"Pernikahan yang Tidak Diinginkan" bercerita tentang Kirana Putri, seorang wanita muda yang cantik dan berhati lembut, yang terpaksa harus menikah dengan Arga Wijaya, seorang pengusaha sukses yang terkenal dingin, tegas, dan tak tersentuh.
Pernikahan ini bukanlah hasil dari cinta, melainkan sebuah perjanjian bisnis dan kewajiban keluarga untuk menyelamatkan perusahaan ayah Kirana dari kebangkrutan. Bagi Arga, pernikahan ini hanyalah formalitas dan cara untuk memenuhi keinginan orang tuanya, sementara bagi Kirana, ini adalah pengorbanan besar demi keluarganya.
Sejak hari pertama, rumah tangga mereka dipenuhi dengan kebekuan. Mereka hidup satu atap layaknya dua orang asing—saling menghormati tapi jauh dari kata dekat, sering bertengkar karena salah paham, dan masing-masing menyimpan perasaan terpaksa.
Namun, seiring berjalannya waktu, di tengah sikap dingin dan pertengkaran, benih-benih perhatian mulai tumbuh perlahan. Mereka mulai melihat sisi lain dari satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 Kehadiran Cinta yang Sesungguhnya
Waktu terus berjalan, membawa serta musim demi musim berganti. Kandungan Kirana kini sudah memasuki usia tujuh bulan. Perutnya sudah terlihat membuncit sempurna, menandakan bahwa sang jabang bayi tumbuh sehat dan kuat di dalam sana.
Arga tidak pernah berhenti bersyukur. Setiap kali pulang kerja, hal pertama yang ia lakukan adalah memeluk istri dan mencium perut besar itu dengan penuh hormat dan cinta.
"Halo, Nak... Ayah pulang nih," bisik Arga sambil mengelus lembut perut istrinya. "Kamu sehat kan? Jangan nakal-nakal di dalam ya, bikin Ibu capek."
Kirana tertawa lebar melihat tingkah suaminya yang semakin hari semakin terlihat seperti ayah yang penyayang. Wajah Arga yang dulu dingin dan seram, kini selalu berseri-seri penuh kelembutan.
"Ih, Ayah ini. Debay kan lagi tidur, jangan diganggu dong," goda Kirana sambil membenarkan posisi duduknya yang mulai kesulitan bergerak.
"Gak apa-apa. Ayah kangen dong. Lagian dia juga pasti kangen sama suaraku," jawab Arga bangga, lalu ia membantu Kirana berdiri dan berjalan pelan menuju ruang makan.
Kehidupan mereka benar-benar sempurna. Damai, tenteram, dan penuh warna. Natasha dan masalah masa lalu kini sudah menjadi cerita kelam yang telah usai. Wanita itu sudah mendekam di penjara dengan hukuman yang setimpal, dan tidak akan pernah bisa mengganggu mereka lagi.
Hingga suatu hari, di bulan kesembilan, saat mereka sedang bersiap-siap untuk kontrol rutin ke dokter, tiba-tiba wajah Kirana berubah pucat dan ia memegang perutnya erat-erat.
"Aww..." erang Kirana pelan, keringat dingin mulai bercucuran.
"Sayang! Kenapa?! Kamu kenapa?!" Arga langsung panik bukan main, ia langsung mendekap tubuh istrinya. "Perut sakit? Kontraksi?"
"I... iya Ar... sakit... rasanya mulas banget terus ngilu sampai ke pinggang..." jawab Kirana terbata-bata, napasnya mulai memburu. "Kayaknya... kayaknya debay mau keluar, Ar..."
BRUK!!!
Hampir saja lutut Arga lemas mendengarnya.
"MASA?! BUKANNYA MASIH MINGGU DEPAN?!" teriaknya panik tapi sekaligus bahagia campur aduk. "YA ALLAH! CEPAT! MOBIL! KITA KE RS SEKARANG!"
Kekacauan kecil pun terjadi. Arga berlari kesana kemari mengambil tas perlengkapan bayi dan ibunya, lalu dengan kecepatan tinggi namun hati-hati ia mengendarai mobil menuju rumah sakit terbaik di kota itu.
Di dalam mobil, Kirana memegang erat tangan suaminya, sesekali meringis menahan rasa sakit yang mulai datang beruntun.
"Arga... pegang tanganku... sakit banget..."
"Sabar ya Sayang, sabar... sebentar lagi sampai. Tarik napas... hembuskan... kayak yang kita latihan di kelas prenatal ya," bujuk Arga panik, matanya sesekali melirik ke arah istrinya dengan wajah cemas. "Kamu hebat, Sayang. Kamu pasti bisa. Ayah di sini sama kamu terus."
Sesampainya di rumah sakit, tim medis sudah siap menunggu. Kirana langsung didorong masuk ke ruang bersalin dengan tandu darurat.
"Suami boleh masuk menemani istri, Pak!" seru perawat.
Arga tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia langsung mengganti baju operasi, memakai masker dan penutup kepala, lalu masuk ke ruang bersalin yang dingin dan penuh alat medis itu.
Di sana, ia melihat istrinya sudah berbaring dengan wajah memerah menahan sakit luar biasa. Tangannya mencengkeram rel ranjang kuat-kuat.
"Sayang... Ayah di sini..." Arga langsung duduk di sisi kepala ranjang, menggenggam tangan Kirana erat-erat dan mengusap keringat di dahi istrinya.
"Argaaaaa... sakiiiiiit..." tangis Kirana pecah.
