NovelToon NovelToon
Luka, Dendam, Dan Cinta Yang Tak Direncanakan

Luka, Dendam, Dan Cinta Yang Tak Direncanakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Romansa
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Adrianne Hana kehilangan ayahnya akibat kesalahan operasi yang ditutupi keluarganya sendiri. Alih-alih mendapat keadilan, ia dan ibunya justru disalahkan, membuat hubungan Hana dengan keluarga Soediro dipenuhi kebencian—terlebih karena ia memilih jalan hidup berbeda sebagai aktris dan pengusaha.

Dipaksa menghadiri perjodohan dengan Reiga Reishard, Hana berencana menggagalkannya. Namun, pertemuan mereka justru menghadirkan hal tak terduga yang perlahan mengikat dua hati dengan prinsip bertolak belakang—antara luka, penolakan, dan kemungkinan cinta yang tak pernah direncanakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LDCYTD

"Dane."

"Ha?" sahut Zidane yang tengah berusaha menelan air yang baru saja diminumnya.

"Barter informasi yuk," ajak Hana.

Zidane menoleh kearah Hana dengan tatapan bingung. Badannya sudah lelah pontang-panting latihan Tenis sejak 2 jam yang lalu. Eh, sekarang malah Hana suguhi TTS kurang faedah.

"Perasaan gue kok jadi nggak enak ya, Han," sahutnya.

"Sialan!" runtuk Hana sambil terkekeh.

Zidane nyengir. Ia memandang ke tengah lapangan tenis. Ada Nana yang sedang latihan. Kedua matanya terkunci pada sepupu Hana yang hobi gonta-ganti cowok itu.

"Kalo barter sepupu gue mau deh," ujar Zidane nyeleneh.

Hana kembali tergelak tawa.

"Buset deh, Han! Inget! Lu itu aktris terkenal! Jaga image sedikit kek!" komen Zidane yang sekarang bingung setengah hidup, kenapa dulu bisa begitu nge-fans sama Hana.

"Lu suka ya sama Nana?"

"Kurang keliatan ya?"

Hana kembali tertawa.

"Tawa lo puas banget, Han," sebal Zidane.

Hana menghentikan tawanya kemudian. Ia mengatur napas lalu menatap Zidane.

"Satu pertanyaan tentang Nana seharga satu pertanyaan gue tentang Reiga. Gimana?"

Zidane mengerutkan kening. Hana memang pintar, ia sengaja menggunakan ketertarikan Zidane pada Nana untuk mengorek informasi soal Reiga.

lo?" "Kenapa nggak langsung lo tanya aja sama laki

"Laki gue nggak akan jawab, Surgeon!"

"Iya sih!"

"Tuh kan!"

"Apaan sih emangnya?"

"Nggak jelas juga sih," jawab Hana nyeleneh.

Zidane tertawa canggung.

Takjub sama pribadi Hana.

"Tapi ... dari jawaban lo nanti, mungkin semua akan lebih jelas."

"Makin nggak jelas lu, Han," cetus Zidane.

"Gue emang nggak jelas sejak jatuh cinta sama sahabat lo yang anti cinta sejati itu, Dane," ucap Hana dalam hati.

"Gimana? Mau nggak?" ajak Hana lagi.

"Ya mau lah. Gila kali gue melewatkan kesempatan untuk dekat sama Nana," ujar Zidane.

Hana nyengir. Dia tahu, Zidane tidak akan menolaknya. Selain karena Zidane suka Nana. Hana juga bisa merasakan bahwa Zidane sesayang itu sama Reiga. Dan mereka (Hana dan ke enam ibu peri) sangat amat sadar bahwa Reiga tidak baik-baik saja.

"Kenapa Reiga bisa anti cinta sejati?"

Zidane menatap Hana.

Ia selalu menunggu pertanyaan ini datang padanya, datang dari seorang perempuan yang benar-benar sayang dengan sahabatnya. Pertanyaan yang menandai bahwa antinya Reiga pada cinta sejati tidak lagi akan dianggap sebagai lucu-lucuan seperti konflik dalam sebuah novel fiksi oleh perempuan yang dicintai sahabatnya itu.

"Lo pasti udah tahu jawabannya kan, Han? Lo cuma mau validasi dan mencari pembenaran aja dari gue. Benar nggak?"

