NovelToon NovelToon
DIBALIK NAMA DAN SKANDAL

DIBALIK NAMA DAN SKANDAL

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:588
Nilai: 5
Nama Author: Nanda Amalia

Elora Kirana bukan lagi nama yang dipuja seperti dulu. Sekali waktu dia adalah bintang yang bersinar terang, tapi satu skandal cukup untuk menjatuhkannya tanpa ampun. Dalam semalam, dunia yang dulu memujanya berubah jadi lautan hujatan. Kariernya hampir runtuh, kontrak diputus, dan kepercayaan publik hilang begitu saja. Saat semua orang menjauh, satu orang justru datang dengan cara yang paling tidak ia duga. Arshaka Bhumisvara. Seorang CEO muda yang dikenal dingin, tak tersentuh, dan selalu terlihat terlalu sempurna untuk dunia yang penuh drama seperti milik Elora. Tidak ada yang mengira dia akan ikut campur dalam skandal seorang artis. Tapi Arshaka datang bukan untuk simpati. Dia menawarkan sebuah kesepakatan. “Jadilah pacarku di depan publik.” Sebuah hubungan palsu untuk menutupi skandal, meredam media, dan menyelamatkan nama baik mereka berdua. Syarat yang terdengar sederhana, tapi jelas bukan tanpa risiko. Awalnya, Elora hanya menjalani semuanya seperti akting. Senyum di depan kamera, genggaman tangan yang dibuat seolah nyata, dan tatapan hangat yang sebenarnya kosong makna. Tapi Arshaka… terlalu meyakinkan untuk sekadar berpura-pura. Dan Elora mulai sadar, batas antara sandiwara dan kenyataan perlahan menghilang. Di balik sikap dinginnya, Arshaka menyimpan cara memandang Elora yang membuatnya ragu. Terlalu dalam. Terlalu nyata untuk dianggap pura-pura. Masalahnya sekarang bukan lagi soal skandal yang ingin mereka tutupi… Tapi perasaan yang diam-diam tumbuh di antara dua orang yang sama-sama tidak siap untuk jatuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanda Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 - Ketika Batas Mulai Diabaikan

Sejak keputusan pindah hotel itu, Elora mulai menyadari satu hal yang tidak ia suka akui terlalu cepat: Arshaka tidak lagi sekadar “ada di sekitar”. Pria itu mulai mengisi ruang-ruang kecil dalam hidupnya tanpa benar-benar meminta izin, seolah kehadirannya bukan lagi sesuatu yang bisa dinegosiasikan. Bukan dengan cara yang kasar atau meledak-ledak, tapi justru dengan cara yang lebih halus, lebih tenang, dan karena itu terasa lebih sulit untuk dilawan. Setiap detail kecil tentang hari Elora kini selalu melewati satu orang yang sama terlebih dahulu, dan meskipun Elora tidak pernah secara langsung menyetujuinya, semuanya tetap berjalan seolah sudah menjadi aturan yang tidak tertulis.

Pagi itu, Elora baru saja bersiap untuk keluar kamar ketika ia mendapati jadwal harinya sudah berubah di ponselnya. Bukan dari manajernya, bukan dari tim produksi, tapi dari asisten Arshaka sendiri. Ada pengaturan ulang yang tidak ia minta, ada perubahan lokasi yang tidak ia diskusikan, dan ada satu kalimat singkat di bagian bawah pesan itu yang membuatnya berhenti cukup lama: “Pak Arshaka sudah mengonfirmasi.” Elora menatap layar itu cukup lama sebelum akhirnya tertawa pelan, bukan karena lucu, tapi karena absurdnya situasi yang ia hadapi sekarang. Bahkan jadwal hidupnya mulai melewati persetujuan orang lain yang bahkan secara resmi tidak punya hak atas dirinya.

Saat ia keluar dari kamar, Arshaka sudah menunggu di lorong. Seperti biasa, pria itu tidak terlihat terburu-buru, tidak juga terlihat menekan, tapi ada sesuatu yang berbeda dari cara dia berdiri hari itu—lebih dekat dari biasanya, lebih siap, seolah ia memang sudah memperkirakan setiap langkah Elora bahkan sebelum Elora memutuskan untuk bergerak. Tanpa banyak kata, Arshaka langsung berjalan di sampingnya, dan secara otomatis dua orang staf yang seharusnya menemani Elora sedikit mundur, memberi ruang yang secara tidak langsung sudah “diambil alih” oleh kehadiran Arshaka sendiri.

“Kamu nggak perlu selalu ikut sampai sejauh ini,” kata Elora akhirnya di dalam lift, suaranya pelan tapi jelas terdengar.

Arshaka tidak langsung menoleh. “Aku tidak ikut.”

Elora mengangkat alis sedikit. “Ini disebut apa kalau bukan ikut?”

Baru setelah itu Arshaka menatapnya sekilas, cukup lama untuk membuat Elora sadar bahwa jawaban yang akan keluar tidak akan sederhana. “Ini disebut memastikan.”

Elora menghela napas pelan, mencoba menahan rasa frustrasi yang mulai muncul sejak pagi. “Memastikan apa?”

“Bahwa kamu tidak sendirian di situasi yang tidak kamu kendalikan,” jawab Arshaka tanpa ragu.

Dan kalimat itu, sekali lagi, terdengar seperti sesuatu yang masuk akal… sampai Elora menyadari bahwa definisi “tidak terkendali” di mata Arshaka tampaknya jauh lebih luas daripada yang ia pikirkan.

