Gwen rela menjadikan tubuhnya sebagai jaminan demi menyelamatkan nyawa ayahnya yang terlilit utang kepada pemimpin mafia paling kejam.
Tak disangka, Raymon, pemimpin kejam itu, ternyata lumpuh akibat ulah keluarganya sendiri yang ingin menggulingkan kekuasaannya.
Demi menjaga stabilitas, ia membutuhkan seorang istri untuk meredam gosip tentang dirinya yang masih lajang dan belum memiliki keturunan sebagai pewaris kekuasaan.
Masa terapi pemulihan kakinya diperkirakan berlangsung selama enam bulan. Selama itu pula, Gwen harus berpura-pura menjadi istri yang mencintai Raymon di hadapan semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berlian Asli
“Ya ampun, Raymon. Carmeen itu manajer aku dan pemilik galeri tempat pameran aku. Dia cuma minta foto lukisan.”
“Kenapa kamu manggil dia baby?”
“Semua orang manggil dia baby. Termasuk suaminya.”
Postur Raymon langsung sedikit rileks, dan tatapannya kehilangan kesan tajam.
Apa dia cemburu?
“Aku boleh lihat lukisan kamu?” tanya Raymon.
Sepertinya mereka akan pura-pura mengabaikan sikap aneh barusan. Tidak masalah bagi Gwen, karena dia tidak ingin mengakui bahwa dia justru suka melihat Raymon cemburu.
“Boleh,” jawab Gwen. “Tapi jangan disentuh, beberapa masih basah.”
Raymon mendekati deretan kanvas dan memperhatikan satu per satu, berhenti di depan lukisan terbaru.
“Itu… Elliot?” tanyanya, menunjuk dengan ujung kruk.
“Iya.”
“Kenapa kepalanya megafon? Dan itu… ayam mati di bawah lengannya?”
“Kamu jeli juga, Presiden.”
Raymon menoleh sambil tersenyum. “Terus lukisan aku mana? kamu janji mau bikin potret diri buat aku.”
“Yang telanjang, iya aku ingat. Nunggu dulu. aku harus selesain lukisan buat pameran. Atau aku bikin potret diri aku kayak gini aja? Pasti kritikus bakal suka.” Gwen mengangkat bahu santai. “Mungkin kita perlu kasih label ‘18+’ di—”
“Enggak.”
“Yaudah, berarti kamu harus nunggu.”
“Aku tunggu.” Raymon menatapnya sejenak. “Kamu lapar?”
Perubahan topik itu membuat Gwen sedikit terkejut.
“Lumayan.”
“Yuk, kita makan siang di luar.”
...***...
Raymon mengajak Gwen ke restoran mewah di pusat kota, dan mereka menghabiskan hampir dua jam di sana.
Gwen bercerita tentang rencananya untuk pameran, dan Raymon membiarkannya berbicara sambil memperhatikannya. Mata Gwen yang selalu tampak tersenyum, caranya menggerakkan tangan di depan wajah saat bersemangat, atau bagaimana dia condong ke depan dan berbisik pelan saat bergosip tentang rekan-rekannya di galeri.
Padahal jelas tidak ada yang bisa mendengar. Restoran itu hanya setengah penuh, dan tidak ada meja di dekat mereka yang terisi. Tapi Gwen tetap menutup sebagian mulutnya saat bercerita, seperti saat dia tidak sengaja memergoki salah satu seniman lain sedang meraba-raba staf keuangan di belakang lantai galeri.
Sudah banyak wanita dalam hidup Raymon, tapi dengan Gwen di hadapannya sekarang, semuanya terasa hilang begitu saja.
Mereka bahkan belum pernah benar-benar berciuman, kecuali demi sandiwara. Tapi Raymon tidak pernah merasa setertarik ini pada seseorang. Seolah Gwen sudah menyihirnya.
“Apa maksudnya anjing itu?” tanya Raymon.
“Aku pinjam dari tante aku.” Gwen tersenyum dan menyesap anggurnya.
“Kamu pinjam anjing?”
“Hemmm, aku nawarin buat jagain dia beberapa minggu. Harusnya itu cukup buat dia ‘berperan’.”
“Berperan gimana?”
“Ya, kamu tahu sendiri kan, anjing suka lari-lari keliling rumah, masuk kamar orang, terus sembunyi di sana. Bilbo suka banget begitu. Jadi aku bakal ngejar dia keliling rumah beberapa hari ini. Siapa tahu dia nyasar ke mana aja.” Gwen tersenyum nakal. “Mungkin aja sampai ke kamar Esmond.”
Raymon tertawa kecil dan menggeleng.
“Kamu ini berbahaya juga, Little Babby.”
Gwen memiringkan kepala, sudut bibirnya terangkat. “Seperti yang aku bilang, semua orang kelihatan kecil di samping kamu, Raymon.”
Pelayan datang mengisi ulang minuman mereka. Saat Gwen mengambil gelasnya, Raymon memperhatikan cincin kawinnya agak longgar.
Dia meraih tangan Gwen dan memeriksa cincin itu. “Kita harus kecilin ukurannya.”