Bibir Hana tersenyum.

"Benar sih," jawab Hana.

"Salut sih! Dulu aja Cyila nggak sepeduli ini sama Reiga. Bagi dia, yang penting Reiga nurut dan tunduk," ujar Zidane.

"Kenapa, Han?" Muka cengar-cengir Zidane hilang.

"Apanya?"

"Kenapa lo begitu peduli sama nick name populer-nya Reiga, saat lo bisa memilih untuk tidak peduli dan tetap menikmati kebucinan Reiga sama lo?"

Hana mengganjar Zidane dengan raut wajah heran.

"Ya karena apalagi... tentu aja alasan gue sesederhana gue mau lihat kesayangan gue itu bahagia. The genuine happiness, Dane. Murni bahagia tanpa menyisakan trauma dan luka. Gue mau Mas Ayang gue itu sembuh," jawab Hana.

Zidane takjub dengan pemilihan kalimat Hana dan keberanian gadis itu menyatakan kalau Reiga memang 'sakit' selama ini.

Zidane menyunggingkan senyum. Haru apa ini? Zidane sampai tak mampu berkata.

"Makasih ya, Han," tulus Zidane.

"Untuk?"

"Segitu pedulinya sama sahabat gue," jawab Zidane.

"Apa sih!? Sudah seharusnya lah!"

Tidak Zidane. Tidak Reiga. Mereka berdua selalu menganggap hal normal yang dilakukan Hana sebagai sesuatu yang luar biasa.

"Nggak banyak orang di hidup Reiga yang melakukan 'seharusnya' seperti yang lo bilang barusan dengan entengnya itu, Han," ujar Zidane bijak.

Hana takjub mendengarnya.

"Kenapa lu? liatin gue kayak gitu amat?" heran Zidane.

"Nggak menyangka, lo bisa bijak juga, Dane," ujar Hana.

"Sialan!" pekik Zidane yang diiringi tawa riang Hana.

"So the causes is his mom, rite?"

Zidane mengangguk dengan senyum masam. Hana menghela napas panjang. "Berat juga ya," gumam Hana.

"Terus mau menyerah?"

Hana balas menatap Zidane yang menuggu jawabannya penuh harap.

"Andai saja gue bisa memilih untuk menyerah," sahut Hana sambil nyengir.

Zidane terkekeh.

"Gue sayang banget sama Reiga, Dane. Gue mau, seandainya hubungan ini nggak berakhir seperti yang gue mau. Seenggaknya, gue bisa melihat Reiga bebas dari perasaan negatif yang seharusnya nggak dimiliki sama hati sebaik yang dia punya," tambah Hana.

Zidane tertegun dengan ucapan Hana. Padahal Hana mengucapnya dengan cengengesan.

"Gue sendiri yang bakal toyor Reiga kalau dia sampai lepasin lo, Han," ujar Zidane.

Hana memasang muka 'Ha' diwajahnya.

"Kenapa? Karena gue aktris favorit lo?" canda Hana.

Zidane mencibir.

"Udah enggak!!!!!!! Asli lu parah banget. Elu nih ibarat Syein digabung sama Brandon. Bikin puyeng!" timpal Zidane.

Hana malah terbahak.

"Nih kayak sekarang nih, lagi ngomong serius, ada aja komentar eror-nya, herannn," ujar Zidane frustasi.

"Tapi anehnya nih, Dane!" celetuk Hana.

"Ada yang lebih aneh daripada lu, Han?"

"Heh!"

Si receh Hana kembali tertawa meski tipis.

"Gue merasa, Reiga tuh sayang banget sama Tante Sheila. Jarak yang dibuat Reiga sekarang tuh cuma kayak bentuk penolakan dia atas rasa cinta yang besar buat Tante Sheila."

"Cakepppp!" puji Zidane terpukau dengan kepintaran Hana melihat situasi dan menyimpulkan sesuatu dari semua deduksi yang ada.

"Siapa? Gue? Ya emang gue cakep! Se Indonesia juga tahu," tanggap Hana meski ia tahu, bukan ini yang dimaksud Zidane.

Zidane berdecak. Tertawa canggung.

"Kayaknya lu duluan deh, Han, yang gue toyor sebelum Reiga," sewot Zidane yang membuat Hana tertawa renyah.

