Riski seorang Fans Sepak bola fanatic saat pulang nonton pertandingan di tabrak mobil dan akhirnya terlempar Ke Dunia Lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RRS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Janji di Atas Serbet Makan
Sinar matahari Jakarta yang mulai meredup memberikan warna oranye keemasan di langit Senayan. Setelah pertandingan seleksi berakhir, Riski tidak langsung pergi. Ia duduk di pinggir lapangan, membersihkan debu dari kakinya yang mungil, ketika seorang pria lokal berpakaian rapi menghampirinya.
"Riski? Ada seseorang yang ingin bicara denganmu. Mari ikut saya ke kafe di seberang jalan," ujar pria itu ramah.
Riski bangkit tanpa ragu. Ia tahu momen ini akan datang. Di dalam sebuah kafe kecil yang cukup tenang, duduk dua orang pria asing. Salah satunya adalah pria paruh baya dengan rambut abu-abu yang tadi sangat serius mengamati pertandingan. Di depannya tersedia secangkir kopi dan beberapa lembar serbet makan yang berserakan.
Pria lokal tadi memperkenalkan mereka. "Ini adalah Albert Capellas, salah satu koordinator pemandu bakat dari La Masia. Dia ingin bicara langsung denganmu."
Capellas berbicara dalam bahasa Spanyol yang kemudian diterjemahkan. "Anak muda, aku telah melihat ribuan anak seusiamu di seluruh dunia. Tapi apa yang kamu lakukan tadi... kontrol bolamu, visi bermainmu, itu tidak normal untuk anak enam tahun. Kamu bermain seolah-olah kamu sudah memiliki pengalaman tiga puluh tahun di kepalamu."
Riski tersenyum dalam hati. Tebakan yang bagus, Mister, pikirnya.
"Namun," Capellas melanjutkan dengan nada yang tiba-tiba menjadi sangat serius. "Sepak bola Eropa bukanlah taman bermain. Menandatangani kesepakatan dengan kami bukan berarti kamu sudah menjadi bintang. Kamu akan masuk ke tim Barcelona U-10 (Alevín) terlebih dahulu, meskipun usiamu jauh lebih muda. Kamu harus bersaing dengan anak-anak terbaik dari seluruh dunia."
Capellas meraih selembar serbet makan putih yang masih bersih dari wadahnya. Ia mengeluarkan pulpen dari saku kemejanya dan mulai menuliskan beberapa poin dalam bahasa Spanyol dan Inggris.
"Kami tidak membawa draf kontrak resmi ke lapangan latihan seperti ini. Tapi, jika kamu setuju dengan poin-poin ini—biaya hidup, pendidikan di La Masia, dan pelatihan penuh—aku ingin kamu dan wali hukummu menandatanganinya sebagai komitmen awal. Ini adalah tradisi kami, seperti saat kami merekrut Lionel Messi beberapa tahun lalu."
Riski menatap serbet makan itu. Di sana tertulis janji untuk membawanya ke Catalunya. Namun, peringatan Capellas bergema kuat: Kamu belum tentu masuk tim utama. Banyak talenta hebat yang layu sebelum berkembang di La Masia karena tekanan yang luar biasa.
"Aku mengerti," jawab Riski dengan suara tegas, mengejutkan si penerjemah karena keberanian bocah itu. "Aku tidak takut bersaing. Jika aku harus merangkak dari tim U-10 untuk mencapai Camp Nou, maka aku akan melakukannya."
Capellas tertawa kecil, terkesan dengan kepercayaan diri Riski. "Bagus. Tapi ingat, di Barcelona, kami tidak hanya mencari pemain hebat, kami mencari pemain yang cerdas. Di tim utama nanti, hanya ada tempat untuk mereka yang paling disiplin."
Karena Riski adalah yatim piatu, proses administrasi akan dibantu oleh yayasan yang bekerja sama dengan pemandu bakat tersebut untuk bertindak sebagai wali sementara hingga ia tiba di Spanyol. Riski mengambil pulpen itu dan membubuhkan tanda tangannya di sudut serbet makan yang tipis. Sebuah tanda tangan kecil dari tangan seorang bocah Bau-Bau yang baru saja mengubah sejarah hidupnya.
Malamnya, Riski kembali ke tempat persembunyiannya sementara sebelum pihak yayasan menjemputnya besok pagi. Ia duduk bersandar di tembok toko, membuka layar sistemnya. Ia merasa perlu melihat sejauh mana ia telah melangkah.
[Status Riski – Update Pasca Kontrak]Meskipun statistiknya belum berubah sejak sore tadi, ada satu hal baru yang berkedip di pojok layar.
[Status Karir: Pemain Akademi FC Barcelona (U-10) - Menunggu Keberangkatan]
Riski kemudian mengecek saldo di Inventory-nya. Ia harus memastikan ia memiliki cukup uang untuk kebutuhan mendadak sebelum sistem memberikan misi baru.
Informasi Keuangan (Inventory):
Saldo Sebelumnya: Rp 900.000
Pengeluaran Hari Ini (Makan & Air): Rp 25.000
Total Saldo Saat Ini: Rp 875.000
Uang delapan ratus ribu lebih masih sangat banyak untuk seorang bocah di awal 2007. Ia berencana menggunakan sebagian uang itu untuk membeli beberapa perlengkapan dasar dan mungkin sebuah kamus bahasa Spanyol sederhana agar ia tidak terlalu buta saat tiba di Barcelona nanti.
Pikirannya melayang pada kata-kata Capellas. Tim U-10. Ia akan bermain dengan anak-anak yang usianya empat tahun di atasnya. Secara fisik, itu akan menjadi neraka. Tapi dengan Dribbling dan Shooting yang sudah menyentuh angka 21, Riski tahu ia memiliki senjata untuk mempermalukan siapa pun yang meremehkan usianya.
"Aku seorang Madridista," bisik Riski sambil menatap serbet makan yang kini ia simpan rapi di dalam tasnya. "Tapi untuk saat ini, aku akan menjadi prajurit terbaik yang pernah dimiliki La Masia. Aku akan masuk ke tim utama itu, apa pun taruhannya."
Angin malam Jakarta bertiup kencang, membawa debu dan aroma kota yang sibuk. Namun bagi Riski, aroma itu kini tercium seperti aroma rumput basah di Spanyol yang menantinya di seberang samudra. Langkah pertama dari ribuan mil perjalanannya telah resmi diukir di atas selembar serbet makan