Di balik kemewahan dunia gelap, sebuah pelelangan rahasia mempertemukan para elit dengan satu “barang” paling berharga—seorang gadis tak bersalah yang menjadi pusat perhatian.
Semua menginginkannya, namun hanya satu nama yang mampu menghentikan segalanya dalam sekejap.
Rayga Alessandro Virelli, mafia bengis yang dikenal tanpa hati, membelinya tanpa ragu. Baginya, itu hanyalah transaksi biasa—hingga kehadiran gadis yang bernama Aurellia Valensi mulai mengusik sesuatu dalam dirinya yang telah lama mati.
Di dunia Rayga, kelemahan adalah kehancuran.
Namun saat perasaan mulai tumbuh, ia harus memilih—tetap menjadi monster yang ditakuti semua orang, atau mempertaruhkan segalanya demi satu orang yang seharusnya tak berarti apa-apa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Julianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyemaian Benih
"Kamu jangan mempermainkan saya!" bentak Rayga yang merasa dipermainkan oleh Aurellia dan ucapan Aurellia itu dianggapnya sebagai lelucon tiada arti.
Aurellia mengalihkan pandangannya ke arah lain, tidak mau bersitatap dengan Rayga yang mulai marah padanya.
"Siapa juga yang mempermainkan Tuan. Kan memang sekarang kita tidak butuh video itu lagi. Noh, burungnya sudah tidur terkulai begitu," ujar Aurellia, dia menunjuk burung Perkutut milik Rayga yang sudah loyo dan tertidur seperti yang dikatakan Aurellia padanya, Otomatis Rayga mengikuti arah yang ditunjuk oleh Aurellia.
"Kamu meledekku?!" bentak Rayga saat dia baru menyadari kalau tongkat saktinya sudah menciut.
Aurellia menggeleng. "Enggak, mana berani aku meledek Tuan," jawabnya.
Tidak mau Rayga benar-benar marah padanya, Aurellia memilih diam sambil menunggu apa yang tadi dia minta ke temannya.
Bahkan Rayga juga enggan menoleh pada Aurellia, dia lebih memilih memainkan ponselnya daripada harus melihat gimana raut wajah Rayga yang saat ini terpancing amarahnya oleh Aurellia.
Berselang beberapa detik setelah dia membuka aplikasi chat berwarna hijau di ponselnya, sebuah pesan masuk sesuai request Aurellia sebelumnya yang dia sampaikan pada salah satu temannya.
"Ini, Tuan. Sudah dikirim temanku." Aurellia memperlihatkan pesan yang dia terima pada Rayga.
Raga mengambil ponsel Aurellia, membuka isi pesan dari teman wanita itu dan tanpa ragu-ragu Rayga memutar videonya.
"Temanmu yang perempuan tadi suka mengoleksi yang beginian?" tanya Rayga yang fokus pada layar ponsel di tangannya.
"Hu'um... dia suka koleksi beginian, bahkan di ponsel dan laptop dia mungkin ada ratusan yang dia koleksi," jawab Aurellia, dia tidak ikutan melihat pada layar ponselnya.
Aurellia malah melihat sekitaran dinding kamar seolah ada hal yang menarik perhatiannya disana.
"Temanmu tidak benar, jangan terlalu dekat dengannya," kata Rayga, dia langsung menilai buruk teman Aurellia yang telah mengirim mereka sesuatu yang sangat mereka butuhkan saat ini.
Setelah berkata seperti itu, Rayga membetulkan duduknya.
Sehingga posisi mereka berdua duduk bersisian dengan arah yang sama.
"Perhatikan baik-baik, biar kamu juga ngerti gimana caranya," ujar Rayga.
"Iya," jawab Aurellia dengan suara pelan.
"Di sini, bukan di dinding," ujar Rayga saat memergoki Aurellia yang tidak melihat pada layar ponsel, melainkan melihat sekitaran dinding kamar.
Rasa malu yang begitu menekannya menyeruak di hati Aurellia.
Padahal tadi dia baik-baik saja dan begitu santai melayani Rayga, tetapi ketika harus menonton video yang tengah diputar Rayga di ponselnya, wajah Aurellia memerah karena malu.
