"Aku Bahagia." Kata-kata itu selalu diucapkan Evelyne Rochie seperti sebuah mantra untuk menenangkan hatinya yang rapuh. Di dunia nyata, hidup Evelyne terasa datar dan sepi. Setiap kali berkumpul dengan lingkaran pertemanannya, ia justru merasa semakin terasing. Ia melihat Alice Sonya yang hidup bahagia dan penuh tawa bersama Matthias. Ia melihat Azyla Amira yang selalu populer, dicintai banyak orang, dan bersinar di mana pun berada. Ia juga menyaksikan betapa manisnya hubungan Annie dan Samuel yang saling mencintai tanpa cela. Di tengah gelak tawa mereka, Evelyne selalu bertanya-tanya dalam hati: Kapan giliran jiwaku yang mencicipi kebahagiaan? Mengapa bagi orang lain bahagia itu begitu mudah, sementara bagiku, mendapatkan satu kepingan kebahagiaan saja rasanya teramat sulit? Hingga suatu malam, di titik nadir keputusasaannya, sebuah celah dimensi terbuka dan membawanya masuk ke sebuah dunia fantasi yang asing, megah, sekaligus berbahaya. Di dunia baru ini, takdir mempertemukannya dengan Sylus Qinche, seorang pria yang memiliki sejuta misteri namun mampu memberikan kehangatan yang selama ini dicari Evelyne. Untuk pertama kalinya, Evelyne merasa "Aku Bahagia" bukan lagi sebuah kebohongan. Namun, kebahagiaan itu tidak gratis. Ketika takdir berniat memisahkan mereka dan merenggut Sylus kembali ke kedalaman dunia lain yang lebih gelap, Evelyne menolak untuk menyerah lagi pada nasib. Dengan dibantu oleh Kieran dan Luke—dua sosok tangguh di dunia tersebut—Evelyne membuang seluruh ketakutannya. Jika di dunia nyata ia adalah perempuan lemah yang hanya bisa memandang kebahagiaan orang lain, maka di dunia ini, ia siap menerjang badai sihir dan melintasi batas dimensi demi meraih kembali tangan Sylus Qinche. Kali ini, ia yang akan menjemput kebahagiaannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peachy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelita di menara sunyi
Kamar baru Evelyne di sayap barat Kastil Obsidian jauh lebih luas daripada kamar kosnya di dunia nyata, namun atmosfer di dalamnya terasa berkali-kali lipat lebih dingin. Dinding-dindingnya terbuat dari batu legam yang dipoles halus, memantulkan pendar biru dari obor Aether yang terpasang di koridor luar. Tidak ada kasur busa tipis yang familier; yang ada hanyalah sebuah ranjang kayu besar dengan sprei beludru abu-abu tebal yang terasa kaku di kulitnya.
Di atas meja rias kayu ek yang gelap, telah tersaji sepasang pakaian baru yang diantarkan oleh seorang pelayan kastil beberapa jam lalu. Evelyne menatap pakaian itu dengan ragu. Itu adalah gaun pelayan khusus Orde Bayangan: potongan kain katun tebal berwarna hitam pekat dengan aksen sulaman perak di sepanjang kerah tinggi dan pergelangan tangannya, dilengkapi dengan korset luar berbahan kulit lunak yang harus diikat kencang di bagian pinggang.
Evelyne menghabiskan waktu hampir tiga puluh menit hanya untuk memahami bagaimana cara memakai pakaian serumit itu. Ketika ia akhirnya berhasil mengancingkan bagian terakhir, ia berdiri di depan cermin besar. Korset kulit itu memaksa punggungnya untuk tegak, menghapus gestur membungkuk yang biasanya ia gunakan untuk menyembunyikan diri dari dunia. Gaun itu pas di tubuhnya, mengubah penampilannya dari seorang gadis kasur yang malang menjadi bagian dari keanggunan Kastil Obsidian yang misterius. Namun, saat ia menatap wajahnya sendiri di cermin, sepasang mata lelah dan cemas itu tetap sama. Kau hanya memakai kostum yang bagus, Evelyne. Di dalam, kau tetaplah gadis yang tidak tahu cara menyelamatkan diri sendiri, batinnya berbisik, memicu kembali rasa tidak aman yang selalu siap menenggelamkannya.
