NovelToon NovelToon
Secangkir Rindu Di Kedai Senja

Secangkir Rindu Di Kedai Senja

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Tamat
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Arka Danadyaksa adalah direktur korporat yang melihat dunia hanya sebagai angka dan lahan. Namun, langkahnya terhenti di sebuah kedai tua milik Senja, wanita keras kepala yang memilih bertahan demi sebuah warisan rindu.
Berawal dari rencana penggusuran yang kejam, takdir justru menyeduh rasa yang tak terduga di antara mereka. Di tengah intrik kekuasaan, pengkhianatan keluarga, dan runtuhnya sebuah imperium, Arka harus memilih: tetap menjadi raja di menara yang hampa, atau kehilangan segalanya demi menemukan "rumah" di bawah cahaya senja yang abadi.
Pahitnya kejujuran, manisnya pengampunan, dan rindu yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Genre: Romantis, Drama, Kehidupan Sehari-hari (Slice of Life.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Warna Senja di Kaca Jendela

​Pukul lima sore. Setelah kekacauan brutal siang tadi, Jakarta entah mengapa sedang berbaik hati.

​Hujan yang biasanya turun dengan rajin di jam-jam rawan macet ini, digantikan oleh pendar cahaya matahari terbenam yang luar biasa tajam. Sinar keemasan golden hour menerobos masuk melalui celah-celah pagar seng proyek, menembus langsung ke kaca jendela depan Kedai Kala Senja. Partikel-partikel sisa debu semen yang masih melayang di udara terlihat menari-nari diterpa cahaya jingga tersebut, menciptakan suasana magis yang hangat.

​Kedai sudah kututup lebih awal hari ini. Aku menempelkan kertas bertuliskan 'Closed for Maintenance' di pintu depan. Beberapa pekerja proyek tadi sudah memperbaiki bagian atap belakang yang rusak ringan, dan aku baru saja selesai menyapu sisa pecahan kaca polaroid Nenek dari lantai.

​Di dalam, kedaiku sangat sepi. Hanya tersisa kami berdua.

​Aku berdiri di balik mesin espresso, baru saja selesai membilas porta-filter terakhir di bawah keran air. Sambil mengelap tangan dengan celemek, mataku tak bisa berhenti mencuri pandang ke arah meja bar.

​Arka duduk di sana, membelakangi jendela. Pendar senja dari luar membingkai siluet bahunya yang lebar. Pria itu tampak sangat kelelahan kelelahan yang meresap sampai ke tulang. Jasnya sudah entah ke mana, dasinya dicopot paksa, dan tiga kancing teratas kemejanya terbuka. Lengan kanannya masih terbalut perban putih hasil karyaku siang tadi.

​Ia menumpukan kepalanya di atas lipatan lengan kirinya di atas meja bar. Matanya terpejam rapat. Napasnya teratur, namun keningnya sedikit berkerut.

​Bahkan saat sedang memejamkan mata pun, isi kepalanya pasti masih berisik oleh angka, ancaman ayahnya, dan proyek mall gila ini, batinku iba. Lihat dia. Singa korporat yang tadi pagi mengamuk siap membunuh orang, sekarang kelihatan seperti pria yang kehabisan tenaga untuk sekadar duduk tegak.

​Tanganku refleks bergerak menuju wadah biji kopi untuk membuatkan rutinitasnya Iced Americano tanpa gula. Tapi gerakanku terhenti di udara.

​Ada dorongan aneh yang menyusup di dadaku. Sore ini, aku sama sekali tidak ingin memberinya cairan hitam yang dingin dan pahit itu.

​Pria ini sudah terlalu banyak menelan kepahitan hari ini, pikirku. Dia butuh sesuatu yang lain.

​Dengan gerakan yang sangat pelan dan berhati-hati agar tidak menimbulkan suara bising, aku mulai meracik sesuatu yang berbeda. Aku menuangkan susu segar ke dalam milk jug logam, lalu memanaskannya dengan steam wand hingga micro-foam-nya terbentuk sempurna dan creamy. Aku mengambil bubuk cokelat premium simpanan pribadiku yang harganya lumayan mahal dan jarang kujual lalu menyeduhnya dengan sedikit air panas.

​Bau manis dan pekat dari cokelat segera menguar, mengusir bau debu semen yang sedari tadi menyumbat hidungku.

​Aku menuangkan susu panas itu ke dalam mug keramik tebal yang hangat, membentuk latte art berbentuk daun rosetta kecil di permukaannya. Sentuhan terakhir, aku menaburkan sedikit bubuk cinnamon di atasnya. Manis, hangat, dan menenangkan.

