Lima tahun menikah, Kanisha Rayya Shanika selalu percaya bahwa rumah tangganya bersama sang suami, Arven Mahendra, akan berjalan harmonis untuk selamanya. Ia rela menekan mimpinya sendiri demi menjadi istri sempurna dan ibu terbaik bagi anak angkat yang sangat ia cintai. Namun semua kepercayaan itu runtuh dalam satu malam.
Kanisha memergoki Arven berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri—wanita yang selama ini ia anggap hanya rekan kerja biasa. Belum sempat pulih dari pengkhianatan itu, kenyataan yang jauh lebih kejam kembali menghantamnya. Anak angkat yang ia rawat dengan penuh kasih ternyata adalah darah daging hasil hubungan terlarang suaminya dengan sang selingkuhan.
Dikhianati sebagai istri sekaligus dipermainkan sebagai seorang ibu, Kanisha memilih pergi dan mengakhiri pernikahan yang telah menghancurkan hidupnya. Dengan tekad untuk bangkit, Kanisha mulai membangun hidup baru dan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak begitu saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Pergelangan tangannya mendadak ditarik kuat. Kanisha langsung terhenti, napasnya tercekat saat melihat Arven menahan tangannya erat sekali.
"Lepasin aku, mas!"
Kanisha mencoba menarik tangannya dengan kasar tapi cengkeraman Arven terlalu kuat.
Sementara di depan sana, Selena sudah semakin menjauh sambil membawa Naira yang masih menangis ketakutan.
“Mamaaa…”
Suara tangisan Naira langsung membuat Kanisha semakin panik.
“Naira!” Kanisha berusaha melepaskan diri dari Arven namun semua usahanya gagal karena suaminya itu masih menahannya. “Lepasin aku, mas!”
“Kamu jangan bikin dia makin takut dengan kelakuan kamu, Kanisha.”
Kanisha langsung menatap suaminya dengan tatapan matanya yang penuh luka.
“Apa maksud kamu?!” Tangannya kembali meronta dari cengkeraman Arven. “Lepasin aku sekarang juga mas!”
Arven menghela napas kasar.
“Tenangin diri kamu dulu, Kanisha.”
“Tenang?” Kanisha tertawa tak percaya. “Mas nyuruh aku tenang setelah apa yang mas lakuin ke aku?!" Tangis Kanisha kembali pecah. Ia benar-benar tidak menyangka Arven akan menahannya seperti ini.
“Naira takut sama kamu yang terus teriak nggak jelas.”
“Aku cuma mau anak aku, mas!”
“Naira nggak akan ke mana-mana. Dia aman bersama Selena.”
“Bagaimana dia akan aman kalau mas biarin perempuan itu membawa Naira!”
Kanisha kembali mencoba mengejar namun Arven menarik tangannya lagi hingga tubuh Kanisha nyaris membentur dada pria itu.
“Cukup, Kanisha!”
“Mas yang cukup!” balas Kanisha histeris. “Mas udah hancurin hidup aku malam ini!” Air matanya terus jatuh tanpa henti. “Mas selingkuh di belakang aku selama empat tahun…” napasnya tersendat. “Dan sekarang mas mau misahin aku dari Naira juga?”
Tatapan Kanisha benar-benar terlihat penuh luka. “Apa mas masih belum puas udah nyakitin aku?”
Arven terdiam sedangkan Kanisha mulai memukul dada pria itu dengan tangannya yang bebas.
“Aku benci kamu…” tangisnya pecah semakin keras. “Aku benci kamu, mas…”
Namun Arven tetap menahan tubuhnya dan tidak membiarkan Kanisha pergi, hal itu justru membuat Kanisha semakin merasa hancur.
“Lepasin aku, mas.” lirihnya lemah sambil menangis. “Aku cuma mau sama Naira…”
Arven memejamkan matanya untuk sesaat seolah sedang menahan sesuatu. Namun ketika pria itu kembali membuka matanya, tatapannya terlihat jauh lebih gelap.
“Aku nggak bisa biarin kamu membawa Naira pergi dari rumah ini.”
“Kenapa?!” bentak Kanisha sambil menangis. “Kenapa kamu ngelakuin ini sama aku?!”
Arven mengusap wajahnya dengan kasar, Emosinya mulai naik. Situasi malam ini benar-benar di luar kendali. Kanisha yang biasanya terlihat lembut sekarang berubah keras kepala dan yang paling membuat Arven mulai kehilangan kesabarannya adalah kenyataan bahwa wanita itu benar-benar ingin membawa Naira pergi. Tidak, ia tidak bisa membiarkan itu terjadi karena kalau Kanisha pergi bersama Naira, semua rahasia yang selama ia tutupi dari Kanisha bisa kebongkar.
“Kamu nggak ngerti situasi yang aku hadapin sekarang.”
Kanisha langsung menatap Arven dengan tajam.
“Situasi apa lagi yang harus aku ngerti, mas?!”
“Aku bilang Naira nggak boleh pergi!”
“Dan aku bilang aku nggak akan ninggalin dia di rumah ini!” Tangisan Kanisha kembali pecah. “Aku ibunya dan aku berhak membawa anakku pergi kemanapun aku mau.”
Kalimat itu membuat Arven langsung menatap Kanisha dengan tajam dan entah kenapa sesuatu di dalam diri pria itu akhirnya benar-benar meledak.
“Bukan!” Suara keras Arven menggema di kamar itu dan membuat Kanisha langsung membeku. Napasnya tertahan sementara tatapan pria itu terlihat penuh emosi, jauh berbeda dari Arven yang tadi dingin dan datar.