Ketika ia melangkah keluar kamar untuk memulai tugas pertamanya, realitas sosial di dunia baru ini segera menghantamnya. Koridor sayap barat dipenuhi oleh pelayan dan prajurit tingkat rendah yang berlalu-lalang. Setiap kali Evelyne lewat, langkah kaki mereka melambat. Mereka tidak berbisik terang-terangan, melainkan melempar tatapan mata yang menyipit—sebuah pandangan merendahkan yang sangat Evelyne kenali. Itu adalah tatapan yang sama yang ia terima dari rekan-rekan kerjanya dulu saat ia melakukan kesalahan fatal dalam menyusun laporan keuangan.
Di dekat dapur kastil, dua pelayan wanita senior dengan seragam serupa sengaja menahan langkah mereka saat Evelyne mendekat untuk mengambil nampan.
"Jadi dia gadis dimensi yang dibawa Kieran?" bisik salah satu dari mereka, suaranya sengaja dikeraskan agar menembus pendengaran Evelyne. "Kudengar dia tidak punya aliran Aether sama sekali. Tubuhnya rapuh seperti ranting kering. Entah apa yang dipikirkan Panglima Sylus sampai mengizinkan makhluk tak berguna seperti dia tinggal di sayap pribadi."
"Paling-paling dia hanya akan bertahan seminggu," sahut yang lain dengan dengusan sinis. "Orang-orang tanpa kekuatan biasanya akan gila atau mati kering karena tidak tahan dengan tekanan aura obsidian di kastil ini."
Evelyne menundukkan kepalanya dalam-dalam, berpura-pura sibuk memeriksa nampan perak di tangannya. Jemarinya meremas pinggiran nampan hingga memutih. Rasa sakit dari kata-kata itu tidak baru baginya; itu hanyalah gema dari masa lalunya yang kini berganti bahasa. Ia terbiasa dianggap sebagai "penguras sumber daya", seperti yang dikatakan Luke kemarin. Kenyataan bahwa ia tidak memiliki sihir Aether dasar membuat dirinya merasa seperti cacat di tengah-tengah masyarakat yang mengagungkan energi kehidupan.
Malam pun tiba, membawa keheningan yang lebih pekat ke dalam Kastil Obsidian. Tugas khusus pertama Evelyne dititahkan langsung oleh kepala rumah tangga kastil: mengantarkan teh herbal Glint-root dan beberapa gulungan perkamen kuno ke puncak Menara Belajar Sylus Qinche.
Menara itu berdiri terpisah di ujung sayap barat, dihubungkan oleh sebuah jembatan batu terbuka yang ditiup angin malam yang kencang. Evelyne berjalan dengan sangat hati-hati, kedua tangannya memegang nampan perak dengan presisi mutlak. Ia takut jika satu cangkir saja berdenting atau jatuh, itu akan menjadi alasan bagi Luke untuk melemparnya ke kamp bawah tanah. Namun di balik ketakutan itu, jantungnya berdegup dengan ritme yang liar karena alasan lain. Ia akan bertemu dengan pria itu lagi. Pria berambut silver ash yang tatapan mata merahnya telah mencuri seluruh fokus pikirannya sejak pertemuan pertama mereka.
Evelyne mengetuk pintu kayu besar di puncak menara dengan siku tangannya.
"Masuk," sebuah suara berat, rendah, dan terdengar sedikit serak menyahut dari dalam.
