NovelToon NovelToon
Pendekar Elang Hitam

Pendekar Elang Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: bang deni

Keluarganya di rampok oleh pemdekar Aliran hitam, ayah dan ibunya terbunuh sedangkan ia terjatuh di lembah Bangkai, Seekor Elang hitam raksasa menyelamatkan nya, di bawah asuhan Elang Hitam Dia tumbuh menjadi pendekar sakti dan menumpas kejahatan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wira Bayu

Malam itu, di bawah naungan langit yang bertabur bintang, suasana di tepi hutan tempat mereka berdiri menjadi hangat. Setelah kecanggungan awal akibat insiden pelukan tadi, kini mereka tertawa lepas mengenang masa-masa kecil di lingkungan keraton.

"Kang Jaka sungguh jahat, masih saja mengungkit masa lalu," cecar Ratri sambil memukul pelan lengan Jaka. Wajahnya yang cantik memerah padam menahan malu. "Dulu Ratri kan masih kecil, belum tahu apa-apa. Sekarang kan sudah berbeda."

"Ha ha ha, maafkan Kakang. Tapi sungguh, Kakang tak pernah menyangka gadis kecil yang suka nangkap kodok dan bau lumpur itu kini berubah menjadi pendekar wanita yang secantik dan sehebat ini." Jaka tertawa lepas

"Sudah ah, jangan dibahas terus!" Ratri mendengus kesal namun sudut bibirnya tetap tertarik ke atas.

" Kang, ayo ke bukit naga, kita temui eyang guru Parwati" ajak Ratri

"Eyang Guru ?" tanya Jaka penasara

" iya guru paman Wira Bumi, Kakakng lihat itu?" Ratri menunjuk sebuah bukit yang agak jauh

" itu bukit Naga?" tanya Jaka, Ratri mengangguk

" bukankah seperti Naga sedang tidur terlihat dari sini" ucap Ratri

" iya, tapi untuk apa kita kesana?" tanya Jaka lagi

" eyang Guru melihat kakang saat masuk kadipaten, dia yang menyuruhku agar mengawasimu dan jika kakang bukan pencuri kuda aku di suruh mengajakmu menemuinya, ada yang ingin di bicarakan" tutur Ratri

" Huh, ganteng gini di bilang pencuri kuda" dengus Jaka kesal

" Ganteng dari mana yang ada juga pangeran cabul, ayo kejar aku!" ejek Ratri sambil melesat ke arah bukit Naga

" Enak aja, awas kau yah putri Kodok!" Jaka mengejar Ratri yang sudah mendahuluinya, keduanya berlari ke arah Bukit Naga

Setelah berlari denagn ilmu meringankan tubuh mereka sampai di kaki bukit

"Inilah Bukit Naga, Kang Jaka," bisik Ratri

" kamu tinggal di sini?" tanya Jaka

" iya aku bersama eyang Guru tinggal di sini"

" besok aku ganti namanya" gumam Jaka

" Kenapa di ganti?'

" karena putri Kodok tinggal di sini, nanti aku namakan bukit kodok, aduh sakit lepas " jaka menjerit kecil karena di cubit oleh Ratri

" Suruh siapa meledek terus" Ratri mendengus sambil melepas cubitannya

" Itu tangan apa capit kepiting sih, sakit amat" gerutu Jaka

" capit kepiting , siap siap di capit kalau masih bilang putri kodok, ayo kita ke atas" Ratri mengajak Jaka mendaki Bukit Naga, Mereka mendaki hingga sampai ke sebuah dataran tinggi yang datar, di mana berdiri sebuah gubuk tua yang sederhana namun terlihat asri

" ayah, Eyang guru, aku pulang!" teriak Ratri di depan pintu

" Kriiiiet"

Pintu rumah terbuka, dua sosok keluar dari dalam rumah, satu seorang pria paruh baya, wajahnya ada kemiripan dengan tiga Senopati Wira, satu lagi seorang wanita tua, tubuhnya sedikit bungkuk ia memegang sebuah tongkat kayu untuk menopang tubuhnya

