NovelToon NovelToon
Misteri Hati Dibalik Pernikahan

Misteri Hati Dibalik Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Eliana. s

Ketika kecurigaan mulai menggerogoti rumah tangganya, seorang wanita menyadari bahwa ancaman datang dari orang-orang terdekatnya. Suami yang dingin, anak yang mungkin bukan darah dagingnya, hingga asisten rumah tangga yang selalu mengintai semua tampak memainkan peran dalam permainan berbahaya yang mematikan. Terjebak dalam jebakan penuh tipu daya, satu-satunya jalan untuk bertahan hidup adalah melawan, meski harus mempertaruhkan segalanya hingga titik darah penghabisan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana. s, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35 Memberinya Pelajaran

Rasa mual seketika merambat naik, memenuhi dadaku hingga membuat napasku terasa sesak. Aku tahu persis maksud tersirat di balik kata-kata Dean Junxian dan itu membuat perutku semakin bergejolak.

Zhiyi Pingkan… benar-benar sedang merendahkan dirinya sendiri tanpa sisa harga diri.

"Kamu seharusnya berterima kasih padanya," suara Dean Junxian terdengar dingin sekaligus menjijikkan. "Berkat dia, kamu masih punya kesempatan untuk menyenangkanku dengan mulutmu itu. Kalau tidak, menurutmu kamu punya hak untuk mendekatiku?"

Nada suaranya begitu arogan, tanpa sedikit pun rasa malu.

"Tapi… kamu bahkan melibatkan anak "

Belum sempat Zhiyi Pingkan menyelesaikan kalimatnya, Dean Junxian langsung menyela dengan kasar, suaranya penuh ancaman. "Jangan banyak bicara. Jangan coba menawar denganku. Tundukkan kepalamu dan patuh saja!"

Anak?

Jantungku berdegup lebih cepat. Apa sebenarnya yang sedang mereka rencanakan? Apakah anak itu dijadikan alat tawar-menawar? Atau… sesuatu yang lebih keji?

Pikiran-pikiran buruk mulai berkelebat tanpa kendali. Tanpa sadar, jemariku mengepal kuat hingga kuku-kukuku hampir menancap ke telapak tangan, meninggalkan rasa perih yang samar. Keringat dingin mulai membasahi kulitku.

Tiba-tiba, ucapan Dean Junxian sebelumnya terlintas di benakku—“Barangnya sudah disimpan?”

Barang?

Mungkinkah yang dimaksud adalah cairan kimia itu?

Jika benar… apakah dia tidak takut Zhiyi Pingkan akan berbalik menggunakan sesuatu yang begitu berbahaya untuk menjatuhkannya? Atau justru mereka sudah sama-sama terjerat dalam permainan kotor yang tak bisa lagi dihentikan?

Kemungkinan demi kemungkinan berputar di kepalaku, membuatku semakin gelisah. Sepertinya benda itu masih berada di tangan Zhiyi Pingkan.

Aku berdiri terpaku, terlalu tenggelam dalam pikiran sendiri hingga hampir lupa bahwa aku sedang menguping. Jika barang itu benar masih ada padanya… lalu di mana dia menyembunyikannya?

Keheningan tiba-tiba menyelimuti suasana di bawah. Sunyi yang menekan, seolah menjadi pertanda sesuatu yang lebih buruk akan terjadi.

Kemudian, suara Dean Junxian kembali terdengar, kali ini lebih rendah namun sarat perintah. "Bangun. Mulutmu sudah terlalu lama tidak berguna. Sekarang saatnya kamu bekerja. Sini…"

Tak lama, suara gesekan pakaian terdengar samar namun cukup jelas untuk membuat bulu kudukku meremang. Disusul suara napas berat yang menjijikkan, membuat perutku kembali bergejolak hebat.

Aku menggertakkan gigi, menahan rasa muak yang hampir membuatku muntah. Tanpa berpikir panjang, aku segera mundur, melangkah cepat kembali ke kamar dengan langkah yang tertahan namun tergesa.

Tak pernah sekali pun aku membayangkan… rumah yang selama ini kuanggap sebagai tempat paling aman dan suci, ternyata menyimpan sisi yang begitu kotor dan hina.

