Dikhianati oleh tunangannya sendiri demi merampas akar spiritual bawaannya, Lin Tian—sang jenius nomor satu dari Kota Daun Gugur—jatuh menjadi "sampah" yang dilumpuhkan dan dihina oleh klannya sendiri. Selama tiga tahun, ia menelan segala penderitaan dan penindasan dalam diam, bertahan hidup hanya demi mencari kebenaran tentang orang tuanya yang hilang dan membalas dendam pada mereka yang merampas masa depannya.
Namun, roda takdir berputar ketika darahnya tanpa sengaja membangkitkan jiwa Kaisar Alkemis Surgawi yang tertidur di dalam liontin peninggalan ibunya, Mutiara Kekacauan Primordial.
Mendapatkan warisan kuno dan merombak fisiknya menjadi Tubuh Pedang Kekacauan, Lin Tian kembali menapak jalan kultivasi yang kejam. Di dunia di mana hukum rimba berlaku mutlak dan kekuatan adalah satu-satunya kebenaran, Lin Tian harus menggunakan akal, taktik, dan kekuatan barunya untuk membelah segala rintangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Deklarasi Angka Kematian dan Suaka Akademi Bintang Surgawi
Kepanikan di alun-alun utara Kota Gerbang Besi semakin tidak terkendali. Utusan dari Klan Huangpu, seorang pria paruh baya dengan aura Setengah Langkah Jiwa Baru Lahir (Half-step Nascent Soul), mencengkeram kerah kultivator pengembara yang gemetar itu hingga kakinya terangkat dari tanah.
"Kau bilang pemuda berjubah abu-abu? Ciri-ciri apa lagi yang dia miliki?! Senjata apa yang dia gunakan?!" raung utusan itu, matanya merah menyala oleh amarah dan duka. Kematian Pangeran Ketiga bukan hanya kehilangan seorang jenius, melainkan tamparan mutlak bagi wajah klan mereka di Ibukota.
"S-Saya tidak tahu! Dia menggunakan pedang besi biasa... dan tangannya... tangannya menghancurkan segalanya!" jawab pemuda itu sambil menangis.
Utusan Klan Xue dan beberapa bangsawan lain segera menyebar, memindai kerumunan ribuan peserta yang selamat dengan indra spiritual mereka yang tajam layaknya elang kelaparan. Mereka mencari siapa pun yang mengenakan jubah abu-abu dan memancarkan fluktuasi energi yang mencurigakan.
Namun, pencarian itu sia-sia. Di dunia kultivasi, jubah pengembara berwarna abu-abu adalah pakaian paling umum yang dikenakan oleh ribuan orang. Lin Tian berdiri dengan tenang di barisan tengah, auranya disamarkan dengan sempurna di Tahap Pendirian Yayasan Tingkat 3. Di mata para utusan yang sedang kalap, seorang pemuda Tingkat 3 sama sekali tidak masuk dalam radar kecurigaan untuk seseorang yang bisa membantai puluhan elit Tingkat 7.
"Cukup!"
Sebuah suara yang mengandung tekanan Qi yang luar biasa berat bergema dari langit, meredam segala keributan. Tetua Jin, kepala pengawas ujian dari Akademi Bintang Surgawi, melayang turun. Wajahnya keras dan tidak menoleransi pelanggaran aturan.
"Reruntuhan Ribuan Siluman adalah zona tanpa hukum yang diakui oleh Kekaisaran! Siapa pun yang mati di dalam sana, mati karena kelemahan mereka sendiri. Akademi tidak akan membiarkan siapa pun melakukan interogasi paksa di alun-alun ini. Baris dengan tertib dan serahkan token kalian untuk verifikasi!"
Para utusan bangsawan menggertakkan gigi, namun mereka terpaksa mundur. Akademi Bintang Surgawi berada langsung di bawah yurisdiksi Kaisar. Menantang tetua akademi secara terbuka sama dengan makar.
Proses verifikasi dimulai. Satu per satu peserta maju ke depan pilar batu giok pencatat.
"Token 1042, seratus dua puluh poin. Lulus."
"Token 883, delapan puluh poin. Gagal."
"Token 502, lima ratus poin. Lulus dengan pujian."
Setiap kali angka yang tinggi muncul, para peserta akan berbisik kagum. Namun, pikiran semua orang—termasuk para tetua—sebenarnya hanya tertuju pada satu hal: siapa pemegang Token 4021 yang memonopoli 14.500 poin di puncak monumen.
