Aiden "The Ghost" Volkov adalah definisi dari kesempurnaan yang mematikan. Sebagai raja mafia penguasa jalur perdagangan gelap Eropa, ia dikenal dingin, tak tersentuh, dan sangat mencintai keteraturan. Hidupnya adalah tentang strategi, senjata, dan keheningan.
Namun, tatanan hidup Aiden hancur berantakan saat ia bertemu dengan Ziva, seorang gadis Indonesia yang tinggal di luar negeri dan bekerja sebagai kurir makanan paruh waktu. Pertemuan mereka dimulai dengan bencana: Ziva secara tidak sengaja menabrak konvoi mobil baja Aiden dengan skuter bututnya, lalu malah memarahi Aiden karena "merusak spion estetiknya".
Ziva bukan cewek tangguh yang jago bela diri; dia hanyalah gadis dengan tingkat keberuntungan negatif dan mulut yang tidak punya rem. Di saat musuh-musuh Aiden menggunakan peluru, Ziva menggunakan ketidaksengajaan—seperti menjatuhkan vas kuno seharga jutaan dollar tepat di kepala pembunuh bayaran yang sedang mengincar Aiden.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menelusuri Masa Lalu Aiden yang Kelam
Sisilia diguyur hujan lebat yang seolah ingin mencuci bersih noda darah dari kebun zaitun semalam. Di dalam ruang bawah tanah rumah aman yang tersembunyi di balik dinding perpustakaan tua, Aiden Volkov duduk sendirian. Hanya ada satu lampu gantung kekuningan yang menerangi meja kayu besar di depannya. Di atas meja itu, bukan pistol atau rencana penyerangan yang tergeletak, melainkan sebuah kotak kayu usang berlapis beludru yang sudah memudar warnanya.
Ziva masuk dengan langkah pelan. Ia membawa nampan berisi kopi panas dan beberapa biskuit. Sandal jepit Swallow-nya sengaja ia lepas di tangga agar suaranya tidak mengganggu kesunyian pria itu. Ia melihat Aiden yang biasanya tampak tak terkalahkan, kini terlihat seperti pria yang sedang memikul beban seluruh dunia di pundaknya.
"Bang... kopi. Jangan diminum kalau lu ngerasa ada aroma almond lagi ya," canda Ziva pelan, mencoba memecah keheningan yang menyesakkan.
Aiden tidak mendongak, namun ia menggeser kotak kayu itu sedikit. "Duduklah, Ziva. Kau selalu bertanya kenapa aku menjadi monster yang dingin. Mungkin malam ini, kau berhak tahu bahwa naga ini tidak lahir dari api, melainkan dari abu."
Aiden membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah foto hitam putih yang sudah retak di bagian sudutnya. Foto itu memperlihatkan seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun dengan mata abu-abu yang ceria, berdiri di samping seorang wanita cantik berwajah lembut dan seorang pria gagah berseragam militer Rusia.
"Itu lu, Bang?" tanya Ziva, duduk di kursi di hadapan Aiden.
"Itu adalah Aiden sebelum dunia memaksanya mati," suara Aiden terdengar jauh, seperti gema dari masa lalu. "Namaku dulu bukan Volkov. Itu adalah nama yang kuambil dari jalanan. Ayahku adalah seorang letnan yang jujur di Sankt Peterburg. Kejujuran yang menjadi vonis mati bagi kami."
Aiden bercerita dengan nada yang sangat datar, namun Ziva bisa merasakan kepedihan yang menyayat di setiap katanya. Saat itu, ayahnya menolak untuk bekerja sama dengan kartel penyelundup senjata yang memiliki koneksi dengan pejabat korup. Suatu malam musim dingin, saat salju turun dengan indah, rumah mereka dikepung.
"Aku bersembunyi di dalam lemari pakaian ibuku," bisik Aiden. Tangannya mengepal hingga buku-buku jarinya memutih. "Aku melihat melalui celah pintu... bagaimana mereka menembak ayahku di depan ibuku. Dan ibuku... dia tidak menangis. Dia hanya menatap ke arah lemari tempatku bersembunyi, memberikan isyarat agar aku tetap diam. Isyarat terakhirnya sebelum peluru itu menembus jantungnya."