" Salam Paman, Eyang Guru" ucap Jaka saat berhadapan dengan mereka

" Mari masuk pangeran" ucap lelaki paruh Baya, jaka heran mengapa pria paruh baya itu mengetahui indentitasnya

" Tak usah heran, cincin yang kau pakai itu sudah membongkar siapa dirimu yang sebenarnya" sahut pria paruh baya itu

"Ayah sudah tahu kalau kang Jaka Pangeran?" tanya Ratri heran

" Dari ia masuk ke kadipaten Galungan aku sudah tahu" sahut Wira Bayu

" mengapa tak memberitahu, malah aku yang di suruh mengawasi!" Ucap Ratri kesal

" Bukankah kau selalu ingin ke kerajaan Wijaya , buat bertemu Pangeran Jaka?" goda Sang ayah , Ratri memerah mukanya

" Ayo masuk dulu, kita bicara di dalam" ajak Wira Bayu, Jaka mengangguk

dan masuk bersama Ratri, mereka duduk bersebelahan

Wira Bayu menatap Jaka dan Ratri bergantian,

" Kau tahu mengapa aku menyuruh Ratri menundangmu kemari?" tanya wanita tua itu

" aku tidak tahu eyang guru" jawab Jaka, karena memang ia tak tahu mengapa dia di undang ke Bukit Naga

" pertama karena kalian berdua terikat pertunangan" ucap Wira Bayu membuat Jaka kaget

" Pertunangan paman? bukankah aku bertunangan dengan Rarasati, anak Bagas Wirama?" tanya Jaka heran

" Benar, tetapi kau bukan hanya bertunangan dengan satu orang, ada tiga semuanya" jawab Wira Bayu menjelaskan

" Tiga paman?" Jaka mencilak mendengar ia punya tiga tunangan

" Iya, yang pertama Rarasati, dari kerajaan Kencana Buana, yang kedua dengan anakku Ratri, dan yang ketiga , dengan Putri Kadipaten Bulungan , Putri  Anggun" Tutur Wira Bayu menjelaskan siapa siapa saja yang menjadi tunangannya

Jaka terdiam sejenak

" Mengapa bisa begitu paman?" tanya jaka tak mengerti

" Itu semua karena ayahmu, di saat muda ia sering menolong , dan budi pekertinya sangat baik, jadi banyak orang yang ingin menjadi besannya" jawab Wira Bayu

Jaka mengangguk mengerti, ia melirik ke arah Ratri yang sejak di bilang tunangannya menjadi pendiam

" Eh, putri kodok, kau mendadak pendiam apa sariawan ?" goda Jaka

" Aduuuuh" jaka menjerit kecil saat tangan Ratri mencubit pinggangnya

" huh siapa suruh blang Putri kodok lagi" dengus Ratri, tetapi tak berani menatap Jaka

" sudah sudah, sekarang yang kedua, apa kau melihat kejanggalan di Kadipaten Galungan?" tanya Wira Bayu

Jaka mengangguk. "Benar, Paman. Ada sesuatu yang janggal dengan Adipati Galungan. Ia mengadakan lomba besar-besaran untuk mencari Senopati, padahal tujuannya tampak mencurigakan, seolah ingin mengumpulkan kekuatan untuk diri sendiri."

Mendengar ucapan Jaka itu, Wira Bayu  lalu menghela napas panjang. Wajah mereka berubah menjadi serius.

" pangeran Jaka, apa yang engkau duga itu benar. Namun, ada satu hal penting yang harus engkau ketahui tentang sejarah Kadipaten Galungan ini," ucap Wira Bayu pelan namun tegas.

"Hal apa, Paman?" tanya Jaka penasaran.

Wira Bayu menatap jauh ke kegelapan malam, seolah melihat kembali masa lalu.

"Sesungguhnya... Adipati Galungan yang sekarang memerintah itu bukanlah pewaris yang sah. Ia hanyalah seorang bupati pengganti yang diangkat karena keadaan darurat puluhan tahun yang lalu," ungkap Wira Bayu mengejutkan.

" Maksud Paman?"