Evelyne mendorong pintu dengan bahunya dan melangkah masuk. Ruangan itu adalah sebuah perpustakaan pribadi melingkar yang dipenuhi oleh ribuan buku bertingkat hingga ke langit-langit. Di tengah ruangan, sebuah meja kerja besar dari kayu hitam dipenuhi oleh peta-peta taktis militer, pecahan kristal sihir yang berpendar redup, dan beberapa botol tinta yang sudah kosong.
Sylus Qinche duduk di balik meja itu. Ia tidak lagi mengenakan zirah peraknya. Ia hanya memakai kemeja sutra hitam longgar dengan beberapa kancing atas yang terbuka, memperlihatkan garis selangka yang tegas dan kalung perak berlogo Orde Bayangan. Rambut silver ash-nya tampak sedikit lebih berantakan daripada siang tadi, jatuh di dahi dan hampir menutupi sebagian matanya.
Pria itu sedang memijat pelipisnya sendiri dengan satu tangan, sementara tangan lainnya memegang pena bulu ayam di atas peta perbatasan. Wajah tampannya memancarkan keletihan yang teramat sangat—sebuah sisi manusiawi yang tersembunyi di balik reputasinya sebagai ksatria yang tidak bisa mati. Beban militer dan politik dari seluruh wilayah Aetheria tampak bertumpu di atas kedua pundaknya yang tegap.
Evelyne berjalan mendekat dengan langkah sepelan mungkin, meletakkan nampan perak di sudut meja yang kosong. "Teh Anda, Panglima. Dan... perkamen yang Anda minta."
Sylus tidak langsung menjawab. Ia meletakkan penanya, lalu perlahan mengangkat wajahnya. Ketika sepasang mata merah darah itu kembali menatap langsung ke matanya, Evelyne merasakan sensasi sengatan listrik yang sama yang membuatnya terpaku siang tadi. Namun kali ini, dalam keheningan malam tanpa saksi, tatapan Sylus terasa lebih intim, mengeksplorasi penampilannya yang baru.
"Gaun itu cocok untukmu," ujar Sylus datar, suaranya memecah keheningan ruangan. "Setidaknya kau tidak lagi terlihat seperti pengembara kelaparan yang tersesat di hutan."
Wajah Evelyne mendadak terasa panas. Ia buru-buru memalingkan wajahnya ke arah lain, takut Sylus bisa membaca debaran jantungnya yang kian tak beraturan. "Terima kasih, Panglima. Pelayan lain yang menyiapkannya."
Sylus meraih cangkir teh yang masih mengepulkan uap hangat, menyesapnya perlahan. Matanya tidak pernah lepas dari gerak-gerik Evelyne yang serba canggung. "Kau gemetar, Evelyne. Apa ruangan ini terlalu dingin untukmu, atau kau masih berpikir aku akan memenggal kepalamu malam ini?"
"Aku... aku hanya tidak terbiasa berada di dekat seseorang yang... yang memiliki kekuasaan besar seperti Anda," jawab Evelyne jujur, suaranya mengecil di akhir kalimat. "Di duniaku, aku hanyalah orang biasa. Tidak, bahkan lebih rendah dari orang biasa. Berada di sini, di kastil Anda, rasanya seperti kesalahan takdir."
Sylus meletakkan kembali cangkirnya, menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi kristal hitamnya. "Kesalahan takdir tidak pernah menciptakan resonansi dimensi sekuat yang kau miliki, Gadis Dimensi. Kau terus-menerus menyebut dirimu sebagai orang gagal. Katakan padaku, apa yang membuatmu begitu membenci dirimu sendiri di dunia asalmu?"
Pertanyaan itu begitu langsung, menembus lapisan pertahanan emosional yang paling dalam dari diri Evelyne. Ia meremas jemarinya di balik kain gaun hitamnya. "Di duniaku, kebahagiaan diukur dari apa yang bisa kau tunjukkan pada orang lain. Teman-temanku... mereka memiliki segalanya. Alice memiliki kekasih yang mapan dan mencintainya tanpa syarat. Azyla memiliki popularitas, kecantikan, dan semua orang memujanya. Annie memiliki hubungan yang begitu manis hingga dunia terasa adil untuknya. Sementara aku..."