"Jangan menyerah ya, Han," ucap Zidane sudah tidak lagi bercanda dari caranya bicara dan ekspresi wajahnya yang penuh harap itu.

Hana termenung.

Ah, apa keputusannya ini benar? Apa ia benar-benar siap berjuang sampai titik darah penghabisan saat lawannya adalah cinta sejati Reiga? Namun konyolnya setakut apapun yang Hana rasakan, satu jengkal pun gadis itu tidak ingin mundur. Sekalipun perjuangannya kali ini lebih berat. Tanpa jaminan kemenangan. Setidaknya Hana berjuang untuk orang yang juga amat mencintainya kan? Tidak seperti di kala mengejar cinta semunya Arnold si kutu kupret.

The main mistake is

Perjuangannya kali ini, terasa berbeda, ada banyak sekali manusia yang berharap atas keberhasilannya. Maka kegagalannya nanti, mungkin akan jadi kesedihan majemuk yang turut menyumbang rasa bersalahnya.

"Lo emang jenius sih, Han. Brilian dan pandai melihat situasi dari dulu."

Celetukan Zidane membuyarkan lamunan Hana.

"I can't read his mind. Tapi gue yakin, antipati muncul dari rasa cinta Reiga yang besar dan dalam sama Tante Sheila. Cinta yang terlalu sering diabaikan," tambah Zidane.

"Lo orang pertama di luar kita berenam yang sepeka ini sama keadaan Reiga. And we're so thankful about that," lanjut Zidane.

Hana menarik napas panjang.

Kalimat pamungkas Zidane barusan sungguh semakin membuat Hana sadar bahwa ia tidak boleh kalah adu keras kepala dengan masa lalu Reiga nantinya. Dan Hana memang tidak ingin kalah!

"Jadi ... Nana jomblo kan, Han?" tanya Zidane dengan muka polos minta ditoyor.

Hana melongo mendengarnya.

"Jomblo, Dane! Jomblo. Sini, gue kasih trik and tips buat dapetin Brandon versi cewek kayak Arana," jawab Hana ekspresif.

Zidane terhenyak.

"What!? Brandon versi cewek. Waduh! Kok gue jadi takut ya," bisik Zidane.

Dan Hana hanya menanggapinya dengan sebuah tawa.

*

Hana membelokkan mobilnya masuk ke dalam garasi rumah. Turun sambil menenteng tas latihannya. Menyapa satpam rumahnya. Naik ke atas tangga, berjalan menuju teras samping rumahnya.

Langkah Hana terhenti.

Ah, bukan

Waktu yang berhenti. Begitu matanya melihat senyum menawan dari bibir pria kesayangan.

Ya.

Itu Reiga.

Pulang lebih cepat sehari dan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Hana tertegun sendiri. Mempertanyakan keraguan konyol yang konsisten bergema dalam kepalanya selama di lapangan tenis. Harusnya pertanyaan itu tidak pernah ada. Tidak perlu ada. Karena ia akan memperjuangan lelaki didepannya ini. Lelaki yang selalu membuatnya merasa paling berharga di dunia ini. Tanpa ragu. Tanpa takut. Reiga pun harus mendapatkan hal yang sama. Bukan karena sikap pamrih pria itu. Bukan pula karena pintanya sendiri.

Karena Reiga memang pantas mendapatkannya.

"Baru pulang, Neng?" sapa Reiga setengah menggoda Hana.

Hana mendesis sambil tersenyum. Ia menjatuhkan tas latihan lalu berlari kearah Reiga. Tanpa malu melompat hingga Reiga harus menangkapnya. "Sambutannya manis banget," gumam Reiga balas mendekap Hana erat.

"Hmmm... Kemarin disuruh lihat ciuman.

Sekarang disuruh lihat pelukan ala india. Ngeledek atau gimana nih, Han?" tegur Sara dari dalam rumah.

"Ibu!?"

Hana sontak menyipitkan mata seraya menatap Reiga. "Kamu pasti udah tahu kan, ada Ibu berdiri di sana?"

"Iya."

"Ih! Kenapa nggak bilang!!?"

"Ya masa aku melewatkan momen dipeluk Hana Reishard."

Hana mendelikan mata.

"Dih! Hana Reishard..."

Walau ia memang ingin menjadi Hana Reishard.