Apalagi Rayga memaksanya untuk ikut menonton film Tom and Jerry yang diputarnya.
Saat video itu sudah mulai menunjukkan praktik cangkul-mencangkul sambil menunggangi kuda liar, sekujur tubuh Aurellia meremang.
Saraf-sarafnya mulai terpancing dan beraksi.
"Perhatikan ini, jangan lihat dinding seperti itu," protes Rayga saat dia kembal memergoki Aurellia mengalihkan penglihatannya ke arah lain.
Aurellia hanya mengangguk, kegiatan yang baru dia lihat untuk pertama kalinya itu sudah berhasil memancing aliran ganas dalam dirinya.
Bahkan sekarang kepala Aurellia terasa penuh, sangat ingin diaduk-aduk rimba belantaranya secepat mungkin.
Tidak hanya Aurellia saja yang terpancing, Rayga pun sudah mulai merasa hangat dalam dirinya.
Mata pria itu sudah mulai berkabut, tangannya mulai bergerak tak karuan di punggung Aurellia.
Dari sudut matanya, Aurellia bisa melihat burung perkutut yang berukuran big size itu sudah kembali bangun dan menantang.
"Sepertinya kita gagal bukan karena kita tidak tahu caranya untuk main cangkul-cangkulan, Tuan," ujar Aurellia dengan suara pelan hampir berbisik, tetapi masih bisa didengar oleh Rayga.
Rayga yang mulai tidak fokus melihat tontonannya, mengalihkan pandangannya pada Aurellia yang berada di sisinya.
"Lalu?" tanyanya dengan pandangan sudah kembali berbeda, pandangan yang penuh makna dan arti.
Yang pasti, pandangan Rayga itu terlihat jelas kalau dia sudah sangat siap menerkam mangsanya.
"Cangkulnya terlalu kebesaran, sedangkan pintu masuknya mungkin kekecilan untuk ukuran sebesar itu," bisik Aurellia hati-hati, takut Rayga marah.
Bukannya marah, Rayga menanggapi ucapan Aurellia dengan tawa.
Ucapan itu seolah pujian baginya, padahal Aurellia mengucapkan itu penuh rasa takut akan direspon dengan kemarahan.
"Senjataku kualitasnya memang luar biasa," sahutnya penuh percaya diri.
Rayga tidak lagi melanjutkan tontonannya, walau video itu masih diputar dan masih terdengar suara pemerannya yang begitu menggugah di telinga mereka.
Game kembali dimulai dengan pemanasan yang sebetulnya tidak dibutuh kan lagi oleh mereka.
Namun, pemanasan sebelum olah raga spesial itu tetap mereka perankan.
Suara decakan terdengar jelas memecah kesunyian di antara mereka di waktu subuh.
Bahkan AC yang menebar suhu dingin seolah tidak lagi berfungsi.
Hawa hangat menyelimuti isi ruangan kamar, sedangkan dinding menjadi saksi bisu game yang mulai berlangsung.
Posisi mereka yang semula duduk saling bersisian, sekarang sudah mulai tak tentu arah posisinya.
Kalau tadi sebelum olah raga yang gagal itu lebih didominan oleh Aurellia untuk menguasai game, sekarang game babak kedua yang baru dimulai ini dikuasai oleh Rayga.
Tidak berlama-lama mereka melakukan pemanasan sebelum olah raga, karena mereka berdua sama-sama sudah dituntut oleh keinginan dalam diri masing-masing.
"I'm coming, Baby. Bersiaplah!" Rayga bersiap membajak sawah yang akan dia semai dengan bibitnya hari ini.
Aurellia mengangguk, dia juga sudah dikuasai oleh angannya yang luar biasa ingin dituntaskan.
Walau ada rasa takut karena sudah melihat sebesar apa burung perkutut big size saat bangun, tetapi tetap ada rasa ingin menuntaskan hal yang telah menuntut dalam dirinya.
Beberapa kali Rayga mendorong alat cangkulnya, tetapi masih saja gagal untuk menguasai sawah yang hendak dia bajak.
