Di dunia yang kejam, tempat di mana yang lemah selalu diinjak, dia hanyalah sampah yang diremehkan. Namun, ketika nyawa nyaris terenggut dan pengkhianatan terasa di setiap sudut, sebuah sistem misterius muncul memberinya kesempatan untuk bangkit.
Dari titik terendah, ia memulai perjalanan menaklukkan dunianya, mengasah kekuatan, dan mengungkap rahasia di balik kekuasaan yang tersembunyi. Setiap pertarungan bukan hanya soal kekuatan, tapi strategi, kepercayaan, dan pengorbanan. Dari seorang yang hina, ia perlahan berubah menjadi sosok yang tidak bisa diremehkan, menantang dewa dan musuh yang lebih kuat dari imajinasi.
Apakah ia akan menjadi penakluk dunia atau korban dari permainan yang lebih besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 - Berhasil Keluar
Lorong terakhir terasa lebih panjang dari sebelumnya, meskipun Alverion Dastan tahu itu bukan karena jaraknya benar-benar berubah, melainkan tubuhnya yang sudah hampir mencapai batas. Setiap langkah seperti menyeret beban yang tidak terlihat, sementara luka di tubuhnya terus berdenyut pelan, mengingatkan bahwa ia belum sepenuhnya keluar dari ancaman yang baru saja ia hadapi.
Dinding di sekelilingnya perlahan berubah, teksturnya tidak lagi kasar dan gelap seperti bagian dalam dungeon sebelumnya. Cahaya redup yang biasanya menyelimuti lorong mulai menipis sedikit demi sedikit, digantikan oleh warna yang lebih alami dan tidak menekan. Udara yang ia hirup juga berubah, tidak lagi terasa berat atau asing, melainkan membawa kesegaran yang samar dan perlahan mengisi paru-parunya dengan sensasi yang hampir ia lupakan.
Alverion tidak mempercepat langkahnya meskipun cahaya di depan sudah terlihat jelas. Bukan karena ia tidak ingin, tetapi karena tubuhnya tidak mampu lagi merespons perintah dengan cepat. Kakinya tetap bergerak maju, satu langkah diikuti langkah berikutnya, dengan satu tujuan yang terus ia pegang sejak tadi.
Keluar.
Itu saja yang ada di pikirannya sekarang, sebuah tujuan sederhana yang terasa jauh karena kondisi tubuhnya yang terus menurun. Ia tidak memikirkan apa yang menunggu di luar, tidak juga memikirkan apa yang telah terjadi sebelumnya, karena semua itu tidak penting dibandingkan satu hal yang harus ia capai.
Tangannya beberapa kali menyentuh dinding di sampingnya, bukan untuk mencari arah, melainkan untuk menjaga keseimbangan agar tidak jatuh. Tubuhnya sempat goyah lebih dari sekali, lututnya hampir menyentuh tanah, tetapi setiap kali itu terjadi ia selalu memaksakan diri untuk tetap berdiri, meskipun dengan napas yang semakin berat.
Artefak di dalam tubuhnya masih terasa jelas, tetapi keadaannya tidak lagi seperti sebelumnya. Denyutannya tenang, tidak lagi liar atau mengganggu, seolah telah menemukan ritme yang sesuai dengan kondisi tubuhnya saat ini. Kehadirannya tidak menghilang, justru terasa lebih dalam, seperti sesuatu yang diam-diam terus mengawasi dari dalam.
Alverion tidak memikirkan itu sekarang karena ia tidak punya ruang untuk memikirkan apa pun selain bertahan. Fokusnya tetap pada langkah di depannya, pada cahaya yang semakin jelas terlihat, pada jarak yang semakin dekat meskipun terasa lambat.
Beberapa langkah lagi, dan cahaya itu berubah menjadi sesuatu yang lebih nyata. Bukan lagi pantulan aneh dari dinding dungeon, melainkan cahaya alami yang tidak memiliki tekanan di dalamnya. Dunia luar mulai terlihat jelas di hadapannya.
Napasnya menjadi lebih berat, bukan hanya karena kelelahan, tetapi karena tubuhnya merespons perubahan itu dengan cara yang tidak biasa. Setelah terlalu lama berada di lingkungan yang menekan, perbedaan ini terasa hampir menyakitkan, seperti tubuhnya perlu menyesuaikan diri kembali.