Air mata yang sejak tadi ia tahan mulai menggenang di pelupuk matanya. "Aku melihat mereka semua bahagia dari balik layar ponselku, sementara aku terjebak dalam kegagalan. Keluargaku hancur, kekasihku berselingkuh dan mengatakan aku adalah beban karena aku penuh luka, dan aku tidak punya karier yang bisa dibanggakan. Aku selalu bertanya-tanya kapan giliran jiwaku yang merasa bahagia, tapi rasanya pintu itu selalu tertutup untukku."
Sylus mendengarkan setiap patah kata yang keluar dari bibir Evelyne dengan saksama. Tidak ada kilat penghinaan di mata merahnya, tidak ada pula rasa kasihan yang merendahkan. Ia hanya menatap Evelyne dengan kedalaman yang tak terukur.
"Manusia di duniamu terdengar sangat sibuk mengukur bayangan mereka sendiri," ucap Sylus dengan nada rendah yang menenangkan. "Mereka mencari validasi dari mata orang lain. Di Aetheria, Evelyne, kebahagiaan adalah kemewahan yang hanya bisa kau miliki jika kau memiliki kekuatan untuk mempertahankannya. Di sini, tidak ada yang peduli pada air matamu. Tapi mereka akan tunduk pada kegigihanmu."
Sylus bangkit dari kursinya, berjalan memutari meja hingga ia berdiri tepat di hadapan Evelyne. Perbedaan tinggi mereka kembali terasa mengintimidasi, namun kali ini Evelyne tidak mundur. Ia terlalu terpikat oleh kombinasi antara ketampanan yang dingin dan kebijaksanaan pahit yang diucapkan pria itu.
"Kau ingin tahu arti dari kata 'Aku Bahagia' yang sesungguhnya?" Sylus menunduk, mendekatkan wajahnya hingga jarak mereka hanya beberapa senti. "Itu adalah ketika kau tidak lagi perlu bertanya kapan giliranmu, karena kau sendiri yang memegang kendali atas takdirmu. Dan aku... akan menggunakan keunikan jiwamu untuk membuka gerbang Perpustakaan Pusat. Sebagai imbalannya, aku akan memastikan tidak ada satu pun makhluk di kastil ini yang bisa menyentuh atau membuangmu."
Evelyne menatap sepasang manik merah darah itu. Di dalam pusaran warna merah yang menakutkan itu, ia tidak menemukan penolakan yang biasa ia terima dari keluarganya atau mantan kekasihnya. Sylus membutuhkannya. Meski itu hanya karena kekuatannya, bagi seorang Evelyne yang selalu dibuang, kata "dibutuhkan" adalah jenis validasi paling manis yang pernah ia terima sepanjang hidupnya. Pada detik itu, rasa kagumnya bertransformasi menjadi sesuatu yang lebih absolut. Ia jatuh cinta sepenuhnya pada pria berbahaya ini.
"Kita akan mulai sekarang," kata Sylus tiba-tiba, mengubah atmosfer emosional di antara mereka kembali menjadi profesional dan dingin.
"Mulai apa, Panglima?" tanya Evelyne bingung.
"Pelatihan resonansimu. Aku tidak punya waktu untuk menunggumu mengendalikan kekuatan itu secara tidak sengaja seperti di celah tebing kemarin. Kau harus bisa memanggilnya dengan kesadaran penuh."
Sylus berjalan ke sudut ruangan, mengambil sebuah batu seukuran genggaman tangan yang berwarna abu-abu kusam—Aether Slate. Ia meletakkan batu itu di atas meja kerja kayu hitamnya.