Lin Tian melangkah maju dalam antrean dengan ritme yang stabil. Otaknya telah menghitung segala probabilitas dari apa yang akan terjadi selanjutnya.
Secara logis, ia bisa saja memecah poin tersebut atau membuang tokennya dan masuk dengan token lain untuk menghindari perhatian. Namun, menyembunyikan pencapaian absolut berarti membuang privilese absolut. Untuk mendapatkan akses tak terbatas ke Kolam Sumsum Naga dan Perpustakaan Hukum Kekaisaran, ia tidak boleh hanya menjadi murid biasa. Ia harus menjadi anomali yang tak tergantikan di mata hierarki akademi.
Tiba gilirannya.
Lin Tian melangkah ke depan meja batu tempat Tetua Jin berdiri. Diakon pencatat bahkan tidak menatap wajahnya, hanya mengulurkan tangan.
"Serahkan tokenmu," ucap diakon itu monoton.
Lin Tian memasukkan tangannya ke dalam saku jubah, lalu meletakkan pelat logam hitam berbentuk segi delapan ke atas meja giok.
Tring.
Seketika, formasi pilar giok di belakang mereka beresonansi dengan suara dengungan yang sangat keras, jauh lebih keras dari sebelumnya. Cahaya merah darah yang menyilaukan meledak dari pilar tersebut, memproyeksikan sederet angka besar yang melayang di udara alun-alun.
[Token 4021 - 14.500 Poin]
Waktu di alun-alun Kota Gerbang Besi seakan berhenti berdetak. Angin berhenti berembus. Napas ribuan orang tercekat di tenggorokan mereka.
Mata diakon pencatat itu membelalak hingga nyaris robek, menatap token di atas meja, lalu menatap perlahan ke arah pemuda berjubah abu-abu gelap di depannya. Tetua Jin yang biasanya tenang langsung berdiri dari kursinya, indra spiritualnya secara otomatis memindai tubuh Lin Tian.
Di area VIP, utusan Klan Huangpu dan Klan Xue membeku sejenak, sebelum akal sehat mereka menghubungkan benang merah dari tragedi di reruntuhan.
"Kau..." Utusan Klan Huangpu menunjuk Lin Tian dengan jari bergetar. Fluktuasi energi pembunuh meledak dari tubuhnya. "Bocah Tingkat 3?! Tidak mungkin... Kau pasti menggunakan trik kotor dan artefak iblis untuk membunuh Pangeran Ketiga! KAU IBLIS BERJUBAH ABU-ABU ITU!"
"Mati kau, Bajingan!" raung utusan Klan Xue, tidak lagi mempedulikan aturan akademi. Ia meledakkan aura Setengah Langkah Jiwa Baru Lahirnya, membentuk tangan energi raksasa berwarna merah darah yang langsung menukik turun untuk mencengkeram dan meremukkan tubuh Lin Tian.
Serangan itu membawa niat membunuh yang absolut. Peserta ujian lain di sekitar Lin Tian menjerit panik dan berhamburan melarikan diri, takut terkena gelombang kejut dari ahli tingkat tinggi tersebut.
Namun, Lin Tian tetap berdiri di tempatnya. Ia tidak menghunus pedang. Ia tidak memanggil energi Kekacauan untuk bertahan. Mata dinginnya menatap lurus ke arah telapak tangan raksasa yang turun menimpanya, dengan kalkulasi matematis bahwa serangan itu tidak akan pernah menyentuh kulitnya.
"Logika institusi," gumam Lin Tian pelan. "Sebuah akademi militeristik tidak akan membiarkan aset terbaiknya dihancurkan oleh politisi faksi di halaman depan mereka sendiri."
Tepat saat tangan energi merah itu berjarak kurang dari satu meter di atas kepala Lin Tian, sebuah dengusan dingin terdengar dari langit.
BUM!
Sebuah pilar cahaya keemasan melesat dari pusat akademi, menghantam tangan energi merah itu hingga hancur menjadi serpihan cahaya dalam sekejap mata. Gelombang kejut balasan menyapu alun-alun, menghantam utusan Klan Xue dan Huangpu hingga mereka terlempar mundur memuntahkan darah.
"Siapa yang berani melanggar hukum mutlak Akademi Bintang Surgawi?!"