Namun ia tidak berhenti.
Ia melangkah keluar.
Dan dunia langsung terasa berbeda.
Angin menyentuh wajahnya dengan lembut, membawa sensasi yang tidak pernah ia rasakan selama berada di dalam. Udara segar masuk ke paru-parunya tanpa hambatan, terasa ringan meskipun napasnya masih berat. Langit terbentang luas di atasnya, warna birunya terlihat jelas dan hampir terasa asing di matanya.
Alverion berdiri di ambang pintu dungeon dengan kondisi yang jauh dari baik. Tubuhnya penuh luka, pakaiannya rusak di berbagai bagian, dan darah yang mengering masih terlihat jelas menempel di kulit dan kain yang ia kenakan. Ia tidak langsung bergerak, hanya berdiri di sana beberapa saat, mencoba menyesuaikan diri dengan dunia yang terasa berbeda.
Di luar sana, kehidupan berjalan seperti biasa tanpa terganggu oleh apa yang baru saja ia alami. Suara orang-orang terdengar di kejauhan, langkah kaki yang berlalu lalang, percakapan yang ringan, dan sesekali tawa yang terdengar tanpa beban. Semua itu terasa kontras, seolah tempat yang baru saja ia tinggalkan adalah dunia lain yang tidak memiliki hubungan dengan tempat ini.
Alverion menarik napas dalam, kali ini terasa lebih ringan meskipun tubuhnya masih menanggung beban. Ia melangkah maju, satu langkah keluar sepenuhnya dari dungeon, membiarkan dirinya benar-benar berada di luar.
Namun pada saat itu juga, lututnya hampir menyerah.
Tubuhnya goyah, keseimbangannya hampir hilang, tetapi ia menahan dengan sisa tenaga yang ia miliki. Ia tidak ingin jatuh tepat di depan pintu keluar setelah berhasil sampai sejauh ini, meskipun tubuhnya sudah berada di ambang batas.
Belum sekarang.
Belum di sini.
Beberapa orang di sekitar pintu mulai memperhatikannya, awalnya hanya sekilas karena penampilannya yang mencolok. Namun pandangan itu berubah menjadi lebih lama, lebih fokus, seiring mereka menyadari sesuatu yang tidak biasa dari sosok di depan mereka.
Seorang pria yang berdiri tidak jauh dari pintu mengernyit, mencoba memastikan apa yang ia lihat bukan kesalahan. “Hei... itu...”
Temannya mengikuti arah pandangannya, lalu ekspresinya berubah dengan cepat. “Itu... Alverion?”
Nama itu mulai terdengar di antara mereka, awalnya pelan lalu semakin jelas ketika orang lain ikut menyadarinya. Beberapa orang mulai mendekat, langkah mereka ragu seolah tidak yakin dengan apa yang mereka lihat di depan mata.
Alverion tidak menanggapi apa pun, ia hanya terus berjalan dengan langkah yang semakin berat. Pandangannya mulai kabur, suara di sekitarnya terasa menjauh, dan tubuhnya tidak lagi merespons dengan baik.
“Tidak mungkin...” seseorang berbisik dengan nada tidak percaya. “Dia seharusnya sudah mati.”
“Dia masuk ke area bawah, kan?”
“Tidak ada yang pernah keluar dari sana...”
Bisikan-bisikan itu terdengar samar, bercampur dengan suara lain yang mulai meningkat. Namun Alverion tidak bereaksi, bukan karena tidak peduli, tetapi karena ia sudah terlalu lelah untuk memproses semua itu.
Yang ia tahu, ia sudah keluar.
Itu sudah cukup.
Namun tubuhnya memiliki batas, dan batas itu akhirnya tercapai tanpa bisa ia tahan lebih lama. Langkahnya terhenti di tengah jalan, keseimbangannya hilang, dan tubuhnya jatuh ke depan tanpa sempat menahan diri.
Seseorang bergerak cepat sebelum tubuhnya menyentuh tanah.
“Pegang dia!”