Reiga hanya tersenyum.

"Tuh! Mulaiiiii...! Liat-liatan sambil senyum,"

ledek Sara seraya bersidekap.

Ya sejak tadi, Hana dan Reiga memang tengah bercakap-cakap dalam pikiran saja.

"Masuk, Rei," ajak Sara.

"Disuruh masuk tuh sama Ibu Mertua," ledek Hana.

Reiga malah meraih Hana lalu mengecup kelapa gadis itu di depan Sara yang auto melotot.

"Reishard! Ada ibu!" pekik Hana.

Sara senyam-senyum.

"Dia mirip banget kamu ya, Mas?" gumam Sara dalam hatinya.

"Lebih gantengan Reiga sih, Yang, "jawab Denis yang tengah berdiri di samping kiri Sara, meski ia tahu, Sara mungkin tidak mendengarnya. Beda cerita dengan calon menantunya yang mencuri senyum kearahnya itu.

"Aku ganti baju dulu ya," ucap Hana tanpa menghilangkan senyum dari wajahnya.

"Mau ditemenin?" goda Reiga.

Mata Hana membulat.

"Heh!" seru Hana dengan ekspresi kebahagiaan yang terpancar sempurna. "Halalin dulu baru dapat kartu aksesnya," bisik Hana di telinga kanan Reiga.

Pria itu langsung tersenyum. Hana langsung kabur, naik ke tangga saking malu-nya dengan tingkah sendiri.

"Benar ya," sahut Reiga yang ditimpali Hana hanya dengan memeletkan lidah.

Reiga memandangi kepergian Hana dengan tatapan penuh cinta yang membuat Sara yang kadung menontoni si duo bucin itu tidak kuat lagi menahan tawa.

Reiga sampai menoleh kaget.

"Sayang banget sama anak Tante?" goda Sara.

Reiga tersenyum.

"Sepenuh hati saya, Tan. Sejiwa raga saya," jawab Reiga tanpa ragu.

Sara tersenyum.

"Bawa Papa-Mama kemari dong kalau begitu," tantang Sara asal.

"Besok, Tan?" tanya balik Reiga.

Sara terperanjat kaget. Dengan bibir tersenyum senang. Ada buncahan harapan, senang, dan excitement yang mencuat dalam diri Ibu satu anak.

"Tante juga ikut diledekin nih kayak Hana??" ujar Sara.

Reiga tersenyum. Ia menghampiri Sara lalu salim. "Lupa, tadi belum salim," ucapnya terus tersenyum. Sulit bagi Reiga untuk menanggalkan senyum sejak kenal Adrianne Hana.

"Kamu nih ih!" ujar Sara lalu merangkul Reiga menuju kursi pantry.

"Udah makan belum?"

"Alhamdulillah sih belum, Tan."

Sara tertawa.

"Ini Tante gak dibawain oleh-oleh dari New York?"

"Nggak sempat, Tan. Udah nggak kuat, tahan kangen sama anak Tante," jawab Reiga membuat Sara tertawa.

"Jujur juga ya kamu," puji Sara.

Sara menyuruh Reiga duduk di pantry. Ia menuangkan teh hangat ke dalam cangkir bening bermotif mawar lalu menghidangkanya di depan Reiga.

"Serius sama Hana?" tanya Sara dengan tatapan sendu, tepat saat Reiga menyeruput pelan dan perlahan teh panas yang disuguhkannya.

"Sangat," jawab Reiga cepat.

Sara menghela napas.

"Apa kamu dan Papa kamu nggak masalah dengan Hana? Profesinya? Circle pertemanannya? Karakternya? Latar belakang keluarga? Dan ..."

Sara menimbang untuk melanjutkan ucapannya atau tidak. Reiga memindai raut wajah sendu Sara. Sebuah isu besar dalam keluarga Soediro. Penyebab kematian Ayah Hana, Denis Soediro. Reiga melihatnya dalam pikiran Sara. Masalah pelik itu, melibatkan Devan, Ayah Lana. Denis tersenyum kearah Reiga dengan tangan kanan merangkul Sara.

"Karena itu, orang sebaik Om masih di sini?" gumam Reiga.

"Itu hanya sebuah kesalahpahaman, Rei. Tugas kamu mengubah kerasnya hati Hana, "ucap Denis.

