Aluna Maharani adalah gadis sederhana dengan hati yang terlalu tulus untuk dunia yang kejam. Hidupnya berubah dalam satu keputusan yang bahkan bukan miliknya—saat ayahnya memintanya menikah dengan Zayn demi sebuah alasan yang tidak pernah benar-benar ia pahami.
Ia menurut.
Bukan karena cinta, tetapi karena kepercayaan.
Namun di balik pernikahan itu, Aluna tidak pernah tahu bahwa semuanya hanyalah kesepakatan—sebuah ikatan tanpa perasaan yang memiliki batas waktu.
Lebih menyakitkan lagi, ia juga tidak tahu bahwa pria yang kini menjadi suaminya… telah lebih dulu memiliki seseorang.
Di rumah keluarga Devandra, Aluna bukanlah istri.
Ia hanya tamu yang tidak diinginkan.
Dingin, tekanan, dan tatapan merendahkan menjadi bagian dari hari-harinya. Namun di balik semua itu, Aluna tetap bertahan—dengan luka yang ia sembunyikan, dan rasa penasaran yang perlahan membawanya pada rahasia besar yang seharusnya tidak pernah ia ketahui
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diantara Dua tatapan
POV Aluna
Lampu kristal menggantung megah di langit-langit ballroom, memantulkan cahaya ke segala arah seperti bintang yang jatuh ke bumi. Musik piano mengalun lembut, berpadu dengan suara gelas yang beradu pelan.
Aku berdiri kaku di depan pintu masuk.
Gaun ini… terasa asing di tubuhku.
Sepatu heels ini bahkan terasa seperti hukuman di setiap langkah.
“Jangan terlihat gugup.”
Suara itu rendah, dingin, dan terlalu dekat.
Zayn.
“Aku tidak gugup,” jawabku pelan, meski jemariku justru saling mencengkeram.
“Kamu buruk dalam berbohong.”
Pintu terbuka.
“Selamat datang, Tuan Zayn.”
Semua mata langsung tertuju.
Dan saat itulah… aku sadar.
Aku bukan siapa-siapa di sini.
Langkahku terasa berat saat memasuki ruangan. Gaun-gaun mahal, jas berkelas, parfum mahal—semuanya membuatku seperti orang asing yang tersesat di dunia orang lain.
“Aku harus ke depan. Ikuti aku, jangan buat masalah.”
Zayn pergi begitu saja.
Aku menggigit bibir.
Baik… memang itu posisiku.
“Zayn Devandra! Lama tak bertemu.”
Suara pria itu terdengar hangat, penuh percaya diri.
Aku menoleh.
Seorang pria tinggi dengan setelan abu-abu gelap berjalan mendekat. Wajahnya tegas, tapi senyumnya… berbeda. Lebih hidup. Lebih manusiawi dibanding Zayn.
“Arga,” ucap Zayn singkat, menjabat tangannya.
“Apa kabar?apa masih dingin seperti dahulu” Arga tersenyum pelan, lalu Arga melirik dan pandangannya beralih padaku.
Dan berhenti di sana.
Untuk beberapa detik.
Aku bisa merasakannya.
Tatapan itu… bukan sekadar melihat.
Tapi menilai. Mengamati. Bahkan… tertarik?
“Dan ini?” tanya Arga, alisnya terangkat sedikit.
Aku menegang.
Zayn terdiam sejenak, seolah mempertimbangkan sesuatu.
Lalu jawabannya keluar datar
“Orang rumah.”
Seketika… ada sesuatu yang jatuh di dalam dadaku.
Orang rumah.
Bukan nama.
Bukan identitas.
Hanya… itu.
“Hmmm…”
Arga mengangguk pelan, tapi matanya masih menatapku. Kali ini lebih lembut.
“Nama?”
Aku ragu sejenak, tapi akhirnya menjawab, “Aluna.”
“Aluna…” ulangnya pelan, seolah menikmati setiap hurufnya.
“Sesuai. Kedengarannya tenang… tapi menarik.”
Aku terdiam.
Tak biasa ada yang bicara padaku seperti itu.
“Zayn, kau tak bilang kalau,,,”
Arga berhenti, tersenyum tipis.
“,,,kau membawa seseorang yang… mencuri perhatian.”
Zayn menatapnya tajam.
