.

Syuting figuran — tidak banyak dialog, tapi tetap melelahkan.

Jam lima sore, mereka dijemput Tauke Hok — mobil hitam, agak tua, tapi bersih.

"Live, Siau Heng," kata Tauke Hok. "Produk Sam Hok Liong. Jangan lupa sebut merk."

Eng Sok mengangguk.

Live berlangsung tiga jam. Eng Sok mendemonstrasikan cara pasang sanggul — pelan, teliti, tidak terburu-buru.

Ah Chio di sampingnya — kadang bertanya, kadang hanya tersenyum.

Komentar membanjiri layar:

"Bisa buat tutorial wanita gak, Bang?"

"Ini mah bikinin konten buat calon suami"

"Sam Hok Liong jadi langka lagi nih"

Eng sok tidak menggubris.

---

Live selesai jam sembilan malam.

Eng Sok cek jadwal — HP. Rabu tidak ada syuting. Tapi ada sarasehan di Universitas.

"Mencintai Budaya Cia Agung" — jam 10 pagi.

Ia baru ingat. Kampus sudah menyiapkan Tng Sa.

"Besok mesti pake Tng Sa," gumamnya.

Rontgen sudah dikirim hasilnya. Katanya posisi otot sudah aman, perban bisa dilepas total. Tapi sisa luka harus tetap dijaga kebersihannya

Tauke Hok menawarkan makan malam. "Di sekitar sini ada yang enak, Siau Heng. Jalan Yap Ciang."

Eng Sok mengangguk dia tadi cuma makan roti sedikit ganjel perut sebelum live.

Mereka bertiga — Eng Sok, Ah Chio, Tauke Hok — makan malam di depot sederhana. Mie pangsit. Soda gembira. Tidak mewah. Tapi hangat.

---

Pukul setengah sepuluh malam — HP Tauke Hok berdering.

Wajahnya berubah.

"APA?!"

Ia berdiri. Tangannya gemetar.

"Tokonya... kebakaran. Konslet."

Ah Chio pucat. "Ah Pa —"

"Tenang. Tidak besar. Cuma ruang belakang." Tauke Hok sudah memanggil taksi. "Siau Heng, maaf. Chio anter Siau Heng pulang—"

Ah Chio mengangguk. Tidak banyak bicara. Eng Sok tadi dapat obat baru untuk mempercepat pemulihan otot. Efeknya agak ngantuk. Dia agak gak sadar apa yang terjadi. Taunya cuma dia naik mobil dianter Ah Chio ke rumah lamanya.

---

Di pagar, Ah Chio dapat pesan kalo rumah dia gak bisa ditinggali sementara.  Karena ruko dan rumah mereka satu atap. Area belakang terdampak. Listrik dipadamkan sementara. Kamar dia kebakaran. 

Dulu pernah gini dan Ah Chio sewa kamar hotel. Tapi di sini kondisi psikis dia gak stabil.

Dia cerita ke Eng Sok. Eng Sok yang ngantuk bilang, “Masuk dulu aja!”

Ah Chio parkir mobil. Eng Sok tutup pagar.

Dia lihat Ah Me di kamar lantai 1 ga ada. Naik lantai 2 Ah Ti ga ada. 

Bukannya cek HP, malah bilang ke Ah Chio,”Mereka di rumah baru. Tapi kontrakan ini udah aku bayar 3 bulan. Pindah pelan. Baru kecelakaan”.

Ah Chio mengangguk, “Gua mandi ya?”. Di tas Ah Chio ada baju ganti dan alat mandi. Aslinya buat syuting kalo baju memang sering bawa lebih.

“He’eh”, jawab Eng Sok. 

Mereka mandi di kamar mandi gantian.

Ah Chio minum obat dari dokter. Matanya berat dan dia ngantuk.

---

"Ko... aku ngantuk", kata Ah Chio ke Eng Sok.

Eng Sok mengangguk. “Tidur kasur Ah Ti situ lah. Anaknya di rumah baru. Paling besok baru pulang”. Katanya sambil mematikan ponsel.

Dia tidur di kasurnya sendiri. Matanya berat.

Dalam kondisi normal, pasti dia minta Ah Chio nginap di hotel atau kamar Ah Me. Tapi malam itu? Konslet. Konslet menumpuk yang bukannya diberikan istirahat malah dipaksakan kerja untuk kebutuhan hidup.

---

Mereka tidak bermaksud apa-apa. Tidak merencanakan apa-apa.

Cuma kelelahan, ngantuk, dan kena musibah.

Bahkan gak menutup pintu kamar. Udah lelah.

---

Pagi hari. Ah Me resah.

Eng Sok tidak pulang malam itu. HP tidak diangkat — disimpan di mode senyap.

Ah Ti masih UTS. Buku catatannya masih sebagian di rumah lama. Ah Me pikir yang penting bagian Matematika dan IPA untuk besok udah di sini. Sisanya besok dipindah karena Eng Sok agak longgar.

Ia antar Ah Ti ke sekolah — dia bahagia. Sejak remisi, dia pingin anter Ah Ti ke sekolah sesering mungkin. Kalo Eng Sok bisa antar dia ga mau ngerepotin Ah Me.

Lalu ia pulang. Ke rumah lama bawa bubur. Sial. Bubur beli 2 gratis 1. “Duh, 1 porsi buat siapa? Ah Ti minta nasi goreng tadi!”, keluhnya.

---

Di depan kontrakan, Ah Me melihat mobil — model lama, warna hitam, agak kusam.

Mobil siapa? Hatinya gak enak. “Ah, ini mobil laki paling teman laki”, pikirnya.

Ia mengernyit. Bukan mobil Eng Sok. Eng Sok tidak bisa pernah punya kendaraan. Motor dia aja dijual untuk SPP Ah Ti tahun lalu karena sepi.

Ah Me membuka pintu.

Sandal gunung — dua pasang. Yang satu punya Eng Sok. Yang satu warna hitam biru.

Ah Me berjalan ke kamar Eng Sok. Pintu terbuka.

Ia menjerit.

Eng Sok tertidur di kasurnya. Pakaian masih lengkap. Rambut acak-acakan — tapi tidak masalah.

Di kasur Ah Ti — seorang perempuan. Rambut panjang tergerai, pipi merah karena tertidur. Selimut tergulung di pinggang.

Ah Chio.

Ah Me memegang dada, “AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!”

Eng Sok bangun — menyapa lembut, "Ah Me?". Kayak gak ada yang salah 

Ah Chio ikut bangun — muka masih ngantuk, rambut acak-acakan.

"Pagi Ah Me -nya  Sioh Bu." Ah Chio mengucek mata. Tidak ada rasa bersalah, seolah semua normal.

Lalu ia melihat Ah Me. Lalu ke Eng Sok. Lalu ke dirinya sendiri — yang tidur di ranjang yang berbeda.

Tapi Ah Me melihat mereka berdua — di kamar yang sama, di kasur yang berbeda — tapi satu ruangan.

Sesaat mereka saling menyapa. Lalu mata mereka membuat dan melongo dan menatap Ah Me yang mau jatuh.

BERSAMBUNG

---

Malam yang tak terduga.

Rumah kosong. Dua kunci. Dua orang — terlalu lelah untuk berpikir.

Ah Me yang hampir kena serangan jantung.

💐🪷👩‍❤️‍👨

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!