Mengubah kerasnya hati Hana? Lantas Reiga malah merasa tersentil dengan ucapan Denis. Dia saja belum becus mengubah keras hatinya sendiri.

"Dan apa, Tan?"

Sara menghela napas.

"Short story, hubungan Hana dan Eyang Uti-nya kurang baik, Rei," jawab Sara.

"Kayak saya sama Mama?"

Sara bingung menjawabnya bagaimana agar Reiga tidak sampai tersinggung dengan jawabannya nanti. Karena Sara merasa hubungan Hana dengan Eyang Uti tidak seburuk Reiga dan Sheila.

"Nggak sampai seburuk itu ya, Tan?" Reiga mengucapnya sambil senyum.

Sara sontak tidak enak.

"Ya nggak gitu, Rei."

Reiga terkekeh.

"Ya nggak apa-apa, Tan. Hubungan saya sama Mama memang seburuk itu kok," tukas Reiga santai saat mengucapnya. Sambil senyum-senyum pula. Sampai Sara tanpa sadar menatap Reiga kasihan dan mencetuskan, "Kuat sekali sih kamu, Rei."

Reiga yang mendengarnya, mengulum sekelumit senyum tipis. "Nggak sekuat itu, Tan," Andai ia bisa menyuarakannya.

"Then fix it, Rei," pelan Sara mengucapnya penuh keteduhan.

Reiga hanya menjawabnya dengan tersenyum.

"Atau anak Tante yang cinta banget sama kamu itu yang bakal mengurusnya," sambung Sara seakan tengah membicarakan sebuah rahasia.

"Maksudnya, Tan?"

"Hana tuh suka banget ikut campur urusan orang yang dia sayang. Sekalipun orang itu nggak minta tolong sama dia. Dari dulu! Apalagi kalau dia merasa hal itu penting dan wajib dia campuri. Wah, dia bakal mati-matian, Rei, mengganggu kamu sampai kamu mengiyakan dan mengikuti mau dia," ujar Sara mencekam.

Reiga bengong lalu tertawa pelan. Sekarang dia tahu, dari mana asalnya karakter ekspresif Hana yang sering membuatnya geleng-geleng kepala itu.

"Malah ketawa atuh si Mas Ayang mah," ujar Sara dengan segelintir senyum diwajahnya.

"Saya tahu kok, Tan," ucap Reiga.

Sesungguhnya dia sudah melihat belasan kali pertengkaran mereka membahas hubungan tragis itu dari penglihatan masa depan yang membanjiri Reiga. Kesedihan memang selalu bertaut dengan kebahagiaan. Selepas cuplikan seorang balita bernama Arkel, pemilik senyum yang sama dengan Hana, memanggilnya dengan panggilan Papa. Gambaran itu berlanjut, berganti macam-macam, tak karuan. Membuat Reiga gamang. Termasuk berulang kali, ia melihat pujaan hatinya dipersunting Arnold. Gambaran yang tak pernah ingin diaminkannya. Sayangnya, trauma yang membelitnya membuat Reiga lebih mudah mempercayai gambaran negatif ketimbang yang positif. Meski seingin itu, ia mempercayai kebahagiaan yang terasa surga itu.

"Terus kamunya gimana? Nggak apa-apa? Hana itu keras kepala loh, Rei," ujar Sara cemas.

"Saya jauh keras kepala daripada Hana, Tan," ucap Reiga.

Sara terdiam.

"Setujuuuuuu," sahut Hana dari belakang lalu bergelayut manja, melingkarkan kedua tangannya ditubuh Reiga.

Hana menyenderkan kepalanya di lengan kiri Reiga. Dia memang tak pernah malu menunjukkan rasa sayangnya pada siapapun yang mencuri jiwanya. Makhluk physical touch, genetik yang diturunkan langsung oleh Denis. Yang tak segan memeluk dan mengecup Sara kapanpun dan di mana pun.

CUP!

Reiga menolehkan kepalanya, hanya agar bisa mengecup kepala Hana yang menyender padanya. Sara terhenyak melihatnya. "She finds it, Mas. Our daughter's fate," ucap Sara dengan mata yang mulai berkaca tanpa bisa dicegahnya. Denis pun tersenyum melihatnya.