“Apa?”
Arven mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Rahasia yang selama ini ia kubur rapat-rapat akhirnya berada di ujung bibirnya sekarang.
Selena yang tadi sudah keluar membawa Naira pun mendadak berhenti di depan pintu kamar lain saat mendengar suara Arven yang meninggi. Wajah wanita itu langsung pucat.
“Mas…” lirih Selena panik.
Namun Arven sudah terlalu emosional untuk berhenti.
“Aku capek dengan drama yang kau buat kanisha!”
Kanisha menatap pria itu dengan mata bergetar.
“Apa maksud kamu, mas”
Arven menatap Kanisha lurus-lurus, tatapannya dingin dan menusuk.
“Apa kamu sudah lupa siapa Naira sebenarnya?”
"Aku tidak lupa, Naira adalah anak angkat aku. Meskipun dia bukan darah daging ku, tapi cintaku padanya tidak ada bedanya seperti anak kandung."
"Apa kau yakin rasa cintamu kepada Naira akan tetap sama setelah aku mengatakan kebenaran tentang Naira kepadamu?"
"Kebenaran? Kebenaran apa?" Tanya Kanisha dengan penasaran dan membuat Arven tidak mempunyai pilihan lain selain memberitahu kebenarannya kepada Kanisha.
"Kanisha, tanpa kamu tahu sebenarnya Naira itu adalah anak kandungku sendiri." Bongkar Arven kepada Kanisha.
Deg, Dunia Kanisha seperti berhenti berputar.
Wanita itu langsung terdiam, tubuhnya membeku, sedangkan Arven melanjutkan perkataannya dengan suara berat penuh emosi,
“Naira adalah anak aku sama Selena.” Kalimat itu menghantam Kanisha tanpa ampun. Air matanya berhenti jatuh untuk sesaat, bukan karena rasa sakitnya hilang, tapi karena dirinya terlalu syok untuk bereaksi. Apa yang baru saja Arven katakan? Kanisha menatap suaminya tanpa berkedip sementara Arven berkata lagi dengan rahang mengeras, “Dan aku nggak akan biarin kamu pergi membawa anak aku dan Selena.”
Untuk beberapa detik, Kanisha hanya diam. Wanita itu hanya berdiri mematung di tempatnya dengan tatapan kosong mengarah pada Arven seolah otaknya mendadak berhenti bekerja setelah mendengar pengakuan suaminya barusan.
“Naira adalah anak aku sama Selena.”
Kalimat itu terus terngiang di kepala Kanisha
Berulang kali tanpa ampun. Kanisha bahkan sampai merasa telinganya berdenging. Dadanya sesak, Napasnya terasa berat.
Sementara di depannya, Arven masih berdiri dengan wajah dingin. Tidak ada penyesalan yang benar-benar terlihat di wajah pria itu. Tatapannya tetap datar walaupun baru saja menghancurkan dunia istrinya sendiri dalam satu malam. Sedangkan Selena yang masih menggendong Naira terlihat pucat pasi di luar pintu kamar yang berjarak beberapa meter.
Tangisan kecil Naira mulai mereda. Gadis kecil itu tampak bingung melihat suasana di sekitarnya yang mendadak berubah sangat aneh namun Kanisha sudah tidak bisa mendengar apa pun lagi selain suara pengakuan Arven di kepalanya. Anak Arven dan Selena? Tidak mungkin. Itu pasti bohong.
Itu pasti cuma ucapan emosi yang dikatakan oleh suaminya. Kanisha langsung tertawa kecil. Tawa yang justru terdengar menyedihkan lalu perlahan wanita itu menggeleng.
“Enggak mungkin,” lirih Kanisha pelan dan membuat
Arven menatapnya diam. Kanisha kembali tertawa kecil sambil mundur satu langkah.
“Lelucon apa ini mas?” suaranya mulai bergetar. “Mas lagi bercanda kan?”
Namun tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Arven. Hal itu justru membuat jantung Kanisha berdegup semakin tidak karuan.
“Ini nggak lucu mas,” lanjutnya dengan napas yang mulai memburu. “Sama sekali nggak lucu.”
Tangan Kanisha mulai gemetar, Pikirannya kosong. Semuanya terasa seperti mimpi buruk yang terlalu gila untuk menjadi kenyataan.
“Naira itu anak kita…” lirih Kanisha pelan seolah mencoba meyakinkan dirinya sendiri. “Anak yang kita adopsi bersama.” Tatapan matanya mulai memerah. “Mas jangan ngomong sembarangan kayak gitu.”
Aku udh mmpir....slm knal....
dr awl aku udh gedek sm s pcundang...kya'nya dia emng ga pnya hti,smp tega ngucapin kta2 mnyakitkn sm istrinya...mnimal kl dia pnya hti,diem aja....kl mau psah,tnggal psah.....yg bkin dngkol,ga ngrsa brslah sm skli.....sntai bgt mlah....
tp abs ni prshaannya bkln hncur,scra pd tngkt dewa kl slma ni bs skses krna usaha sndri....pdhl tnp bntuan istrinya,udh bmgkrut dr dlu kaleee.....😡😡😡
dari semua karyamu , aku selalu suka dengan semua jalan ceritanya kak. Alurnya pas, konfliknya ada, jalan ceritanya rapi dan nggak putus di tengah jalan.
terus tingkatkan semua ceritanya supaya lebih baik kak, aku suka semua🤭☺️