NovelToon NovelToon
Trading Thrones (Bertukar Tahta)

Trading Thrones (Bertukar Tahta)

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Perjodohan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: DearlyBoa

​Di papan catur Leone, Nora hanyalah sebuah bidak yang dipahat untuk menahan badai, sementara Stella adalah permata yang disembunyikan di balik sutra. Selama lima tahun, Nora berdiri sebagai tameng, meredam peluru dengan detak jantungnya sendiri demi pria yang tak pernah benar-benar melihatnya kecuali sebagai pelindung bagi cintanya yang sejati.
​Namun, setiap baja memiliki titik retak.
​Ketika takdir menyajikan dua cawan beracun di atas meja jati, Nora memilih untuk meminum rahasia yang paling kelam. Dia menukar tahta di pesisir California dengan mahkota berduri di ranjang hantu New York. Di kota yang tak pernah tidur, dia tidak datang untuk menjadi perawat bagi jiwa yang koma, melainkan untuk membangun kekaisaran dari sisa-sisa pengkhianatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hujan dan Janji yang Berdusta

​Setiap kali Nora Leone memejamkan mata dan mencoba mengingat titik di mana hidupnya mulai hancur, ingatannya selalu kembali ke hari itu. Hari di mana langit Los Angeles seolah ikut berduka, berwarna kelabu pekat, dan aroma tanah basah bercampur dengan bau bunga kamboja yang memuakkan.

​Lima tahun yang lalu.

​Ibunya, Elena Leone, baru saja diturunkan ke liang lahat. Elena adalah wanita yang mati karena patah hati yang terakumulasi—sebuah penyakit yang tidak ada obatnya dalam dunia medis, namun sangat mematikan di dunia nyata. Saat tanah terakhir menutupi peti mati ibunya, Nora merasa dunianya ikut terkubur. Namun, kengerian yang sebenarnya baru dimulai saat dia kembali ke rumah besar keluarga Leone.

​Nora, yang saat itu masih berusia delapan belas tahun dengan mata yang bengkak karena tangis, terpaku di ambang pintu ruang tamu. Di sana, Antonio Leone berdiri dengan wajah yang tidak menunjukkan duka sedikit pun. Di sampingnya, berdiri seorang wanita berambut pirang dengan senyum tipis yang merendahkan, dan seorang gadis remaja—Stella—yang memegang boneka beruang mahal.

​"Mulai hari ini, mereka akan tinggal di sini," ujar Antonio tanpa basa-basi. "Miriam adalah istriku yang sebenarnya dalam hati, dan Stella adalah putri yang selama ini aku sembunyikan demi menjaga perasaan ibumu yang penyakitan itu."

​Nora merasa seolah oksigen di ruangan itu mendadak hilang. "Papa... Ibu baru saja dikubur dua jam yang lalu."

​"Dan rumah ini butuh nyawa baru," balas Antonio dingin. Dia menunjuk ke arah tangga. "Nora, aku sudah menyiapkan koper-kopermu di lorong. Kau sudah dewasa. Kehadiranmu di sini hanya akan membuat Stella merasa tidak nyaman. Aku sudah muak melihat wajahmu yang begitu mirip dengan ibumu. Itu membuatku tertekan."

​"Kau mengusirku?" bisik Nora, suaranya bergetar.

​"Aku membebaskanmu," koreksi Antonio kejam. "Cari tempat tinggalmu sendiri. Kau punya otak, gunakan itu."

​Miriam, ibu Stella, melangkah maju dan mengelus pundak Antonio dengan gaya posesif. "Sayang, biarkan dia pergi sekarang. Aku ingin menata ulang kamar utama. Bau parfum mendiang istrimu masih tertinggal di sana, sangat menyesakkan."

​Nora berdiri mematung di tengah hujan yang mulai turun membasahi teras rumah. Dia membawa satu koper kecil berisi sisa-sisa kenangan ibunya. Di saat itulah, sebuah mobil hitam legam berhenti di depan gerbang. Sosok pria muda keluar dengan payung besar di tangannya.

​Adrian Thorne.

​Saat itu, Adrian sudah menjadi sosok yang disegani meski usianya baru awal dua puluhan. Dia adalah putra mahkota keluarga Thorne, rekan bisnis sekaligus "penjaga" keluarga Leone. Adrian melangkah mendekat, matanya yang tajam menatap pemandangan memuakkan di depannya.

​"Apa yang terjadi di sini, Antonio?" suara Adrian berat dan mengancam.

​Antonio tertawa gugup, pria itu selalu takut pada kekuatan Thorne. "Ah, Adrian. Hanya sedikit pembersihan rumah. Nora ingin mencoba hidup mandiri."

​Nora menoleh, menatap Adrian dengan sisa-sisa harapan. Adrian menatap koper di samping Nora, lalu menatap Antonio dengan pandangan merendahkan.

​"Hidup mandiri di tengah badai? Kau baru saja mengubur istrimu dan sekarang membuang putrimu seperti sampah?" Adrian melangkah maju, melewati Antonio seolah pria itu hanya debu.

​Tanpa peringatan, Adrian menjatuhkan payungnya. Dia membungkuk dan menyusupkan lengannya di bawah lutut dan punggung Nora. Dengan satu gerakan kuat yang mantap, dia mengangkat Nora ke dalam dekapannya.

​Nora tersentak, tangannya secara instingtif melingkar di leher Adrian. "Adrian... apa yang kau lakukan?"

​"Menebus janji," bisik Adrian di dekat telinganya. Suaranya hangat, kontras dengan udara dingin yang menusuk tulang. "Aku sudah berjanji pada ibumu sebelum dia menghembuskan napas terakhir bahwa aku akan menjagamu jika sesuatu terjadi. Dan aku tidak pernah mengingkari janjiku."