Padahal pinggiran sawah itu sudah licin dan becek, tetapi dia masih saja gagal melakukan tugasnya.
Bisa jadi karena Rayga bukan pembajak yang handal dan tidak berpengalaman dalam hal ini, apalagi baru pertama kalinya bagi dia mau membajak sawah, tentu pembajakan itu bukan pekerjaan yang mudah.
Setiap kali menyerang, Rayga selalu mengontrol dorongannya yang dia tahan-tahan dan tidak terlalu dipaksakan.
Ini bisa juga salah satu yang jadi penyebab kegagalannya.
Aurellia yang mulai gemes dan merasa capek menunggu, di saat Rayga menarik ancang-ancang dan hendak kembali mencoba menyelam, Aurellia menarik pinggang pria itu dengan kuat.
Tentu gerakan Aurellia yang tidak diduga oleh Rayga membuat pria itu juga otomatis menekan cangkulnya dengan kuat dari tindakan sebelumnya.
"Aaa ...." teriak Aurellia, dia yang menarik cangkul agar menancap di sawah, dia pula yang berteriak dengan keras.
"Sakit?" tanya Rayga cemas, tetapi tidak menarik cangkulnya yang berhasil tenggelam setengah saja.
Aurellia mengangguk, sudut matanya mengeluarkan bulir bening.
Apalagi Rayga tidak menarik cangkul keluar, tentu rasa perih dan sesak makin terasa di dalam sana oleh Aurellia.
"Sobek," lirih Aurellia yang membayangkan dan merasakan ada sesuatu yang telah koyak.
"Rilex, ya. Jangan fokus pada rasa sakitnya, tapi nikmati sensasinya," bisik Rayga tersenyum sekaligus cemas.
Rayga tersenyum karena merasa bahagia bisa menancapkan cangkul pertama kalinya di dalam sawah, bersamaan dengan itu dia juga cemas kalau Aurellia akan merasa kesakitan dan tidak menikmati pekerjaan mereka saat ini.
Aurellia mengangguk.
Biar bagaimanapun, dia tidak boleh egois.
Teringat bagaimana Rayga telah menyelamatkannya dari rumah bordil dengan menggelontorkan banyak uang,
Aurellia merasa berhutang budi pada pria itu, dan sekarang saatnya Aurellia balas budi pada penyelamatnya itu.
Di sisi lain, Aurellia sekarang juga telah berstatus istri yang wajib menuruti keinginan suaminya. Apa yang hendak dia lakukan bersama Rayga saat ini, Aurellia sangat tahu itu adalah bentuk kewajiban yang harus dia laksanakan.
Walau status istri yang disandang Aurellia tidak ada artinya di mata Rayga, tetapi tetap saja di hadapan Tuhan pernikahan mereka telah sah Rayga dan Aurellia wajib untuk melaksanakan tugasnya sebagai istri.
"Maaf, ya," Rayga berbisik, dibalas anggukan oleh Aurellia.
Kata maaf yang tidak ada dalam kamus Rayga, kini reflek terucap dari mulutnya.
Bahkan kata maaf itu terucap pada kaum hawa yang selama ini sangat dibenci rasnya oleh Rayga.
Rayga mulai kembali bergerak, mencangkul pelan sawahnya.
Tidak terlalu dia paksakan untuk mencangkul terlalu keras.
Pelan-pelan saja, tapi dengan gerakan pasti.
Sesekali gerakan dia berhenti, tetapi masih posisinya dipertahankan dalam sawah.
Memberi jeda pada Aurellia yang sesekali terlihat meringis.
"Apa kamu masih bisa bertahan?" tanya Rayga memastikan pada Rayga yang terlihat pasrah Aurellia menganggukkan kepalanya pelan.
"Tidak apa-apa, lanjutkan saja," jawabnya diakhiri dengan seulas senyum. Senyuman Aurellia mampu menggetarkan hati Rayga, dia seolah terhipnotis oleh perempuan untuk pertama kalinya.
"'Apa aku jatuh cinta padanya?" ujar Rayga bertanya-tanya dalam hatinya saat dia kembali bergerak untuk melanjutkan pekerjaan membajak sawah yang masih terbengkalai.
