Seorang pria remaja mendapatkan kekuatan dari aura ghaib Putri Mahkota Bangsa Iblis. Yang membuat perubahan seratus delapan puluh derajat dari kehidupan sebelum nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kend 13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tragedi di Ruang Makan
"Jay! Apakah kamu hari ini sudah siap untuk bersekolah lagi?" Tanya bibi Aida Wilhelm. Melihat anak dari almarhumah adiknya itu sudah berseragam lengkap layak nya seorang siswa seperti biasa nya.
"Iya, bi! Sepertinya keadaan ku sudah jauh lebih baik." Jawab Jay Pradana pelan. Dengan menahan rasa nyeri, dia terpincang-pincang menggunakan kruk, melangkah kan kakinya yang masih di perban itu menuju meja makan.
Disana seluruh penghuni rumah sudah berkumpul. Shiva Wilhelm, putri bibinya itu saat ini sudah berpakaian rapi, duduk tepat disebelah Aida. Saat ini dia berusia kira-kira dua puluh satu tahun. Dia kuliah di sebuah universitas dikota. Sekarang masih berada di tahap semester 5.
Sementara di seberang bibi Aida, ada Shitta Wilhelm. Anak kedua bibi Aida. Seharusnya saat ini dia sudah lulus dari bangku SMA. Namun, karena terjadi sesuatu, sekarang dia masih berada di bangku kelas 3.
Dan di sebelah Shitta, duduk seorang gadis yang dulunya imut, tapi akhir-akhir ini terlihat jutek. Dia juga berseragam putih abu-abu. Usianya sepantaran dengan Jay saat ini. Namanya Shilla Wilhelm, dia duduk di kelas dua, sekelas dengan Jay.
"Baiklah! Duduk sini!" Ucap bibi Aida pada Jay. Menepuk bangku yang masih kosong di ruang makan itu. "Kita sarapan dulu." Lanjut nya menyediakan piring kosong dan meletakkan nya di atas meja, di hadapan bangku kosong yang ditunjuknya tadi.
Sedikit mengenai tentang Aida. Walaupun usia nya sudah empat puluh lima tahun. Namun, wajah nya tetap memancarkan usia yang masih remaja. Dari postur tubuh nya sendiri pun begitu jelas. Tidak ada lemak yang berlebihan. Kelihatan lebih halus dan lebih kencang. Tak ada sedikit kerutan pun pada kulit nya yang seputih susu. Seakan menolak untuk tua.
"Mah! Itu kan tempat papah!" Sela Shilla menampilkan raut wajahnya yang tak suka.
"Shilla! Lu masih menganggap lelaki bajingan itu papah?" Shiva menghardik adiknya sambil menggerebek meja. Begitu marah ketika penghuni rumah ini masih membicarakan sosok tersebut.
"Sudah, sudah!" Bibi Aida mencoba untuk memenangkan suasana hati putri sulung nya itu dengan mengelus pelan punggungnya. Jelas mengetahui, Shiva sangat membenci mantan suami nya itu, yang jelas-jelas adalah papa kandung gadis itu.
Shilla yang baru saja di bentak oleh kakaknya itu langsung menundukkan kepala nya. Perkataan kakaknya itu memang benar. Namun, bukan berarti pria tak berguna satu ini juga bisa menempati bangku itu, kan? Ujarnya dalam hati.
"Jay! Ayo duduk! Sarapan dulu, nanti kamu kelaparan dalam kelas." Perintah bibi Aida dengan lembut.
Dengan canggung, Jay pun akhirnya duduk di bangku yang ditunjuk bibi Aida.
"Aku udah selesai!" Ucap Shitta tiba-tiba. Wajah nya begitu datar, tak ada rasa kesal, namun juga tak memperlihatkan gestur keramahannya. "Aku berangkat dulu mah!" Dia pun menghampiri Aida lalu mencium punggung tangan satu-satunya wanita dewasa dirumah itu.
"Aku juga, mah!" Shilla pun juga ikut mencium punggung tangan ibunya itu. "Kak Tata, gue nebeng ya!" Lanjut nya gegas mengamit tas sekolah nya. Lalu dengan sedikit berlari mengejar Shitta yang lebih dulu menuju garasi kecil yang ada di rumah itu.
"Kalian hati-hati ya!" Teriak Aida memperingati kedua anaknya itu.
Dengan tangan bergetar, Jay mengambil nasi goreng di mangkuk untuk dipindahkan pada piring nya.
Shiva meneguk susu vanilla sebagai penutup sarapan nya. Dengan gerakan elegan, meletakkan kembali gelas yang sudah kosong itu ke atas meja. "Mah, aku juga pamit yah. Ada kuliah pagi, hari ini." Dia pun juga mencium punggung tangan ibunya. Yang memang sudah menjadi rutinitas mereka setiap hari.
"Baiklah! Kamu juga hati-hati ya, bawa motor nya. Jangan terlalu ngebut." Balas bibi Aida dengan mengelus bahu putri sulung nya itu.
Shiva mengangguk pelan, lalu berdiri, kemudian pandangannya tertuju pada Jay tanpa ekspresi. Pandangannya berpindah pada isi piring pemuda itu. Isi piring itu terlihat terlalu sedikit. Tanpa berkata apa-apa lagi dia pun melangkah keluar, menuju motor matic nya yang masih terparkir di garasi kecil rumah ini.