"Terus gimana? Mau nggak?" tanya Reiga yang tidak bisa menahan dirinya untuk tidak melingkari Hana dengan lengan kirinya.

Hana tersenyum.

"You can't run from me, Reishard," jawab Hana.

"I don't wanna run, Han. I wanna stay," sahut Reiga yang membuat Hana senyam-senyum nggak jelas.

"I wanna kiss you so fucking deep, but there's my mom here, "ucap Hana dalam pikirannya. Reiga menahan tawa atas sikap seenaknya Hana yang kini malah menggunakan kemampuan anehnya untuk berkomunikasi rahasia.

"Aku nggak pernah kepikiran loh kalau kemampuan aneh ini malah jadi alat komunikasi rahasia," sahut Reiga.

Hana pun ikut tersambar tahan tawa ala Reiga dengan menggigit bibir bawahnya.

"I take that as the compliment, my dear, "balas Hana.

Reiga hanya bisa menggelengkan kepala samar dalam senyumnya.

Sara berlagak berdecak untuk menjeda tatapan cinta yang tengah bertubrukan dalam khidmat itu.

"Udah sana pacaran! Males banget Ibu harus liatin dua manusia kasmaran kayak gini," protes Sara sambil menjauh dari dapur. Berjalan menuju tangga.

Hana dan Reiga tertawa kecil dibuatnya.

"Pulangnya jangan malam-malam ya. Jagain Hana loh, Rei. Pergi utuh. Pulang utuh. Luar-dalam.

Tidak kurang. Tidak lebih," ujar Sara dengan kaki sudah menapak tangga dan muka sok galak.

"Akan saya jaga sekuat tenaga, Tan," jawab Reiga dengan sorot mata serius.

Sara mengulum senyum dengan haru yang kembali membuat kedua matanya berkaca.

"Akan saya jaga sekuat tenaga, Tan," ledek Hana menirukan Reiga.

Reiga tertawa. "Pinter banget ya godain aku," sahut Reiga.

Hana tertawa bangga.

"Aku pastikan kamu bakal aku godain seumur hidup aku," ujar Hana.

Senyum berbinar dan kilauan di kedua bola matanya yang mengunci Reiga. Berharap kali ini cinta berbaik hati pada si malang ini.

"Di sini, kiblatnya ke arah mana ya, Han?"

Kening Hana mengerut dalam.

"Kiblat?" heran Hana.

Reiga mengangguk. Hana dengan polosnya menunjuk lurus ke arah samping kanannya.

"Kenapa emangnya?" tanya Hana.

"Mau sujud syukur udah dikasih hadiah secantik, sebaik, dan semenyenangkan ini," jawab Reiga dengan sinar mata penuh rasa sayang yang membuat hati Hana yakin begitu saja.

Kedua pipi Hana memerah cepat. Gelembung cinta yang meletus dalam dirinya. Terasa menggelitiknya hingga rasanya tidak mau berhenti tersenyum.

"Reishardddddddd," gemas Hana sambil menangkup kedua pipi Reiga yang ingin diuyel-uyelnya.

"Terus gimana?"

"Apanya? Sujud syukurnya?" ledek Hana dengan sorot mata jahil.

Reiga tertawa.

"Bukan."

"Terus apa?"

"Jadi mau menunaikan bakti kamu sama Tante Sara nggak?"

"Bakti? Maksudnya?" Hana bingung.

Reiga menarik Hana mendekat. Menatap dekat wajah Hana yang begitu dekat dengannya.

"Pergi pacaran. Tadi disuruh kan sama Tante Sara," jawab Reiga membuat Hana tergelak oleh tawa.

"Idih apa sih! Aku udah serius juga!" sebal Hana.

Reiga sudah berdiri lalu menggandeng Hana seraya menarik Hana berjalan keluar.

"Kalau aku seriusin mau nggak?" goda Reiga.

"Emangnya harus ditanya lagi?" timpal Hana sambil bergelayut manja di lengan kanan Reiga tanpa melepas genggaman tangan mereka.

Mereka saling bertatapan dengan senyum lebar berbentuk sabit.

"Ah, shit!"seru Reiga dalam hatinya yang kalah akan badai hasrat yang menggulungnya. Reiga menuruti inginnya, untuk meraih wajah Hana dan mendaratkan kecupan di bibir yang dirindukannya setengah mati sampai tidak beli oleh-oleh untuk calon mertuanya itu.

