Seorang mahasiswi magang asal Indonesia bernama Kirana, yang tinggal di Taipei, tanpa sengaja menemukan sebuah amplop merah berisi uang di taman sepi saat Bulan Hantu. Ia mengambilnya karena mengira rezeki biasa. Namun, amplop itu ternyata adalah mahar dari seorang pengantin arwah laki-laki dari zaman Dinasti Ming yang telah meninggal sebelum sempat menikah. Dengan mengambil amplop tersebut, Kirana secara tidak sadar telah menerima lamaran gaib. Ia kini terikat benang merah takdir dengan arwah pengantin tersebut, yang datang menagih janji di bulan ketika pintu alam roh terbuka lebar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilack Sunrise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menemukan kembali.
Keheningan di antara mereka berubah.
Bukan lagi ruang yang canggung.
Bukan juga jarak yang harus dijaga.
Tapi sesuatu yang perlahan… mengundang.
Kirana tidak menjauh.
Meski setiap bagian dari dirinya tahu
ini bukan sekadar pertemuan.
Ini pintu.
Dan dia sudah berdiri di ambangnya.
Napasnya terasa hangat saat menyentuh kulit Li Wei.
Jarak mereka sekarang terlalu dekat untuk dianggap aman.
Tapi justru di situ
dia berhenti menahan.
Tangannya, yang sejak tadi kaku di samping tubuhnya, akhirnya bergerak.
Pelan.
Ragu di awal.
Lalu pasti.
Menyentuh lengan Li Wei.
Kainnya terasa nyata di ujung jarinya.
Bukan bayangan.
Bukan ilusi.
Ada tekstur.
Ada suhu.
Dan di balik itu
ada sesuatu yang hidup.
Kirana menarik napas kecil.
Seperti memastikan dirinya tidak salah.
Li Wei tidak bergerak.
Tapi pandangannya turun
mengikuti gerakan tangan Kirana.
Lalu kembali ke wajahnya.
Ada sesuatu di sana.
Bukan sekadar tenang.
Tapi lebih dalam
seperti seseorang yang sudah menunggu momen ini terlalu lama… tanpa pernah memaksa.
“Kamu masih ragu?” tanyanya pelan.
Kirana menggeleng.
Sangat kecil.
“Bukan ragu…” suaranya nyaris hilang, “…aku cuma takut ini hilang.”
Li Wei mengangkat tangannya.
Sekali lagi
menyentuh wajah Kirana.
Kali ini lebih pasti.
Lebih dekat.
“Kalau kamu terus narik diri,” katanya pelan, “semua bakal terasa kayak mimpi.”
Jarinya berhenti di sana.
Tidak bergerak.
Tidak menekan.
Hanya ada.
“Kalau kamu tetap,” lanjutnya, “ini nyata.”
Kirana menatapnya.
Lebih lama.
Lebih dalam.
Dan untuk pertama kalinya
dia tidak mencoba mencari jalan keluar.
Dia hanya… memilih diam.
Memilih tinggal.
Tangannya yang tadi di lengan Li Wei bergerak naik.
Perlahan.
Menyusuri.
Sampai akhirnya berhenti di bahunya.
Jarak mereka semakin hilang.
Hampir tidak ada ruang di antara.
Kirana bisa merasakan detak
bukan di dadanya sendiri.
Tapi di antara mereka.
Irama yang tidak sinkron…
tapi saling mengejar.
“Dulu…” suaranya pelan, hampir seperti takut merusak momen, “…aku terlalu nahan.”
Li Wei tidak menjawab.
Tapi matanya tidak lepas.
“Aku pikir kalau aku pegang cukup kuat… semuanya bakal tetap.”
Napasnya sedikit bergetar.
“Tapi aku malah… bikin semuanya berhenti.”
Sunyi.
Tapi tidak berat.
Lebih seperti sesuatu yang akhirnya diucapkan tanpa perlu dibenarkan.
Li Wei mendekat satu inci lagi.
Sekarang
tidak ada jarak.
“Sekarang kamu nggak perlu nahan,” katanya.
Suaranya lebih rendah.
Lebih dekat.
“Cukup… ada.”
Kirana tidak menjawab.
Tapi tubuhnya merespons.
Pelan.
Alami.
Tangannya di bahu Li Wei tidak lagi ragu.
Menarik sedikit.
Mendekatkan.
Dan Li Wei tidak melawan.
Tidak juga mengambil alih.
Dia hanya mengikuti
seperti dulu.
Seperti selalu.
