IG & Tiktok : Tulisan_Nic
Naufal Adhitama (32), dokter anestesi yang hangat dan mudah bergaul, dikenal sebagai playboy karena sering dekat dengan banyak perempuan.
Meski begitu, ia percaya pernikahan harus berlandaskan cinta—bukan sekadar komitmen tanpa rasa.
Hingga ia bertemu Anin Ratri Maharani (27), perempuan dengan luka masa lalu dan trauma pada pria playboy akibat keluarga yang hancur.
Untuk pertama kalinya, Naufal ingin bertahan.
Namun saat cinta itu mulai tumbuh dan mereka ingin melangkah ke pernikahan, masa lalu dan rasa takut justru menjadi ujian terbesar.
Bisakah cinta mereka bertahan, atau justru hancur sebelum benar-benar dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Pagi hari dan Naufal terbangun dengan pikiran yang masih kacau. Bagaimana tidak kacau, kalau hari ini adalah hari pernikahan Albie dan Qistina. Itu artinya orang tua dan kerabat lainnya akan berkumpul di sana. Sebenarnya tidak ada masalah dengan itu. Tapi akan jadi masalah, ketika ia mengajak Anin untuk pergi bersamanya ke acara tersebut.
Pasti orang tua dan kerabatnya akan bertanya siapa Anin, yang berlanjut dengan pertanyaan siapa orang tuanya, di mana rumahnya, bagaimana latar belakangnya lantas bertanya tentang keseriusan hubungannya. Hal yang lumrah di lakukan para orang tua perihal anaknya. Tapi masalahnya, ini tidak sesimple menjawab pertanyaan-pertanyaan begitu saja. Akan ada buntut permasalahan lainnya, yang pasti akan mengancam hubungannya.
Naufal takut, Naufal belum siap jika akhirnya keluarganya menentang ketika tahu siapa Anin sebenarnya.
"Apa untuk sementara secret love dulu ya?" ujarnya, seraya memutar bola mata.
"Tapi mau sampai kapan?" desahnya pasrah.
Lantas Naufal bangkit, dan memutuskan untuk mandi saja. Perkara nanti, urusan belakangan.
***
Di rumah Anin,
Ia tengah bersiap untuk pergi kerja, penampilannya kali ini akan sangat berbeda dengan penampilan yang kemarin-kemarin. Ya sebagai manajer dia harus mengubah penampilannya menjadi lebih rapi, lebih berwibawa, dan lebih anggun.
"Anin lu mau berangkat kerja apa mau kemana? Tumben banget make up lu begitu. Dan baju lu begitu?" Tanya Widya saat melihat Anin sedang mengukir alisnya.
"Gue manajer sekarang, jadi ya penampilan gue mau nggak mau harus begini." sahut Anin yang masih terus mengukir alisnya.
Widya nyelonong masuk ke kamarnya, sambil meraih baju-baju kotor Anin yang menggantung di balik pintu kamarnya.
"Eh...jadi sekarang lu manajer? Gajih lu naik berati?" bisik Widya hati-hati. Kenapa ia harus berbisik-bisik begini?
"Iya gitu deh, gajih gue naik 40%" timpal Anin.
"40%? berarti sekitar delapan juta?"
"Belum termasuk bonus sih, bisa lebih lah." terang Anin.
Widya membulatkan mata, lantas senyumnya merekah. "Brati lu bisa kan beliin gue skincare yang kaya lu pake?" tanyanya antusias.
Anin menghela nafas, lantas melirik Widya. "Ibu Widya yang sehari-harinya di rumah, paling banter pegi senam sama pengajian ngapain pake skincare mahal segala?"
"Ya kan gue biar cantik Nin, biar kaya artis Meriam Bellina gitu. Udah tua tapi masih kencang kulitnya, nggak keriputan."
"Biar apa? Meriam Bellina mah artis, tuntutan kamera. Kalau Ibu, siapa yang nuntut?"
"Ya kan kalo gue cantik, Bokap lu kali aja berubah. Jadi nggak demen maen perempuan."
Anin terlonjak, tidak menyangka kalau Widya masih saja mengharapkan Bondan berubah. Setelah begitu banyak kesakitan yang Bondan berikan, Widya masih punya harapan untuk Bondan bisa berubah. Oh...ayolah, mana mungkin Bondan berubah? Mau nunggu sampai kapan juga dia nggak berubah!
"Ck, Ibuk mau sampe kapan berharap begitu sama Bapak sih? Nggak cukup apa selama ini di sakiti sama kelakuannya dia?" ujar Anin, malas.
"Eh gitu-gitu juga kan Bokap lu juga, lagian kalo kata ustad tuh kita itu wajib berusaha. Nah ini gue lagi usaha buat ngerobah sifat Bokap lu."
Anin lantas berdecak, "Ya udah, nanti gue beliin kalo duit bonus keluar. Gajih gue bulan ini mau gue pake buat biaya yudisium sama wisuda." ujarnya, sambil memeriksa ulang penampilannya di kaca. Widya pun tersenyum, senang.