"Benar," sambung Wira "Keluarga kami, marga Wira, adalah keturunan langsung dari pendiri Kadipaten Galungan. Kakek buyut kami adalah Adipati pertama yang sangat bijaksana. Namun, bertahun-tahun lalu, terjadi pemberontakan kecil dan wabah penyakit. Ayah kami, sebagai Adipati saat itu, rela turun tahta sementara dan menyerahkan tampuk pemerintahan kepada saudara sepupu kami yang dianggap mampu, yaitu leluhur dari Adipati Galungan sekarang, dengan syarat jika kelak anak-anak kami sudah dewasa dan mampu, kekuasaan harus dikembalikan."

"Namun ternyata," ucap Wira Bayu dengan nada kecewa, "seiring berjalannya waktu, keluarga itu semakin berkuasa dan lupa janji. Mereka menganggap wilayah ini sebagai milik mutlak mereka sendiri dan berniat memisahkan diri dari Kerajaan Wijaya Kesuma. Itulah sebabnya mereka mengadakan lomba ini, mereka ingin mengumpulkan pendekar-pendekar tangguh untuk dijadikan pasukan pribadi guna memberontak!"

Jaka terbelalak mendengar pengungkapan besar itu. "Jadi... sebenarnya Keluarga Wira adalah pewaris asli yang berhak memimpin Kadipaten Galungan ini?"

"Benar sekali, Pangeran Jaka," jawab Wira Bumi sambil menepuk bahu Jaka. "Dan Ratri... adalah satu-satunya ahli waris wanita yang masih tersisa dari garis keturunan lurus tersebut."

Ratri tertegun, ia sendiri sepertinya belum sepenuhnya menyadari bobot dari statusnya itu. "Jadi... aku?"

"Ya, Ratri. Engkau adalah putri tunggal pewaris tahta yang sah," tegas Wira Bayu. "Kami tidak merebut apa pun, kami hanya ingin mengambil kembali apa yang memang menjadi hak kami demi keadilan rakyat dan kesetiaan kepada Raja."

Jaka menatap Ratri dengan pandangan baru. Gadis yang tadi ia goda soal lumpur dan katak itu, ternyata menyimpan darah bangsawan

"Maafkan Kakang, Putri Ratri. Tadi sungguh kurang ajar telah mengejekmu," canda Jaka namun dengan nada hormat.

Ratri tersipu malu, wajahnya memerah. "Kakang Jaka ini... masih saja begitu."

"Nah, sekarang engkau mengerti, Jaka," kata Wira Bumi kembali serius. "Itulah sebabnya kami memanggilmu ke sini. Kami membutuhkan bantuanmu. Kami tahu Adipati Galungan itu licik dan jahat. Ia mungkin akan menggunakan cara curang dalam lomba nanti."

"Paman tidak perlu khawatir," jawab Jaka dengan penuh keyakinan. "Jaka sudah mendaftar, dan Jaka akan memenangkan lomba itu bukan untuk menjadi budak mereka, tapi untuk membuka kedok mereka dan mengembalikan hak kepada yang berhak, yaitu kepada Keluarga Wira!"

"Bagus! Semangat itulah yang kami butuhkan!" seru Wira Bayu bangga.

Malam itu juga, mereka menyusun strategi.

1
Night Watcher
rara jadi niken..
Blue Angel: salah ketik kak
total 1 replies
Night Watcher
berkali2 salah nama. srenggi jd lingga
Aman Wijaya
gaaas pooolll Thor lanjut terus
Blue Angel
salah up nanti di revisi
pendekar angin barat
lah kok lompat pertarungan nya mana? kok aneh seh Thor tau tau sdh di galungan
Dania
semangat tor
Lili Aksara
Wah, kok nggak ada yang heran sama elang itu ya, entah terkesima apa gimana gitu. Lanjutkan, unik ini novelnya, soalnya tokohnya dilatih sama burung elang.
pendekar angin barat
nah gitu donk .nhrs kejam ma penjahat..
Bagaskara Manjer Kawuryan
berasa baca kitab perndekar rajawali sakti 😁
Blue Angel: hampir mirip kak
total 1 replies
erick
hanya kena racun sdh keok... memalukan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!