​Aku memutari area bar dengan langkah tanpa suara, menarik pelan kursi kayu di sebelah Arka, lalu duduk di sana. Aku meletakkan mug keramik itu tepat di dekat wajahnya dengan bunyi 'klitik' yang sangat pelan.

​Mendengar suara itu, Arka perlahan membuka matanya. Ia mengerjap beberapa kali dengan berat, menyesuaikan pupilnya dengan cahaya senja yang menyilaukan. Matanya yang merah menatap kepulan asap beraroma kayu manis yang keluar dari cangkir di depannya. Keningnya berkerut bingung.

​"Bukan Americano?" tanyanya. Suaranya terdengar luar biasa serak dan berat, khas orang yang baru saja ditarik paksa dari alam bawah sadar.

​"Bukan," jawabku pelan.

​Aku menopang dagu dengan tangan kananku, memiringkan tubuh menghadap ke arahnya. "Hari ini lo udah cukup marah-marah, cukup berantem, dan cukup stres, Ka. Kopi pahit tanpa gula cuma bakal bikin asam lambung lo makin naik. Lo butuh sesuatu yang manis buat nge-reda-in isi kepala lo yang ruwet itu. Minum,"ku geserkan mug cokelat lebih dekat di hadapannya.

​Arka menatap mug cokelat itu sebentar, lalu memutar wajahnya untuk menatapku. Sebuah senyuman sangat tipis muncul di bibirnya yang pucat. Bukan senyum sinis atau senyum negosiasi bisnis, melainkan senyum yang sangat tulus dan terekspos.

​Ia mengangkat mug tebal itu dengan tangan kirinya yang bebas perban, lalu meniupnya pelan sebelum menyesapnya.

​"Gimana?" tanyaku, entah kenapa merasa gugup menunggu reaksinya.

​"Manis. Bikin tenang," gumam Arka, suaranya sedikit mendesah lega. Ia meletakkan cangkirnya kembali di atas meja, lalu membiarkan keheningan kembali mengambil alih ruang di antara kami.

​Di dalam kedai ini, hanya terdengar detak jarum jam dinding dan deru knalpot mobil dari jalan raya yang terdengar lamat-lamat.

​"Gue capek banget, Nja," ucap Arka tiba-tiba, suaranya nyaris menyerupai bisikan angin.

​Ia memutar tubuhnya hingga sepenuhnya menghadapku. Matanya yang kelam menatap lurus ke dalam mataku, membiarkan semua topeng ketangguhannya sebagai CEO jatuh berserakan di atas lantai kayu kedaiku.

​"Bokap gue nekan jajaran direksi buat nge-audit ulang semua pengeluaran proyek ini. Vendor-vendor mulai banyak yang main di belakang, disuap buat nunda suplai material biar proyek mangkrak," Arka tertawa miris, menertawakan nasibnya sendiri. "Kadang gue mikir... apa gue sanggup bertahan di neraka ini selama setahun ke depan?"

​Mendengar nada putus asa dari bibirnya, hatiku terasa seperti diremas kuat-kuat. Pria sekuat Arka yang selalu berdiri paling depan menghadapi alat berat dan kemarahan ayahnya ternyata punya titik hancur juga. Dan entah bagaimana, di antara miliaran manusia di kota ini, pria itu memilih untuk mengupas lukanya dan menunjukkan titik hancur itu kepadaku.

​Sesuatu di dalam dadaku pecah. Ego dan gengsi yang selama ini kujaga runtuh seketika.

​Tanpa banyak berpikir, aku menggeser kursiku agar lebih dekat dengannya. Aku mengulurkan tanganku, dan kali ini, akulah yang berinisiatif meraih tangan Arka yang beristirahat di atas meja. Jari-jariku yang mungil menyusup masuk di antara sela-sela jemarinya, menautkannya dengan sangat erat, berusaha menyalurkan seluruh kehangatan yang kumiliki ke dalam aliran darahnya.

​"Lo pasti sanggup," bisikku mantap. Mataku tidak berkedip membalas tatapannya.

​"Arka yang gue kenal itu keras kepala, kadang ngeselin, dan lumayan arogan.

Tapi dia nggak pernah lari dari apa yang dia yakini. Lo udah berjuang sejauh ini, Ka. Jangan nyerah sekarang," jempolku mengusap pelan punggung tangannya. "Ada banyak orang di luar sana yang naruh harapan sama proyek lo. Dan... gue juga ada di sini."

​Arka terdiam. Jakunnya bergerak menelan ludah.

​"Gue bakal terus bikinin lo minuman apa pun yang lo mau," lanjutku, suaraku mulai bergetar karena emosi yang meluap, "tiap kali lo ngerasa dunia lo lagi kacau. Gue bakal selalu ada di meja bar ini, nungguin lo."