"Udah, lu udah cakep. Anak gue mah emang paling cakep. Di kampung ini, cuma lu doang yang cakep. Semuanya kalah sama elu." Widya tersenyum lebar sambil memuji anaknya.
"Ya udah, gue berangkat kerja dulu ya." lantas Anin merogoh tas nya dan memberikan tiga lembar uang berwarna merah pada Widya."Ini, bakal belanja dapur. Gue cuma bisa kasih segini dulu, nanti gajihan gue tambahin." ujarnya.
Widya terlonjak senang, "Emang paling hebat dah anak gue, udah cantik mana pengertian lagi sama orang tua." Pujinya.
Namun pujian itu terasa menyakitkan bagi Anin. Betapa sebenarnya ia pun ingin di mengerti.
Lantas Anin pun meraih tangan Widya untuk salim.
"Eh, nanti kalo lu pas-pasan sama si May. Dan dia nanya-nanya tentang lu punya pacar apa nggak. Bilang aja lu punya gitu ya, soalnya kemaren di songong banget bandingin lu sama si anaknya yang namanya Salsa. Katanya dia punya pacar kerja di BUMN. Nah gue bilang aja kalo lu juga punya pacar, anak konglomerat yang punya bisnis nggak cuma di Indonesia tapi juga luar negri." ujar Widya.
Anin tercekat, bagaimana Ibunya tahu kalo dia punya pacar anak konglomerat yang bisnisnya ada di luar negeri? Batinnya.
"Dih, ngarang! Mana ada aku pacaran sama anak konglomerat begitu."
"Ya emang gue ngarang, soalnya si May itu kalo nggak di gituin dia lama-lama mulutnya suka kurang ajar. Gedek gue."
Lantas Anin menyelempangkan tasnya di pundak, bersiap untuk pergi.
"Tapi masa lu cantik gini nggak dapet yang modelan begitu sih Nin, buruan deh cari bakal mantu gue." bisik Widya yang masih mengekori langkah Anin.
"Orang gue belum kepikiran, buat nyari." timpal Anin.
"Ya elu mulai usaha nyari dah, yang cakep biar cucu-cucu gue pada cakep-cakep. Trus itu yang kaya tadi gue sebutin. Yang anak konglomerat, yang duitnya unlimited. Masa nggak dapet sih?"
"Apa kabar sama Ibu Widya yang cantik ini? Kenapa dulu nggak nyari yang modelan begitu? Malah mau-maunya sama Bapak. Udah lah nggak kaya, kelakuannya nggak kaya manusia."
"Eh..tapi Bokap lu itu udah yang paling cakep sama yang paling kaya di kampungnya. Engkong lu tuh punya tanah berhektar-hektar. Terus ternaknya banyak."
"Iya tapi abis buat judi sama kawin sana kawin sini kan?"
"Iya sih, kelakuan Engkong lu sama percis sama Bokap lu." timpal Widya lirih. Anin meliriknya sekilas.
"Udah deh, gue berangkat. Assalamualaikum." ucapnya sambil melangkah keluar.
"Eh ...lu nggak bawa motor?" pekik Widya.
"Kagak, di jemput temen!" timpal Anin, sambil terus berlalu.
Widya celingak-celinguk, "Temen? Temen siapa? Cowok apa cewek sih? Ah...moga aja cowok, cepet bakal mantu gue." gumamnya, sambil senyam-senyum sendiri.
"Kenapa Senyam-senyum sendiri, Buk?" tegur Kenzo tepat di dekat telinga Widya, hingga membuat Widya terlonjak. Dan reflek memukul bahu Kenzo.
"Kurang aja lu! Bikin kaget aja!" bentak Widya.
"Dih, orang dia yang kaget gue yang di salahin!" timpal Kenzo sambil berkelit dari serangan Ibunya.
"Ya jelas lu salah, ngagetin orang aja!" ujar Widya sewot.
"Iya, gue salah. Minta maaf. Tapi bagi duit dong Buk" Imbuh Kenzo.
"Duit lagi, duit mulu. Kaya Kakak lu noh, kerja ngasilin duit. Bukan minta aja bisanya!"
"Ya ntar kalo gue lulus sekolah juga gue bakal kerja." Sahut Kenzo.
"Halah sekolah apa kalo tiap hari tawuran. Lu pikir masa depan lu, mau jadi apa lu kalo tawuran mulu?"
"Jadi panglima lah, di dunia kerja kan kejam. Kalo kita nggak bisa lawan, orang bisa semena-mena merintah-merintah."
"Eh, yang namanya kerja sama orang yang harus terima di perintah. Kalo lu nggak mau di perintah, jadi Bos. Nggak ada yang berani merintah-merintah lu. Tapi bisa nggak lu jadi Bos?!"
"Bisa, Bos...Bosan!" timpal Kenzo sambil menyeringai.
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis🤍