“Gak usah. Cincin tunangannya nahan kok. Ngomong-ngomong, ini kuat banget. Kemarin tangan aku kena cat, sampai harus digosok keras, tapi gak lecet sama sekali.”
“Memang susah nggores berlian.”
Gwen menatapnya, berkedip, lalu menatap cincin itu seolah benda itu bisa menggigitnya.
“Oh ... Ini beneran asli?”
“Jelas asli.”
“Shiiiit!”
Gwen meratakan telapak tangannya, menatap berlian potongan princess dua karat itu dengan tidak percaya. Mulutnya terbuka, lalu tertutup lagi tanpa kata.
Kemudian dia menutup cincin itu dengan tangan satunya, condong ke arah Raymon.
“Boleh aku tukar sama yang plastik aja?”
“Enggak.”
“Please?”
“Kamu gak bakal pakai cincin plastik. Udah, titik.”
Gwen meringis dan bergumam sesuatu.
“Ayo pulang,” kata Raymon sambil akhirnya melepaskan tangan Gwen dengan enggan. “Kita bisa nonton film.”
“Kamu gak ada kerjaan lagi?”
“Udah selesai buat hari ini. kamu?”
“Germo aku bakal bunuh aku. Aku udah telat, tapi nonton film kayaknya enak.”
...***...
...***...
Setelah mereka pulang, Gwen mandi cepat, mengenakan legging dan kaus besar, lalu pergi ke dapur untuk membuat popcorn. Raymon ternyata sangat suka jus jeruk, dia bisa minum dalam jumlah banyak, jadi Gwen memeras beberapa jeruk untuknya sebelum membawa semuanya ke ruang keluarga.
Raymon sudah ada di sana, duduk santai dengan lengan bertumpu di sandaran sofa, kaki kanannya lurus ke depan dengan tumit di atas meja.
“Kamu kelihatan aneh pakai baju santai,” kata Gwen sambil meletakkan mangkuk dan gelas di meja, lalu menunjuk hoodie dan kaus Raymon.
“Oh ya? Maksudnya?”
“Gak tahu. Kurang kelihatan kayak Presiden, mungkin.” Gwen mengangkat bahu lalu menjatuhkan diri di sofa di sampingnya. “Kita nonton apa?”
“Terserah. Sini, mendekat.”
Gwen bergeser ke sudut, dan Raymon merebahkan diri di sofa, meletakkan kepala di pangkuannya, lalu menutup mata.
“Kaki kamu sakit?” tanya Gwen.
“Iya,” jawab Raymon, tapi ada jeda kecil sebelum dia menjawab.
“Kamu bohong?”
“Enggak.” Raymon menggeleng, masih dengan mata terpejam, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat.
“Oh iya, kamu bohong.” Gwen membungkuk sedikit. “Kamu cuma mau aku elus, kan?”
Raymon membuka mata, mengangkat tangan, dan menyelipkan helaian rambut yang terlepas ke belakang telinga Gwen.
“Iya,” katanya pelan, lalu menutup mata lagi.
Gwen menarik napas dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang mulai cepat, lalu menenggelamkan jemarinya ke rambut Raymon.
Mereka tetap seperti itu, Raymon berbaring di pangkuannya dan Gwen mengelus rambutnya, di depan televisi yang bahkan belum dinyalakan, sampai suara ponsel berdering dari kamar Raymon memecah keheningan.
“Sial,” gumam Raymon sambil bangkit. “Aku ambil dulu."
“Aku aja,” kata Gwen, lalu berlari ke kamar.
Saat kembali, Raymon menatapnya dengan intens, tapi Gwen hanya menganggap itu salah satu tatapan aneh yang sering dia dapatkan akhir-akhir ini, lalu menyodorkan ponsel itu.
Raymon mengulurkan tangan, tapi alih-alih mengambilnya, dia justru menggenggam lengan Gwen dan menariknya mendekat.
Ponsel masih berdering, tapi Raymon tidak melepaskannya, menarik Gwen hingga berdiri di antara kedua kakinya. Tangan satunya naik ke sisi wajah Gwen, ibu jarinya mengusap pipinya.
“Raymon?” bisik Gwen. “Kamu lagi ngapain?”
“Angkat telepon.”
“Udah berhenti bunyi.”
“Aku tahu.”
Tangannya meluncur dari lengan Gwen dan mengambil ponsel itu, lalu melemparkannya ke samping. Ponsel itu meluncur di lantai hingga berhenti di dekat rak buku.
“Raymon?”
“Iya, Babby?”
Gwen mengangkat tangannya, melingkarkan di leher Raymon, lalu mendekat hingga bibir mereka hampir bersentuhan. Tatapan Raymon tidak lepas darinya, dan cara pria itu memandangnya membuat sesuatu bergejolak di dalam diri Gwen.
“Kamu lagi mau nyium aku?” bisiknya.
“Mungkin,” jawab Raymon.
“Gak akan ada orang yang lihat.”
“Justru itu,” bisik Raymon, lalu menyentuhkan bibirnya ke bibir Gwen.