Dinding-dindingnya seakan menyembunyikan kebusukan yang selama ini luput dari pandanganku.

Dan kini, aku tahu satu hal dengan pasti

Aku tidak bisa lagi tinggal diam dan membiarkan mereka menginjak-injak keberadaanku seolah aku ini tidak ada.

Keesokan harinya, suasana rumah tampak jauh lebih tenang—setidaknya di permukaan.

Kondisi Sonika sudah banyak membaik. Pagi itu, dia duduk manis sambil menghabiskan semangkuk kecil tim telur, pipinya yang semula pucat kini mulai merona. Tubuh mungilnya kembali lincah, tangannya tak henti bergerak, dan tawa kecilnya sesekali terdengar. Tidak ada lagi jejak kelemahan seperti kemarin.

Di sisi lain, leher Zhiyi Pingkan kini dihiasi sebuah kalung emas yang berkilau mencolok. Kilapnya terlalu mencuri perhatian untuk diabaikan jelas itu barang baru. Tanpa perlu berpikir panjang, aku sudah bisa menebak dari mana asalnya. Sepertinya “pengorbanannya” semalam memang berbuah hasil.

Aku meliriknya sekilas dengan tatapan penuh jijik, lalu kembali menunduk, melanjutkan sarapan dalam diam. Entah kenapa, makanan yang masuk ke mulutku terasa hambar, bahkan sedikit memuakkan. Namun aku memaksakan diri untuk tetap makan. Apa pun yang terjadi, aku harus menjaga tubuhku memulihkan tenaga, mengumpulkan kekuatan. Aku tidak bisa terus berada dalam kondisi lemah seperti ini.

Langkah kaki terdengar dari arah tangga.

Dean Junxian turun dengan santai, seolah dunia ini berjalan sesuai keinginannya. Wajahnya tampak segar, bahkan terlalu segar untuk seseorang yang baru saja melewati malam seperti itu. Dia langsung duduk di sampingku, lalu dengan santai mengelus rambutku, seakan tidak ada yang perlu disembunyikan.

"Wajahmu terlihat jauh lebih segar hari ini," ujarnya ringan, nada suaranya lembut seperti biasanya.

"Tentu saja aku merasa lebih baik karena tidak minum obat," jawabku sengaja, sambil diam-diam mengamati setiap perubahan kecil di wajahnya.

Aku tidak tahu apa alasan sebenarnya di balik penghentian obat itu, tapi aku tidak boleh bertindak ceroboh. Aku harus memainkan peran ini dengan hati-hati berpura-pura pulih sedikit demi sedikit, seolah semuanya berjalan alami. Hanya dengan begitu, mereka tidak akan curiga.

Di saat yang sama, aku memang ingin memberi tekanan. Mereka terlalu berani bermain kotor tepat di depan mataku, seolah aku ini tidak ada. Itu bukan hanya penghinaan, tapi juga bentuk pelecehan terhadap harga diriku. Dan aku tidak akan membiarkan mereka hidup setenang ini.

Seperti biasa, Dean Junxian bersikap seakan tidak terjadi apa-apa. Bahkan, dengan nada manja yang dibuat-buat, dia berkata, "Sayang, kalau kamu memang merasa lebih nyaman, ya sudah. Tidak perlu dipaksakan minum obat itu lagi. Kasihan juga kamu sudah mengonsumsinya selama ini."

Aku menahan senyum tipis yang hampir terbit.

"Kapan-kapan aku ingin ke rumah sakit untuk periksa," kataku pelan, seolah berbicara pada diri sendiri. "Belakangan ini tubuhku sering terasa lemas. Mungkin aku perlu cek kadar mikronutrien. Bisa jadi karena terlalu lama minum obat herbal, tubuhku malah kekurangan zat tertentu."

Aku berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada yang sedikit lebih serius, "Aku juga ingin memeriksa kepalaku. Akhir-akhir ini sering terasa nyeri menusuk… seperti ada yang tidak beres."

Dari sudut mataku, aku memperhatikan Zhiyi Pingkan. Sendok di tangannya sempat terhenti di udara, hanya sesaat namun cukup untuk menunjukkan kegelisahannya.