"Iya aku tahu sakit. Tapi kamu kuat ya. Demi anak kita. Ayo dorong sebentar lagi ya sayangku. Kamu wanita terkuat yang aku kenal," semangat Arga, matanya sendiri berkaca-kaca melihat istrinya menderita. Ia berharap bisa menanggung rasa sakit itu sendirian agar istrinya tidak perlu merasakannya.
Proses persalinan berlangsung selama tiga jam yang terasa sangat panjang dan mencekam. Arga tidak pernah melepaskan tangan Kirana sedetik pun. Ia terus membisikkan kata-kata cinta dan semangat, bahkan ia menyanyikan lagu pengantar tidur favorit mereka untuk menenangkan istrinya.
Hingga akhirnya...
WAAAAAA!!! WAAAAAA!!!
Tangisan keras dan nyaring terdengar memecah keheningan ruangan! Suara itu adalah suara paling indah yang pernah didengar oleh telinga Arga dan Kirana.
"ALHAMDULILLAH!!!" seru seluruh tim medis bersorak.
"Selamat ya Pak, Bu! Lahir dengan selamat! Bayinya laki-laki, sehat, dan gagah sekali!"
Arga dan Kirana saling pandang, air mata bahagia mengalir deras membasahi wajah mereka.
"Laki-laki, Ar... kita punya anak laki-laki..." isak Kirana bahagia, wajahnya lemas namun berseri-seri.
"Iya... kita punya anak..." Arga mencium kening istrinya berkali-kali penuh rasa terima kasih. "Makasih ya Sayang... makasih sudah berjuang sekuat tenaga. Kamu hebat banget. Ibu hebat buat anak kita."
Beberapa menit kemudian, setelah bayi itu dibersihkan dan dibungkus selimut hangat, perawat pun membawanya mendekat ke hadapan kedua orang tuanya.
"Ini dia, calon tampan masa depan," kata perawat sambil menyerahkan bayi mungil itu ke dalam pelukan Arga dengan hati-hati.
Tangan besar Arga gemetar hebat saat memegang tubuh mungil itu. Ia menatap wajah kecil itu dengan takjub.
Wajah bayi itu merah merona, matanya masih terpejam, dan hidungnya kecil mancung persis seperti Arga. Namun bentuk bibir dan alisnya sangat jelas mewarisi kecantikan Kirana. Perpaduan sempurna dari cinta mereka berdua.
"Halo... Nak... halo sayang..." bisik Arga pelan, suaranya pecah menahan tangis haru. "Ayah di sini... ini Ayah, Nak."
Ia mencium kening kecil itu dengan sangat lembut, seolah takut bayi itu akan hancur jika disentuh terlalu keras.
"Selamat datang di dunia, Nak. Selamat datang di keluarga kita. Ayah janji akan jagain kamu, akan rawat kamu, dan akan kasih kamu dunia yang indah. Kamu adalah anugerah terindah yang pernah Tuhan kasih ke kita."
Arga lalu menyerahkan bayi itu ke dalam pelukan Kirana.
"Nih, Sayang. Pegang anak kita. Dia nyata, Ran. Dia hidup dan sehat."
Saat kulit bayi itu menyentuh kulit Kirana, perasaan keibuan meledak luar biasa di dada wanita itu. Ia menatap putranya dengan cinta yang tak terhingga.
"Mirip kamu ya, Ar. Hidung dan rahangnya persis banget sama kamu," kata Kirana tersenyum bahagia.
"Terus matanya siapa? Pasti matanya cantik kayak ibunya dong," jawab Arga manis, lalu ia memeluk keduanya erat-erat.
Kini keluarga mereka lengkap. Arga, Kirana, dan sang buah hati. Segala rintangan, air mata, pertengkaran, dan bahaya yang pernah mereka lalui terbayar lunas dengan kebahagiaan yang meluap-luap saat ini.
Malam harinya, setelah suasana mulai tenang dan Kirana sudah istirahat, Arga duduk di kursi sebelah ranjang sambil memangku putranya yang sedang tidur pulas.
Ia menatap wajah bayi itu, lalu perlahan teringat pada masa lalu. Teringat pada Alya.
'Alya... lihat itu. Aku punya anak. Aku punya keluarga yang bahagia,' batin Arga berbicara pada kenangan itu. 'Terima kasih karena pernah hadir dan mengajarkanku arti cinta. Tapi sekarang... bahagiaku sudah utuh di sini. Bersama Kirana dan anak kita.'
Rasa bersalah atau rasa rindu lama itu kini telah berubah menjadi rasa syukur. Ia sadar, Tuhan mempertemukannya dengan Kirana bukan untuk menjadikannya pengganti, tapi untuk menyatukan dua hati yang saling melengkapi dan menciptakan kebahagiaan baru yang jauh lebih abadi.
"Arga..." panggil Kirana pelan dari ranjang.
"Eh, kamu belum tidur, Sayang?" tanya Arga lembut.
"Belum. Aku mau lihat kamu berdua dulu. Kita bahagia banget ya sekarang?"
Arga tersenyum lebar, mengangguk mantap.
"Kita bahagia banget, Sayang. Sangat bahagia. Dan aku janji, kebahagiaan ini akan kita jaga sampai tua nanti. Sampai rambut kita memutih, sampai kita jadi kakek nenek."
Arga mendekatkan wajahnya, mengecup bibir istrinya singkat namun manis.
"I love you, Mrs. Wijaya. I love you and my son more than my life."
"I love you too, Mr. Wijaya. Forever and ever."
Malam itu, di bawah cahaya lampu kamar yang redup dan hangat, sebuah kisah cinta yang penuh drama, air mata, dan perjuangan akhirnya berakhir dengan bahagia yang sempurna. Cinta mereka telah menang melawan segalanya.