Ziva menutup mulutnya dengan tangan. Ia tidak bisa membayangkan rasa takut yang dialami anak kecil itu. Bersembunyi di antara aroma parfum ibunya sementara darah mengalir di bawah pintu lemari.
Setelah malam itu, Aiden melarikan diri ke pelabuhan. Ia hidup sebagai tikus jalanan di Rusia, berkelahi demi sepotong roti basi, dan belajar bahwa satu-satunya cara untuk tidak disakiti adalah dengan menjadi lebih menyakitkan daripada musuhnya.
"Aku pindah dari satu panti asuhan ilegal ke barak tentara bayaran di Siberia. Di sana, mereka tidak memberimu nama, mereka memberimu nomor. Aku adalah Nomor 44," Aiden menunjukkan bekas luka bakar kecil di pergelangan tangan dalamnya yang selama ini tertutup jam tangan mahal. "Kami dilatih untuk membunuh sebelum kami belajar membaca. Aku menghabiskan masa remajaku di lubang-lubang gelap, belajar cara mematahkan leher pria dewasa dengan tangan kosong."
Aiden terdiam sejenak, menyesap kopinya yang mulai mendingin. "Saat aku berusia dua puluh tahun, aku kembali ke Sankt Peterburg. Aku mencari orang-orang yang membunuh orang tuaku. Satu per satu. Aku tidak langsung membunuh mereka. Aku menghancurkan hidup mereka dulu. Aku mengambil harta mereka, keluarga mereka, hingga mereka memohon padaku untuk mengakhiri hidup mereka."
Ziva merinding. "Itu sebabnya lu jadi dingin banget begini, Bang?"
"Balas dendam tidak memberiku kedamaian, Ziva. Itu hanya memberiku kekuasaan. Aku menyadari bahwa jika aku ingin melindungi diriku sendiri, aku harus berada di puncak rantai makanan. Aku harus menjadi monster yang ditakuti oleh monster lainnya. Begitulah 'Aiden Volkov' lahir. Aku membangun kerajaan ini dari darah mereka yang pernah meremehkanku."
Aiden mengeluarkan benda lain dari kotak itu. Sebuah medali militer milik ayahnya dan sebuah bando kecil berwarna biru—milik adik perempuannya yang tidak pernah ia ceritakan pada siapa pun.
"Aku punya adik, Ziva. Namanya Elena. Dia baru berusia empat tahun malam itu. Para pria itu membawanya. Aku mencari Elena selama lima belas tahun di seluruh Eropa. Itulah alasan sebenarnya aku membangun jaringan intelijen yang begitu besar. Bukan untuk bisnis... tapi untuk mencari jejaknya."
"Terus... ketemu, Bang?" tanya Ziva dengan suara bergetar.
Aiden menatap Ziva dengan mata yang mendadak hancur. "Tiga tahun lalu, aku menemukan makamnya di sebuah desa terpencil di perbatasan Polandia. Dia meninggal karena malnutrisi setahun setelah penculikan itu. Sejak hari itu, aku bersumpah tidak akan pernah membiarkan siapa pun masuk ke dalam hidupku lagi. Karena mencintai seseorang berarti memberi musuhmu sebuah target."
Ziva terdiam. Ia baru menyadari betapa besarnya risiko yang Aiden ambil dengan menjadikannya asisten—atau lebih dari itu. Dengan membiarkan Ziva tetap di sisinya, Aiden sedang mengulang ketakutan terbesarnya: memiliki sesuatu yang bisa direbut darinya.
Ziva berdiri, berjalan memutar meja, dan tanpa ragu memeluk kepala Aiden dari belakang, menenggelamkan wajah pria itu di perutnya. Ia tidak peduli jika Aiden akan marah atau menganggapnya terlalu lancang.