"Nanti kalau ada waktu, aku temani," sahut Dean Junxian dengan tenang, seolah semua itu bukan masalah besar. Dia bahkan sempat meletakkan sepotong daging asap ke piringku, sikapnya tetap penuh perhatian di permukaan. "Tidak perlu terburu-buru. Kita cari dokter terbaik untuk memeriksamu."

Dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada santai, "Begitu kontrak di luar kota selesai, aku langsung membawamu ke sana."

Aku menunduk, menatap makanan di piringku tanpa benar-benar melihatnya.

Senyum tipis terukir di sudut bibirku senyum yang tidak mengandung kehangatan sedikit pun.

Bagus.

Semakin mereka merasa semuanya terkendali, semakin mudah bagiku untuk menghancurkan permainan mereka… dari dalam.

"Baik."

Tujuanku sudah tercapai. Aku tidak berniat mendorong situasi lebih jauh. Selagi keadaan masih berpihak padaku, aku memilih berhenti dan kembali menikmati sarapan dengan tenang, seolah tidak ada yang sedang kurencanakan.

Namun sesekali, tatapanku melayang ke arah Zhiyi Pingkan. Dalam diam, pikiranku terus berputar. Aku tidak mungkin membiarkannya begitu saja. Dia perlu diberi pelajaran pelajaran yang cukup dalam agar dia tahu batasannya.

Targetku sudah jelas. Jika aku terus bersikap pasif tanpa melakukan apa-apa, maka aku sendirilah yang akan terjebak dalam posisi lemah. Dan aku tidak akan membiarkan diriku menjadi pecundang dalam permainan ini.

Tak lama kemudian, Dean Junxian menghabiskan sarapannya dengan tergesa-gesa. Seperti biasa, dia berangkat ke kantor tanpa banyak bicara, meninggalkan suasana yang terasa sedikit lebih longgar.

Aku pun memanfaatkan waktu itu untuk bermain dengan Sonika. Anak itu benar-benar penurut tingkahnya polos dan menggemaskan, seolah tidak tersentuh oleh kerumitan dunia orang dewasa di sekitarnya. Melihatnya, hatiku sempat terasa hangat, meski hanya sesaat.

Yang aneh, hari ini Zhiyi Pingkan tampak jauh lebih banyak bicara dari biasanya. Dia beberapa kali mencoba membuka percakapan denganku, mencari topik dengan canggung, lalu berulang kali menyampaikan permintaan maaf. Katanya, kelalaiannyalah yang menyebabkan Sonika jatuh sakit.

Aku menatapnya sekilas, lalu bertanya dengan nada halus namun menyimpan sindiran tajam, "Apa pekerjaan rumah di sini terlalu berat untukmu? Sampai-sampai konsentrasimu terganggu?"

Aku berhenti sejenak, sengaja memberi jeda sebelum melanjutkan, "Kalau memang kamu merasa kewalahan, aku bisa mempertimbangkan untuk menambah satu orang lagi untuk membantumu."

Seperti yang kuduga, reaksinya langsung terlihat.

Wajahnya berubah panik. Dia buru-buru melambaikan tangan, suaranya sedikit bergetar, "Jangan, Nyonya! Tidak perlu, benar-benar tidak perlu. Saya tidak ada masalah sama sekali. Semua pekerjaan masih bisa saya tangani sendiri."

Dia menelan ludah, lalu menambahkan dengan tergesa, "Satu orang sudah cukup. Kalau ditambah lagi, hanya akan membuang biaya saja. Saya sanggup, sungguh. Lain kali saya akan lebih teliti."

Aku hanya menatapnya dalam diam, memperhatikan setiap gerak-geriknya.

Tentu saja dia tidak menginginkan kehadiran orang baru di rumah ini.

Baginya, usulku barusan bukan sekadar bantuan melainkan ancaman. Ancaman terhadap posisinya… atau mungkin terhadap rahasia yang dia sembunyikan bersama seseorang.

Namun, untuk saat ini, aku belum berniat menyingkirkannya.

Belum.

Permainan ini baru saja dimulai, dan aku tidak akan terburu-buru mengakhiri sebelum semuanya benar-benar berada dalam kendaliku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!