“saya tidak membawa siapa pun untuk diperhatikan.”
Nada suaranya dingin. Tegas.
Seperti peringatan.
Tapi Arga hanya tertawa kecil.
“Sayang sekali. Karena menurutku… malam ini justru dia yang paling berbeda.”
Jantungku berdetak lebih cepat.
Ini… aneh.
Di tengah semua orang yang memandangku rendah,
ada satu orang… yang justru melihatku.
“Zayn, saya pinjam sebentar?”
Belum sempat aku bereaksi, Arga sudah sedikit mendekat.
Refleks, aku mundur setengah langkah.
Namun—
“Dia tidak ke mana-mana,dia masih sangat asing dengan suasana seperti ini”
Suara Zayn memotong.
Dingin. Mengikat.
Aku menoleh.
Tatapannya kali ini… berbeda.
Lebih tajam.
Lebih… posesif?
Arga mengangkat kedua tangan, santai.
“Tenang saja. saya cuma ingin bicara,.”
Lalu ia kembali menatapku, senyumnya tipis tapi penuh arti.
“Kecuali… kau yang tidak mau, Aluna?”
Aku terjebak di antara dua tatapan.
Satu dingin dan menahan.
Satu lagi hangat… tapi berbahaya.
"baiklah kamu ikut dengannya,tapi ingat jangan buat masalah"ucap Zayn berbisik di telingaku aku mengernyit
Dan untuk pertama kalinya malam itu—
aku merasa… aku punya pilihan.
Aku masih belum benar-benar memahami apa yang baru saja terjadi.
Zayn… mengiyakan.
Pria itu yang bahkan tak pernah memberiku ruang untuk bernapas bebas—baru saja mengizinkan Arga membawaku pergi begitu saja. Tanpa penolakan. Tanpa tatapan memperingatkan seperti biasanya.
Itu… aneh.
Sangat aneh.
“Jadi?” suara Arga membuyarkan pikiranku. “Kita berdiri di sini saja atau mau cari tempat yang lebih nyaman?”
Aku menoleh padanya. Pria itu masih tersenyum santai, seolah semua yang terjadi barusan adalah hal biasa. Tidak ada ketegangan. Tidak ada kecanggungan.
Berbeda jauh… dari seseorang.
“Aku… ikut saja,” jawabku pelan.
“Bagus. Aku suka jawaban yang tidak ribet.”
Arga berjalan lebih dulu, dan entah kenapa, langkahku mengikuti tanpa banyak protes. Mungkin karena aku sendiri tidak tahu harus melakukan apa kalau tetap berdiri di sana… sendirian di tengah keramaian yang terasa asing.
Kami berhenti di sebuah meja kecil di sudut ruangan. Tidak terlalu sepi, tapi cukup jauh dari pusat perhatian.
“Apa yang mau kamu minum?” tanyanya sambil menarik kursi untukku.
Aku sedikit terkejut dengan sikapnya.
Jarang ada yang… memperlakukanku seperti ini.
“Air putih saja,” jawabku.
Arga mengernyit, lalu tertawa kecil.
“Serius? Di acara semewah ini?”
Aku mengangkat bahu.
“Aku tidak terbiasa.”
“Hmm… masuk akal.” Ia mengangguk, lalu memberi isyarat pada pelayan. “Dua minuman. Satu air putih, satu… sesuatu yang ringan saja.”
...Setelah pelayan pergi, suasana sempat hening beberapa detik...
...Aneh...
...Tapi bukan hening yang menekan....
Lebih seperti… jeda yang nyaman.
“Jadi, Aluna,” ucap Arga akhirnya, menyandarkan tubuhnya santai di kursi. “Kamu sudah lama kenal Zayn?”
Pertanyaan itu membuatku diam sejenak.
“Tidak terlalu,” jawabku singkat.
“Tidak terlalu… tapi datang bersamanya ke acara seperti ini?”
Arga menaikkan alisnya, jelas tidak sepenuhnya percaya.
Aku tersenyum tipis.
“Kadang hidup memang tidak selalu masuk akal.”
“Hah,” ia terkekeh. “Jawaban aman.”
Minuman datang, dan aku segera meraih gelasku—lebih karena butuh sesuatu untuk mengalihkan diri.
“Tenang saja,” lanjut Arga, suaranya lebih ringan. “Aku tidak sedang menginterogasi kamu.”