"Maafkan sikap anak-anak bibi ya, Jay. Mereka masih belum terima kehadiran mu disini." Ucap bibi Aida mengelus pelan bahu Jay. "Buruan dimakan sarapan nya! Apa nasi goreng bibi nggak enak?" Lanjut nya melihat Jay belum juga mencicipi sarapan nya itu.
"Enak kok, bi! Dari bau nya saja sudah terlihat enak." Jawab Jay segera menyuap hidangan di piring nya itu.
Aida pun juga melanjutkan menikmati sarapannya. "Nanti kamu berangkatnya bareng bibi aja ya! Soalnya sekarang bibi juga harus datang kesekolah." Ucap bibi Aida disela kunyahan nya menikmati sarapan di pagi ini.
Bibi Aida adalah kepala sekolah di SMA desa terpencil yang mereka tempati. Beliau sudah menjabat disana selama lima tahun terakhir. Itu pun karena bantuan dari mendiang ayahnya Jay sebagai orang yang dulunya sangat berpengaruh di desa ini.
Dia sangat berhutang budi pada almarhum Jali. Makanya dia akan bertekad untuk menjaga Jay disisa usianya. Walaupun, harta peninggalan mendiang kakak ipar nya itu lumayan banyak, sedikit pun dia tak akan tergiur untuk merampas nya dari keponakannya itu. Akan di jaganya hingga suatu saat nanti Jay bisa mengolah harta itu sendiri.
Karena masih cukup waktu, setelah sarapan, Aida membereskan dan membersihkan meja makan.
"Maaf, bi! Aku belum bisa membantu." Ucap Jay merasa bersalah melihat bibinya itu hanya membereskan semua nya sendirian.
Aida tersenyum mendengar kata-kata tulus itu. "Nggak apa-apa, Jay! Bibi udah terbiasa. Malah bibi jadi pusing kalau nggak aktif begini." Timpal Aida lembut.
Beberapa saat kemudian, Aida selesai dengan aktivitas nya. Setelah mengenakan seragam dinas nya, dia pun keluar dari kamar pribadi nya.
"Yuk, Jay! Kita berangkat!" Ajak Aida.
Aida dan Diikuti Jay pu memasuki mobil, Aida menyalakan mesin mobil untuk di panaskannya sesaat. Merasa telah cukup waktu nya, Dia pun melaju kan mobil itu menuju sekolah tempat dia bekerja.
Jay yang duduk di bangku penumpang sebelah kiri Aida tau persis. Mobil ini adalah hadiah dari mamahnya sendiri untuk bibi Aida. Saat itu Ayla, mendiang mamahnya mengajak nya ke showroom mobil yang ada di kota. Dan mobil yang di tumpangi nya saat ini adalah pilihan nya sendiri.
"Mobil ini masih keliatan kinclong saja ya, bi?" Celetuk Jay membuyarkan keheningan selama perjalanan ke sekolah.
"Jelas dong! Ini adalah hadiah satu-satunya dari adik bibi. Ya harus dijaga sepenuh hati." Tukas Aida dengan bangganya.
"Mamah aku tuh, bi!" Goda Jay menahan tawanya. Melihat ekspresi bibi nya itu terlalu membanggakan mendiang mamahnya itu.
Aida menutup mulutnya yang terkekeh menggunakan telapak tangan kiri nya. "Iya, iya! Dia memang mamah kamu. Tapi dia itu adik ku! Wlee!" Aida menjulurkan lidah nya pada Jay. Mencoba berinteraksi seperti biasanya terhadap keponakan nya itu.
Dulu, Aida dengan Jay memang sangat akrab. Bukan hanya dia, putri-putri nya dulunya juga begitu. Simons, mantan suami nya pun begitu.
Namun, sekarang sudah berbeda. Kecelakaan yang dialami keluarga kecil adiknya itu terjadi, diduga karena campur tangan Simons. Menurut pengakuan Mantan suami nya itu, dia berniat ingin mengkudeta seluruh harta Jali.
Dengan berat hati, Aida menjebloskan Simons kepenjara. Akibatnya, Simons di jatuhkan hukuman seumur hidup. Dengan usianya yang sudah tidak muda lagi, kemungkinan besar dia akan mendekam di penjara di sisa usianya.
Tiga hari setelah Jay sadar Ketiga putri nya bermusyawarah dengan Jay, agar pemuda itu mencabut tuntutan mamahnya. Karena pihak yang masih selamat hanya Jay seorang. Jay hanya menghela napas pasrah, memberikan keputusan pada Aida. Membuat ketiga putri nya menjadi membenci Jay. Karena, mamahnya itu tak menuruti permintaan mereka.
Namun, seminggu setelah kejadian itu, ada hal yang tak terduga mendatangi rumah nya. Aida di tuntut oleh beberapa orang tak di kenal, karena tindakan kriminalisasi dan pengedar obat-obat terlarang yang dilakukan Simons. Bahkan, para korban juga di cicipi nya terlebih dahulu sebelum di edarkan. Akhirnya, tanpa berfikir panjang lagi, mengingat dia termasuk wanita yang disegani di desa itu, Aida langsung saja menceraikan Simons yang masih dipenjara. Dan pihak berwajib menambahkan hukuman nya setelah beberapa orang itu melaporkan kejahatan yang telah dilakukan Simons.
Semua itu diketahui oleh ketiga putri nya. Shiva sebagai putri sulung, jadi sangat membenci papa nya itu. Karena, teman-teman nya juga ada yang menjadi korban. Dan untung saja, teman-temannya itu tak menjauhinya karena sang papa adalah seorang narapidana.
*****