​Antonio, yang merasa beban finansial dan moralnya berkurang, segera melambaikan tangan. "Bagus kalau begitu! Bawa dia, Adrian. Dengan begitu, urusanku dengannya selesai. Satu beban lebih sedikit untukku."

​Adrian tidak menyahut. Dia membalikkan badan, menggendong Nora bak pengantin baru melewati genangan air menuju mobilnya. Nora menyembunyikan wajahnya di dada Adrian, menghirup aroma kayu cendana dan maskulin yang terpancar dari jas pria itu. Saat itu, Nora merasa Adrian adalah malaikat penyelamatnya. Dia tidak tahu bahwa pria itu hanya sedang membangun sangkar emas untuknya.

​Perjalanan menuju kediaman Thorne berlangsung dalam keheningan yang menyesakkan. Adrian tidak melepaskan tangan Nora bahkan saat mereka sudah berada di dalam mobil.

​Setibanya di mansion Thorne yang megah di perbukitan, Adrian kembali menggendongnya masuk. Dia tidak membiarkan kaki Nora menyentuh lantai dingin sampai mereka mencapai sebuah kamar di lantai dua.

​"Ini kamarmu," ujar Adrian saat menurunkannya dengan lembut di atas tempat tidur yang dilapisi seprai sutra abu-abu.

​Kamar itu sangat luas, dengan jendela besar yang menghadap ke arah laut. Di sudut ruangan, sudah tersedia beberapa tas belanja dari butik ternama.

​"Aku sudah meminta orangku membelikan beberapa potong pakaian untukmu. Itu hanya sementara sampai kita bisa memesan yang sesuai dengan ukuranmu," kata Adrian sambil membuka salah satu lemari, memperlihatkan deretan gaun dan pakaian santai yang tampak mahal.

​Nora menatap semua itu dengan pandangan kosong. "Kenapa kau melakukan ini, Adrian? Kau tidak berhutang apapun padaku."

​Adrian mendekat, berlutut di depan Nora sehingga mata mereka sejajar. Dia meraih jemari Nora dan mengecupnya pelan. "Kau adalah tanggung jawabku sekarang, Nora. Di rumah ini, kau tidak akan pernah diusir. Kau tidak akan pernah merasa lapar atau kedinginan."

​Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya dengan seragam rapi mengetuk pintu.

​"Nora, perkenalkan. Ini Martha," ujar Adrian. "Dia adalah kepala asisten rumah tangga di sini. Dia yang akan kau temui setiap hari. Apapun yang kau butuhkan—makanan, buku, atau jika kau ingin pergi keluar—katakan padanya. Dia akan mengurusnya untukmu."

​Martha membungkuk sopan. "Selamat datang, Nona Nora. Suatu kehormatan bisa melayani Anda."

​Nora hanya bisa mengangguk lemah. Malam itu, setelah Adrian keluar dari kamarnya, Nora meringkuk di bawah selimut sutra yang mahal. Dia merasa aman, namun ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Dia merasa seperti burung yang baru saja pindah dari kandang kayu yang rusak ke kandang emas yang berkilau.

​Dia tidak menyadari bahwa di ruang kerja Adrian malam itu, pria itu sedang menatap foto kecil di dalam laci mejanya. Bukan foto Nora, melainkan foto Stella Leone yang masih kecil, yang diambil Adrian secara diam-diam saat kunjungan bisnis ke rumah Antonio beberapa bulan sebelumnya.

​Adrian mengusap foto Stella dengan ibu jarinya. "Nora akan menjadi dinding yang kuat, Stella kecil. Selama dia ada di sampingku, dunia akan tertuju padanya, dan kau akan tetap murni di sana, tanpa tersentuh kotornya duniaku."

​Kembali ke masa kini, di ruang kerja yang pengap itu, Nora teringat akan kenangan tersebut dengan rasa pahit yang membuncah. Dia menatap tangannya yang dulu pernah dikecup Adrian dengan penuh kepalsuan.

​Dia menyadari satu hal: Adrian Thorne tidak pernah menyelamatkannya karena cinta. Dia menyelamatkan Nora karena dia butuh sebuah tameng yang cukup kuat untuk menahan peluru, sementara dia menyimpan cintanya untuk Stella—si pirang yang rapuh.

​"Lima tahun aku menjadi tamengmu, Adrian," gumam Nora pelan di dalam lift yang membawanya turun. "Lima tahun aku percaya pada pelukan itu."

​Nora mengeluarkan ponselnya, melihat saldo rekeningnya yang baru saja bertambah drastis. Seratus juta dolar dari ayahnya telah masuk. Itu adalah uang darah, harga dari pengkhianatan dan pengorbanannya.

​"Sekarang, biarkan tameng ini patah dan melukaimu," Nora tersenyum dingin.

​Dia tahu bahwa dengan bertukar posisi dengan Stella, dia tidak hanya menyelamatkan dirinya sendiri, tapi dia juga memberikan "hadiah" yang akan menghancurkan Adrian. Adrian ingin melindungi Stella? Maka biarkan dia mendapatkan Stella dalam bentuk pernikahan yang penuh kebohongan, sementara Nora pergi menuju New York, menuju tantangan baru bersama Declan Sullivan yang sedang koma.

​Nora menarik napas dalam-dalam. Udara di luar gedung Leone Tower terasa berbeda sekarang. Bukan lagi udara yang menyesakkan karena hutang budi, melainkan udara kebebasan yang mahal.

​"Persiapkan dirimu, New York," bisiknya. "Nyonya Sullivan yang baru akan segera datang, dan dia tidak membawa cinta, hanya ambisi dan dendam."

1
Arieee
tetep goblok di Adrian 🤣
Arieee
wow👍👍👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!