Sialnya, bukannya menghentikan kebablasannya Reiga menahan badai. Hana malah membalas kecupan itu dengan sebuah ciuman yang membuat Reiga tersenyum dalam ciuman mereka.

"This time, love feels so goddamn good, God."

"Cantik kan?" celetuk Zidane ke arah Cyila yang tengah bengong menatap TV di depan lobi lantai 4. Ada tayangan gosip yang tengah membawakan berita Adrianne Hana.

Cyila menoleh. Tersenyum ramah. Meski faktanya, dari enam orang sahabat Reiga, Cyila paling tidak suka Zidane.

Zidane sudah berdiri disamping kanannya.

"Ya namanya juga artis, Dane," sahutnya diplomatis.

"Jangan ganggu Reiga, Cyil," ucap Zidane to the point dengan dua tangan di saku jas putih kedokterannya.

Cyila terhenyak mendengarnya. Zidane memang hobi cengar-cengir. Paling naif. Terlalu polos. Tapi, kalau sudah soal Reiga. Maka ia akan jauh lebih garang dari Rama dan jauh lebih nyelekit ketimbang Tristan. Cyila memaksa bibirnya tersenyum.

"Jahat banget tuduhan lo, Dane," ujarnya.

Zidane berdecak. Ia menatap Cyila.

"Gue nggak pernah lupa apa yang udah lo lakukan ke Reiga, Cyil. Dan gue harap, apapun yang ada dalam niat lo saat memutuskan kembali untuk mendekat dalam lingkaran kehidupan Reiga. Itu bukan niat jahat untuk mengacaukan semua kebahagiaan sahabat gue," tegas Zidane.

Cyila tidak tahan lagi, berakting sok baik di depan Zidane. Dokter gigi itu berdecak.

"Tahu dari mana Reiga bahagia?" sinis Cyila.

Zidane menghela napas.

"Nggak perlu gue jelaskan. Lo udah bisa lihat sendiri kan di tv tadi," jawab Zidane.

Cyila mendesis.

"Kenapa lo sinis sama gue?"

"Pertanyaan ini serius harus gue jawab?"

"Urusan lu apa sih, Dane!? Reiga aja nggak marah. Kenapa jadi lo yang sewot!? Atau benar karena sebenarnya dari dulu lo suka sama gue??" ujar Cyila menyebalkan.

Senyum mengejek yang tersungging diwajah cantik nan mungilnya itu.

Zidane berdecak. "Reiga itu orang baik. Nggak seharusnya manusia kayak lo memanfaatkan kebaikan hati Reiga buat kepentingan pribadi, lalu membuangnya kayak sampah setelah nggak berguna," sahut Zidane dengan tatapan tajam.

Cyila terhenyak. Lalu, berdecak. Tanpa takut membalas tatapan Zidane. Bagai menyambut genderang perang yang ditabuh dokter bedah jantung itu.

"Seperti waktu itu, sekarang pun lo juga nggak akan bisa menghentikan gue, Dane. Reiga pasti akan pilih gue. Just like ordinary. He will comes to me like a loyal servant," Begitu angkuh Cyila mengucapnya lalu berbalik dan berjalan meninggalkan Zidane.

"Gue memang kalah sama lo, Cyil..." Ucapan Zidane menghentikan langkah Cyila. "Tapi kali ini, lawan lo bukan gue...."

Wajah Adrianne Hana langsung terbayang dalam kepala Cyila. "Apaan sih, Cyil! Lo nggak akan pernah kalah! Apalagi jika itu mengenai Reiga!" tandasnya dalam hati.

"Lo nggak akan pernah menang dari Hana," ucap Zidane sebagai pamungkas.

Entah mengapa ada gentar dalam hati Cyila saat Zidane mengucapkannya.

"We'll see!" tukasnya lalu segera pergi dari sana sebelum Zidane bersorai senang melihat keraguan dari bola matanya.

Zidane memandangi kepergian Cyila.

Bersamaan dengan ingatan masa lalu yang terputar dalam otaknya. Yang tidak akan pernah dilupakannya.