Dan di detik itu
Kirana menyadari sesuatu yang sederhana…
tapi tidak pernah dia lakukan sebelumnya:
Dia tidak sedang mencoba memiliki.
Dia hanya… ingin dekat.
Napas mereka bertemu.
Tipis.
Hangat.
Dan untuk sesaat
tidak ada masa lalu.
Tidak ada kesalahan.
Tidak ada ketakutan akan kehilangan.
Hanya dua orang
yang akhirnya tidak lagi saling menahan.
Li Wei mengangkat tangannya sedikit.
Menyentuh sisi leher Kirana.
Gerakan yang pelan.
Hampir seperti bertanya
bukan mengambil.
Kirana tidak mundur.
Justru
dia menutup jarak terakhir itu.
Pelan.
Sadar.
Dan ketika kening mereka akhirnya bersentuhan
tidak ada penolakan
Tidak ada dramatis.
Hanya keheningan yang penuh.
Dan rasa yang kembali
bukan sebagai luka.
Tapi sebagai sesuatu yang… hidup lagi.
Kirana menutup mata.
Dan untuk pertama kalinya
dia tidak takut kalau ini akan hilang.
Karena kali ini
dia tidak mencoba menahan.
Dia memilih untuk tetap.
Genggaman itu tidak dilepas.
Bukan karena takut.
Bukan juga karena ingin memastikan.
Tapi karena untuk pertama kalinya Kirana tahu, dia tidak sedang kehilangan apa pun.
Dia sedang… menemukan kembali.
Napas mereka masih berdekatan, belum sepenuhnya kembali normal. Ada sisa hangat yang tertinggal di antara mereka, seperti jejak yang tidak ingin hilang begitu saja.
Kirana tidak menjauh.
Dia tetap di sana.
Dekat.
Cukup untuk merasakan setiap perubahan kecil di wajah Li Wei cara matanya melembut, cara napasnya sedikit lebih dalam, cara dia tetap diam… seolah tidak ingin merusak apa yang baru saja mereka izinkan terjadi.
“Aku nggak inget semuanya,” bisik Kirana pelan.
Bukan penyesalan.
Lebih seperti pengakuan.
“Tapi yang ini…” jemarinya sedikit mengencang, “…aku ngerti.”
Li Wei menatapnya.
Lama.
Seperti mencoba membaca sesuatu yang lebih dari kata-kata itu.
“Kamu nggak harus inget semuanya,” jawabnya akhirnya. “Yang penting… kamu nggak nolak.”
Kirana tersenyum tipis.
Bukan senyum ringan.
Ada sesuatu di dalamnya rapuh, tapi jujur.
“Aku capek nolak.”
Sunyi turun lagi.
Tapi kali ini
sunyi itu tidak lagi terasa kosong.
Lebih seperti ruang yang mereka isi bersama.
Perlahan, tanpa terburu, Kirana menurunkan kepalanya.
Bersandar di dada Li Wei.
Gerakan yang sederhana.
Tapi terasa… asing dan familiar di waktu yang sama.
Seperti sesuatu yang pernah dia lakukan berkali-kali
tapi baru sekarang dia benar-benar sadar maknanya.
Li Wei tidak langsung bergerak.
Hanya diam sejenak.
Lalu tangannya terangkat.
Menyentuh punggung Kirana.
Pelan.
Hati-hati.
Seperti memastikan dia tidak akan hilang jika disentuh terlalu kuat.
Dan saat itu
Kirana menutup mata.
Bukan untuk lari.
Tapi untuk tinggal lebih dalam.
Dia bisa mendengar sesuatu.
Bukan suara yang jelas.
Lebih seperti ritme.
Pelan.
Teratur.
Bukan detak jantung biasa
tapi sesuatu yang terasa… stabil.
Tenang.
Seolah waktu di dalam dirinya tidak bergerak seperti dunia luar.
“Aku kira kalau aku deket lagi…” suaranya hampir tenggelam di antara napas, “…semuanya bakal kacau.”
Li Wei tidak langsung menjawab.
Tangannya masih di punggung Kirana.
Tidak menekan.
Tidak menahan.
Hanya ada.
“Ternyata?” tanyanya pelan.
Kirana membuka matanya sedikit.
Tidak mengangkat kepala.
Hanya berbicara dari posisi itu.
“Lebih tenang dari yang aku kira.”
Kalimat itu jujur.
Dan mungkin
itu yang paling tidak dia harapkan.
Li Wei menghembuskan napas pelan.
Tangannya bergerak sedikit, mengusap punggung Kirana dengan ritme yang hampir tidak terasa.
“Karena sekarang kamu nggak lagi nyoba ngontrol,” katanya.