"Batu ini menyimpan sedikit sisa sihir dimensi kuno yang sudah mati," jelas Sylus. "Tugasmu sederhana. Dekatkan tanganmu ke atas batu ini. Jangan gunakan pikiranmu untuk memaksa, melainkan carilah getaran yang sama yang kau rasakan saat kau melenyapkan Gloomstalker kemarin. Tarik getaran itu keluar melalui telapak tanganmu."
Evelyne menelan ludah. Ia melangkah mendekati meja, menatap batu abu-abu yang tampak tidak bernyawa itu. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan hatinya yang masih berdebar karena kedekatan fisik mereka sebelumnya.
Ia mengulurkan tangan kanannya, memposisikan telapak tangannya beberapa sentimeter di atas batu. Ia memejamkan mata, mencoba berkonsentrasi.
Seketika, kebiasaan buruknya di dunia nyata kembali menyerang. Pikirannya mulai dipenuhi oleh skenario kegagalan (overthinking). Bagaimana jika aku tidak bisa? Bagaimana jika batu ini tidak bereaksi? Sylus akan menganggapku berbohong. Dia akan kecewa. Dia akan membuangku ke kamp bawah tanah seperti yang Luke katakan. Aku akan kembali menjadi orang gagal yang memalukan.
Ketakutan akan penolakan itu membuat otot-otot di tubuhnya menegang. Aliran darahnya terasa berat, dan tidak ada satu pun percikan sihir yang keluar dari telapak tangannya. Batu abu-abu itu tetap diam, kaku, dan mati.
Evelyne membuka matanya, napasnya memburu karena frustrasi. "Aku... aku tidak bisa. Pikiranku terlalu berisik. Setiap kali aku mencoba, aku hanya memikirkan bagaimana jika aku gagal lagi."
Sylus tidak membentaknya. Ia tidak mendengus seperti Luke atau menunjukkan kekecewaan yang biasa Evelyne terima dari ibunya. Pria berambut silver ash itu hanya berjalan mendekat, mengambil posisi tepat di belakang tubuh Evelyne.
Sebelum Evelyne sempat memproses apa yang terjadi, Sylus mengulurkan tangan kanannya yang besar dan kokoh, membungkus telapak tangan Evelyne yang gemetar dengan telapak tangannya sendiri. Kulit tangan Sylus terasa sangat dingin, namun kehangatan dari energi Aether bawah sadarnya segera menjalar ke pergelangan tangan Evelyne.
"Kau terlalu banyak berpikir, Evelyne," bisik Sylus tepat di samping telinganya. Embusan napas pria itu menggelitik leher Evelyne, membuat bulu kuduknya berdiri dan jantungnya berpacu lebih gila lagi. "Kau membawa beban dari duniamu yang sudah tidak ada di sini. Di ruangan ini, hanya ada kau, aku, dan batu ini. Buang semua bayangan tentang teman-temanmu. Buang ketakutanmu tentang masa lalu."
Cengkeraman tangan Sylus pada tangannya mengencang, menuntun tangan Evelyne untuk turun beberapa milimeter lebih dekat ke batu.
"Rasakan ini," perintah Sylus rendah. "Jangan gunakan logikamu. Rasakan ruang di sekitarmu sebagai aliran air. Kau adalah batu di tengah sungai itu. Kau tidak perlu melawan arusnya, kau hanya perlu mengizinkan air itu mengalir melaluimu."
Sentuhan fisik dari Sylus entah bagaimana bertindak sebagai jangkar yang menenangkan badai di dalam kepala Evelyne. Fokusnya beralih sepenuhnya dari ketakutan akan masa depan menuju rasa dingin dan kokoh dari tangan Sylus yang mendekapnya. Kehadiran pria itu memberikannya rasa aman yang belum pernah ia miliki seumur hidup.