"Tenang aja. Reiga bakal melakukan semua yang gue minta. Segoblok dan senaif itu dia. Namanya juga nggak pernah dapat kasih sayang seorang ibu. Kasihan sih, tapi gimana ya. Gue juga butuh dana-nya buat kuliah kan. Adil lah ya? Dia dapat kenangan indah dari gue juga kan sebagai gantinya," ucap Cyila pada seseorang melalui handphone genggamnya. Tepat di depan toilet SMA mereka.

Zidane yang baru selesai buang air kecil, tidak sengaja mendengarnya.

Betapa marahnya dia waktu itu. Sampai Zidane lupa, kalau Cyila itu perempuan, hingga tanpa sadar, pemilik nama panjang Zidane Arsa Satyanegara itu langsung melabrak Cyila. Memang tanpa kekerasan. Entah itu verbal ataupun non physical. Tapi kejadian itu membesar dan untuk pertama kalinya, ia bertengkar dengan Reiga yang memilih membela Cyila.

Arnold baru tahu kalau hatinya bisa merasa sesakit ini hanya karena melihat Hana mencium Reiga dengan gigle yang dulunya adalah miliknya. "Lu ngapain sih ke sini, Nold?" sinisnya atas diri sendiri yang membuatnya memarkirkan mobil tidak jauh dari rumah Hana. Tadinya ia ingin berhenti tepat di depan rumah Hana. Namun Ferrari merah milik Reiga yang mendahului lajunya, memukul mundur Arnold. Membuatnya bersembunyi dan membiarkan dirinya makan hati karena secuil tadi ia melihat Hana tertawa riang di sana, bersama Reiga Reishard. Bukan lagi dirinya yang tolol dan brengsek ini.

Ah, dia memang pengecut!

Konyolnya si pengecut ini, malah baru menyadari betapa ia mendamba Hana.

Iya.

Adrianne Hana.

Perempuan yang selama 4 tahun ini mengejar cintanya. Yang rela melakukan apapun demi berusaha membuatnya cinta. Kini, tak lagi. Semua itu hanya masa lalu untuk Hana. Bisa jadi, semua itu adalah masa lalu yang tidak ingin diingat Hana.

Tidak ingin diingat?

Mungkin kalimat itu kurang tepat. Karena dilihat dari kebahagiaan yang terpancar keluar dalam diri Hana. Senyum gadis itu. Bersinarnya mata Hana. Arnold hanya bagaikan kepingan masa lalu yang tak akan pernah sempat Hana ingat. Bukan karena kesibukan Hana sebagai aktris papan atas. Melainkan tak bukan karena Hana tengah dihadapkan pada masa kini dan masa depan yang rela melakukan apapun demi kebahagiaannya.

Apapun.

Tanpa diminta. Bahkan jika itu di luar logika sekalipun.

"Makasih ya, Han," ucap Arnold begitu pintu lift tertutup.

"Jangan mulai deh, Nold!" galak Juni berdiri sebagai pemisah Arnold dan Hana.

"Untuk?" Sahutan Hana membuahkan senyum di wajah Arnold. Kaget di wajah Juni.

"Han???"

"Menyelamatkan aku dari kehancuran," jawab Arnold yang merasa dapat angin segar karena Hana menanggapinya.

Hana menghela napas.

"I do it to protect my man. Bukan kamu," dingin Hana menanggapinya.

Arnold sontak muram. Ada nyeri dalam hatinya begitu mendengar ucapan Hana. My man katanya...

Juni pun melongo takjub. "Aku nggak mau Reiga jadi orang jahat hanya karena kamu. Jadi nggak usah merasa berterima kasih untuk itu," tambah Hana.

Kala itu Arnold berdecak. Ia merasa dirinya adalah benda terbuang. Padahal nyatanya, dia adalah pelaku pembuang berdarah dingin itu. Dan mungkin, kebingungan yang dimilikinya sekarang, menginginkan dua wanita sekaligus adalah satu dari karma yang ditanggungnya.

1
𝐀⃝🥀Weny
wiiih... kira² mau ngomongin apa ya🤔apa mau kasih surprise ke Hana ya🤔
𝐀⃝🥀Weny
tumben up dikit thor😁
𝐀⃝🥀Weny
yang perlu dibuang ke tong sampah itu kamu chil😤
𝐀⃝🥀Weny
ohhh.. so sweet banget sih kamu Rei😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!