Di luar gedung, situasi sudah seperti yang Elora mulai terbiasa—kamera, suara orang-orang yang memanggil nama mereka, dan kerumunan yang selalu muncul entah dari mana begitu mereka berdua terlihat bersama. Tapi kali ini ada perbedaan yang cukup jelas. Arshaka tidak lagi sekadar berdiri di sampingnya seperti sebelumnya. Tangannya lebih sering bergerak, bukan secara agresif, tapi cukup untuk mengubah arah tubuh Elora tanpa banyak kata. Jika ada orang yang terlalu dekat, Arshaka akan sedikit menggeser posisi Elora tanpa meminta pendapat. Jika ada kamera yang terlalu agresif, ia akan menutup ruang pandang dengan tubuhnya sendiri.

Dan Elora mulai menyadari bahwa ini bukan lagi sekadar “protektif”.

Ini sudah terlalu terarah.

Di dalam mobil, suasana tidak menjadi lebih ringan. Arshaka duduk di sebelahnya seperti biasa, tapi jarak yang dulu masih terasa ada, sekarang perlahan menghilang tanpa Elora benar-benar sadar kapan itu terjadi. Bahkan ketika tidak ada percakapan, kehadiran Arshaka terasa lebih dominan dari sebelumnya, seperti ia sedang mengisi ruang yang biasanya dibiarkan kosong. Elora beberapa kali ingin membuka pembicaraan, tapi setiap kali ia mencoba, ia selalu berhenti di tengah, karena ada sesuatu di cara Arshaka diam yang membuatnya merasa seperti sedang diawasi, bukan dalam arti buruk, tapi dalam arti yang terlalu intens untuk diabaikan.

“Kamu sadar nggak sih,” Elora akhirnya berbicara lagi, kali ini menoleh langsung, “kamu mulai terlalu ikut campur dalam semua hal kecil.”

Arshaka tidak langsung menjawab, matanya tetap di depan. “Contohnya?”

“Jadwal. Pergerakan. Bahkan siapa yang boleh ngomong sama aku.”

Baru di situ Arshaka menoleh, pelan, tapi cukup jelas untuk membuat Elora menahan tatapannya. “Dan itu masalah?”

Elora terdiam sebentar. “Iya. Karena itu hidup aku.”

Ada jeda.

Tapi bukan jeda yang kosong.

Lebih seperti jeda seseorang yang sedang menahan sesuatu agar tidak keluar terlalu cepat.

“Aku tidak mengubah hidupmu,” kata Arshaka akhirnya, lebih rendah dari sebelumnya. “Aku hanya mengurangi hal-hal yang bisa mengganggu kamu.”

Elora menatapnya cukup lama. “Siapa yang nentuin apa yang ganggu atau nggak?”

Dan untuk pertama kalinya hari itu, Arshaka tidak langsung menjawab.

Tapi tangannya yang tadi santai di samping tubuhnya, kini sedikit bergerak, lebih dekat ke arah Elora—tidak menyentuh, tidak memaksa, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa jarak di antara mereka bukan lagi sesuatu yang ia jaga seperti awal.

Malamnya, Elora baru benar-benar merasakan perubahan itu dengan jelas. Bukan dari apa yang Arshaka katakan, tapi dari apa yang ia lakukan tanpa banyak penjelasan. Setiap kali Elora keluar ruangan, Arshaka tahu. Setiap kali ada orang yang ingin berbicara terlalu lama dengannya, Arshaka sudah ada di sana sebelum percakapan itu menjadi panjang. Bahkan ketika Elora meminta waktu sendiri, selalu ada alasan halus yang membuat Arshaka tetap berada di dekatnya, seolah “sendiri” bukan lagi sesuatu yang ia anggap perlu untuk Elora.

Dan yang paling mengganggu dari semuanya adalah fakta bahwa Arshaka tidak pernah terlihat ragu saat melakukannya.

“Aku nggak butuh dijaga sampai segini,” kata Elora akhirnya di balkon hotel malam itu, angin dingin bergerak pelan di antara mereka.

Arshaka berdiri tidak jauh darinya, seperti biasanya. Tapi kali ini ia tidak langsung menjawab. Matanya menatap kota di bawah mereka cukup lama sebelum akhirnya berbicara dengan suara yang lebih pelan dari biasanya.

“Kamu bukan orang yang bisa dibiarkan sendirian di situasi ini.”

Elora menoleh cepat. “Aku bukan barang yang harus diamankan.”

Arshaka akhirnya menatapnya langsung.

Dan untuk pertama kalinya, ekspresinya tidak lagi hanya tenang.

“Tapi aku tidak akan membiarkan kamu hilang di dalamnya.”

Dan di titik itu, Elora mulai mengerti sesuatu yang tidak ingin ia akui sejak awal.

Arshaka tidak lagi hanya bertindak seperti CEO yang menjalankan kontrak.

Dia mulai bertindak seperti seseorang yang sudah memutuskan bahwa Elora adalah bagian dari sesuatu yang tidak boleh lepas dari pengawasannya.

Dan semakin Elora mencoba mundur…

semakin Arshaka terlihat seperti tidak berniat memberi ruang untuk itu terjadi.

Jangan lupa vote & komentar ya—aku baca semua 💌

See you di bab selanjutnya...

1
T28J
hadiir kk 👍
T28J
aw.. aw.. aw👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!