“Terasa seperti itu.”
“Kalau aku menginterogasi, pertanyaannya tidak akan sesopan ini.”
Aku tanpa sadar tersenyum kecil.
Dan itu… terasa aneh.
Sudah berapa lama sejak terakhir kali aku bisa tersenyum tanpa beban seperti ini?
“Rileks saja, Aluna.”
Aku menatapnya.
Arga mengangkat gelasnya sedikit, lalu berkata dengan nada santai,
“Anggap saja orang-orang di sekitar kita ini… tikus.”
Aku terdiam.
“Maaf?” tanyaku, hampir tidak percaya.
“Tikus,” ulangnya, santai. “Mereka sibuk dengan dunia mereka sendiri. Lari ke sana ke mari, mencari sesuatu yang bahkan mereka sendiri tidak tahu penting atau tidak.”
Aku menahan tawa.
“Itu… cara pandang yang aneh.”
“Tapi efektif, kan?”
Ia tersenyum miring. “Setidaknya, kamu tidak perlu merasa diperhatikan atau dihakimi.”
Aku terdiam.
Karena… tanpa aku sadari, kata-katanya benar.
Sejak aku masuk ke ruangan ini, aku merasa seperti berada di bawah sorotan. Seolah semua mata menilai, membandingkan, bahkan merendahkan.
Tapi sekarang…
Aku mulai tidak terlalu peduli.
“Atau,” lanjut Arga, sedikit mencondongkan tubuhnya, “kalau kamu tidak suka tikus… bisa di ganti.”
“Jadi apa?”
“Patung.”
Aku mengernyit.
“Mereka hanya berdiri di sana, terlihat hidup… tapi sebenarnya kosong.”
Kali ini, aku benar-benar tertawa kecil.
“Kenapa kamu bicara seperti itu?”
“Karena itu kenyataannya,” jawabnya santai. “Dunia seperti ini penuh dengan orang-orang yang terlihat sempurna di luar… tapi di dalamnya? Tidak selalu.”
Aku menatapnya lebih lama.
Cara dia bicara… berbeda.
Tidak kaku. Tidak dingin. Tidak penuh tekanan.
sesaat beberapa orang mendekat kearah kami dan 3 tiga orang itu tengah merokok,dan bisa di pastikan Aku menutup hidungku refleks.karena asap roko , Dadaku terasa sesak seketika, tenggorokanku perih seperti tergores. Batuknya pecah tak tertahan.
“Uhuk,,,uhuk”dadaku sesak
“Aluna?”
Belum sempat aku menjawab, batukku justru makin menjadi. Wajahku memerah, mata aku sampai berair.
Tanpa pikir panjang, Arga bangkit dari duduknya melangkah maju. Tatapannya berubah tegas nan dingin.
“Kalian bisa menjauh?”
Nada suaranya tidak keras, tapi cukup tajam untuk membuat ketiga pria itu saling pandang.
“Santai aja "ucap salah satu dari mereka
“Saya bilang, menjauh.”
Kali ini Arga memotong. Singkat. Tegas. Tak memberi ruang untuk dibantah.
Salah satu dari mereka menghembuskan asap rokok dengan sengaja, seolah menantang,jika bukan di tempat seperti ini aku sudah menonjol wajahnya,
Arga terlihat menatap lurus ke arahnya.
“Apa kalian tidak lihat dia kesulitan bernapas?”
Sunyi sejenak.
Ada sesuatu dalam sorot mata Arga—bukan marah yang meledak, tapi tekanan yang cukup membuat orang berpikir dua kali.
“Yaudah, yaudah… kita pindah.”
Akhirnya mereka menjauh sambil bergumam pelan.
Begitu asap mulai menipis, Arga langsung berbalik ke Arahku
“Kamu oke?”
Aku masih sedikit terbatuk, tapi sudah mulai mereda. aku mengangguk pelan, tapi dadakku masih serasa sesak,Arga memberiku minum
“Aku…tidak kuat dengan asap rokok…”
Arga menghela napas ringan, seolah mengerti betul.
“saya juga,” jawabnya jujur. “saya tidak kuat jika berurusan dengan asap roko.”
Arga sedikit mendekat,
“Tarik napas pelan.”
Aku refleks mengikuti. Satu… dua… tiga…
Perlahan, napasku mulai kembali normal.