Suara itu tidak keras, namun menggema di dalam benak setiap orang. Seorang lelaki tua kurus dengan jubah putih bersih melayang turun dari udara. Tidak ada fluktuasi Qi yang memancar darinya, namun kehadirannya membuat ruang itu sendiri terasa tunduk.
"K-Kepala Akademi..." Tetua Jin segera berlutut dengan satu kaki, diikuti oleh seluruh diakon dan penjaga kota.
Kepala Akademi, eksistensi mutlak di puncak Tahap Jiwa Baru Lahir, menatap dingin ke arah para utusan bangsawan yang kini terkapar di tanah.
"Di dalam Reruntuhan, aturan kami mengizinkan penjarahan poin. Siapa yang bertahan hidup dan membawa poin terbanyak, dia adalah pemenangnya," ucap Kepala Akademi, suaranya tenang namun mematikan. "Pemuda ini telah melewati ujian dengan mematuhi aturan tertulis. Jika kalian ingin membalas dendam, kirimkan surat tantangan resmi melalui arena hidup-mati akademi. Jika kalian berani menyerang muridku di luar arena, aku akan meratakan klan kalian dari peta Ibukota."
Pernyataan itu adalah vonis absolut. Utusan Klan Huangpu dan Xue menggertakkan gigi mereka hingga retak, namun mereka tidak berani mengeluarkan satu bantahan pun. Menentang Kepala Akademi secara frontal adalah bunuh diri.
Setelah memastikan para bangsawan itu bungkam, Kepala Akademi menoleh, menatap pemuda yang menjadi pusat badai ini. Ia memindai Lin Tian, dan untuk pertama kalinya dalam ratusan tahun, matanya menunjukkan secercah kebingungan. Ia tidak bisa melihat kedalaman sebenarnya dari Dantian Lin Tian; yang ia lihat hanyalah pusaran abu-abu kusam yang menolak segala bentuk penetrasi indra spiritual.
"Siapa namamu, Nak?" tanya Kepala Akademi, nada suaranya berubah menjadi sedikit lebih ramah, mengakui nilai Lin Tian.
Lin Tian akhirnya memecah keheningannya. Ia menangkupkan satu tangannya, memberikan penghormatan standar yang tidak berlebihan.
"Lin Tian."
"Lima belas ribu poin adalah rekor yang belum pernah dipecahkan selama tiga ratus tahun sejarah akademi ini," Kepala Akademi mengangguk pelan. "Sesuai janji kaisar, peringkat pertama akan langsung diangkat menjadi Murid Inti, dan berhak mengajukan satu permintaan akses sumber daya tanpa syarat."
Ini adalah momen yang telah dikalkulasi oleh Lin Tian sejak awal ia menginjakkan kaki di Benua Tengah.
"Saya ingin akses tertutup ke Kolam Sumsum Naga selama tujuh hari penuh, dimulai malam ini," jawab Lin Tian dengan nada datar dan presisi.
Mendengar permintaan itu, Tetua Jin terbelalak. "Tujuh hari?! Kultivator jenius di Tahap Inti Emas pun hanya berani berendam di Kolam Sumsum Naga selama maksimal tiga jam sebelum pembuluh darah mereka meledak karena energi Yang murni! Kau hanya di Tahap Pendirian Yayasan, kau akan mati terbakar!"
Rasionalitas kultivasi ortodoks membenarkan peringatan Tetua Jin. Namun, Lin Tian tidak menggunakan tubuh fana biasa. Ia menggunakan Dapur Lebur Kekacauan.
"Kapasitas tubuh saya adalah urusan saya, Tetua," jawab Lin Tian dingin. "Apakah akademi akan menepati aturannya, atau adakah batasan tersembunyi pada janji tersebut?"
Kepala Akademi tertawa keras, sebuah tawa yang dipenuhi ketertarikan pada arogansi dan kepercayaan diri pemuda ini. "Sangat bagus. Akademiku tidak memelihara domba yang takut pada rumput berduri. Permintaanmu dikabulkan, Lin Tian. Jika kau bisa selamat dari tujuh hari di dalam kolam itu, Akademi Bintang Surgawi akan menjadikanmu pedang utama kekaisaran."
Lin Tian mengangguk. Ia berbalik, mengikuti seorang diakon yang gemetar untuk dipandu menuju pusat fasilitas akademi. Di belakangnya, tatapan penuh kebencian dari fraksi bangsawan dan tatapan kekaguman dari ribuan kultivator muda mengiringi langkahnya.