Kirana diam.
Menyerap itu.
Dan dia tahu
itu benar.
Dulu, setiap sentuhan adalah cara untuk memastikan.
Sekarang
ini bukan tentang memastikan.
Ini tentang menerima.
Perlahan, Kirana mengangkat wajahnya lagi.
Menatap Li Wei dari jarak yang masih sangat dekat.
Matanya lebih tenang sekarang.
Tapi juga lebih dalam.
Seperti seseorang yang baru saja melewati sesuatu…
dan memilih untuk tidak mundur.
“Kalau aku tetap di sini terlalu lama…” katanya pelan, “…aku bakal makin susah balik.”
Li Wei tidak menyangkal.
Tidak juga mengiyakan.
Dia hanya menatapnya.
Dan itu cukup untuk menjawab.
Kirana mengangguk kecil.
Seolah dia sudah tahu.
Seolah ini bukan sesuatu yang perlu diperdebatkan.
“Tapi aku juga nggak mau balik dengan cara yang sama,” lanjutnya.
Ada perubahan di nadanya.
Lebih pasti.
Lebih sadar.
“Cara yang sama?” tanya Li Wei.
Kirana menarik napas pelan.
“Pura-pura semuanya nggak pernah ada.”
Sunyi.
Tapi kali ini
sunyi itu terasa seperti titik balik.
Li Wei mengangguk kecil.
“Aku juga nggak mau kamu hilang lagi.”
Bukan permintaan.
Bukan larangan.
Hanya… keinginan yang jujur.
Kirana menatapnya.
Lebih lama.
Lebih dalam.
Lalu
dia mengangkat tangannya.
Menyentuh wajah Li Wei sekali lagi.
Lebih pasti dari sebelumnya.
Lebih sadar.
“Kalau aku balik,” katanya pelan, “aku bakal tetep inget kamu.”
Kalimat itu bukan janji besar.
Tapi ada sesuatu di dalamnya
yang tidak bisa dianggap ringan.
Li Wei tidak langsung merespons.
Tapi ada perubahan kecil di matanya.
Seperti sesuatu yang selama ini dia tahan…
akhirnya sedikit melepas.
“Kamu yakin?” tanyanya.
Kirana tersenyum tipis.
Kali ini lebih hangat.
“Enggak.”
Jujur.
“Tapi kali ini aku nggak mau lari kalau inget.”
Sunyi.
Dan untuk pertama kalinya
itu cukup.
Tidak sempurna.
Tidak pasti.
Tapi cukup untuk membuat semuanya terasa… mungkin.
Kirana mendekat sedikit lagi.
Tidak banyak.
Hanya cukup untuk memastikan satu hal
bahwa ini nyata.
Bahwa dia tidak sedang bermimpi.
Bahwa dia benar-benar memilih ini.
Dan di dalam ruang kecil itu
di antara dua dunia yang mulai saling menyentuh
Kirana akhirnya mengerti:
Bukan soal dia harus tinggal atau pergi.
Tapi tentang bagaimana dia kembali…
tanpa kehilangan bagian dirinya yang akhirnya dia temukan lagi.Kirana tidak langsung menjauh.
Dia menatap Li Wei lebih lama, seolah mencoba menyimpan sesuatu yang tidak bisa dia bawa sepenuhnya.
“Aku harus balik,” bisiknya pelan.
Li Wei hanya mengangguk.
Tidak menahan.
Dan justru itu yang membuatnya terasa lebih berat.
Kirana menarik napas, lalu menggenggam tangannya sekali lagi.
“Kalau aku lupa…” katanya, “…jangan cuma nunggu.”
Li Wei menatapnya. “Terus?”
Kirana tersenyum tipis. “Ganggu aku.”
Jeda.
Lalu Li Wei mengangguk pelan.
Cukup.
Kirana melepaskan genggamannya.
Melangkah mundur.
Sekali.
Lalu lagi.
Jarak kembali ada.
Tapi tidak terasa seperti kehilangan.
Dia menatapnya terakhir kali.
“Kalau aku lupa lagi…”
Li Wei tidak menunggu kalimat itu selesai.
“Aku bakal ada.”
Kirana mengangguk.
Lalu menutup mata.
Dan saat dia membukanya kembali
langit-langit kamar menyambutnya.
Sepi.
Biasa.
Tapi tidak kosong.
Tangannya bergerak pelan di atas kasur.
Tidak menemukan apa-apa.
Tapi dia tahu
sesuatu masih tertinggal.
Dan kali ini
dia tidak akan pura-pura lupa.