Ada jeda.
Lalu Aku menoleh ke Arga, sedikit heran.
“Kamu juga tidak merokok?”
Arga menggeleng.
“tidak.”
Jawaban itu sederhana, tapi entah kenapa membuat aku merasa… lebih tenang.
Untuk pertama kalinya sejak tadi, aku tersenyum tipis.
“Terima kasih ya…”
Arga hanya mengangguk kecil.
Namun dalam diam, matanya masih sesekali melirik ke arah tiga pria tadi—seolah memastikan mereka benar-benar tidak kembali mendekat.
Dan tanpa aku sadari, sikap Arga yang tadi… bukan sekadar refleks
Justru melindungi, seandainya Zayn seperti itu tapi tidak ,tidak mungkin
Tanpa sadar, pandanganku beralih ke arah lain.
Ke tempat di mana aku terakhir kali berdiri bersamanya.
Zayn.
Pria itu kini dikelilingi beberapa orang—semuanya berpakaian rapi, berbicara serius. Dari cara mereka berdiri dan tertawa, jelas itu pembicaraan penting.
Dia terlihat… berada di dunianya.
Dunia yang memang seharusnya menjadi miliknya.
Sejenak, aku memperhatikannya.
Cara dia berbicara.
Cara dia menatap lawan bicaranya.
Cara semua orang seolah menghormatinya.
Dia memang berbeda.
Dan mungkin… itu sebabnya aku tidak pernah benar-benar bisa menggapainya.
Seolah ada jarak tak terlihat yang selalu memisahkan.
Namun
Seperti ada yang menarikku, Zayn tiba-tiba menoleh.
Tatapan kami bertemu.
Hanya sepersekian detik.
Tapi cukup untuk membuat jantungku berdegup lebih cepat.
Tatapannya… sulit diartikan.
Bukan marah.
Bukan juga acuh.
Lebih seperti… memastikan.
Lalu, dia kembali ke pembicaraannya seolah tidak terjadi apa-apa.
Aku menunduk pelan, menggenggam gelas di tanganku lebih erat.
Kenapa… dia masih melihat ke arahku?
“Kamu memikirkan dia, ya?”
Suara Arga kembali menarikku.
Aku menggeleng cepat.
“Tidak.”
“Kamu buruk dalam berbohong,” ucapnya, menirukan nada seseorang.
Aku langsung menatapnya.
“Jangan bilang itu juga kalimat andalan Zayn,” lanjutnya sambil tersenyum.
Aku tidak menjawab.
Tapi mungkin ekspresiku sudah cukup jelas, karena Arga langsung tertawa pelan.
“Wow. Aku benar?”
Aku menghela napas.
“Dia memang… seperti itu.”
“Dingin?”
Aku mengangguk.
“Sulit ditebak?”
Aku kembali mengangguk.
“Dan menyebalkan?”
Aku hampir tertawa, tapi menahannya.
“Kadang.”
Arga tersenyum puas.
“Setidaknya aku punya poin plus dibanding dia.”
“Apa itu?”
“Aku tidak membuatmu tegang sejak pertama kali bicara.”
Aku terdiam.
Karena… itu juga benar.
“Aluna,” panggilnya lebih pelan kali ini.
Aku menatapnya.
“Kalau kamu merasa tidak nyaman di sini… kamu boleh bilang.”
Aku sedikit terkejut.
“Aku tidak akan memaksamu untuk tetap tinggal hanya demi formalitas seperti yang biasa dilakukan orang-orang di ruangan ini.”
Ada sesuatu di cara dia bicara.
Tulus.
Tidak dibuat-buat.
Dan itu… membuat dadaku terasa hangat dengan cara yang asing.
“Aku baik-baik saja,” jawabku akhirnya.
Dan untuk pertama kalinya malam itu—
aku merasa mungkin aku tidak sepenuhnya tersesat di tempat ini.
Tapi tetap saja…
Di sudut hatiku yang paling dalam
Ada satu hal yang tidak bisa aku abaikan.
Tatapan Zayn.
Yang sesekali masih kembali ke arahku.
Seolah… meski dia berdiri di dunianya sendiri
Dia tetap tidak benar-benar melepaskanku.
Dan entah kenapa…
Itu justru membuat segalanya menjadi lebih rumit.