Semua batang cangkul telah terbenam sempurna, tentu Rayga begitu bahagia pada akhirnya berhasil menguasai sawahnya dengan sempurna.
Aurellia yang awalnya meringis kesakitan, sekarang juga sudah mulai rileks dan menikmati pekerjaan
mereka.
Rasa sakit mulai berganti nikmat dan lezat.
Suara teriakan Aurellia juga sudah berganti dengan erangan spesial.
Suara dengan penuh irama yang keluar dari mulut Aurellia membuat Rayga bekerja lebih semangat untuk melanjutkan mencangkul lahan yang telah ready.
"Apa kamu menyukainya?" tanya Rayga.
Di sela pekerjaan kerasnya yang menguras keringat, Rayga masih sempat-sempatnya bertanya soal rasa pada Aurellia.
Kembali Aurellia mengangguk dengan wajah bersemu.
Sensasi yang baru pertama kali dia rasakan, membuat Aurellia malu-malu kucing.
Gerakan yang awalnya pelan dan ditahan-tahan, sekarang Rayga mulai lincah membajak sawah dengan cangkulnya.
Sedangkan Aurellia melayang bak tengah berada di surga, walau rasa perih masih sedikit terasa.
"Arghh, ah," suara mereka bersahutan, bagaikan nyanyian merdu menambah semangat untuk berpacu.
Rayga terus menunggangi kuda untuk mencangkul kebunnya dalam durasi yang cukup lama.
Kau suka lambat apa cepat?" tanya Rayga terengah-engah tanpa menghentikan pekerjaannya.
Aurellia tidak menjawab pertanyaan kali ini, karena tenaganya seolah ditarik sebuah magnet yang begitu kuat.
Kepalanya terasa penuh dan dia juga seolah dituntut oleh sesuatu yang dia juga tidak mengerti.
Ada rasa pijatan dan cengkraman yang berbeda dari sebelumnya pada tangkai cangkulnya, Rayga menafsirkan kalau itu tandanya sawah yang dia bajak akan segera tuntas dan meminta dikerjakan lebih cepat lagi.
Rayga bergerak cepat, membuat Aurellia terguncang otomatis karena hentakan yang diterimanya.
"Tuan... aku-" ujar Aurellia tertahan dan tercekat.
Tubuh Aurellia mengejang, tangannya mencengkram erat lengan Rayga.
Dia berusaha menahan apa yang hendak menyembur keluar dari pusat sawah, sehingga cengkraman, pijatan dan kedutan kuat pada gagang cangkul makin membuat Rayga terasa mabuk.
"Lepaskan saja, jangan ditahan. Kita akan selesaikan ini sama-sama." Rayga makin mempercepat gerakannya, menunggangi kuda begitu liar dan ganas untuk membajak sawah di tengah hutan belantara yang ditumbuhi rumput khusus.
"Aarrgghh ..."
Seluruh otot Rayga mengejang, begitu juga dengan Aurellia.
Lolongan panjang yang terdengar khas dari mereka berdua mengakhiri pekerjaan pertamanya yang telah
berhasil membajak sawah dan ditutup dengan penyemaian benih.
Setelah benih untuk tahap pertama selesai mereka semai dan disemburkan, otot-otot mereka kembali mengendur.
Keringat keduanya bercucuran setelah selesai bekerja keras dalam kurun waktu yang cukup lama.
Rayga menarik diri, mencabut pedang dari sarung yang masih menyisakan kedutan-kedutan hangat pada dindingnya.
Lalu Rayga merebahkan tubuhnya, tidur dengan posisi berbaring menghadap pada Rayga yang masih pada posisi awal.
Mereka berdua saling diam dengan nafas yang memburu, lebih tepatnya ngos-ngosan seperti orang habis lomba lari.
Sekian menit berlalu masih tidak ada percakapan antara dua orang itu, hanya suara nafas mereka saja yang terdengar saling bersahutan sampai keduanya terlelap menemui alam mimpi menghiasi sisa-sisa percintaan mereka menjelang pagi hari ini.