Suara itu terdengar tegas, memotong keramaian yang mulai terbentuk. Beberapa orang langsung mendekat, membantu menahan tubuh Alverion agar tidak jatuh keras ke permukaan tanah.
Wajah-wajah di sekelilingnya dipenuhi keterkejutan yang belum hilang. Beberapa orang masih menatapnya dengan ekspresi tidak percaya, seolah memastikan bahwa yang mereka lihat benar-benar nyata.
“Ini benar dia...”
“Kondisinya parah...”
“Cepat, panggil healer!”
Suara-suara itu bercampur menjadi satu, menciptakan keributan kecil di sekitar pintu dungeon. Namun bagi Alverion, semua itu mulai terdengar jauh dan tidak jelas.
Kesadarannya perlahan memudar.
Namun sebelum benar-benar hilang, ia sempat membuka mata sedikit. Pandangannya naik ke atas, melihat langit yang luas dengan warna biru yang tenang.
Tidak ada tekanan.
Tidak ada ancaman.
Hanya kelelahan yang akhirnya mengambil alih.
Napas panjang keluar dari dirinya sebelum semuanya berubah menjadi gelap.
---
Beberapa saat kemudian, area di sekitar pintu dungeon menjadi lebih ramai dari biasanya. Orang-orang berkumpul dalam jumlah yang semakin banyak, membicarakan satu hal yang sama dengan nada yang berbeda-beda.
Alverion Dastan.
Nama itu kembali muncul, bukan sebagai bahan ejekan atau kegagalan seperti sebelumnya. Kali ini terdengar dengan nada yang lebih berat, lebih serius, karena apa yang mereka lihat tidak sesuai dengan apa yang mereka ketahui.
Seorang wanita dengan pakaian penyembuh berlutut di samping tubuhnya, tangannya mengeluarkan cahaya lembut yang perlahan menutup luka di permukaan. Ekspresinya fokus, tetapi ada sedikit ketegangan di wajahnya saat ia merasakan kondisi yang tidak biasa dari tubuh Alverion.
“Luka dalamnya parah,” katanya pelan tanpa mengalihkan pandangan. “Beberapa bagian bahkan hampir tidak stabil, tapi dia masih bertahan.”
Seorang pria di dekatnya menggeleng pelan, masih mencoba memahami situasi di depan matanya. “Aku tidak mengerti. Bagaimana dia bisa keluar dari sana dalam kondisi seperti ini?”
Tidak ada yang menjawab pertanyaan itu, bukan karena tidak ingin, tetapi karena mereka tidak memiliki jawaban. Area yang dimasuki Alverion dikenal sebagai tempat yang tidak memberi kesempatan kedua bagi siapa pun yang masuk terlalu dalam.
Namun kenyataannya ada di depan mereka.
Alverion masih hidup.
Beberapa orang yang pernah mengenalnya berdiri sedikit menjauh dari keramaian, memperhatikan dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Ada keterkejutan yang belum hilang, ada kebingungan, dan ada juga kegelisahan yang mulai muncul perlahan.
Mereka tahu sesuatu yang tidak semua orang sadari.
Jika seseorang bisa keluar dari tempat seperti itu, berarti ia telah melalui sesuatu yang tidak biasa. Itu bukan sekadar soal keberuntungan, melainkan perubahan yang tidak terlihat di permukaan.
Di tengah keramaian itu, tubuh Alverion terbaring diam, tidak menunjukkan tanda kesadaran. Namun di dalam dirinya, sesuatu masih bergerak dengan ritme yang pelan namun pasti.
Artefak itu tetap ada.
Denyutnya halus, selaras dengan hidup yang masih bertahan.
Di luar, dunia tetap berjalan tanpa perubahan yang berarti. Orang-orang masih berbicara, masih bergerak, masih menjalani hal yang sama seperti sebelumnya.
Namun bagi Alverion Dastan, semuanya telah berubah tanpa perlu penjelasan.
Dan orang-orang yang melihatnya hari itu akan mengingat satu hal dengan jelas, bahwa seseorang yang seharusnya tidak kembali telah berdiri di depan mereka.
Bukan sebagai bayangan masa lalu.
Melainkan sebagai sesuatu yang berbeda.