​Arka tertegun. Kata-kataku, sentuhan tanganku yang mengunci tangannya, dan cahaya senja keemasan yang menerpa wajah kami berdua seolah menyedot sisa kewarasan di otak pria itu tanpa sisa.

​Perlahan, Arka mencondongkan tubuhnya ke arahku. Tangan kanannya yang terbalut perban bergerak naik merayap ke wajahku. Ibu jarinya yang sedikit kasar menyentuh tulang pipiku dengan sangat berhati-hati, seolah ia sedang menyentuh porselen mahal yang mudah retak.

​Sentuhan jarinya membakar kulitku. Aku menahan napas, tapi aku tidak mundur seinci pun.

​Aku justru sedikit memiringkan wajahku, secara naluriah menyandarkan pipiku pada telapak tangannya yang hangat. Jantung kami berdua berpacu brutal, suaranya bertalu-talu membakar rongga dadaku hingga rasanya aku bisa gila.

​"Nja..." panggil Arka serak. Tatapannya turun, terpaku pada bibirku.

​"Hmm?" balasku nyaris tak bersuara.

​"Boleh...?"

​Hanya satu kata itu yang keluar dari bibirnya, tapi maknanya menggantung sangat berat di udara.

​Otak logisku menyuruhku mundur, tapi hatiku sudah lama menyerah pada pria ini. Aku menelan ludah yang terasa kering. Alih-alih menjawab dengan kata-kata, kubiarkan kelopak mataku perlahan menutup. Sebuah persetujuan absolut dalam diam.

​Arka tidak membuang waktu sedetik pun. Ia mengikis jarak terakhir di antara kami.

​Bibirnya menyentuh bibirku. Sangat lembut dan ragu-ragu pada awalnya, seolah ia ingin memastikan bahwa ini bukan sekadar halusinasi dari rasa lelahnya. Napasnya yang hangat berhembus di wajahku.

​Namun, saat kurasakan diriku sedikit membalas tekanan bibirnya, Arka mengerang pelan. Ia memperdalam pagutannya. Tangan Arka berpindah, jari-jarinya menelusup ke sela-sela rambut di tengkukku, menahan kepalaku dan menarikku lebih dekat hingga tak ada lagi jarak udara yang tersisa di antara kami.

​Aku mencengkeram kemejanya di bagian dada, meremas kain kusut itu sebagai pegangan agar aku tidak jatuh meleleh ke lantai.

​Ciuman itu tidak dipenuhi nafsu liar yang menggebu, melainkan sebuah penyaluran rasa rindu yang tertahan, rasa lelah yang menumpuk, dan rasa takut kehilangan yang selama ini kami pendam rapat-rapat. Rasa manis dan legit dari sisa cokelat serta cinnamon di bibir Arka berpadu sempurna dengan sisa aroma espresso yang selalu menguar dari tubuhku.

​Sore itu, di bawah pendar cahaya senja Jakarta yang keemasan, di tengah kedai tua yang dikepung oleh mesin-mesin raksasa penghancur dan ketidakpastian masa depan... kami menemukan tempat perlindungan yang paling aman: di dalam rengkuhan satu sama lain.

1
Indah
Terima kasih buat autornya yg membuat karya sebagus da semenarik ini🙏🙏
Indah
Arka junior dah launcing
Indah
Sampai akhir papanya tetep gak berubah
Indah
Ketegangan masih berlanjut
Indah
/Sob//Sob//Sob/...
Indah
Saingan cinta datang💪💪
Indah
Gak mudah memang...
Cinta perjuangan n pengorbanan ...
Ea.....🤭🤭
Indah
/Smile/
Indah
waaahhh....
emak emak baperan ini jd ikut guling2 saking so sweetnyaaaa....
Indah
Gak perlu bilang i love u dr perilaku n perbuatanya juga dah jelas arka suka ma kamu ja
Indah
Ngeri2 sedep suasananya pas bapaknya Arka muncul/Skull//Skull/
Indah
Nemu satu lagi karya yg bagus disini yg sesuai selera q 😍😍
Indah
Sadarnya Senja akan perasaanya...
Tp q rasa perjalananya akan sangat sulit/Whimper//Whimper/
Indah
Bacanya ikutan gak karuan rasanya...
Deg Degkan tp jg sambil senyum senyum gak jelas😍😍
Indah
Rasa itu kah yg muncul tiba2...
Nhi Nguyễn
/Smile/
Nhi Nguyễn
/Smile//Smile/
ana khoirul mala
bagus kak ceritanya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!