Zhevanya Maharani Karasya (Vanya) selalu menjadi anak yang dapat dibanggakan oleh kedua orangtua nya, siapa sangka sifat nya yang ceria periang dan selalu berfikir positif itu ternyata menyembunyikan rasa sakit yang sangat menyiksa. Vanya yang selalu ingin menyerah oleh penyakit nya itu tak pernah menduga masa remaja nya akan terasa sangat berwarna.
Pertemuan nya dengan Nana, Farida, dan Irgi benar benar membuat masa remaja nya begitu berwarna, indah dan membuat banyak kenangan yang tak terlupakan, sampai pada akhirnya Semua terasa begitu sia sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CieMey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penenang
Tanpa sepengetahuan Vanya, Nana yang saat ini sedang memandang Vanya dengan rasa bersalahnya tak berani mendekat. Ia paham ini adalah salahnya juga, seharusnya ia tidak berbuat seperti itu pada Vanya. Nana tidak menyangka Vanya menangis karena ulahnya.
Nana mencoba mendekati Vanya, ia melangkah perlahan kearah Vanya yang sedang menangis di halte. Belum sampai di depan Vanya, Nana menghentikan langkahnya. Ia berjalan menjauh dari Vanya, entah mengapa otaknya menyuruhnya untuk menjauh dan membiarkan vanya Menangis dalam pelukan Irgi.
Nana sangat menyesal, ia menyalahkan dirinya karena membiarkan Vanya menangis apalagi sampai menangis di pelukan Irgi.
Disisi lain, Vanya yang tengah menangis di halte bus dikejutkan dengan pelukan dari seseorang. Hanya dengan mencium wangi parfum nya saja Vanya sudah mengetahui orang tersebut adalah Irgi.
"Van kalo mau nangis, nangis aja Van gausah ragu ragu, gue bakal selalu ada buat Lo" kata Irgi yang tidak memperdulikan tatapan dari pengguna jalan lainnya.
Vanya menangis cukup lama. Ia sudah berkali kali mencoba menghentikan tangisnya, bukannya berhenti malah makin menjadi jadi tangisannya itu.
Entah sudah berapa lama Vanya menangis, yang ia tahu saat ini hari sudah mulai gelap. Vanya dan Irgi berjalan kaki menuju rumah Vanya. Ini adalah permintaan Vanya, sebenarnya Irgi tidak menyetujui keinginan gila Vanya ini tapi mau tidak mau ia harus mengalah karena Vanya mengancamnya akan menangis lagi. Daripada mereka tidak jadi pulang, akhirnya Irgi mengiyakan permintaan yang terdengar gila karena jarak dari sekolah kerumah Vanya cukup jauh, jika mereka menggunakan kendaraan saja bisa setengah jam perjalanan itupun jika jalanan sedang lancar.
Selama di perjalanan tak satupun dari mereka yang mengeluarkan suara, Vanya hanya diam dan dari tatapan matanya Irgi tahu jika Vanya masih sangat sedih. Irgi yang melihat keadaan sahabatnya tersebut tak berani mengeluarkan suaranya.
...☘️☘️☘️...
"Udah sono masuk" dengan sedikit dorongan kecil Irgi menyuruh Vanya untuk segera memasuki rumahnya yang terlihat sangat sepi.
"Iya... Yaudah Lo hati hati ya gi, thanks udah temenin gw jalan kaki"
"Iya sama sama... Gw balik dulu ya" Irgi langsung pergi meninggalkan Vanya.
Setelah Irgi berpamitan pada Vanya, ia pun langsung memasuki rumahnya. Baru saja Vanya duduk di kursi ruang tamu, suara bel berbunyi, dengan langkah gontai Vanya berjalan menuju pintu depan.
Vanya sedikit terkejut ketika ia melihat seorang wanita yang datang kerumahnya malam malam.
Dengan suara yang melengking tajam Desya menyapa Vanya seolah olah Vanya tinggal di tengah hutan.
"VAAANNN.... lo harus tau Nana ngajakin gue jalan"
Vanya terdiam bukan karna ia terkejut dengan apa yang di lontarkan oleh Desya, Vanya lebih terkejut bagaimana bisa Desya berada di depan pintu rumah nya.
...☘️☘️☘️...
Rumah keluarga Karasya yang saat itu sedang di renovasi membuat mereka terpaksa pindah, walaupun jarak rumah saat ini lebih jauh dari sekolah Vanya, setidaknya lingkungan perumahan ini mampu membuat Vanya merasa nyaman. Jauh dari keramaian, tetangga yang tidak pernah merasa tersaingi dan tidak ada anak kecil iseng yang selalu memencet bel rumah, bagaikan surga kecil untuk Vanya.
"Kok lo bisa tau rumah gue"
"Hehe gue tanya sama Nana" Desya sudah lebih dulu nyelonong masuk, meninggalkan si tuan rumah.
"Eh ngomong ngomong ya Van, Nana tuh orang nya gimana sih, kepo nih spill dong"
Vanya merasa hari ini adalah hari sial nya, baru saja ia berencana untuk menenangkan diri nya dengan menonton netflix dan makan mie instant kesukaannya, rencana itu seketika buyar, Emosi nya meningkat lagi. Apa daya Vanya hanya bisa menghela napas dan ikut duduk disamping Desya.
"Ya biasa aja, ga ada yang spesial dari dia, selayak nya cowok seumuran kita aja" Jawab Vanya seadanya.
Jelas jawaban itu bohong, bagaimana bisa Vanya berpikir Nana tidak spesial, di lubuk hati nya yang terdalam Nana amat sangat spesial, dia berbeda dari cowok lain nya, wajah yang rupawan, perawakan tubuh nya yang ideal, wangi nya yang selalu bisa menenangkan siapa saja yang berada di dekat nya, rajin ibadah dan otak nya yang tak mau kalah dari wajah nya yang rupawan itu semakin membuat dia menjadi seorang yang sangat paket komplit.
"Tapi kayaknya dia beda deh Van, dia tuh kaya ada di karetin 2 gitu loh Van"
"Hah"
Terkadang hal hal seperti ini lah yang membuat Vanya heran, mengapa ia bisa bertahan dengan Desya, manusia paling aneh yang pernah Vanya temui, kata kata random yang selalu keluar dari mulut kecil nya itu tak pernah gagal membuat Vanya menggelengkan kepala.
Terasa aneh, tapi itu lah yang bisa membuat hari hari Vanya lebih berwarna, Desya berbeda dari gadis lain nya, ia periang tapi tidak genit seperti Farida, Desya selalu bisa membuat orang orang di sekitar nya tertawa, melepas segala keluh kesah nya. Desya selalu berhasil membuat semua orang yang berada di dekatnya merasa nyaman. Tak heran jika Nana bisa secepat itu dekat dengannya.