"Bang... lu udah cukup berjuang," bisik Ziva sambil mengelus rambut Aiden yang legam. "Gue bukan Elena, dan gue bukan ibu lu. Tapi gue Ziva. Gue mungkin cuma kurir seblak yang suka pake sandal jepit, tapi gue nggak bakal biarin lu nanggung beban ini sendirian lagi. Masa lalu lu emang gelap, tapi lu yang sekarang adalah orang yang nyelamatin gue berkali-kali."
Aiden tidak bergerak, namun Ziva bisa merasakan pria itu menarik napas panjang, mencoba meredam emosi yang selama belasan tahun ia kunci rapat. Perlahan, tangan Aiden melingkar di pinggang Ziva, memeluknya erat seolah Ziva adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak hanyut dalam badai masa lalu.
"Kau adalah satu-satunya variabel yang tidak bisa kuprediksi, Zivanna," gumam Aiden, suaranya parau. "Masa laluku penuh dengan kematian, tapi kau... kau sangat penuh dengan kehidupan. Itu membuatku takut sekaligus ingin terus berada di dekatmu."
Setelah beberapa saat, Aiden melepaskan pelukannya dan menatap Ziva. Wajahnya tidak lagi sekaku biasanya. Ada kejujuran yang langka di sana.
"Sekarang kau tahu kenapa aku begitu posesif. Kenapa aku kehilangan akal sehat saat Lorenzo mengirimkan fotomu," ucap Aiden. "Aku tidak akan membiarkan sejarah berulang. Aku tidak akan membiarkan mereka mengambil apa yang menjadi milikku lagi."
Ziva tersenyum tipis, menghapus air mata di sudut mata Aiden dengan jempolnya. "Ya udah, mulai sekarang jangan dipikirin terus kotak usang ini. Kita fokus aja gimana caranya bikin Lorenzo ngerasain ulekan batu gue."
Aiden terkekeh pelan. "Kau benar. Kesedihan adalah kemewahan yang tidak bisa dinikmati oleh seorang naga di tengah perang."
Di saat yang bersamaan, di atas permukaan rumah aman tersebut, alarm sensor laser berbunyi sangat pelan. Marco segera mengirimkan pesan ke tablet Aiden.
"Tuan, ada pergerakan di sektor timur. Tampaknya Lorenzo mengirimkan unit khusus 'The Wraith'. Mereka bukan pembunuh bayaran biasa. Mereka adalah unit yang dulu melatih ayah Anda."
Aiden membaca pesan itu, dan seketika itu juga, tatapan hangatnya menghilang, digantikan oleh kedinginan yang lebih tajam dari sebelumnya. Ia menutup kotak kayunya, menguncinya, dan berdiri.
"Masa lalu benar-benar tidak ingin aku melupakannya," ucap Aiden sambil meraih pistol bunga matahari yang ia siapkan untuk Ziva. "Pakai sandal jepitmu, Ziva. Kita harus bergerak. Hantu dari Sankt Peterburg telah datang ke Sisilia."
Ziva segera memakai sandalnya dengan cepat. Ia tahu, babak baru dalam perang ini bukan lagi soal wilayah kekuasaan, tapi soal penyelesaian dendam yang sudah berusia puluhan tahun. Aiden tidak lagi bertarung sebagai pemimpin mafia, tapi sebagai anak laki-laki dari Sankt Peterburg yang kini sudah memiliki sesuatu untuk dilindungi.
"Gue siap, Bang. Hantu atau setan, gue ulek semuanya," tegas Ziva.
Aiden menatap Ziva terakhir kalinya sebelum membuka pintu rahasia. "Jangan pernah tinggalkan sisiku. Malam ini, naga ini akan membakar masa lalunya sekali dan untuk selamanya."
Hujan di luar semakin menderu, menyamarkan suara langkah kaki unit 'The Wraith' yang merayap di antara pohon zaitun. Di dalam kegelapan bawah tanah, Aiden Volkov telah bangkit dari abu masa lalunya, lebih berbahaya dan lebih bertekad daripada sebelumnya.