Evelyne kembali memejamkan matanya. Kali ini, ia membiarkan dirinya tenggelam dalam bimbingan Sylus. Ia melupakan Alice, ia melupakan keluarganya yang hancur, ia melupakan rasa tidak bergunanya. Ia hanya fokus pada titik di mana tangan mereka bersentuhan.
Dalam kegelapan batinnya, ia merasakan getaran halus yang aneh—sebuah frekuensi rendah yang bergerak di bawah kulitnya. Itu adalah riak dimensi. Perlahan, dengan tuntunan tangan Sylus, Evelyne mengizinkan getaran itu mengalir naik menuju telapak tangannya.
Wush.
Pendar cahaya ungu lembut mendadak meledak dari sela-sela jari mereka yang bertautan. Batu abu-abu di bawah tangan mereka bergetar hebat. Retakan-retakan kecil mulai muncul di permukaan batu, memancarkan cahaya ungu yang sama, sebelum batu itu perlahan melarut menjadi serpihan spasial transparan yang melayang-layang di udara menara, menciptakan pemandangan indah mirip kunang-kunang ungu di tengah kegelapan perpustakaan.
Evelyne membuka matanya, menatap pemandangan itu dengan binar kekaguman yang murni. "Aku... aku melakukannya?"
Sylus perlahan melepaskan cengkeraman tangannya, melangkah mundur satu langkah. Ia menatap serpihan ungu yang perlahan memudar di udara, lalu menatap Evelyne yang kini menoleh padanya dengan senyum tipis—sebuah senyuman tulus pertama yang muncul di wajah gadis itu sejak menginjakkan kaki di Aetheria.
"Kau melakukannya," jawab Sylus, sepasang mata merah darahnya berkilau dengan kepuasan yang mendidik. "Pikiranmu adalah musuh terbesarmu, Evelyne. Jika kau bisa menaklukkannya seperti tadi, kau akan menjadi senjata yang paling mematikan untuk membuka Perpustakaan Pusat."
Meskipun kata-kata Sylus tetap terdengar dingin dan berorientasi pada fungsi, Evelyne tidak peduli. Cara Sylus membimbingnya tanpa penghakiman telah menyentuh bagian terdalam dari jiwanya yang terluka. Di duniaku, tidak ada yang pernah memegang tanganku untuk membantuku keluar dari kegagalan, batin Evelyne seraya menatap telapak tangannya yang masih menyisakan rasa dingin dari kulit Sylus. Semua orang hanya menuntutku untuk berhasil atau membuangku saat aku jatuh.
"Pergilah kembali ke kamarmu dan istirahat," perintah Sylus, kembali berjalan menuju meja kerjanya dan mengambil pena bulu ayamnya. "Besok malam, kita akan melanjutkan latihan ini. Jangan biarkan pelayan lain atau Luke melihat kelemahanmu di siang hari. Di kastil ini, kau adalah tanggung jawabku sekarang."
"Baik, Panglima. Selamat malam," bisik Evelyne selembut mungkin.
Ia mengambil nampan peraknya yang kini sudah kosong dan berjalan keluar dari menara belajar. Saat melangkah melintasi jembatan batu di bawah langit malam Aetheria yang dipenuhi tiga bulan keperakan, angin dingin tidak lagi membuat tubuhnya gemetar. Evelyne memeluk nampan perak itu di dadanya, menatap lurus ke depan dengan binar mata yang baru.
Ia tahu perjalanan ini akan dipenuhi darah dan bahaya, dan ia tahu dia masih seorang gadis penakut yang penuh luka. Namun malam ini, di menara sunyi itu, di bawah bimbingan pria bermata merah darah yang teramat tampan itu, Evelyne Rochie akhirnya menemukan sebuah alasan untuk tidak lagi meratapi nasibnya. Ia tidak akan lagi bertanya kapan dia akan bahagia, karena di dunia ini, bersama Sylus Qinche, ia siap merebut kebahagiaannya sendiri.
Bersambung